Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 20. Rencana Dias


__ADS_3

Agnes memijit pelipisnya melihat kelakuan gadis muda di depannya. Di ruangan kerja Agnes mulai menginterogasi Dias, dengan berbagai alasan, bagaimana awalnya gadis itu bisa mengenal putranya. Setahu Agnes, semasa SMA Dion tak pernah membahas gadis ini, hanya ada Dista saja. Waktu Dion juga habis oleh ketiga teman dekatnya.


Dias menceritakan saat pertama mereka berkenalan bahkan sampai berpacaran, namun tak semuanya berisi kebenaran. Dion terlalu terobsesi dengan gadis lain, kekasih temannya, meskipun dirinya sendiri telah memiliki Dias. Setiap kali berkencan, hanya gadis itu yang menjadi bahan cerita, Dias hanya menjadi pendengar dan selalu saja begitu.


Bagi pria Lain, Anggita Dias adalah primadona. Semua pria menginginkannya. Gadis yang berasal dari keluarga kaya itu, memilih Dion karena memang memiliki semua kriteria pacar idaman yang Ia impikan.


“Dias dan Dion sudah kenal sejak SMA, Tante kami berpacaran juga cukup lama.”


“Cukup lama? Kenapa Dion tidak pernah mengenalkanmu kepada kami?”


Pertanyaan Agnes membuat Dias terkejut. Kenyataannya hubungan mereka berdua hanya bertahan Dua bulan saja. Dion terpaksa memutuskan Dias karena gadis itu ketahuan sedang tidur bersama Dua pria lain di depan matanya.


“Saya yang memintanya Tante, karena belum siap. Dias harus fokus sama sekolah dulu,” ujar Dias.


Gadis itu terus berbohong, demi melancarkan aksi berikutnya.


“Apa kamu dan Dion pernah ...?”


Dias merasa pertanyaan ini adalah kesempatan emas baginya, Ia tak boleh melewatkan pintu yang sudah terbuka untuknya. Dengan memasang wajah yang malu-malu, Agnes menangkap ekspresi itu membuatnya menghela napas panjang.


“Haahh... Benar-benar anak jaman sekarang! ... Begini Dias, Saya ingin Dion menikah secepatnya, dan memberikan saya keturunan. Gadis kemarin yang saya bawa memiliki masalah, jadi perlu gadis lain yang lebih subur.”


“Lalu apa yang bisa Dias bantu Tante?”


“Kamu bersih kan?”

__ADS_1


Gadis itu mengepalkan tangannya, menahan emosi saat harga dirinya dipertanyakan. Seperti bisa melihat masa lalu, Mamanya Dion ternyata sangat berhati-hati dalam menyeleksi calon menantunya. Melihat penampilan Dias yang sangat kontras dengan Kania, bisa menggambarkan sesuatu, jika Gadis di hadapan Agnes bukan Gadis yang sesuai dengan kriteria keluarganya.


“Ma-maksud Tante apa ya? Dias nggak pernah melakukannya selain dengan Dion, bahkan ...,”


Dias menggantung ucapannya, membuat Agnes penasaran. Entah sejalan atau tidak pikiran mereka berdua, Agnes memutuskan untuk membawa Dias ke rumah sakit besok pagi tanpa sepengetahuan gadis itu.


“Oke, Saya rasa cukup. Saya akan melihat perkembangan hubungan Dion dan Kania. Oh iya, satu lagi. Selain Saya membutuhkan keturunan, menjadi wanita baik-baik adalah salah satu syarat yang harus kamu penuhi. Saya tidak ingin, nama baik Suami saya tercemar hanya karena masa lalu yang kurang baik.”


Agnes berdiri meninggalkan Dias yang terus mengumpat dalam hati.


‘Lama-lama Gue bikin Lo stroke juga Ibu mertua! Lo belum kenal siapa Gue?’


Dias mulai memutar otak, untuk menjalankan rencana selanjutnya. Dias tak ingin kembali ke rumahnya, Karena dirinya masuk dalam daftar pencarian orang.


...


“Astaga, Lo itu udah gede kenapa kayak bocah sih! Pakai malu-malu begitu. Kania...!”


Gadis itu mendahului Dion, tak ingin berada di dekatnya. Di dalam lorong yang berisi susunan rak, Kania mendorong troli mencari kebutuhan untuk dirinya. Tiba-tiba Dion menambah banyak barang untuk gadis itu. Mulai dari keperluan luar hingga dalam, Dion mengetahuinya.


“Lo pasti butuh ini semua!”


Dion mengambil alih troli dari tangan Kania dan gadis itu malah bengong menatapnya.


“Apa lagi ya kebutuhan cewek itu?” tanya Dion kepada Kania. Pria itu memasukkan apa saja yang Ia ketahui tentang kebutuhan wanita hamil. Membuat Kania semakin berpikiran negatif kepada Dion.

__ADS_1


“Dion, Gue jadi ikut prihatin dengan peristiwa yang menimpa Dista dan Vicky, beruntungnya bayi mereka selamat.” ujar Kania.


Dion bergeming, Ia masih belum menyelesaikan urusannya dengan Dias. Pasti akan ada lagi yang akan di rencanakan gadis itu. Tak ingin Kania turut menjadi sasarannya juga, Ia harus memikirkan langkah selanjutnya.


Melihat Kania mengisi trolinya dengan banyak barang, Dion protes.


“Lo cacingan? Kenapa gadis kerempeng kayak Lo banyak ngemil sih? Mending Lo makan buah, sayur biar ... Ah sudahlah, Lo bukan bocah kecil yang masih harus di perhatikan.”


Setiap membahas Dista pasti rautnya akan manis, selembut permen kapas. Sebaliknya, setiap Dion menatapnya, hanya ada rasa kesal dan jengkel. Meskipun Kania gadis yang masa bodoh, Ia berubah menjadi lebih sensitif saat Dion mulai melibatkannya. Ia berharap sedikit perhatian pria itu kepadanya. ‘Salahkan kalau Gue berharap sedikit ... saja!’ tatapan sendu Kania dilihat oleh Dion.


Di kasir, Kania melihat banyak gadis menatap Anak bosnya itu. Seakan terpesona dengan ketampanan makhluk yang entah berasal dari mana. Membayar belanjaannya yang begitu banyak. Kania menjadi minder, tak ingin menjadi bahan olok-olokan mereka saat jalan berdua dengan Dion.


“Kita harus ke Rumah sakit sekarang! Gue minta tolong Lo buat jagain Dista, Oke!”


“Terus Lo mau ke mana?” Kania penasaran.


“Mau ke Penghulu, daftarin pernikahan Kita.” Celetuk Dion tanpa dosa.


Deg...


Jantung Kania seakan berhenti. Wajahnya tersipu dan senyumnya mendadak mengembang. Melihat tak ada respon dari Kania, pria itu menatapnya sambil menahan tawa.


“Hahaha... dan Lo percaya?” goda Dion. “Ada yang perlu Gue urus di rumah, Gue titip Dista ya Kania yang cantik. Nanti Gue kasih bonus, bermalam sama Gue di rumah sakit. Senang kan Lo?” Dion mencolek dagu gadis itu sebelum melajukan mobilnya.


Mereka menuju ke rumah sakit dengan perasaan masing-masing.

__ADS_1


‘Dengan tampang bego, Gue masih percaya rayuan pria itu Ya Tuhan, hukumlah dia yang mempermainkan perasaan Gue!’ monolog Gadis itu dengan perasaan campur aduk.


__ADS_2