
Broomm...broomm...
Terdengar suara halus Ducati terparkir sempurna di depan rumah. Ujang memberi tahu Agnes jika putranya telah datang tentunya dengan seorang gadis, yang di gadang-gadang akan menjadi nona muda di rumah besar itu.
Agnes yang sedang menerima tamu pun memberi kode kepada Ujang untuk segera meminta Dion putar balik lewat pintu belakang. Sebelum semua rencana Agnes akan gagal total menjadikan Kania sebagai mantu dari keluarga baik-baik.
“Ma, Dion pulang!”
“Akhirnya Si Kasep mah pulang juga ke rumah, dari mana saja Mas Dion, Mbak Ka- ...”
“Mama mana Mang? Lo nyirempetin Gue terus, pasti ada yang Lo sembunyiin ya! Ngaku nggak Mang?”
Ujang menarik tangan Dion dan Kania, yang sebentar lagi nyaris akan bertemu dengan sosok cantik di ruang tamu bersama Agnes.
“Udah Atuh Mas, nurut aja sekali ini sama Ujang! Ya Kan Mbak, ayo ke atas!” tangan Ujang menarik Kania, Dion yang melihat hal itu segera melepas dengan paksa tangan Ujang.
“Tapi nggak usah pegang-pegang dong Mang! Oh iya, kamar tamu?”
“Sedang dirapihkan Mas, karena Mas nggak pulang kemarin semuanya ....”
Belum juga selesai Ujang bicara, Dion membawa Kania ke kamarnya. Menyuruh gadis itu untuk sembunyi di sana. Sepertinya ada yang tidak beres yang sedang di sembunyikan mamanya. Dion paling tidak suka hal yang bersifat rahasia, makanya rahasia temannya tak ada yang pernah aman di tangannya.
“Kalau dilihat-lihat Lo boleh juga, kalau Lo nggak jorok. Oh ya, Gue juga udah lihat punya Lo ... Ya, lumayan lah segenggam tangan Gue masuk.” Wajah mesum Dion membuat Kania bergidik. Bisa-bisanya ia merasa iba padanya tadi malam.
“Jangan kemana-mana, Kalau bosen bersih-bersih kamar Gue juga boleh!” Dion pun berlalu meninggalkan Kania di dalam kamarnya. Tak ada yang disembunyikan pria itu. sosok pria apa adanya, pahit ia akan katakan pahit, manis ia akan katakan manis. Ya,begitulah prinsip seorang jagoan.
Mungkin hanya Kania yang menganggap semua ucapan Dion adalah perintah. Gadis itu benar-benar membersihkan kamar milik pentolan geng itu. mulai dari tempat tidur, merapikan meja kerjanya juga lemari pakaiannya. Aroma maskulin pria itu juga menguap di sana, seperti pheromone yang memikat Kania untuk terus lengket bersama pria yang jijik kepadanya.
‘Gue dinilai jorok, tapi kenapa dia peduli sama Gue! bisa saja Dion tutup mata saat Gue di hajar sama Faris, kalau Gue mati kan selesai segala rasa sakit Gue, heh! Apa ini?’ Kania menemukan selembar surat yang tertera tanda tangan Bos nya dan anaknya.
‘Astaga!’ Kania menutup mulutnya.
__ADS_1
Ternyata selama ini bocah itu memang tidak sungguh-sungguh untuk bekerja di perusahaan pak Chandra. Pantas saja, dengan pede nya mengenalkan dirinya, kenalin Gue Dion!, dengan menirukan gaya tengilnya. Persis yang Dion lakukan waktu itu. Cih, dasar orang kaya.’ Tanpa Kania sadari Dion sudah ada di pintu menyaksikan Kania membersihkan kamar.
“Heh, Gadis jorok berani-beraninya Lo ngeledek Gue!” Dion menghampiri Kania dan mengangkatnya ke atas meja kerja. Gadis itu berteriak-teriak, hingga membuat Agnes naik ke lantai dua. Pada hitungan ketiga, Dion mencium bibir Kania tepat saat Agnes masuk.
“Dion!” pekik Agnes.
Pria yang disebut namanya, tak menggubris panggilan itu. Ia terus saja mengulum bibir kenyal nan manis milik Kania. Tangannya pun turut bekerja, membuat Kania kewalahan karena tenaganya tak sebading dengan pria bertubuh atletis itu.
“Dasar bocah nakal, lain kali pintunya di kunci! Biar Mama nggak perlu melihat semua ini,” Agnes keluar dengan membanting pintu. Begitu juga dengan Dion yang mengakhiri aksi brutalnya.
“Gimana? Lo udah lihat kan? ini salah satu perbuatan Gue yang sulit Gue ubah!” Dion mengelap bibirnya yang basah dengan jarinya, kemudian berpindah mengelap bibir tipis milik Kania. Melihat gadis terengah karena kehabisan napas.
“Butuh napas buatan?” melihat reaksi Kania sepertinya trauma dengan ciuman mautnya, sepertinya rencananya akan berhasil. Begitu juga dengan Mamanya yang sepertinya percaya dengan ucapannya.
