Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 42. Pulang Saja


__ADS_3

Perasaan Kania setelah bertemu Dion, harusnya merasa senang. Tetapi karena dirinya melihat kejadian tadi siang secara langsung membuat moodnya tak baik. Kania selalu berkata ketus kepada Yoshi juga Iwan, yang selalu membela Dista juga Dion.


“Heh, bocah kecil! Lo kan nggak tahu permasalahan mereka berdua, jangan hanya melihat dari sudut pandang Lo aja! Gue bukannya membela mereka berdua ya, karena sebelum kenal Lo pun Dion juga seperti itu, bahkan jauh lebih parah dari tadi yang Lo lihat! Nggak lihat muka sohib Gue di bogem si Vicky!”


“Sudah Beb, malu berdebat sama cewek.” Yoshi menengahi keduanya. Mereka ribut di dalam taksi saat pulang ke rumah Vicky.


Setelah tiba di rumah Vicky, tuan rumah pun terkejut karena ketiga temannya memutuskan untuk pulang secara mendadak.


“Heh! Kalau mau pulang kabarin dulu dong! Sorry, Gue belum rapi-rapi lagi kamarnya. Sudah di bersihkan Bini Gue sih kemarin.” Merasa senang karena rumahnya kembali ramai.


Kania merasa sungkan, merasa merepotkan pemilik rumah. Begitu juga Yoshi dan Iwan yang cukup kagum dengan teman mereka yang satu ini.


“Santai Bro, Gue bisa beres-beres nanti! Tapi kok sepi? Dimana Dista? Nggak Lo marahin kan?” tanya Yoshi khawatir.


Vicky mengulum senyum tak ingin memberitahu temannya. tetapi sejak tadi Iwan sudah menatapnya curiga. Karena sepertinya pria itu terburu-buru.


“Ada di kamar, lagi tiduran.” Jawaban Vicky membuat Iwan tertawa.


“Lagi tiduran apa habis Lo tidurin? tuh kaos Lo terbalik!” tunjuk Iwan dengan menarik kaos yang dikenakan Vicky. Seketika Yoshi dan Kania menutup mulut mereka, karena tak ingin Vicky mendengar tawanya. Wajah pria itu merah karena ketahuan teman-temanya.


“Udah bro, Lo senang banget ledekin Gue! anggap rumah sendiri ya! kamarnya di lantai dua, kalian pilih sendiri, Gue juga udah masak. Gara-gara Dista telepon, akhirnya Gue nggak balik lagi ke kantor kan.”


“Jadi Lo nggak kerja hari ini? tanya Yoshi.”


“Ah Lo beb, polos amat sama Vicky! nggak lihat keringatnya aja belum kering itu, hahaha...”


Ketiganya tertawa, sampai mereka menyadari jika Kania terus diam saja. seperti ada beban dalam pikirannya. Yoshi pun menjadi sedikit malas dengan gadis itu, karena terlalu keras dengan pemikirannya.


“Kania, Yuk ke atas. Lo bisa bersih-bersih dan istirahat! Ajak Yoshi.”


“Hmm,” reaksi singkat Kania benar-benar membuatnya tak mengerti. Setibanya di kamar, Kania yang ingin merebahkan diri menerima telepon dari Sigit. Pria itu baru tahu jika ternyata Kania lah yang sedang sakit, dan Sigit merasa menyesal karena terlambat mengetahuinya.


Sigit


[Maaf ya Kania, Aku baru tahu kalau kamu yang sakit. Tadi Aku mencari di ruangan, tapi ternyata kamu dikonfirmasi sudah pulang!]


Kania


[Nggak apa-apa Sigit, Aku merasa bosan. Jadi Aku putuskan untuk pulang saja]

__ADS_1



Sigit


[Kania, Apa Aku bisa mengajakmu keluar? Kebetulan besok Aku libur.]


Kania berpikir, sepertinya tak masalah hanya mencari angin segar saja. dan Kania pun juga sedang berusaha menyingkirkan mood nya yang buruk. Sigit teman yang pas untuk dirinya berbagi. Pria itu nyatanya lebih peduli dengannya, daripada pria aneh yang lainnya.


Kania


[Ehm, Oke jam Empat sore ya, nanti Aku kirim alamatnya.]


Sigit


[Wah, Aku nggak menyangka kalau kamu setuju. Sekarang Kamu istirahat, Aku mau kembali bekerja.]


Mereka berdua pun mengakhiri panggilannya. Kania yang ingin membersihkan diri nyatanya mendapatkan panggilan lain yang masuk. Ternyata dari Agnes yang memintanya untuk datang ke kantor besok pagi. Merasa bersalah dengan perjanjian itu dan telah memakai sebagian uang pemberiannya. Kania pun menyanggupi untuk ke kantor dan kembali bertanggung jawab dengan pekerjaannya.


Hah...


‘Kondisi Gue udah membaik, ada baiknya Gue nggak merepotkan lebih banyak orang. Kemarin keluarga Pak Chandra, sekarang Pasangan Vicky dan kedua temannya. Hidup Gue kenapa nggak berguna banget Ya Tuhan, Gue harus keluar dari rumah ini secepatnya. Pikiran ini selalu buruk kepada Dista, membuatku tak pantas diperlakukan baik oleh pasangan ini.’


