
Saat berkumpul seperti ini, semua kebahagiaan terasa lengkap. Begitu juga dengan Iwan dan Yoshi. mereka sudah tak lagi mempedulikan yang lain. hanya kali ini saja, sebuah kesempatan yang bisa mereka abadikan.
Sampai mereka semua melupakan sesuatu, jika salah satu dari mereka adalah milik orang lain.
Saat Yoshi mengobati luka Iwan, ponselnya bergetar. Beberapa notif panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk.
Diantaranya dari Dewa, yang sekarang resmi menjadi suaminya. Juga beberapa dari Sigit.
Awalnya tak diindahkan. Namun, lama kelamaan terasa mengganggu. Sampai Dion memintanya untuk membaca pesan itu.
Sigit
[Yoshi, ini antara kita berdua saja. jika hubungan terlarangmu tak ingin diketahui publik, segera pulang dan bawa Kania bersamamu bagaimanapun caranya. Ini penawaran terbaikku untukmu, sebagai teman.]
Yoshi
[Oke! Gue akan pulang!]
Gadis tomboy itu tak mengatakan isi pesannya kepada siapapun, baik Dion juga Iwan. Ia tak ingin membebani mereka lagi. sudah cukup banyak yang mereka lakukan untuk hubungannya dengan Iwan. Cukup, kali ini Yoshi akan menanggungnya sendiri.
Dion sudah banyak menderita karena kegagalan hubungannya. Kini Ia benar-benar serius untuk itu. Yoshi pun tak akan membiarkan gadis lugu seperti Kania akan jatuh kepada pria yang sepertinya memiliki kepribadian ganda.
“Heh, kenapa muka Lo begitu? bilang aja terus terang! Jangan sampai kejadian seperti kemarin. Udah terlambat, dan nggak bisa ngapa-ngapain!”
“Haha... nggak apa-apa, itu cuma pesan spam operator! Bagaimana kalau malam ini Gue yang masak buat kalian?”
Semuanya menatap Yoshi terkejut. Seperti tak biasanya. terlihat dari gestur tubuhnya dan nada bicaranya seakan sedang ada yang disembunyikan. Vicky yang sedang mengolah bahan pun dengan senang hati memberikan tempat.
“Nih, kebetulan kalau Lo mau gantiin posisi gue, demi kasih makan kalian semua!” Vicky melepas apronnya dan memberikan pada Yoshi. saat sedang meracik bumbu, air matanya mengalir tanpa aba-aba. Berulang kali Ia tahan dan seka, tetap saja mengalir tanpa permisi.
“Beb! Sigit bilang apa ke Lo?” Iwan membawa ponsel Yoshi. dan meminta gadis itu untuk memberikan passwordnya.
Yoshi tak ingin Iwan kembali menjadi korban. Ia akan meninggalkan semuanya, temasuk Iwan. Biarlah, mungkin memang ini yang terbaik untuk semuanya.
__ADS_1
“Udah tenang aja, mereka nggak akan bisa menyakiti Gue! yang Gue khawatirkan itu Lo. Masa dipukul Sigit diam aja sih! balas dong, malu gue lima tahun jadi cewek Lo, haha...”
“Lo ketularan Dion, puas banget ledekin kelemahan Gue!”
‘Maafin Gue Wan, gue hanya butuh cara supaya Lo bisa bertahan tanpa Gue. juga nggak akan melukai anak-anak yang lain. Yang nggak seharusnya terlibat. Pertemuan kita dengan Sigit waktu itu memang sebuah kesalahan besar. Buat hubungan Dion sama Kania, juga hubungan kita.’ sesal Yoshi dalam hatinya.
Jamuan makan malam oleh Yoshi memberikan kesan sebuah perpisahan. Semuanya di kemas sangat manis. berulang kali ponselnya terus bergetar. Yoshi hanya ingin melewati malam ini dengan kawan baiknya. Yang sudah seperti keluarganya sendiri.
“Yoshi, ini bukan farewell party kan?” tanya Dista menyelidik.
“Ah, bumilku sayang... tentu saja nggak! Sekali-sekali jangan si Vicky terus yang kita repotin. Kasihan, anaknya belum lahir tapi lihat bokapnya udah tua karena banyak beban.”
“Haha... ngeles aja Lo kayak bajaj! Awas lo ya, kalau sampai selesai acara ini terus Lo hilang nggak ada kabar, Gue obrak-abrik itu rumah sakit suami Lo!” ancam Dion juga Vicky.
Kania makan dengan lahap masakan Yoshi. sepertinya cocok dengan menunya. Dion pun menambahkan porsinya. Dan mengambil alih piring itu.
“Sini! biar Aku aja yang suapin.”
