Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 114. Nol Persen


__ADS_3

“Ya sudah nggak apa-apa , kalau kamu tidak mau cerita. Tapi Saya mau bertemu dengan gadis itu sebentar saja, ayo!”


Tentu saja Yoshi bingung, harus berbuat apa selain menuruti kemauan Rosi. Toh, hanya sekedar bertemu dan tidak berbuat macam-macam. Saat di tempat Kania dan Sigit berada, Yoshi melihat sebotol obat seperti yang pernah Ia temukan dalam saku jas yang dikenakan oleh Dewa. Lantas Yoshi pun berpikir untuk menanyakannya.


“Mbak Rosi sakit?”


“Heh? Nggak kok, Saya sehat-sehat saja kenapa Yoshi?”


“Itu obat siapa?” tunjuk Yoshi saat Rosi meletakan tas nya di meja. Rosi pun akhirnya buka suara. Wanita muda di depannya harus mengetahuinya cepat atau lambat. Meskipun harus membuka peristiwa lama yang sudah Rosi simpan sendirian.


“Saya akan menceritakannya, tapi biarkan saya menyapa gadis itu.” Yoshi pun memilih untuk tak mengganggu kebersamaan itu. Rasa penasaran Yoshi semakin besar jika Dewa maupun Rosi memiliki sesuatu yang di sembunyikan.


Saat sedang asyik berbincang, tiba-tiba Kania di kejutkan dengan kehadiran wanita cantik dan berkelas. Perangainya lembut juga ramah dengan menampilkan senyum terbaiknya, sama seperti pria di hadapannya. Mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.


“Boleh kita berkenalan?”


Bukan hanya Kania saja yang terkejut, tetapi juga pria tampan yang sudah memberi kode untuk meninggalkan mereka. Rosi hanya tertawa, karena tak akan semudah itu menuruti permintaan Sigit.


“Bo-boleh Tante, silakan duduk dulu.”


“Apakah saya mengganggu kalian? Kalian berdua ini sepasang kekasih? Saya Rosi.”


Kania menggeleng dengan cepat, kedua tangannya pun mengisyaratkan jika mereka berdua tak ada hubungan apapun membuat Sigit sedikit kecewa. ‘bisakah kamu berbohong sedikit saja Kania, setidaknya saat ini.’ batin Sigit yang terus menatapnya.


“Sa-saya Kania Tante, dan ini ...,” Kania tak bisa melanjutkan kalimatnya.


“Ini Sigit, teman dekat saya.” imbuh Kania. Ia berbicara dengan gugup. Bagaimana tidak, saat sedang menikmati kudapannya tiba-tiba diajak berkenalan oleh orang asing. Meskipun begitu, Kania menjadi merindukan ibunya.


“Kamu bagaimana sih, makan masih saja belepotan kemana-mana!” Ibu jari Sigit menyeka bibir Kania dengan lembut. Rosi pun mengerti jika putranya pasti sangat menyukai gadis itu. Ia pun tak tega melihat wajah kecewa putranya.


“Kalian berdua sangat cocok, kenapa tidak bersama?” Rosi terus memperhatikan Kania. sosok gadis sederhana, yang biasa saja. entah apa kelebihan gadis itu sehingga membuat Sigit terpikat olehnya. Selain parasnya yang ayu, Kania memang tidak memiliki kelebihan yang lain di mata Rosi.

__ADS_1


Berulang kali Sigit berdeham, memberi kode untuk membuat mamanya pergi dari mejanya. Ketidak nyamanan Kania membuat Sigit merasa bersalah. Sampai saat Kania hendak menjawab pertanyaan dari Rosi sebuah ponselnya berdering.


‘Mas Dion? selamat, selamat.’ Kania berusaha mengalihkan pertanyaan itu sementara waktu. Sigit yang melihat ekspresi Kania saat mengangkat ponselnya, segera tahu jika itu pasti dari pria sok jagoan.


“Tante, permisi angkat telepon dulu ya!”


...


Kania berjalan keluar sedikit menjauh dari mejanya. Ternyata Dion hanya berpamitan untuk pulang terlambat, padahal pagi tadi Ia telah mengirimkan pesan melalui surat.


Kania


[Ke Bogor? Kira-kira pulang jam berapa Mas?]


Dion


[Kenapa, kangen ya? hehe, Aku usahakan pulang cepat ya, baik-baik saja kamu di rumah! lusa sudah mulai kembali lagi ke kantor.]


Kania


Yeaaay.... suara lengkingan itu terdengar hingga ke meja sepasang Ibu dan anak yang menatapnya dari jauh. Bahkan Dion pun sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya.


Dion


[Terima kasihnya nanti malam saja di rumah, sudah dulu ya sayang Mas masih mengemudi. Muuachh!] wajah Dion tiba-tiba saja berubah merah. Padahal tak ada yang memperhatikan dirinya. sepanjang perjalanan Ia terus tersenyum, sampai lupa mematikan ponselnya.


Kania


[Halo...Halo, yee..hati-hati di jalan ya Mas!]


Setelah panggilan itu berakhir, Kania kembali ke tempat duduknya. Namun, Ia mencari wanita seusia ibunya itu sudah tidak berada di sana. Kania pun menanyakannya kepada Sigit.

__ADS_1


“Kemana Tante yang duduk di sini? Kamu usir ya Sigit?” tuduh Kania menggodanya.


“Kenapa Kamu nggak jawab aja kalau kita berdua pernah pacaran? Memangnya Tante itu akan tahu kalau kamu berbohong?” mengacak rambut Kania.


“Mana boleh begitu, Oke sebagai permintaan maafku Aku akan menemanimu hari ini, kita mau kemana sekarang?”


“Kalau Aku ajak ke pelaminan, pasti kamu akan langsung menolak. Benar kan?”


Kania melayangkan sebuah kepalan kecil ke lengan Sigit sembari tertawa, “Jangan macam-macam kamu ya!”


...


Rosi menepati janjinya. Ia mengeluarkan sebuah botol obat yang masih tersegel. Lantas menunjukannya kepada madunya. Menenggak segelas air putih untuk menenangkannya.


“Ini adalah anti depresan! Saya selalu menyiapkannya dan membawanya kemana-mana selama bersama Sigit.”


“Maksudnya?”


Rosi menceritakan bagaiamana Sigit bisa menjadi begitu depresi dengan kepergian Bagas, Kakak Kandungnya. Ternyata selama ini Dewa terus mencuci otak putranya, bahwa Sigit yang harus bertanggung jawab karena telah menyebabkan Kakaknya meninggal secara tragis.


Sigit pemuda yang manis dan santun, keinginannya untuk terus belajar membuat Dewa mulai mendukungnya. Sayangnya, setiap keputusan yang Dewa ambil tak pernah sejalan dengan Sigit. Tak ada satupun kemiripan antara keduanya.


Fisik, emosional, intelektual kemiripan mereka berdua adalah nol persen. Seketika membuat Yoshi membeku. Mencerna benar-benar setiap kalimat yang keluar dari mulut Rosi.


“Jadi Sigit ini...”


“Ya, kamu pasti mengerti. Jika Sigit bukanlah anak biologis dari Mas Dewa.”


“Mbak! Mbak nggak sedang bercanda kan?” Rosi tersenyum kecut. “Bahkan Sigit hanya memiliki sedikit kemiripan denganku,” imbuhnya.


“Siapa pria itu? Apakah Sigit tahu?”

__ADS_1


...


__ADS_2