
Perjalanan menuju kediaman Sigit ternyata memakan banyak waktu. arus lalu lintas benar-benar padat merayap. Yoshi yang masih berada dalam taksi online tampak harap-harap cemas. Layaknya seorang pencuri yang takut akan tertangkap, telapak tangannya terus berkeringat.
“Pak, bisa tolong lebih cepat!” pinta Yoshi. wajahnya pucat pasi, seakan mengetahui dirinya akan terkena hukuman lagi. Dengan terus melihat jam di tangannya, Ia bergulat dengan waktu. sepertinya Sigit akan mengingatkan sesuatu yang sangat penting.
Gerbang besar rumahnya sudah terlihat, Yoshi memilih untuk turun di depan gerbang saja. Kebetulan Pos keamanan sedang kosong. Yoshi menggunakan kesempatannya untuk berlari secepat mungkin. Dengan mulut menganga Yoshi justru melihat Audi hitam itu telah terparkir di depan rumah.
“Ah Sial! itu kan mobil si Dewa.”
Mendengar suara gaduh, sosok flamboyan itu menengok ke arah luar. Yoshi melompat ke tanaman rimbun milik Rosi. Luka yang baru saja diobati harus menjadi korban lagi.
‘Apes banget hidup gue, malah jadi topeng monyet di rumah Sigit. Pakai main sembunyi-sembunyi seperti ini.’ Yoshi menutup mulutnya saat Dewa memeriksa hingga ke tempat Ia bersembunyi. Panik, nggak, panik, nggak. Ya panik lah masa nggak! Perut Yoshi terasa sesak penuh angin. Dalam situsasi terdesak seperti ini Ia ingin meledakan gas yang memenuhi perutnya.
Dewa tak kunjung pergi. Ia justru menikmati waktunya di pekarangan milik istrinya. Sembari sesekali memeriksa ponsel di tangannya. Sampai kedatangan sebuah mobil masuk dan berhenti tepat di sisi Dewa berdiri.
“Pa? Sedang apa di sini?” Sigit menghampiri Papanya yang sedang berkirim pesan kepada seseorang. Akan tetapi pandangan Sigit beralih kepada tanaman Mamanya yang berantakan. Yoshi melihat Sigit dan pandangan mereka bertemu.
“Sibuk sekali sepertinya, Oh ya Pa ada yang mau Sigit tanyakan tentang pembangunan rumah sakit di Bandung, apakah sudah dapat vendornya?” tangan Sigit meminta Yoshi untuk bersiap pergi dari pekarangan itu dan segera memasuki rumah lewat pintu belakang. sementara anak sambung Yoshi mengalihkan perhatian papanya yang mulai tertarik dengan obrolan itu.
‘Ah, Sigit rupanya lebih perhitungan dari pada si kampret Dion. Kenapa Kania lebih memilihnya? Haha...’ batin Yoshi yang mengendap-endap dengan badan berbalut tanah dan daun-daun kecil yang menempel di tubuhnya.
Melihat keakraban sepasang ayah dan anak itu Yoshi hanya merasa kasihan dengan keluarganya. semua hanya tipu muslihat belaka. Di dalam rumah sebesar ini, ternyata menyimpan banyak rahasia. Sigit sudah berjanji untuk membantunya keluar dari lingkup keluarganya, dan begitu juga sebaliknya.
Tiba-tiba saja Dewa menoleh ke belakang saat Yoshi membuka handle pintu. Beruntungnya Sigit mnengacaukan pikirannya.
__ADS_1
“Pa! Ya sudahlah kalau memang tdak ingin membahas bisnis itu. Sigit masuk dulu, butuh istirahat. Oh iya satu lagi, jangan abaikan Mama dan terlalu sibuk dengan dunia Papa sendiri!”
“Tunggu Nak!”
Saat Dewa hendak mengejar Sigit, sebuah panggilan menghentikannya.
Dewa
[Iya? Bagaimana bisa ada polisi? ... oke! Tahan pengirimannya sampai saya datang!]
Dengan cepat Dewa kembali memasuki rumah. Ia ingin memastikan sesuatu, Sigi yang sejak tadi menyaksikan Papanya berkomunikasi melalui lantai dua hanya bisa diam dan menunggu saat yang tepat.