“Jangan Mas! Dilihat yang lain, nggak enak.” Dion menatap teman-temannya yang sedang asyik dengan pasangannya sendiri di meja makan. Sedangkan Kania dan Dion memilih menghabiskan waktu berdua di samping kolam renang. “Nggak usah malu, mereka itu keluargamu Kania. Nanti kamu juga akan membutuhkan pertolongan mereka.”
“Vicky?”
“Dia satu kampus sama istri Bayu. aneh kan? jodoh emang nggak ada yang tahu! Kayak kamu contohnya!”
“Iya, kamu dulu yang panggil Aku jorok, upik abu, slebor, suka acting apa lagi, murahan?” sindiran Kania yang terdengar menyedihkan. Dion merasa menyesal telah mengatakan itu semua. Ia menarik bahu gadis itu dan memeluknya.
“Sayang, aku minta maaf ya! Aku keterlaluan, kadang aku benci dengan diriku sendiri jika sedang cemburu. Aku siap dihukum kalau kamu mau membalasku.” Tak bisa melihat ekspresi Dion, membuat Kania ingin mengujinya.
“Nggak mau! kamu nggak tulus. Kamu sering mengulangi kesalahanmu. ucapanmu kasar, Aku nggak suka!”
“Kamu yakin ingin melihat ketulusanku?”
“Hem,” Kania menghadapkan wajahnya pada pria berahang tegas itu. wajahnya yang tampan membuat Kania gugup. Namun Ia ingin sekali mengerjainya.”
__ADS_1
Dion menatap Kania, jarinya membentuk huruf V sebuah simbol jika dirinya tengah berjanji. Dengan lembut Dion mengatakan jika dirinya akan berubah menjadi lebih baik. Namun, kania masih menolaknya.
“Yang lantang dong, masa cuma Kania yang dengar!”
“Ish..! benar-benar ya lagi isengin Aku, awas kamu.” Dion berdeham.
“Semunya dengarkan! Gue Dion Wijaya dengan ini berjanji kepada Kania, akan mencintai gadis di depan gue dengan serius, nggak akan membuat dirinya menyesal karena udah memilih gue! ... ” Kania terbahak bahak melihat wajah serius Dion. Bahkan suara Dion membuat teman-temannya keluar melihat keributan yang dibuat pentolan gengnya.
“Dasar pasangan prik!” tukas Iwan.
“Bisa-bisanya bocah prik kayak Dion bisa jago berkelahi, Gue juga heran.” sambung Bayu.
“Gimana udah lihat kan? Aku dimaafin kan, sayang? tuh lihat, warga kampung sampai pada keluar dari dalam.” Dion menunjuk ke arah teman-temannya yang menertawakannya.
Kini justru Kania yang malu, melihat tingkah konyol Dion. Kania pun memaafkan bosnya, dan merentangkan tangannya kepada pria itu. “Jangan pergi-pergi lagi ya!” Dion memeluk Kania dan mengecup puncak kepalanya.
“Nah begitu dong, baikan!” goda semuanya. Sampai suara euforia mereka dikalahkan dengan derap langkah sepatu boot memasuki area penginapan itu. delapan pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam dan potongan yang menyeramkan. Mengacaukan malam romantis milik Dion dan kawan-kawan.
“Heh! Siapa kalian? Berani-beraninya masuk kawasan ini tanpa izin!” Dion berdiri dan menghampiri mereka.
“Kami hanya melakukan tugas, untuk menjemput istri tuan Dewa Virgiawan yang berada disini.”
“Nyonya Yoshi, kami diperintahkan Tuan untuk menjemput Anda kembali ke hotel sekarang!”
Yoshi pun tengah bersiap. Feelingnya benar jika pria itu tega melakukannya. Namun Yoshi tak mengatakan apapun tentang penjemputan paksa ini. gadis tomboy itu menyiapkan diri dan berpamitan kepada mereka semua satu persatu. Bagaimanapun Dewa memang sudah sah memiliknya. Dan teman-temannya tak bisa menahan kepergian Yoshi.
“Beb, jangan pergi!” Iwan menahan lengan gadis itu.
“Sorry Wan, Gue harus pergi! Jaga diri kalian baik-baik ya, Gue pamit!” Iwan dan Dista menangisi gadis itu, meratapi kepergiannya dengan cara seperti itu. Vicky menahannya, karena memang tak bisa berbuat apa-apa saat ini. “Sayang, udah ya!”
Yoshi melepaskan tangan Iwan dan mengikuti langkah barisan algojo itu.
“Ayo! Jangan ganggu teman-teman Gue!”
__ADS_1
“Yoshi jangan pergi!!”
...