
Memiliki fisik yang kuat dan bukan berarti tak mendapatkan sinyal-sinyal cinta seperti dua temannya yang lain. Dista yang sudah paham kalau Yoshi bisa saja terlambat haid. Kemudian menyarankan si tomboy untuk segera membeli alat tes kehamilan.
Merasa tabu, karena Yoshi bukan seperti gadis kebanyakan. Ia tak ingin menuruti usul temannya. perubahan dalam dirinya juga tak terlalu kentara seperti Dista yang bertambah berat badan, juga Kania yang di awal kehamilan mabuk dan mengalami ngidam.
“Periksa aja Beb! Kalau Lo malu, biar Gue yang beli,” usul Iwan.
“Nah! Gitu dong namanya calon bapak yang bertanggung jawab.” balas Vicky, “katanya Lo juga mau besanan sama Gue?” imbuh Vicky.
Dion yang mendengar hal itu segera menghampiri Vicky. Padahal Ia sudah lebih dulu akan meminang anaknya yang diperkirakan lahir dua bulan lagi. Dista hanya tertawa melihat kekonyolan Dion dan Vicky.
“Sejak kapan Iwan bilang begitu?” oceh Dion tak terima.
“Sejak Lo balik ke Jakarta nggak pamit dan ninggalin kita semua di hotel, ingat nggak sama dosa Lo waktu itu? balas Vicky dan Iwan bersamaan.
Kania menjadi ingat momen terburuk dalam dirinya bersama suaminya. Sungguh, Ia tak ingin hal itu terulang lagi. rasa cemburunya yang besar bisa mengalahkan akal sehatnya. Padahal dirinya sendiri selalu membuat orang lain merasa cemburu dengan perbuatannya.
“Gue doain anak Lo cewek! biar dapat anak gue satu lagi.” Dion mendoakan temannya.
“Tergantung Gue dong, kalau anak Lo rese kayak Lo ya gue pikir-pikir lagi. Ya nggak sayang?” Vicky membuat Dion emosi.
Obrolan itu mengalir hingga tengah malam. Kania meminta Dion untuk menghubungi Sigit. Mencoba memperbaiki hubungannya dengan saudaranya. Dion harus berubah, harus menjadi contoh yang baik untuk anaknya kelak.
Setelah mendengar perkataan Kania, Dion benar-benar menghubungi Sigit. Meskipun menolak, Kania memaksanya.
“Terus kalau nanti dia tanya, ngapain Gue telepon? Aku harus jawab apa?”
“Masa iya Mas, harus Kania juga yang ajarin!”
Seketika semuanya tertawa. Mengejek Dion memang tak akan ada habisnya. Tampilannya saja dari luar pemberani. Padahal isinya mah zonk.
__ADS_1
“Bilang aja Lo mau telepon saudara Lo yang ketemu gede, begitu aja susah sih Nyet!” ledek Iwan.
Meskipun obrolan mereka ngalor - ngidul tidak karuan, nyatanya memang Sigit lebih dewasa dan bisa menerima keadaan. Sigit berjanji akan mencoba melupakan Kania meskipun secara perlahan. juga akan menjadi Om yang baik untuk calon keponakannya kelak.
Bukan hanya Kania yang terharu mendengar obrolan itu. Yoshi pun turut sedih. Ia sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan cinta. meskipun Tuhan telah memberikan kesempatan kedua untuk bersama lagi, tetapi Sigit?
Ia bukan hanya harus merelakan, tetapi akan melihatnya seumur hidupnya sebagai saudara. Bahkan janji untuk menjadi Om yang baik.
“Kenapa Gue jadi cengeng begini sih!”
“Eh cungkring, ke supermarket dong beli tes pack yang strip, compact sama digital.” Pinta Dista.
Iwan yang mendengar namanya diganti cungkring oleh Dista tidak terima. biasanya hanya Vicky dan Dion saja yang kurang kerjaan menamai orang sembarangan.
“Eh si Bohay, Lo ya! jangan ikutin ajaran sesat Dion sama suami Lo. sama calon besan nggak boleh ngelunjak ya!”
Haha...
“Lo punya hape kan? cari di internet! Buruan, nanti nggak ketahuan lagi kalau si tomboy hamil. Eh, tapi itu anak Lo apa anaknya si Dewa?”
