
Sesampainya di bawah, Kania berusaha menghindari Dion. Gadis itu berjalan lebih cepat dan mencoba menyembunyikan kegugupannya karena Dion terus mengganggunya. Kania melihat sebuah gazebo dan beristirahat di sana. Kania berpikir jika dirinya gampang dipermainkan pria seperti Dion.
“Tunggu Kania...!” teriak Dion yang sudah kehilangan jejak gadis itu.
Yoshi dan Iwan yang sedang menunggu mereka tampak kebingungan dan menghampiri pentolan geng itu.
“Kenapa Bro? Si kecil lari? Lo takut-takutin sih!”
“Sial! Nggak paham sih Gue sama cewek. Kadang mau, kadang marah, suka protes ... aarggh!! Kalian lihat bocah itu kemana?”
Yoshi merangkul pria itu dan mengelus punggungnya. “Menaklukan seorang gadis itu gampang-gampang susah, terlebih model cewek lembut seperti Dista sama Kania. Lo nggak bisa sembarangan. Yang ada kabur nanti! Sepertinya Lo nggak belajar dari pengalaman, haha...” Ejek Yoshi.
“Benar tuh! Coba tanya si Vicky! pakai jurus apa kemarin dapatin si bohay. Lo sih terlalu agresif!”
Dion bertolak pinggang, bukannya dibantu malah mendapat ceramah. Yoshi meminta Dion untuk menghubungi ponselnya, namun sepertinya gadis itu sedang dalam panggilan lain. mereka bertiga pun mencarinya secara terpisah.
Di gazebo itu, Ponsel Kania berdering yang ternyata dari Bos nya, Chandra Wijaya.
‘Aduh, gimana ini? Gue angkat nggak ya, kalau ditanya Gue dimana terus jawabnya apa.’ Setelah berpikir matang, Kania pun mengangkat panggilan itu dengan berusaha bicara se-netral mungkin.
Chandra
[Halo Kania, Kamu di mana sekarang?]
Kania
[Kania di sini Pak, maaf Saya terpaksa mengambil cuti mendadak.]
Chandra
[Oh, saya tidak masalah dengan itu Kania, apa kamu bersama Dion? Dia tidak pulang ke rumah beberapa hari.]
Panggilan itu ter jeda cukup lama, Kania harus memikirkan jawaban yang benar-benar tepat. Bagaimana mungkin dirinya berterus terang jika dirinya telah menghabiskan malamnya dengan pewaris Wijaya Grup. yang sebentar lagi akan menjadi Bosnya.
Kania
[Ehm, sebenarnya ... ]
Sebuah tangan melingkar di perut Kania, juga suara lirih yang berbisik di telinga gadis itu membuat Kania nyaris berteriak.
“Nah... Lo sembunyi di sini rupanya, kenapa Lo malu ya, hmm?” Suara Dion membuat tubuh Kania menegang, Dion tahu pasti salah satu dari orang tuanya akan menghubungi Kania cepat atau lambat, Karena Dion sudah memperhitungkan rencananya secara matang.
Chandra di seberang telepon mendengarkan suara seorang pria yang diyakini adalah putranya. Kania segera menyingkirkan tangan itu dan berusaha menjauh, khawatir pembicaraannya akan terdengar oleh Bosnya.
Chandra
__ADS_1
[Kania, itu suara Dion kan...? Dimana kalian sekarang?]
Kania
[Bu-bukan Pak, Itu suara orang lain. Saya berada di luar kota Pak. Ada yang bisa Kania bantu?]
Chandra
[Oh, Saya hanya mencari keberadaan Dion, kalau dia menghubungimu kabari Saya ya!]
Kania
[Baik Pak Chandra.]
Setelah Kania mengakhiri panggilannya, Dion menatap Kania tak percaya dan penasaran dengan alasan kenapa gadis itu berbohong kepada Papanya.
...
“Siapa? Bos Lo? Kenapa nggak Bilang aja itu Gue, selesai! dan Kita berdua nggak akan mendapat masalah dari kebohongan Lo hari ini!” tegur Dion.
Dion merasa kesal karena ulah gadis itu. Bisa jadi semua rencananya yang sudah ia susun rapi akan berakhir sia-sia. Dion meninggalkan gadis itu, tanpa menatapnya Dion memintanya untuk bergegas.
“Ayo, jangan membuat yang lain khawatir karena tingkah kekanakan Lo!” ketus Dion.
Menunggu matahari terbenam bersama pasangan adalah hal romantis yang diinginkan beberapa orang. Tak tekecuali Dista dan Yoshi. Mereka berdua menikmati waktu dalam rengkuhan pasangannya. Melihat Kania, Dion memilih untuk menghindari gadis itu dan bergabung dengan Vicky dan Kania bersama Yoshi juga Iwan.
Dion merebahkan dirinya pada batu besar. Tepat di sebelah pasangan itu berada.
“Kenapa? Ada masalah lagi, cerita dong!” Kini Dista yang menanyai Dion, senyum pria itu tersungging di sudut bibirnya. Membuat Kania yang memperhatikannya di seberang merasa buruk. Kania tak mengetahui apa kesalahannya, hingga Dion berubah sedingin itu. Yoshi menepuk pundak gadis itu, dan menguatkannya.
