Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 141. Luka Batin


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Yoshi terus menahan dirinya untuk tidak berinteraksi dengan Kania. Namun, melihat wajah gadis tomboy itu yang tampak tirus dan pucat Dion mulai curiga. Belakangan ini kehidupan Yoshi mulai berubah, tetapi bukanlah hal yang baik. selain perubahan fisik, psikis mantan atlet taekwondo itu juga mengalami perubahan.


Sudah dua kali ini pentolan geng itu merasakan keanehan Yoshi. Kehadirannya yang tiba-tiba juga kadang lenyap bagai di telan bumi. Dion perlu menyelidiki hal itu.


“Heh Yosh, kalau Lo nggak bahagia udah mampusin aja om-om itu! gue lihat tenaga Lo juga masih oke,” pinta Dion yang bicara tanpa menoleh ke belakang. sopir pribadi yang usianya tak lagi muda hanya bisa menertawakan kelakuan anak majikannya.


“Hus! Jangan ngawur kamu Mas, masa minta Yoshi buat jadi kriminal!”


“Sudah ada rencana sih, haha...” sambar Yoshi. saat ini ayahnya sedang dalam pengobatan, Ia hanya bersabar menunggu kesehatan ayahnya kembali pulih. Iwan dan juga teman-temannya tak boleh ada yang mengetahui apa yang tengah dialaminya.


“Bagus! Lo bisa mengdandalkan gue sama Vicky! Suami Lo kayaknya sarafnya terganggu.” Mulut lemes Dion semakin menjadi, membuat Yoshi tertawa karena Dion saja bisa menyadari hal itu. Kania beralih melihat Yoshi dan suaminya. Apa benar papa kandung Sigit seperti yang dikatakan mereka berdua?


“Sudah Yosh jangan bicarakan om-om tengilmu lagi! sepertinya ada yang tidak terima jika kita menjelek-jelekannya.” Sindir Dion melihat perubahan istrinya.


“Jangan sedih Kania, bapaknya jahat belum tentu anaknya juga jahat, benar kan? lihat Papa mertuamu, baik, santun dan menyenangkan. Sekarang Lo lihat anak laki-lakinya bagaimana?”


Hahaha... seisi mobil menertawakan wajah Dion yang kesal karena ucapan gadis tomboy itu yang justru menyudutkannya.


“Sialan Lo!”


Yoshi merasa kegerahan. Sepertinya Ia tidak terbiasa keluar rumah dengan terbungkus pakaian rapat seperti itu. Lukanya yang hampir mengering pun membuat kulitnya menjadi gatal dan tak tahan untuk menggaruknya. beruntungnya mobil Dion sudah memasuki halaman luas kediamannya.


“Oo...” wajah Yoshi berubah panik. Suaranya membuat Dion dan Kania menoleh.


“Ada apa?”


“Kalian keluar saja lebih dulu! biarkan gue di dalam mobil selama sepuluh menitan, oke. Nanti akan gue kasih tahu alasannya!” mohon Yoshi, saat melihat Audi hitam terparkir di sisi mobil mewah milik Chandra Wijaya.


Dion menyadari jika ada yang salah dengan Yoshi. Pasangan itu pun memasuki rumah dan tak berselang lama kedua orang tuanya keluar berasama dengan pria yang bagi Dion sangat mengganggu keluarganya akhir-akhir ini.


“Lho kalian sudah kembali? baru saja kami mau menjemput kalian Nak,” tutur Chandra. Dewa menatap Kania dengan tatapan yang lain. Gadis ayu itu hanya menganggukan kepalanya tanda hormat.


“Kelamaan Pa, lagi pula kita sudah baik-baik saja. Semuanya, kita masuk dulu!” Dion berusaha menahan diri, dengan menyapa suami Yoshi yang sepertinya sedang mengejeknya. Sepanjang menaiki anak tangga pentolan geng itu terus menggerutu. Sampai ia berhenti di depan pintu kamarnya dan Kania terus berjalan melewatinya.


“Heh, heh mau kemana kamu?” Kania berbalik badan dan menatapnya.


“Mau ke kamar, ada perlu apa Mas?”


Dengan cepat Dion meraih tangan mungil Kania dan membawanya masuk ke kamarnya. Perasaan cemburunya belum tersalurkan sejak melihat Sigit menggodanya di rumah sakit.

__ADS_1


“Kamu belum lupa kan, kalau kita berdua sudah menikah? Bahkan kita berdua hampir mati sebelum menikmati malam pertama.” wajah Kania tiba-tiba bersemu merah. Dion selalu bisa membuatnya mati kutu di depannya.


“Oh, anu itu... sebaiknya kita,” ucap Kania gugup, berusaha mengubah topik pembicaraan tetapi sepertinya tak berhasil.


“Nggak ada ona-anu. Kamu tahu kan, kenapa Aku ingin cepat pulang ke rumah,hmm?”


“Ehm, ada sih pikiran ke sana tapi nggak sekarang ini juga please,” dengan wajah memelas gadis bertubuh ramping itu mengatupkan kedua tangannya minta dispensasi.


Hanya menggunakan jari telunjuknya saja Dion mendorong tubuh gadis itu, hingga Kania terduduk di bibir ranjangnya. Satu demi satu anak kancing itu terlepas dan Ia mulai menanggalkan pakaiannya serta melemparkannya ke segala arah. Kania menatap dada bidang dengan susunan roti sobek di perutnya yang keras.


