
“Udah Pa, Biarin aja mereka! Jangan ganggu, kayak nggak pernah muda aja!” sembari menggandeng tangan suaminya untuk masuk ke kamar, Agnes menoleh ke atas sambil tertawa cekikikan.
“Ujang sama Bibi kalian juga istirahat ya, maklumi aja Kania lagi iseng di rumah harus bangunin kalian malam-malam.”
“Hehe... Iya Bu.” Ujang ikut tertawa kecil melihat keisengan Dion malam hari begini. Semoga saja anak majikannya bisa mempertahankan gadis itu, supaya kehangatan keluarga Wijaya tak akan redup lagi. itulah doa para pekerja di rumah besar ini.
Kania, mempertahankan posisinya, saat Dion berusaha menarik gadis itu. karena tak mau beranjak Dion berjalan ke arah pintu dan menguncinya dari dalam. Membuang kuncinya ke atas lemari pakaiannya.
“Astaga bocah nakal ini!” pekik Kania, menatap bos nya tak percaya.
“Haha... selamat tidur sayang! terserah kalau mau berdiri di sana sampai pagi, Mas mau tidur dulu.” Dion naik ke atas tempat tidurnya dan mematikan penerangannya. Sesekali pria itu melirik Kania yang duduk di meja kerjanya.
“Bodo ah, mau balas pesan Sigit dulu!”
Gadis itu membuka semua aplikasi di ponselnya. Chat dari Sigit berebut masuk. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab membuat Kania stres.
Kania menghubungi Sigit setelah memastikan Dion sudah terlelap. Mengirimkan banyak stiker permohonan maaf, status pria manis itu pun berubah online. Tak puas hanya berkirim pesan, Sigit melakukan panggilan video.
Kania melirik tempat tidur Dion, layaknya kucing sedang mengintai ikan di atas meja, Kania bersembunyi di depan wastafel. Sembari bercermin, Kania dengan suara lirih menyalurkan rasa rindunya.
Sigit
[Sayang, kamu kemana saja, Aku kangen banget sama kamu...] netra Sigit memerah, seperti menahan tangis.
Kania
[Maafkan Aku ya Yang, Aku benar-benar tak bisa memegang ponselku beberapa jam lalu. Aku juga kangen sama kamu Yang.]
Mendengar panggilan sayang dari kekasihnya, hati Sigit berbunga-bunga. Di tengah malam, pria manis itu tertawa sendirian di kamarnya. Kania yang melihatnya pun ikut senang, karena bisa menatap wajah teduh kekasihnya yang tampan.
Sigit
[Sayang, besok kamu libur kan? Aku mau mengajakmu ke Bandung. Jangan khawatir, ada Jo juga Richie nanti bersama kita, bagaimana?]
Kania
[Aa... Serius! Aku mau ikut dong... ]
Tuliluuttt...
(Suara ponsel Kania kehabisan baterai dan mati...)
__ADS_1
“Yah.. Halo-halo Yang, sayang...!” teriak Kania, frustrasi. Padahal sudah jelas layar ponselnya berubah gelap. Gadis itu menatap kaca besar di wastafel. Sosok pria dengan piama baby pink, menyandarkan tangannya di dinding. Menahannya Kania di sana.
“Iya Sayang...” Dion menirukan suara Kania. “Gue pikir Lo manggil Gue pakai sebutan sayang, ternyata Lo lagi telponan sama Si tukang kopi itu?” suara Dion mengejutkan Kania.
“Di-dia kan pacar Gue, wajar dong kalau Gue panggil dia sa-sayang, cinta begitu.” Kania tergagap, karena Dion menekan gadis itu, tersudut di depan wastafel sembari meremas ponselnya di dada.
“Gue nggak tahu, apa pesona Lo! Tapi setiap Gue cemburu, Gue mau menghabiskan malam sama Lo Kania.”
“Em mau apa Lo?” tantang Gadis itu.
“Panggil Gue Mas Dion!”
Kania menahan tangan besar Dion yang berusaha membuka kancing baju Kania.
“He-hentikan Mas! Kalau Lo terus lanjutkan, Gue akan teriak!”
Pria berlesung pipi itu menarik tangannya dari tubuh gadis itu, berpindah melepas atasan miliknya, membuat Kania menutup mulutnya yang menganga lebar.
“Bocah stres!”
“Kenapa? Gue kepanasan mendengar Lo bisik-bisik di tengah malam begini, mana di kamar pria dewasa lagi.”
Dion membuang potongan atasannya. Kini beralih menatap gadis itu, yang refleks menyilangkan tangan pada tubuhnya. Kania menyingkir perlahan, dan mencoba menghindari Dion karena kakinya sudah kesemutan.