Seketika semuanya terdiam mendengar ucapan Dion dan menatap gadis tomboy yang tengah sesenggukan. Yoshi menjadi ingat dengan ucapan Rosi, jika Dewa memiliki kelainan genetik pada benihnya. Lalu menceritakannya sedikit kepada teman-temannya.
Dion, Vicky dan Iwan menjadi khawatir jika mereka bertiga juga mengalami hal yang sama. Bukan hanya para laki-laki, Dista dan Kania juga memegangi perutnya, gara-gara ucapan Yoshi.
“Lo Yoshi, kita ini mau merayakan acara kalian. Malah bicara ngalor - ngidul soal penyakit.”
Vicky meminta Yoshi untuk tidak melanjutkan ceritanya. Selain itu aib bagi Dewa yang sudah meninggal, juga bisa membuat dua wanita hamil itu stres karena overthinking. Iwan dan Yoshi akhirnya memilih pergi berdua. waktu tiga bulan menurutnya cukup singkat, buktinya mereka bisa menjalani hubungan selama lima tahun tanpa terasa.
“Sudah—sudah bubar! Gue yakin kalau kita semua sehat, ya kan!” Dion menghibur dirinya sendiri juga Kania.
__ADS_1
“Dasar Yoshi brengsek! kalau dia nggak jago taekwondo udah Gue ajak ribut dia!”
...
Iwan dan Yoshi akhirnya bisa menghabiskan waktu berdua. sekian lama tak bertemu membuat keduanya tampak canggung. Bahkan sekarang Iwan lebih berhati-hati dengan Yoshi.
Dalam arti, Yoshi pernah trauma dalam berumah tangga. Meskipun pernikahan itu terpaksa, jika Dewa memperlakukan Yoshi selayaknya istri, pasti Yoshi tak akan setakut ini. Iwan justru melihat tubuh Yoshi menjadi lebih kurus. Meskipun penampilannya berubah menjadi glowing, shining, shimmering, splendid seperti Dista dan Kania.
“Beb, kalau Lo beneran hamil gimana?” tanya Iwan. Tangannya tak lepas dari genggaman gadis berambut coklat itu.
“Maksudnya?”
“Ya kalau Lo hamil, terus Lo harus menunggu tiga bulan lagi sedangkan kita berdua berencana akan menikah, bukankah hal itu tidak diperbolehkan?” Iwan berhenti di loong kebutuhan ibu dan anak. Mencium wangi perlengkapan kebutuhan bayi membuat Iwan berencana untuk mempercepat pernikahannya.
“Tapi Wan, kalau memang benar ini Mas Dewa apakah Lo bersedia menerimanya? Andai saja, amit-amit jabang bayi, Anak yang Gue kandung memiliki kekurangan di masa depan, apakah Lo mau nggak malu nantinya?”
Sekali lagi Yoshi menangis. Ia tak sanggup membayangkan hal itu di masa depan. Melihat perangai Dewa yang tak manusiawi itu akan menurun kepada anaknya. Entah laki-laki atau perempuan pasti akan menjadi ujian terberat sepanjang hidup anak itu, Yoshi tak ingin hal itu terjadi.
“Iwan, kalau Gue beneran hamil. Apa Gue gugurin aja ya anak ini, lalu kita menikah dan bikin lagi!”
Pria dengan julukan cungkring itu melepaskan tangan Yoshi. memegang pundaknya dengan kuat untuk menghadapnya. Tatapannya tajam kepada gadis yang sangat Ia cintai itu.
Tak habis pikir dengan jalan pikirannya yang dangkal. Mau itu anak Dewa, yang cacat atau ada kekurangan dalam diri anak itu, Iwan akan menerimanya sepenuh hati. Selama mereka berdua mau membesarkan dan merawatnya bersama-sama, Iwan tak akan keberatan dengan hal itu.
Yoshi kalut. Perasaan gelisah nya sering menghantui setelah mengetahui rahasia besar mantan suaminya dari Rosi. Padahal belum terbukti benar. Yoshi lupa jika mereka pernah melakukan hubungan terlarang itu, bahkan sebelum Dewa menyentuhnya.
“Gue nggak suka sama jalan pikiran Lo Beb! Jujur baru kali ini Gue sangat kecewa sama Lo.”
Iwan memberikan sejumlah uang kepada Yoshi untuk membayar semua belanjaannya. Pria cungkring itu berjalan cepat keluar dari supermarket.
__ADS_1
“Iwan Tunggu!”
...