“Mas, tahan dulu! kamu nggak ingat sama...,” sela Kania mencoba menghindar saat Dion mulai menundukan badannya dan menopang dirinya di atas ranjang dengan keduan lengannya yang berotot. Kedua jari-jarinya mulai menyingkap atasan yang dikenakan gadis ayu itu. Ada perasaan mendebarkan saat kedua manik mata mereka bertemu. Perasaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


“Aku takut kehilanganmu Kania. Aku nggak rela jika aku mati, tukang kopi itu akan membawamu pergi dari sisiku seperti ucapannya tadi.” Mulut Dion terus mengoceh, namun tangannya tetap bekerja hingga kulit mulus gadis itu begitu membuat Dion begitu menggila.


“Sekali untuk hari ini, Oke sayang!” napas mereka beradu. saat melihat senyum nakal pentolan geng tersungging di sudut bibirnya, hal itu membuat Kania malu. Namun, samar terdengar suara langkah kaki menuju ke arah mereka membuat pandangan Kania segera tertuju ke arah pintu.


Cklek!!


“Nak, ayo kita...!” suara wanita yang tampak bersemangat dengan senyum sumringah perlahan mengendur dan ekspresi wajahnya berubah seketika saat melihat pemandangan di depannya. Dion pun menoleh ke arah pintu dan bertatapan dengan mamanya. Tak berselang lama terdengar suara pintu yang di banting dengan keras.


Brak!!


“Mama!!” pekik Dion.


Refleks Kania menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Membuat Dion yang sedang menatapnya tertawa.


“Kali ini kamu selamat, tapi tidak untuk nanti malam. Aku lupa kalau Yoshi masih ada di mobil. Ayo turun!” ajak Dion tanpa dosa.


“dasar laki-laki!” balas gadis itu yang hanya menggulung dirinya dengan selimut.


Setelah mengenakan kaos dari dalam lemarinya Dion turun seorang diri dan menghampiri mobilnya. beruntungnya gadis tomboy itu tidak pingsan. Karena terkurung begitu lama di dalam sana.


“Bego Lo! lama banget sih?” Yoshi terus mengumpat saat melihat ekspresi teman baiknya membuka pintunya.


“Haha... sorry-sorry gue lupa, ayo masuk! Om om brengsek itu udah pergi?”


“Udah, tapi dia tadi sempat memperhatikan mobil ini sebelum berlalu. Gue punya perasaan nggak enak sama Dewa, Dion kalian lebih berhati-hati oke!”


“Kita bicarakan hal itu di dalam, Lo langsung ke lantai dua aja Yoshi.”

__ADS_1


Mereka berdua berpisah di depan tangga. Dion menemui kedua orang tuanya. Terlihat Agnes membuang muka saat mendapat tatapan intimidasi dari putra semata wayangnya. Chandra merasa heran, karena sejak turun dari kamar Dion, Agnes terus tertawa tanpa menjelaskan sepatah kata pun kepadanya.


“Dion, mana istrimu? Kenapa tidak di ajak turun untuk makan dulu?” Chandra melihat wajah kesal dari pria tampan di seberang mejanya.


“Tanya saja sama nyonya Agnes Wijaya, Oh ya Pa nanti malam tolong Mama di kurung di kamar jangan boleh keluar masuk ke lantai dua.”


“Memangnya kenapa sama mama kamu? Nes, apa yang kamu lakukan sampai Kania tidak mau turun?”


Hahaha...


“Ma, jangan sampai Dion pergi ke hotel hanya untuk masalah ini ya!” Tangan Agnes mencubit pinggang suaminya karena tidak bisa menahan tawanya. Tapi Dion tetaplah Dion yang akan berterus terang dengan apa yang ada di pikirannya.


“Oh, jadi Mama kamu mengganggu acara kalian? Pantas saja Ia tak berhenti tertawa. Apa yang kamu lihat Ma? Nanti ceritakan di kamar ya!” bisik Chandra.


“Sudah Pa, jangan membuat anakmu marah sama Mama. Lihat wajahnya yang ingin melenyapkan orang. Hahaha...”


...


Dion


[Halo Bang! iya baru saja sampai rumah. Kami memutuskan pulang hari ini, karena kondisi kami berdua sudah lebih baik, apa?]


Gunawan


[Kalian bisa datang ke kantor polisi? Kalian harus mendengar sendiri pengakuan tersangka, tapi kalau istrimu belum siap, cukup Lo sama Bokap Lo aja yang datang kemari!]


Dion


[Sudah tertangkap Bang? Oke, Gue dan Bokap akan segera ke sana sore ini, terima kasih Bang!]


Gunawan


[Sudah jadi tugas Gue bro!]


Setelah sambungan terputus Dion memberitahu Papanya jika pelaku sudah berhasil di ringkus di kantor polisi. Ada rasa puas dalam hati pengusaha besar itu, jika belum lama ini pelaku yang sudah mencelakai keluarganya sudah tertangkap. Chandra dan Agnes memutuskan untuk pergi lebih dulu.Melihat Dion hanya mematung sembari melihat lantai kamarnya, sepertinya ada kaitannya dengan Kania.


“Kenapa? Masih mikirin honeymoon?” goda Chandra.


“Hah, haha... bukan itu Pa, tapi ini tentang ...,” ucapan Dion terjeda saat mendengar teriakan Kania.

__ADS_1


“Astaga Yoshi...!”


...


__ADS_2