“Kenapa? Gue suka sama Lo, apa itu belum cukup?”
Kania menggeleng, mundur perlahan dan memperhatikan arah belakangnya.
“Apa restu kedua orang tua Gue masih kurang?” Dion mengikis jarak pada gadis itu. Dan meraih perutnya membawanya ke dalam pelukannya.
“Apa lagi yang Lo mau? Pernikahan kan? Lusa kita daftarkan pernikahan kita, apa Lo puas?”
Dion merebut paksa bibir itu, tak peduli dengan Kania yang terus berontak, terlebih dengan ponsel di tangannya membuat usahanya untuk melawan kekuatan Dion sirna.
Tanpa melepas tautan bibir manis itu, Dion sudah berhasil melucuti sekretarisnya dan mendorongnya hingga jatuh di ranjang panas miliknya.
“Haahh...” Keduanya terengah.
“Mas, hentikan! Aku sudah punya pacar sekarang dan itu bukan Lo! Jadi tolong hargai perasaan kita!”
“Oh ya? Mulai besok putuskan pacarmu!” Dion menahan kedua tangan Kania di atas kepalanya.
__ADS_1
“Kalau Gue nggak mau?” tantang gadis itu. Mereka berdua tak lagi berjarak. Dion menatap wajah Kania lekat. Matanya yang besar, hidungnya yang mancung, bintik kecil di bawah bibirnya membuat gadis itu bertambah cantik.
“Kalau Lo nggak mau putusin Sigit, biar Gue yang datangin dia untuk tidak mengganggu milik orang.”
“Jangan pernah lakukan itu!”
“Kenapa? Pasti Sigit belum pernah melakukan ini kan...”
Dion mengecup tiap inci bagian tubuh Kania. Hingga gadis itu bergetar merasakan sensasi tersengat listrik.
“Mas...” Lirih Kania. Gadis itu merutuki kebodohannya. Seharusnya Ia menolak perlakuan bos nya. Bukan malah memanggil namanya dengan nada menggoda seperti itu.
Menatap gundukan kenyal di depannya, Dion hanya bisa menelan salivanya. Sungguh pentolan geng itu membayangkan bisa berumah tangga dengan gadis yang berada dalam kungkungannya.
“Kania...”
“Adek Gue bangun!” wajah Dion bersemu merah saat mengatakan hal konyol itu.
Gadis itu pun terperanjat. Mencoba bangkit untuk mencari sosok adik yang di maksud oleh Dion. Dengan lembut Dion kembali menahannya. Tak menyangka jika Kania benar-benar bodoh. Pria itu semakin yakin jika Kania dan Sigit tak pernah melakukan skinship sepertinya.
“Lo mau ngapain? Jangan ganggu momen romantis Gue malam ini?”
“Katanya ada adek Lo?”
“Iya beneran ada, sekarang lagi nungguin Lo siap! Makannya jangan berisik!”
Dion membawa tangan Kania untuk berkenalan dengan si Joni yang perkasa, sumber kekuatan Dion Wijaya. Dan Kania berteriak histeris membuat mereka akhirnya tidur berdua setelah kelelahan tertawa Karena tingkah konyol Dion.
...
Sigit yang merasa sedikit lega, karena Kania mengabarinya. Meskipun tiba-tiba saja panggilan video mereka terputus. Karena ponsel milik Sigit mengalami habis baterai lebih dulu sebelum milik Kania.
Gara-gara menunggu balasan pesan dari kekasihnya, pria tampan berkulit putih itu sampai lupa mengisi daya ponselnya.
“Besok pagi Aku harus bersiap ke rumah Kania.”
Malam hari Sigit keluar ke dapur untuk mengambil minum, tak sengaja mendengar obrolan Papanya di telepon dengan seseorang di seberang sana.
Membahas tentang pernikahan kedua, dari pria tampan dan menawan seperti Dewa Virgiawan.
“Saya mau sama anak gadis kamu, karena saya butuh anak laki-laki darinya, tak masalah mau melahirkan berapa kali, saya bisa membesarkan mereka nantinya! Yang penting anak gadismu masih suci dan belum pernah disentuh laki-laki manapun.”
__ADS_1
Sigit merasa kesal. Melihat Papanya begitu terobsesi dengan daun muda. ‘Apa kabarnya Papa kalau bertemu Kania? Nggak mungkin, Kania nggak akan mau sama Om-om kayak Papa, hehe...’
“Kania, apa jadinya kalau Gue nggak ketemu kamu waktu itu...”