Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 78. Rencana Honeymoon


__ADS_3

Yoshi dan Rosi menghabiskan waktu selama dua jam mengelilingi mal besar di Pondok Indah. Membeli semua perlengkapan yang gadis muda itu butuhkan. Rosi mulai berbagi hal-hal yang disukai dan tidak disukai suaminya. Yoshi tak peduli dengan hal itu. pikirannya tertuju pada semua barang-barang favorit Iwan.


“Bukan Yoshi! Itu terlalu kecil untuk Mas Dewa. Ukuran kemejanya yang ini!” tunjuk Rosi kepada Yoshi. Namun gadis itu mengambil warna favorit Iwan.


“Bukan yang berwarna seperti itu. Suamimu itu kerjanya di kantor bertemu dengan banyak klien, bukan pakai kaos wana-warni begini!” Rosi merasa kesal, namun Ia tak bisa menyalahkan Yoshi. Karena Ia baru saja meninggalkan kekasihnya. Yoshi terisak.


“Mbak Rosi, Aku mampir ke rumah teman dekat sini boleh nggak? Nggak lama kok, Nanti Aku pasti balik ke rumah.” Pinta Yoshi. Tatapannya mengiba, dengan suara parau nya yang membuat Rosi tak tega.


Rosi mengizinkan dengan jaminan Ia harus pulang sebelum jam tujuh. Karena saat itu suaminya sudah ada di rumah. Rosi juga mengingatkan jika Ia sudah menikah, untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya demi menjaga nama baik keluarganya.


“Saya mempercayai kamu, jangan sampai kamu melanggarnya Yoshi!”


Gadis tomboy itu mengangguk. Mereka pun berpisah di lobby mal itu. dengan ojek online Yoshi menuju alamat tempat tinggal Vicky. Yoshi tak tahu jika Iwan berada di rumahnya di Jakarta. Selama perjalanan gadis itu berpikir apa yang akan Ia lakukan selanjutnya.


“Neng, sudah sampai!” pengemudi ojek online menyadarkan lamunan Yoshi yang masih membeku diatas jok motor. “Neng!”


“Oh iya Bang, terima kasih.”


Yoshi memasuki halaman rumah Vicky. ada perasaan takut saat melangkah ke dalam. Yoshi lebih takut kepada Vicky daripada Dion. setiap ucapannya pasti akan mengena di hatinya. Tidak salah, jika mereka bertiga selalu mengandalkan suami Dista dalam setiap hal dan kesempatan.


Setelah menekan bel, Yoshi mendapati Vicky membuka pintunya. Tepat seperti dugaannya. Jika pria itu seakan menyimpan dendam begitu besar kepadanya.


“Masuk!”


“Jangan begitu dong Vicky, kejam banget sama Gue! hehe...” Yoshi tersenyum canggung. Ia memasuki ruang keluarga. Dista pun keluar dari kamar dan mendapati Yoshi di sana. Wanita hamil itu terkejut, tiba-tiba Yoshi datang ke rumahnya.


“Yoshi, sorry Gue nggak bisa kasih selamat ya atas pernikahanmu.” Dista memeluk teman baiknya. Vicky duduk menatap Yoshi memasang wajah masam. Ia tak mengira Yoshi akan berani datang ke rumahnya setelah perbuatannya. Dista mengusap wajah cemberut Vicky.


“Jangan pasang muka begitu dong Sayang! kita nggak tahu apa yang dialami Yoshi selama ini.” Dista menanyai gadis berambut coklat itu, hal apa yang telah membawanya ke rumahnya.


Hah... setelah mengumpulkan keberanian Yoshi mulai menanyakan kabar Iwan, bagaimana keadaannya sekarang. Dista dan Vicky berpandangan. Dista sudah dipesan untuk tak memberitahukan hal apapun terkait pria cungkring itu. Semua sudah sepakat untuk merahasiakannya dari Yoshi.

__ADS_1


“Iwan, berusaha move on dari Lo Yoshi. Gue heran, saat kita berusaha untuk membantu kenapa Lo nggak bisa dihubungi. Dion bahkan sudah menyiapkan semua uangnya. Lo pasti nggak akan percaya, kalau Iwan memperjuangkan Lo! tapi kenyataannya? Cih! Lo lebih memilih om-om itu.”


Kedua netra Yoshi berair, juga tangannya gemetar saat Yoshi menyerahkan sebuah amplop coklat untuk diterima Vicky. saat Vicky menanyakan apa isinya, namun Yoshi tak bisa menjelaskan.


“Gue titip ini untuk Iwan, mau dijelaskan sepanjang tembok cina kalian juga nggak akan bisa percaya sama Gue!”


“Ya Lo nggak mau cerita, bagaimana kita mau percaya.” Vicky memeriksa amplop coklat itu. yang berisi buku tabungan juga dua buah kartu debit. saat memeriksanya, tertera nominal yang cukup fantastis. Suami Dista bisa menangkap apa maksud Yoshi. Mungkin gadis itu ingin mengembalikan semua jerih payah Iwan selama ini yang telah bekerja keras untuk membantunya.


“Saran Gue Yoshi, Lo berikan langsung sama Iwan. Ada hal yang harus Lo pertanggung jawabkan langsung sama teman Gue. Kapan Lo ada waktu? nanti biar Gue yang atur.”


Yoshi terisak, Vicky membuatnya semakin merasa bersalah. Setelah di cecar beberapa pertanyaan akhirnya Yoshi mengatakan jika dirinya akan pergi dari Jakarta selama beberapa hari. Vicky menahan senyumnya, karena pria itu sudah mengetahui semuanya bahkan sampai jadwal keberangkatan juga di mana mereka akan menginap.


