
Selepas kepergian Yoshi, Dion mendapat telepon dari Chandra untuk segera kembali ke Jakarta. karena semua kontrak dengan rumah sakit besar itu telah di batalkan. Dion hanya tertawa miris mendengar hal itu. malam itu juga mereka berkemas.
Chandra sempat terkejut, saat pihak dari Dewa mendatangi kediamannya malam-malam. Karena Chandra sudah hand over (mengalihkan) perusahaannya kepada Dion, jadi putranya lah yang akan menyelesaikannya.
Pihak klien tak menyebutkan alasan pembatalan itu, tetapi kebijaksanaan Chandra mampu memahami itu semua. Sesuai dengan kesepakatan pihak Dewa harus membayar pinalti yang jumlahnya tentu tidak sedikit mengingat perjanjian kontraknya diatas lima tahun.
“Pa, kira-kira ada masalah apa ya, sampai Klien besar Dion membatalkan kerja samanya sama perusahaan kita?” Agnes menjadi khawatir, jika Dion membuat masalah lagi.
“Papa juga belum tahu Ma, kita tunggu penjelasan dari Dion. Kalau Papa memeriksa laporannya semua pekerjaan sudah berjalan lancar, tapi ini kenapa mendadak sekali? Apa tidak bisa menunggu besok? Sudah Ma, jangan dipikirkan.” Mereka berdua kembali beristirahat.
Dion memberitahu teman-temannya yang sedang berkumpul di ruang tamu. setelah melihat Yoshi di jemput paksa oleh orang-orang suruhan Dewa, bisa jadi ini semua juga termasuk imbas dari perbuatan mereka. Apapun itu, Dion harus mengatakannya.
“Bro, Kita harus balik ke Jakarta malam ini. tapi kalau kalian masih mau stay di sini, nggak apa-apa sih. Biar Gue sama Kania aja yang balik.” Papar Dion.
“Tunggu! Tapi kenapa mendadak begitu Bro? memangnya siapa yang telepon Lo?”
“Bokap Gue bilang ada masalah. Salah satu klien besar membatalkan kerja sama, dan Gue harus mengurus itu, jadi kalian mau sekalian bareng atau...?”
“Ikut Balik lah! Bayu kan juga ada kerjaan. Jadi kita nanti berpisah di Bandara?” Vicky melihat Dista yang sudah tertidur, setelah menangisi kepergian kawannya. Rasanya ada yang janggal, seperti apa yang sudah Vicky perkirakan. Jika hal ini tentu akan berbuntut panjang.
“Mas, apa itu perusahaan punya Pak Dewa yang batalin kontrak?” Kania merasa tak enak. Pasti ada hubungannya dengan Kania, sehingga membuat Sigit melakukan hal demikian. Jika memang benar, Kania akan membicarakannya kepada pria itu nantinya.
“Itu nggak ada hubungannya sama kamu, udah jangan terlalu dipikirkan, biar aku yang selesaikan!”
“Tapi kan, kerugian perusahaan ...”
“Jangan bicarakan untung rugi Kania, ini semua soal perasaan. Kalau benar itu perbuatan tukang kopi itu, berarti dia memang benar-benar menginginkanmu. Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Dion serius.
Kania berpikir semua adalah kesalahannya. Jika Kania meninggalkan Dion apakah semua akan kembali berjalan normal? Melihat Kania berpikir, Dion bisa membaca isi kepalanya.
__ADS_1
“Heh! Jangan pernah punya pikiran untuk menukar dirimu sama kontrak kerja. Aku nggak bisa menerimanya! Kamu sama anakku, jauh lebih berharga dari nilai kontrak itu Kania. kedua orang tuaku juga pasti setuju dengan keputusanku.” Dion mengacak surai panjang itu dan meminta gadis itu untuk istirahat.
Malam hari, waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk tidur. Malah menjadi malam yang melelahkan. Para pria tengah berkemas, dan tak mengambil pusing dengan apa yang tengah terjadi. Setelah mereka berhasil merayakan momen bersama Yoshi, tiba-tiba mereka dipaksa untuk mengakhiri kesenangan mereka begitu saja.
“Menurut Gue nggak masuk akal sih, masa iya semua terjadi secara bersamaan.” Iwan mengutarakan pendapatnya. Memegang kepalanya frustrasi, memikirkan nasib si tomboy bagaimana Ia akan bertahan tanpa pendukung disisinya. ‘Kalau lo nggak sanggup, datang dan temui Gue beb!’
