
Agnes mendapat cubitan sayang dari suaminya, karena terus-terusan mengerjai Kania. Meski begitu Dion dan Agnes merasakan sepertinya keluarga Mereka telah lengkap.
Berakhir berkumpul di meja makan, tetapi tetap saja Chandra Wijaya sedikit membahas bisnisnya dengan Kania.
“Kamu sudah pernah ketemu sama Pak Dewa dong berarti, menurutmu gimana nanti prospek ke depannya? Bagus nggak?” tanya Chandra, sembari memeriksa surat kontrak itu.
“Kania pikir bakal lanjut terus sih Pak, soalnya akan ada pembangunan rumah sakit baru nanti di daerah pinggiran Jakarta, seperti Bogor, Tangerang dan Bekasi juga di Jawa Barat. Apa Kania boleh ikut keluar kota Pak?”
“Nggak boleh!” sahut Dion cepat.
Chandra dan Agnes langsung menoleh, ke sumber suara. Dengan tetap santai menikmati makan malamnya, jari telunjuknya memberi kode larangan untuk Kania.
“Tapi Pak, biasanya Kania ikut...” wajah gadis itu memelas. Membuat Chandra kasihan. Gadis muda energik dan penuh semangat itu memang sangat bisa diandalkan, tetapi Dion melarangnya, pasti ada alasannya.
“Sorry Kania, Bos kamu kan Dion bukan Saya lagi,” tutur pria penuh kharisma itu. Sambil mengacak rambut Kania, dan segera meminta gadis itu untuk makan.
“Jangan begitu dong Dion, nanti yang bantu pekerjaan kamu siapa kalau bukan Kania!”
“Masalahnya Ma, nanti dia ketemu...,” potong Dion.
“Ketemu siapa?” suami istri itu kompak bertanya.
“Hehe... Nggak jadi, lupain aja! Lagian juga masih ada dua sampai tiga minggu lagi.” Tatapan Dion tak lepas dari wajah Kania yang terus cemberut.
Gadis itu terus mendapat pesan dari Sigit. Sejak tadi Kania mendengar notifikasi pesan dan panggilan masuk. Namun, tak bisa menyentuh ponselnya Karena Dion menyita benda pipih kesayangannya itu.
Dion melihat Kania terus menatap saku piyama miliknya yang terus berbunyi. Gadis itu memohon kepada Dion untuk segera mengembalikan barang miliknya. Hal itu menjadi sebuah kesempatan untuk pentolan geng dengan sejuta akal bulus yang sudah Ia pikirkan masak-masak.
“Makan dulu, nanti Gue kembalikan benda kesayanganmu ini! Nurut gitu lho, apa kata suami kayak Jeng Agnes ini sama bos Chandra. Takut kalau nggak dikasih duit!”
Uhukk... Uhukk!!
Chandra dan Agnes batuk bersamaan, dan menenggak air dalam waktu yang bersamaan pula. Kania menahan tawa, tak tega melihat kedua orang tua itu.
“Pak, Bu... Pelan-pelan ya makannya!” Kania berdiri dan mengusap punggung keduanya bergantian.
Setelah mengelap bibirnya Agnes menjewer Dion, yang berani-beraninya menggoda mereka saat sedang makan.
“Haha... Ampun Ma! Iya, makan yuk dilanjutkan lagi.” Dion menunjukkan dua jarinya dihadapan Papa dan Mamanya. Melihat Kania tersenyum, sepertinya berhasil, jika gadis itu melupakan tentang ponselnya.
Malam berlalu, Ujang di minta mencari rujak dan seblak malam-malam. Pria berdarah sunda itu, bingung, karena semua kios sudah tutup. Ujang terpaksa membangunkan bibi yang sudah tidur.
“Bi, tahu resep bikin seblak nggak?”
__ADS_1
Ujang meminta Bibi asisten rumah tangga untuk membantu memasakan makanan berkuah khas Bandung super pedas untuk Kania.
“Apa enaknya sih, makanan dari kerupuk itu?” Agnes menjadi penasaran dengan masakan pekerjanya.
Suasana rumah menjadi ramai setelah kehadiran Kania. Biasanya jam sembilan malam, rumah besar itu sudah sangat sepi. Kali ini mereka benar-benar merasa bahagia, karena Dion pun menjadi lebih betah di rumah.
“Sekarang kamu bersih-bersih ya, ganti pakaian kamu dengan baju tidur, bajumu bawa ke tempat bibi biar besok bisa di cuci sekalian!”
Kania mengangguk. Dalam langkahnya menuju kamar tamu, Ia memikirkan bagaimana caranya menghubungi Sigit. Sampai Ia tiba di kamar tamu itu dan menguncinya dari dalam.
‘Sigit sedang apa ya? Katanya dia sudah boleh pulang hari ini!’ gadis itu terus berada dalam pikirannya hingga tak menyadari sesuatu.
Kania berjalan menuju kamar mandi, dan melepaskan semua kain yang melekat pada dirinya.
‘Ibu juga, sedang apa sekarang. Huft! Kania jadi kangen semua orang, Oh iya udah beberapa hari nggak dengar kabar Dista, kapan ya bisa main ke rumahnya lagi.’