Suara ketukan pintu mengejutkan Yoshi. Dewa memanggil namanya dengan lembut dan perhatian, sampai gadis tomboy itu ingin membanting suaminya saat itu juga. Agar tak curiga, Yoshi menyambutnya dengan baik, meskipun ada rasa trauma dengan segala sakit yang di deritanya.
“Ada apa Mas?” lirih Yoshi. gadis itu telah berganti pakaian. menyimpan pakaian yang penuh tanah itu di lemari.
Yoshi mengangguk. Dewa mengecup puncak kepalanya dan mengacak rambutnya. Seakan tak pernah terjadi apa-apa pada mereka berdua.
“Apakah sudah ada tanda-tanda kamu terlambat haid?” Dewa menyentuh perutnya. Yoshi merasa jijik. Kedua tangannya mengepal ingin melemparkan vas bunga ke atas kepalanya.
“Aku belum periksa, jadi aku tidak tahu.” Sampai kapan dirinya harus berpura-pura, hanya Tuhan yang tahu. Namun, sejak tadi tatapan Dewa memindai seluruh kamar istri mudanya. Dan semuanya tampak sama seperti sebelumnya.
Dewa menyerahkan sebuah black card kepada Yoshi. gadis itu terkejut. Meskipun Ia pernah menyaksikan dalam serial drama kesayangannya, Ia tak menyangka jika Ia mendapatkan hal yang sama.
__ADS_1
“Carilah pusat kecantikan untuk merawat dirimu, Aku tidak ingin di cap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab.”
Baru Yoshi akan berterima kasih, namun pria berusia dalam puber kedua itu menarik pinggangnya dan mencium bibirnya dengan beringas. ‘Oh Tuhan! Lepaskan mahluk ini dari hidupku.’ Yoshi yang tengah terengah berusaha menahan dirinya untuk tidak memuntahkan apa yang ada dalam mulutnya.
Hah....
“Baik-baik di rumah ya! Saya pergi dulu.” pamit Dewa, berlalu mengunjungi kamar utamanya. Sedangkan sejak tadi Sigit melihat kelakuan papanya yang mencium Yoshi secara terang-terangan di depan pintu kamar.
“Hueeekk!! Gue harus ke dapur, air mana air? Air gue butuh air...,” celoteh Yoshi yang di tertawai anak sekaligus temannya itu.
...
“Sus, kapan istri saya akan sadar?” tanya Christian.
Seorang perawat yang sedang mengganti botol infusnya mengatakan seharusnya istrinya sudah sadar beberapa jam yang lalu. Namun perawat meyakinkan Chris untuk tak terlalu khawatir, karena reaksi tubuh pasien berbeda-beda.
Sepeninggal perawat Chris keluar untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Anak buah Gunawan pun juga sedang tidak berada di tempat. Dias mendengar semua pembicaraan Christian. Memang, gadis itu sudah sadar sejak pagi. Namun, sejak melihat pria berpakaian sipil yang menemani Chris setiap saat, Dias memutuskan untuk berpura-pura tak sadarkan diri.
“Bagaimana caranya gue bisa keluar dari sini tanpa ketahuan?” Dias memeriksa sekitar dan melihat Chris sedang fokus dengan laptopnya. Setelah mencabut selang infus di tangannya Dias mengendap-endap keluar ruangan.
“Sial! Ngagetin Gue aja!” Dias bersembunyi saat Chris bangkit dan beralih ke kafe milik Sigit. Dias mengikutinya perlahan, dengan jarak aman. Setelah suaminya masuk ke dalam kafe itu, Dias menghindari tempat yang banyak petugas rumah sakit yang lalu lalang.
“Heh! Siapa kamu?” Dias meronta mencoba melepaskan diri. Cengkraman itu terlalu kuat, sampai sebuah sapu tangan sudah membekap mulutnya dan membuat Dias lemas seketika. Mantan kekasih Dion kini sudah berada di dalam mobil yang bergerak membawanya ke tempat yang jauh dari Chris berada.
__ADS_1
“Gadis pintar bukan untuk pria bodoh! Haha...”
...