Vicky mengecup leher putih milik Dista. Sepertinya rencana yang Ia buat akan berhasil. Ia tinggal memberitahu Dion langkah selanjutnya.


“Apa sih Yang, iseng banget! Malu ah ada Yoshi di sini!” Dista berusaha menyingkirkan tangan suaminya yang berjalan kemana-mana. Yoshi merasa canggung melihat kedua bocah bucin itu.


“Nggak apa-apa, Yoshi kan udah pengalaman. Nanti dia juga akan melakukan hal ini sama Om nya, eh! Suaminya.” Vicky bergidik geli.


“Kamu mau Yang, di Anu Om-Om?” Dista tersenyum sambil menggeleng.


Yoshi kembali ke rumah sebelum petang. Ia mengusap matanya yang basah sebelum memasuki rumah barunya. Rumah yang besar itu nyatanya tak membawa kebahagiaan sedikitpun. Dalam langkahnya tak ada semangat, hanya pria cungkring yang terus tertawa dalam ingatannya.


“Yoshi!” tegur seseorang.


“Si-Sigit!” keduanya pun akhirnya bicara berdua di ruang tamu. Karena seumuran, Sigit pun tak canggung karena mereka sudah mengenal satu sama lain.


“Bisa kita bicara sebentar?” Yoshi pun mengikuti pria tampan itu. selama ini Sigit hanya butuh tempat bercerita. Dan kali ini Yoshi akan mendengarkannya. Terlebih wanita muda yang Ia kenal baik, kini memiliki status sebagai Istri kedua papanya, sungguh ironi bukan?


“Sorry Sigit, Gue nggak akan merubah apapun dalam rumah ini. Gue akan menganggap Lo sebagai teman seperti sebelumnya, teman Kania dan kita semua.” Papar Yoshi lebih dulu. mendengar nama Kania Sigit jadi merindukan kekasihnya.


“Nggak apa-apa, Gue lebih suka seperti itu. Dan Gue juga nggak akan menuntut apapun sama Lo.”

__ADS_1


“Gue dengar Lo sama Kania...?”


“Iya, Gue sama Kania udah meresmikan hubungan kita, tapi ...?”


Yoshi penasaran menunggu pria manis itu menceritakan semuanya. Sigit mulai bertanya kepada Yoshi tentang Dion, bagaimana hubungannya dengan Kania sebelumnya. Yoshi pun bingung, tak mungkin Ia akan menjatuhkan teman baiknya selama bertahun-tahun demi Sigit yang baru di kenalnya.


“Dion?”


Saat Yoshi ingin mulai bercerita, Dewa datang dan menyambut istri mudanya yang tampak akrab dengan Sigit. Senyum sumringah Dewa tergambar jelas, ternyata keputusannya tak salah untuk melanjutkan pernikahannya dengan gadis tomboy itu.


“Wah kejutan besar buat Papa, Sigit kamu rupanya sudah mengenal Yoshi?”


“Sudah Pa, jadi Papa tenang saja. kita bisa menjadi teman baik nantinya. Ya sudah Papa lanjutkan saja ngobrolnya Sigit mau ke kamar.”


“Tunggu Nak, Papa ada satu tiket tambahan ke Bali, kamu mau ikut Papa meeting?” Dewa mengecup kening Yoshi di depan Sigit. Dan reaksi Sigit tampak tenang. Sampai Dewa merangkul putranya.


“Daripada kamu bosan di rumah, kamu butuh liburan. Lukamu sudah membaik kan?”


“Luka?” tanya Yoshi khawatir.


“Iya Yoshi, Sigit dan pacarnya baru saja mengalami kecelakaan sepulang dari Villa kita di Bandung.” Yoshi terkejut, pacar Sigit adalah Kania. berarti mereka berdua terlibat kecelakaan dari Bandung. Nggak mungkin sebuah kebetulan kan?


“Nanti Sigit pikirkan Pa, Yoshi. Masih ada yang harus Sigit kerjakan.” Pria manis itu berlalu meninggalkan pasangan beda usia itu. ternyata hebat perangai seorang pria, yang katanya tanpa cinta dan alasan tak masuk akal, nyatanya bisa main peluk cium sembarangan. Bahkan di depan mata kepalanya sendiri.


Di dalam kamar, Sigit ingin menghubungi Kania. tawaran papanya lumayan juga untuk berlibur ke Bali. Di Bandung kemarin, liburan mereka terganggu oleh Dion. kali ini tak boleh di gagalkan lagi. ‘tapi apakah aku benar-benar bisa menerima Kania sepenuhnya?’ Sigit mulai ragu dan tak jadi menghubungi gadis itu. Sigit berpikir Kania masih dalam tahap pemulihan.


...


Kania mendapat izin dari rumah sakit untuk dirawat jalan. Gadis itu akhirnya dibawa pulang ke kediaman Wijaya oleh Chandra dan Agnes. Kedua orang tua Dion berjanji untuk mencari tahu kabar Ibu Kania dan memintanya untuk menemui anak gadisnya.


“Sudah jangan sedih! Mama Dion Mama kamu juga sayang.” Agnes memeluk gadis cantik itu sepanjang perjalanan. Karena efek obat dari rumah sakit, Kania pun terlelap. Dion dengan sepeda motornya tak langsung pulang ke rumah, pria itu mampir ke rumah Vicky.

__ADS_1


“Bro! Gimana dengan rencana kita?”


...


__ADS_2