Berita pernikahan Dion pun semakin mencuat, menggemparkan grup chat itu. Teman-teman perempuan mereka mengatakan jika Dion semakin tampan dan panas, dan ingin bergabung dalam ranjang itu.


“Memang benar-benar bocah prik itu si Dion! mana fotonya dimasukkan ke grup dengan percaya dirinya!” Iwan terus tertawa, Yoshi pun sampai susah menghentikannya.


“Heh, kenapa kalian nggak ajak Dion melakukan panggilan Video juga. sepertinya bocah itu nggak sadar dengan apa yang dia lakukan.


“Gagal malam pertama Dion, karena batal nikah. Makanya dia jadi stres seperti itu.” Iwan keceplosan. Emang Iwan dan Dion adalah dua mulut ember. Yang tidak bisa menyimpan rahasia. Kini Semua menatap Iwan menuntut penjelasan. Dan pria cungkring itu menceritakan persis apa yang dikatakan pentolan gengnya, namun ada beberapa hal yang Iwan terpaksa tutupi, demi menghargai perasaan Vicky.


“Jadi Intinya semuanya berkat istri Lo yang aduhai itu, Bro! makanya si Kampret bisa lepas dari pernikahannya sama Dias, paham kalian!” Iwan menekankan hal itu kepada Vicky dan Kania yang berada di tengah anak tangga mendengar semuanya. Namun hal itu tak merubah kebenciannya kepada Dion.


...


Di tempat Dion, mendapati ponselnya terus berbunyi akhirnya ia memeriksa ulang apa yang terjadi. Ternyata Ia salah mengirim foto.


‘Sial! Kenapa masuk ke grup sih! kacau, pasti Gue lagi jadi bahan gosip.’


Jreng!!

__ADS_1


Dion membaca semua chat itu, dan ketiga teman pria badungnya berada di chat paling atas. menertawakan kekonyolannya. Tapi tak masalah buat Dion, anggap saja sebagai sebuah keseruan. Dirinya beruntung bisa terselamatkan dari pernikahan tidak jelas itu.


Dion mengambil dan memainkan kelopak mawar itu, tiba-tiba bayangan gadis yang pernah diciumnya, muncul di depannya memasang wajah menggoda meminta Dion untuk mendekat kearahnya. Namun saat Ia sentuh gadis itu lenyap.



“Sial!”


Dion mengganti bajunya dan mengambil kunci motornya. Namun Ia ingat jika motor kesayangannya berada di rumah Vicky. sedangkan besok Ia harus ke kantor. Dion ke kamar pria itu, namun tak ada. Menuju dapur pun juga tak ada.


“Lah, dicari kemana-mana, malah nongkrong di post satpam. Mang!” panggil Dion.


Keduanya menoleh. “Waduh panggilan Alam, Gue kesana dulu Mas Bro!” pamit Ujang meninggalkan teman kerjanya. wajah Ujang sumringah, mendengar Dion tak jadi menikah dengan gadis manis itu.


“Punten Mas Dion, ada apa?” snif..snif... sembari mengendus wangi bunga disekitarnya malam-malam begini. Membuat bulu Ujang merinding.


“Mang, tolong antar Dion ke rumah Vicky dong, mau ambil motor.”


“Oh siap Mas! Ujang siapkan mobil dulu ya!”


Setelah keduanya berada dalam mobil dan Ujang yang mengemudi, pria berdarah Sunda itu mengamati Dion yang sepertinya bahagia karena gagal menikah.


“Besok kata Bu Agnes Mas Dion mulai ke kantor ya? ... Kasihan Lo Bos sama Nyonya besar, pulang ke rumah kusut wajah mereka.” Membuat Dion kembali tertawa mengingat kelakuannya.


“Hah!! mereka nanti akan berterima kasih, karena Dion tak jadi menikah hari ini. sekali-sekali Papa harus mendengarkan suara Dion, Mang! Nggak selamanya Dion akan diam jika terus ditekan seperti ini.”


Setibanya di rumah Vicky, Ujang di minta untuk pulang. karena Dion tak mungkin langsung pulang. meskipun baru saja terlibat keributan, nyatanya Dion tak pernah takut untuk terus mengunjungi kawan baiknya itu.


‘Rame banget...!’ Dion menekan bel nya.


“Yang, siapa malam-malam ke rumah? tanya Dista, wanita itu hendak bangkit. Namun dilarang oleh suaminya.


“Jangan! kamu dalam masa hukuman. Biar yang lain aja, Bro tolong buka pintunya ya!”


Namun Iwan dan Yoshi menjulurkan lidahnya tak mau bangkit. Meledek pasangan suami istri itu.


“Sorry, mager... yang jomblo please! Haha... ” merasa hanya dirinya saja yang berstatus single, Kania mengajukan diri.


“Biar Gue aja yang buka.”

__ADS_1


...


__ADS_2