Merasa segar setelah mengeluarkan keluh kesahnya di kamar mandi. Kania beranjak keluar. “Seblak Mang Ujang udah matang belum ya? Duh jadi nggak sabar.” Sembari mengusap perutnya.
Sampai Kania keluar dari kamar mandi, gadis itu berteriak.
“Aaa....!!”
“Eh, Lo gila ya! Cepat pakai baju Lo dan keluar dari sini!”
Kania berteriak tanpa melepas tangannya yang menutup matanya. Siapa lagi si pelaku jika bukan pentolan geng itu, yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
“Haha... Kenapa kaget ya! Gue Cuma mau bawain Lo baju tidur aja, tadi Mama yang suruh. Nih masih baru semua belum pernah dipakai, Papa Gue nggak suka, Mama pakai baju itu. Lo pakai gih, Gue mau lihat!”
“Kok Lo bisa masuk? Kan udah Gue kunci pintunya! Kania semakin merapatkan handuknya, tubuhnya sudah kedinginan.
“Gue udah di dalam, saat Lo kunci pintunya. Gue bahkan tahu Lo melepas semua pakaian Lo itu satu per satu!” Kania semakin menegang mendengar ucapan Dion, ‘benarkah? Seceroboh itukah dirinya?’
Hahaha... Dion senang sekali menggoda Kania, karena raut wajahnya langsung berubah semerah tomat.
“Mau pakai yang mana? Yang potongan atau terusan? Kalau Gue sih, suka Lo pakai yang ini!” tunjuknya pada gaun tidur licin berwarna baby pink di atas lutut dengan renda yang lucu di sekitar aset negara miliknya.
“Iya udah Gue pakai yang nggak Lo suka. Sekarang Mas Dion, boleh keluar dulu Oke. Gue mau ganti baju terus makan seblak buatan Mang Ujang.” Meminta Dion untuk segera pergi.
__ADS_1
Dion beranjak dari atas tempat tidur, namun belum sampai di pintu Pria itu kembali lagi mengejutkan Kania. Hingga gadis itu kehilangan keseimbangan saat mengenakan setelan pakaian tidurnya.
“Eh...”
Kania berpegang erat pada lengan Dion, dan masuk dalam pelukannya. Aroma floral sabun cair mengitari hidung mancung Dion di kulit putih yang dingin itu.
“Bi-bisakan Lo pergi dulu!” gadis itu gugup mendapat tatapan itu, bahkan suara Kania pun ciut.
Dion menggeleng. Terdengar suara Kania menelan salivanya. Rasa hangat menjalar di tubuh Kania, saat tangan perkasa milik Dion merayap naik.
“Dion, hentikan!”
Lagi-lagi pria itu menggeleng. Dion menyibakkan handuk yang menutupi tubuh sekretarisnya. Beberapa kali Dion menggeram, karena tak kuat menahan diri, melihat kain penahan berwarna kontras dengan kulit Kania yang putih mulus.
Pria itu perlahan membantu gadis itu mengenakan potongan piyama dengan memasang kancing bajunya. Berbisik tepat di telinga gadis itu.
“Apa Lo nggak pernah punya perasaan sedikit pun sama Gue,hmm?”
“Ehm i-itu...” tangan Kania menahan gerakan Dion lebih lanjut. Kania nyaris pingsan karena tak kuat menahan perasaannya. Seluruh permukaan kulitnya merinding dibuatnya.
Dion memasukkan kepalanya dalam pundak gadis itu, tangannya melingkar di perut Kania yang hanya mengenakan celana pendek.
“Beri Gue satu kesempatan, Kania. Katakan, apa yang mau Lo rubah dari Gue, akan Gue lakukan!”
Kania sudah memejamkan matanya, karena Dion terus memberikan rasa geli pada kecupan untuk gadis itu. Karena tak tahan, Kania harus segera melarikan diri secepatnya, sebelum keduanya hilang kendali.
“Cukup Dion, kita sudah di tunggu semua orang!” dengan melayangkan protes, Kania berusaha mengambil ponselnya yang ada di saku piamanya.
“Yang nungguin Lo cuma Gue. Lo tahu Kania, Gue juga merasakan sakit sama seperti yang Lo rasakan sekarang. Lo nggak kasihan?”
“Ehm... Maksudnya?” Kania menoleh. Dion segera menahan wajah gadis itu dan menciumnya lembut beberapa saat. Tangan Kania merogoh saku Dion, namun benda pipih itu tak ada di sana. Justru membuat Pria tampan itu menggeram, berpikir Kania menggodanya.
“Gue sayang sama Lo, Kania. Jangan tinggalin Gue!” Kania menatap manik mata milik Dion. Keheningan terjadi beberapa saat, sampai suara nyonya besar menyadarkan keduanya.
“Kania, turun yuk! Ujang udah selesai masak nih!”
Suara Agnes mengetuk pintu, membuat Kania panik. Dan mendorong Dion untuk segera menjauh.
“Iya Tante...”
“Jangan lupa sayang, ada anakku di sana! Perhatikan langkahmu, karena Gue akan terus mengawasi kalian berdua.”
Cuupp...
__ADS_1
Kecupan itu mendarat tepat di kening Kania.