Dion menurunkan gadis itu dari atas meja. Nanti malam Lo tidur di sini, sama Gue! nggak usah protes, karena besok Lo akan di bawa ke rumah sakit sama Bos Lo yang tengil itu.
“I-itu kan Papa Lo Bego!” jawab Kania sambil menunggu reaksi bocah itu. Kania jengkel, tak ada angin atau pun hujan, lagi-lagi Dion mencuri kesempatan.
Hahaha...!! refleks Kania tertawa begitu keras. Dion terkejut melihat gadis itu bisa tertawa begitu lepas. Dion tak pernah melihat gadis itu tertawa sebelumnya.
Bukannya menurut, Kania terus menatap Dion dengan raut mengejeknya, hingga dirinya terduduk di lantai yang beralaskan karpet memegangi perutnya yang tegang karena tak berhenti tertawa. Dion mengernyitkan dahinya. Bukannya berhenti, tawa Kania terus terngiang di telinganya.
“Heh, gadis jorok tutup mulutmu!”
“Apa, Mas siapa tadi? Hahaa...!”
Dion meremas lembut bibir gadis itu saking gemasnya, membuat mereka saling beradu pandang. Dion ikut duduk di sana, dia memberitahu Kania jika di bawah ada seseorang di masa lalunya.
“Lo Nanti malam Gue suruh tidur di sini, karena mantan Gue mau menginap di sini! Sekarang Lo paham, jadi jangan ke GR-an dulu. baru dicium doang udah ngarep, hahaa....! sekarang Lo mandi sana, Pakai aja pakaian yang ada, beresin dulu kalau Lo mau!”
Dion pun turun ke bawah menemui Dias. Dengan wajah nyolotnya Dion tak menampik pernah menjalin hubungan dengan gadis itu, meskipun dengan hasil sebuah pengkhianatan. Dion Wijaya, tampilan seratus persen sempurna, namun tetap saja Dewa Asmara tak pernah berpihak kepadanya.
__ADS_1
“Wih ada si cantik Dias, ada angin apa Lo kemari?” Dion duduk di seberang gadis itu, Ia tahu mantan kekasihnya adalah penggoda yang handal.
Dias yang tampak semakin cantik, berpikir jika Dion masih mengharapkan cintanya. Nyatanya mamanya pun juga telah berhasil masuk dalam rayuannya.
“Nggak enak ngobrol di sini, sejak tadi sopir Lo ngelihatin Gue terus.” Dion terkekeh, nyatanya Ujang masih ingat dengan foto yang pernah Ia tunjukan malam itu.
“Kita ke Balkon aja! Emangnya cowok Lo yang tajir melintir itu kemana?” mereka berdua berjalan menyusuri anak tangga yang melingkar. Sesekali Dias mencoba mendekatkan diri kepada bekas pacarnya yang jago dalam hal apapun. Sayangnya, Dias belum pernah mendapatkan sengatan bibirnya yang ganas.
“Sebelum kita ngobrol lebih banyak, Lo bikinin Gue kopi dulu, apa kek yang Lo bisa! Soalnya Nyokap Gue lagi calon Bini buat Gue!”
Dion sengaja mengeraskan nada bicaranya saat di dekat kamarnya. Supaya Kania mendengar obrolannya. Nyatanya gadis itu memilih melihat pemandangan kamarnya yang terlihat Ujang sedang mengelap mobil.
Dion dan Dias berdua ngobrol santai di balkon, dengan gadis itu terus menatap perubahan Dion yang semakin dewasa. Aura Dion sangat lain, begitu memikat. Semenjak mereka bertengkar beberapa tahun yang lalu. Dias jadi penasaran, apakah pentolan geng itu masih menginginkan cewek tulalit itu yang kabarnya sudah menikah dengan sahabat baiknya.
“Lo masih ada rasa sama Dista?”
“Yah, mau gimana namanya juga cinta pertama. Sayangnya sampai sekarang masih dia yang ada dalam pikiran Gue, kenapa? Lo nggak terima?”
Dion menyeruput kopinya, dari rasanya saja sudah ketahuan jika gadis yang ada di sampingnya saat ini tidak pernah berubah. Dia datang hanya di saat butuh saja.
“Dari mana Lo dapat alamat rumah Gue?”
“Nggak susah Dion, buat mendapatkan alamat pewaris tunggal Wijaya Grup, jadi apa lo sudah punya calon pendamping?” Dias bergelayut manja, dengan menempelkan aset kenyal kebanggannya. Kania yang merasa haus, ingin menuju ke dapur kini harus melihat pemandangan menyakitkan mata. Rupanya benar, mantan kekasihnya datang dan mereka berdua sangat dekat, bahkan nyaris tak berjarak.
‘Apa yang sedan mereka lakukan?’
Setelah bertemu Dista, kini Kania bertemu dengan Dias dan keduanya pun sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi dirinya saat ini.
‘Bangun Kania! Lo salah kalau berharap pria itu punya perasaan sama Lo!’ saat Kania berbalik ke kamar, Dion memanggilnya.
“Mau kemana Sayang!”
__ADS_1
...