“Gue juga berpikir ke sana. Ini yang Gue khawatirkan, haha... kalian sih bandel! Musuh Lo itu bukan kaleng-kaleng. Om-om itu hidupnya dua kali lebih lama dari kita Bro,” tegas Vicky. “Mana leboh tajir melintir lagi, Yoshi aja bisa dibeli. Gue nggak yakin sama Kania.”
“Brengsek! Gue lagi serius Lo malah ngomong kayak gitu.”
Dion sedang mencari penerbangan paling cepat. Kalau bisa mereka tetap bisa istirahat. Melihat kondisi dua wanita cantik itu tengah berbadan dua. Isya dan Bayu lebih santai, karena memang sudah menjadwalkan pulang esok hari.
“Gue udah dapat tiket nih, jam empat kita harus sudah tiba di bandara. Tidur, tidur, tidur! Iwan yang enak Gue yang pusing! haha...”
Iwan melempar botol air mineral kosong kepada Dion. padahal ini adalah ide mereka. malah menjadikan dirinya sebagai kambing hitam.
...
Yoshi memasuki kamar di mana Dewa berada. Perasaan gadis tomboy itu tak seberani biasanya. mungkin ada segelintir perasaan bersalah. Tapi bagaimanapun ini bukan kesalahan dirinya atau Iwan. Yoshi tak ingin mengakui hal itu.
“Baru pulang?” tanya Dewa.
Yoshi hanya mengangguk. Dewa yang sedang duduk di meja kerja segera menutup laptopnya dan menghampiri gadis itu. melihat Yoshi ketakutan, Dewa lantas menuntun Yoshi untuk duduk di atas tempat tidur.
“Jangan takut, kenapa kamu gugup begitu?”
Dewa mengangkat dagu Yoshi yang tertunduk. Senyumnya yang menawan membuat Yoshi gugup. Bukan karena terpesona. Namun, perasaan sebaliknya. Takut, ya ada senyum bengis yang tersirat disana.
__ADS_1
‘Ow-ow... Gue kira sepertinya ini anak sama bokapnya sama-sama manis diluar aja. Tuhan, apakah ini akhir dari perjalanan hidup Gue?’
“Maaf Om!” bisik Yoshi.
“Jangan Om, panggil Mas. Aku ini suami kamu!” dua jari menangkup pipi Yoshi dan mendongakkannya secara kasar. Hingga kedua mata mereka bertemu. Dewa membuka tali bathrobe yang di kenakannya. Hingga menyisakan celana pendek berwarna hitam.
Glek! Yoshi menelan ludahnya, matanya pun berair, permukaan kulitnya merinding merasakan ngeri.
Tangan pria itu membuka kemeja Yoshi secara brutal. Hingga semua anak kancingnya berhamburan tak tentu arah. Dengan tenaga yang besar Dewa mendorong Yoshi dan memberikan tamparan berulang kali, hingga gadis itu menangis.
“Ini hadiah untuk sebuah pengkhianatan!” dengan senyum manisnya Dewa membisikkan kalimat mengerikan itu. Tampak sebuah aset indah yang tertutup kain penyangga. Sayangnya bukit itu tak seputih sebelumnya. Banyak ukiran di sana, hasil karya seorang Iwan Bruggman. Membuat emosi seorang pengusaha terkenal seperti Dewa Virgiawan memuncak. Karena merasa telah kehilangan harga diri.
“Aku minta maaf Mas!”
Tangan besar itu membelai wajah Yoshi yang basah akibat air mata. Menuruni bibir indah itu lalu berhenti di leher jenjang itu.
“Aku tidak butuh permintaan maaf. Kamu harus diberi pelajaran untuk tidak melakukan kesalahan lagi.
“Akh..aku...” napas Yoshi tercekat. Cengkeraman itu sangat kuat, bahkan untuk melanjutkan kalimatnya pun gadis itu tak sanggup.
Dewa tak mau mendengar permintaan maaf dari mantan kekasih Iwan. Dengan pipi memar yang merasakan panas, gadis itu mencoba bertahan. Namun perbuatan Dewa kali ini membuat Yoshi berteriak kesakitan.
“Kamu tahu, Aku memintamu baik-baik. tapi justru kamu menikungku dari belakang. Kalau kamu berpikir aku adalah pria lembut dan baik, coba pikirkan sekali lagi. mana ada pria yang mau dikhianati.”
Dewa mengambil hak nya dengan paksa. Membuat Yoshi kelelahan dan merasakan kesakitan yang luar biasa. semakin keras Yoshi terisak, semakin puas perasaan Dewa.
“Aku harus memiliki anak laki-laki darimu! Kalau kamu masih ingin Ayahmu ada di dunia ini, ikuti semua permintaanku, atau kalian semua akan mengalami mimpi buruk yang tak akan pernah berakhir.”
...
__ADS_1