“Santai saja, Dion memang seperti itu!” bisik Yoshi. “Lo mau Gue banting si Dion dari sisi depan atau belakang?” tanya Yoshi.
Iwan terbahak-bahak, mendengar Yoshi menghibur gadis kecil itu. sebelum ada Kania, Dista lah yang termuda diantara mereka, wajar saja gadis itu menjadi kesayangan semua orang. Kini ada Kania diantara mereka, yang menjadi bulan-bulanan Dion yang iseng itu.
Iwan dan Yoshi melempar kode, berusaha menyatukan pasangan aneh itu. Iwan takut jika perasaan Dion kepada Dista itu muncul kembali. Saat sedang termenung, tiba-tiba Kania merasa lapar. Mencium aroma mie instan dan jagung bakar, menggugah nafsu makannya. Yoshi meminta supaya Iwan saja yang pergi, tetapi Gadis itu menolak dan tak ingin merepotkan yang lain.
Kania melintasi Dion, Dista dan Vicky. tetap saja Dion mengacuhkannya. Perasaan Dion buruk mengetahui Kania bisa berbohong.
“Mau kemana Kania? tanya Dista.
“Mau mencari pengganjal perut Dis, Kamu mau ikut?” ajak Kania. tangannya menuju ke beberapa tenda pedagang yang berjejer.
“Kalian berdua di sini saja! Biar Gue yang pergi! Vicky beranjak, Namun Dista tak ingin merasa canggung dengan pasangan itu.
“Sayang, Aku ikut! Biar Kania disini saja bersama Dion.” Kania hendak menolak, namun Vicky dan Dista sudah meninggalkannya. Mau tak mau gadis itu duduk di tempat yang tak jauh dari Dion.
__ADS_1
“Jreng!!”
Dion menyetel kunci gitar sebelum mulai memetiknya. Memainkan sebuah lagu patah hati seperti yang Ia rasakan saat ini. Seakan tersindir, Kania pun pergi meninggalkan Dion sendiri di sana. Tak tentu arah Kania menyusuri jalanan berbatu. Perasaan gadis itu campur aduk, dibuat tak jelas oleh Dion. Padahal sebentar lagi jalanan mulai gelap karena Matahari terbenam berganti malam.
“Permisi...!”
Sapa seorang pria mencoba menghentikan langkah Kania. Karena hanya ada dirinya di sana dan gadis itu menoleh.
“Mas memanggil Saya?” Kania berhenti.
“Iya Mbak, saya tersesat dan tidak menemukan titik awal penjemputan. Saya sudah berkeliling cukup lama tetap saja tak menemukan check pointnya.”
“Oh, Ya sudah Mas bisa ikut saya, akan saya tunjukan jalannya.”
Selama perjalanan itu Kania berbincang dengan sangat formal hingga keduanya merasa nyaman. ternyata Pria yang tersesat itu juga singgah di hotel yang sama dengan Kania juga berasa dari Jakarta karena mengikuti rombongan tur dari kantornya.
“Kok bisa kebetulan? Kalau memang ketinggalan Bus nya, nanti bisa bareng aja sama teman-teman saya yang lain.”
“Wah terima kasih, Saya Sigit.”
“Kania.”
Keduanya tertawa bersama saat sudah sampai titik antar jemput Bus itu. dan benar saja Sigit tertinggal rombongannya. Dista yang melihat Kania dari jauh menghampiri gadis itu. takut jika terjadi sesuatu, karena saat dirinya kembali Kania sudah tak ada di sana.
“Kamu kemana aja Kania? semua khawatir menunggu kamu! Yuk pulang,” ajak Dista. Melihat Kania tidak datang sendiri, Dista bertanya.
“Eh, Kania ini siapa?”
Sontak membuat semua pandangan tertuju pada sosok pria yang datang bersama gadis itu. Dion yang masa bodoh pun akhirnya turut menoleh.
“Saya Sigit, saya tersesat dan ketinggalan rombongan tur perusahaan Saya dan Kania yang menyelamatkan Saya.” terang pria manis itu.
“Lebay!” sengit Dion.
Semua mata tertuju kepada pentolan geng itu.
“Ehm Sigit juga menginap di hotel yang sama kok sama Kita, boleh kan jika kita memberikan tumpangan?” pinta Kania. Iwan dan Yoshi pun paham dengan situasi itu.
“Boleh! Kalian berdua tampak serasi, sama-sama manis.” terang Yoshi.
“Gue nggak ikut-ikutan! Ayo Yang kita masuk!”
Vicky memasuki mobil dan duduk berdua dengan Dista. Begitu juga dengan Yoshi dan Iwan. Di bangku belakang ada Kania, Sigit dan Dion. ketiganya duduk bersama dengan Kania yang berada di tengah. Sangat terasa hawa panas di kursi belakang. Yoshi dan Iwan menahan tawanya. Begitu juga Vicky namun mereka tahan.
“Rasain, Makan itu gengsi segede gaban!” tukas Iwan, sambil Tos dengan Vicky tanpa sepengetahuan Dion.
__ADS_1
...