
Pagi hari di dapur terdengar sebuah syair lagu yang pernah hits pada masanya, yang dinyanyikan dengan gaya enerjik, membuat suaminya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Cintai aku brownies, bagiku kamu berondong manis ....” suara indah itu ternyata berasal dari sang pemilik rumah. Menikmati tugasnya menyiapkan sarapan untuk suaminya dan kedua tamunya yang masih tidur.
“Morning Sayang ...,” sapa Dista. Saat suaminya hendak memberikan morning kiss, Dista sudah memajukan bibirnya.
Mendengar kata berondong, tiba-tiba Vicky dalam mode posesif. Ia mengingat tentang masa lalu Dista dengan adiknya yang tengil membuatnya cemburu setengah mati.
“Em, boleh ganti aja nggak lagunya?” pinta Vicky, sembari menyeruput kopi hitam buatan istrinya. Dista tidak menyadari, jika obrolan paginya didengar oleh Kania. Membuat gadis manis bertubuh kecil itu ikut tersenyum mendengarnya.
“Memangnya kenapa Sayang? Kamu masih suka cemburu?” balas Dista, “Geri hanya masa lalu, Vicky. Sekarang kan Aku disini sama Kamu, lihat ini perbuatan siapa?” tunjuk Dista ke arah perutnya yang sedikit membuncit. Tatapan wanita itu tak lepas dari Vicky yang terus mengerucutkan bibirnya. Terdengar suara cekikikan dari ruang televisi, rupanya Dion juga mendengarkan obrolan absurd mereka.
“Cie Sok imut Lo Bro! ternyata oh ternyata, Lo takut si Bohay ditikung sama adik Lo? haha ..., gede juga nyali si Geri.” Sela Dion. kemudian pria itu bergabung di meja makan. Melihat kehidupan kedua temannya pagi ini, rasanya Dion ingin juga memiliki kehidupan pribadi dan hanya berdua dengan pasangannya, lalu? Masalahnya dengan siapa dia akan menghabiskan sisa hidupnya.
“Lho, Aku pikir kalian tidur sekamar semalam? Ternyata kamu tidur di sofa?” Dista bertanya kepada Dion, membuat pentolan geng itu mengernyit.
“Heh bohay, kan kita bukan suami istri, gimana sih Lo?” Dion sudah menduga jika gadis itu hanya bisa memasak ala kadarnya, namun Vicky tak pernah keberatan dengan apa yang dilakukan Dista. Beda dengan dirinya. Dion akan terus protes jika tak mendapatkan apa kemauannya, lalu gadis seperti apa yang akan betah hidup bersamanya nanti.
“Vicky dulu begitu waktu di Bandung, kamarnya sering kosong dia pindah ke kamarku!”
“Yang! jangan dibongkar, itu rahasia kita berdua!” sela Vicky.
Dista mengulum senyumnya saat mengingat ulah Vicky. setelah semua rampung di meja makan, Dista memberikan handuk dan meminjamkan pakaiannya untuk di kenakan gadis itu.
Vicky menanyakan bagaimana nasib Kania setelah kembali ke rumah, tak menutup kemungkinan akan terulang kejadian yang sama, atau bahkan perbuatan keji itu sudah dilakukan berulang, hanya saja Kania tak mau melaporkannya.
“Nanti biar Bokap Gue yang lapor polisi dengan bukti visum, dia kan Bosnya. Terus rencana kita gimana Bro?”
Tok! Tok! Tok!
“Kania, Aku masuk ya!” Dista membuka pintu dan masuk ke dalam. Ternyata gadis itu sedang berada di kamar mandi. Kebetulan Dista sudah membawa semua keperluannya. Rasanya senang jika memiliki teman saat sedang seperti ini.
“Eh Kamu Dis, sorry ya kalau Aku ngerepotin.” Dista menggeleng. Ia melihat luka lebam di seluruh tubuh Kania, saat dirinya hanya mengenakan kamisol.
__ADS_1
“Astaga Kania, ini ...!!” Dista tak bisa berkata-kata lagi, Ia cukup terkejut dengan apa yang baru saja Ia lihat.
Dista keluar mengambil ponselnya, dan juga kotak P3K yang tersimpan di lemari. Wanita yang sedang hamil muda itu terburu-buru hingga Ia nyaris tergelincir. Beruntungnya Vicky menangkapnya dengan cepat.
“Jangan lari-lari Sayang, ingat ada dedeknya di sini!” tegur Vicky.
“Tapi Yang, kamu harus lihat apa yang barusan Aku lihat, Lo juga Dion!”
Dista kembali ke kamar Kania dan mengambil gambar pada seluruh anggota tubuh gadis malang itu. Dista yang sensitif menitikkan air mata saat melihat luka-luka yang membiru. Semuanya ada di bagian yang tertutup. Dista mengoleskan krim luka memar yang hampir merata di tiap anggota tubuh Kania.
“Kalau sakit bilang ya, Aku olesin pelan-pelan!”
Kania menatap wajah ayu itu dari dekat, ada rasa miris dalam hatinya. Bagaimana tidak, sosok cantik yang Ia sangka akan menjadi rivalnya adalah wanita yang baik hati juga tulus, pantas saja Dion begitu mati-matian mengejar Dista hingga rela menyendiri beberapa tahun.
“Dis, Aku boleh bertanya?”
“Em ... tanya aja Kania, silakan?” dengan terus mengobati luka Kania, Dista memasang wajahnya serius. Sesekali dirinya terisak. Ia tak bisa membayangkan jika berada di posisi Kania.
Dista menengadahkan wajahnya dan duduk dalam posisi normal. Menggenggam tangan gadis bertubuh kecil itu. Senyumnya yang menawan mampu menghipnotis Kania hingga apa yang diucapkan Dista, Kania hanya mengangguk.
“Aku ...? tunjuk Dista pada dirinya sendiri.
“Aku hanya menganggap Dion, Iwan dan Bayu hanyalah teman, mereka semua adalah Empat sekawan semasa SMA, dan Aku cuma anak pindahan yang tidak memiliki teman.”
“Lalu ....”
Kania semakin penasaran dengan kisah mereka, ternyata pertemanan mereka sudah terjalin cukup lama, tapi kenapa Dion paling susah untuk melupakannya. Apakah Dista adalah cinta pertama Dion? pikir gadis itu.
“Lalu? Apa lagi? mereka bertiga juga tahu kalau Vicky dan Aku saling menyukai. Sampai Aku dan Vicky melanjutkan kuliah di Jakarta dan mereka bertiga masih menetap di Bandung.
“Oh iya, Aku mau menyerahkan gambar ini dulu sama suamiku, nanti sisanya biar diurus mereka berdua,” imbuh Dista, “Kalau kamu butuh bantuan kita, kamu bisa menghubungi Aku, atau bisa langsung datang saja kemari.”
Saat Dista beranjak dari ranjang, Kania menahan tangannya dan Dista pun menoleh.
__ADS_1
“Dis, thanks ya buat semuanya.”
“Jangan sungkan, kita kan teman.” Dista pun berlalu keluar kamar.
Melihat Dista keluar dari kamar tamu, Vicky dan Dion menghampirinya bersamaan. Penasaran dengan apa yang baru saja istrinya katakan. Vicky dan Dion melihat beberapa foto yang Dista ambil. Luka lebam yang sangat jelas terlihat di kulit Kania yang putih.
“Jangan dilanjutkan Yang lihatnya, ada bagian sensitif Kania yang juga terdapat memar di sana,” pinta Dista. Mata Dion memerah, salah satu tangannya mengepal, seakan terasa panas dengan apa yang baru saja Ia lihat.
“Hah, Bekas merah-merah ini juga?” tanya Dion dengan penasaran. Dista segera merebut ponselnya dari tangan Dion yang terus menggeser fotonya.
“Iihh... Dion, bukan!” Dista pergi meninggalkan mereka berdua karena malu.
Haha... Vicky tertawa melihat istrinya melarikan diri.
“Itu kerjaan Gue bego kalau malam, dianya aja yang nggak tahu, kalau Gue ambil fotonya.” ucap Vicky menggoda Dion.
“Pantes, Bini Lo malu terus kabur, brengsek Lo Vick! Gue niatnya udah mau marah jadi ngakak karena kelakuan bulus Lo!”
...
Ting Tong!
Seorang asisten rumah tangga yang sedang bertugas, membuka pintu. Agnes yang mengira itu adalah kedatangan putranya segera turun dari lantai dua.
“Nak, kamu pu- ....” ucapan Agnes terputus saat melihat sosok gadis yang ada di hadapannya.
“Pagi Tante ....” sapa gadis itu,
Agnes yang memindai penampilan gadis itu segera memintanya untuk masuk. Mama Dion tampak mengingat-ingat wajah gadis ini, sepertinya pernah bertemu, tetapi entah dimana Agnes sedang berusaha mengingatnya, hingga gadis itu menyadarkan lamunannya.
“Tante, perkenalkan saya pacarnya Dion Wijaya selama beberapa tahun di Bandung ....”
...
__ADS_1