Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 111. Sebuah Penyesalan


__ADS_3

“Kepalaku...” lirih Dias. Berulang kali Ia mengerjapkan kedua netranya agar tetap sadar, namun hingga beberapa detik berlalu pandangannya kabur. Meskipun Ia mampu melihat pria licik di depannya telah membuka maskernya dan menyeringai, Ia tak mampu berbuat apa-apa hingga seluruh tubuhnya mulai mati rasa.


“Apa yang kamu masukan dalam tubuhku?” suara Dias mulai menyeret-nyeret tak jelas. Sampai semua kain yang melekat pada tubuhnya kini telah lepas tak bersisa. Setengah sadar, namun tak merasakan apapun. Pria psiko yang dimaksud oleh Dias tak lain adalah pria yang seharusnya menjadi suaminya, Pengusaha sekaligus pemilik rumah sakit terbesar, Dewa Virgiawan.


“Sudah beberapa hari ini saya tidak menyentuh temanmu, kalian anak kemarin sore rupanya senang bermain-main denganku, huh!”


Dewa memulai gilirannya. Kini mereka berdua sama-sama bagai bayi kecil yang polos tanpa sehelai benangpun. Tatapan tajam itu kini berubah menjadi sayu, saat melihat gadis manis yang tak berdaya. Perlahan Ia membisikan kalimat yang membuat Dias bergidik. Jika teman bisnis papanya ini akan membuatnya bergairah, meskipun hanya Dewa yang akan merasakan sensasi itu.


“Saya sedang melakukan uji coba, jika reaksi obat itu berhasil maka hukumanmu akan saya ringankan. Tetapi jika tidak, kamu harus merasakan sedikit permainan yang lain yang sudah saya siapkan, mengerti!”


Dias menangis, namun bukan isakan yang keluar dari mulutnya. Melainkan suara tawa yang menyeruak ke seluruh ruangan yang kedap suara. Rupanya, Dewa membawa Dias ke sebuah pabrik tempat pembuatan obat-obatan terlarang. Usaha sampingan yang membuatnya sukses dan meroket menjadi orang nomor satu dalam dunia bisnis.


“Dasar gila! Kenapa tidak kamu berikan saja kepada istrimu?” perlahan tubuh Dias mulai bereaksi, suhu tubuhnya mulai menghangat, membuat Dewa mulai melancarkan aksi makan malamnya. Menikmati istri milik pria lain sangatlah menantang baginya. Dan Dewa sungguh bekerja keras mengosongkan berudu-berudu miliknya.


Napasnya terengah, meskipun tak selezat milik Yoshi namun dewa tak banyak protes, karena pria itu menyadar betapa nakalnya kelakuan Dias sejak SMA.


“Tidak mungkin, Dia sedang tidak sehat. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan istri mudaku. Bukankah kamu yang menjebaknya untuk menikah denganku? Saya rasa Yoshi wanita yang jauh lebih baik darimu!”


“Lantas kenapa kamu melakukannya padaku?”


“Wanita penipu, pengkhianat, licik dan tak berhati sepertimu pantas mendapatkannya! Kamu pikir, saya tidak tahu seberapa jauh sepak terjangmu? Jangan banyak omong, atau akan ku tambahkan dosis obat ini!”


Ancaman demi ancaman tak membuat Dias takut. Ia telah rusak, akibat pergaulannya dulu. sekarang hanya tersisa penyesalan baginya.


Sekali lagi Dias tak merasakan apa pun, sakit? mungkin. Hanya Dewa yang terus menggerakan tubuhnya mempermainkannya sesuka hati. Sesekali dengan tamparan keras menghiasi wajah manis Anggita Dias. Keberingasan wanita yang tak ingin di nomor dua kan kini berakhir.


“Lumayan, sejauh ini eksperimennya behasil dan sekal lagi kamu selamat. Tapi tak semudah itu, karena orang suruhanmu telah membuat orang kepercayaanku tertangkap polisi, maka kamu harus bersiap menerima hukuman dariku!”


Dewa telah mengenakan pakaiannya kembali. Dengan peluh yang masih menetes, Ia menghubungi orang-orang kepercayaannya yang telah bekerja keras. Tak berselang lama, empat hingga lima orang memasuki ruangan itu, dan Dewa memberikan senyumnya kepada Dias.

__ADS_1


“Good bye sweet heart, time its over!”


“Tolong Om! Jangan perlakukan gue seperti ini! Gue bukan binatang,” pekik Dias. Saat melihat para pria suruhan Dewa mulai mendekatinya.


“hentikan!! Pergi kalian, pergi!!” suara Dias begitu menyayat hati. Pintu kayu itu pun tertutup setelah Dewa melenggang keluar. Dan teriakan histeris itu pun membuat senyuman Dewa kembali terukir. Dengan menyalakan pemantik di tangannya, Ia mulai mengepulkan asap-asap penuh kepuasan.


“Not Bad!”


...


Dinding kamar menjadi saksi bisu saat Kania terus berguling mengganti posisi tidurnya. Ia tak terima Dion meninggalkannya begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Tak ingin terus menebak-nebak dengan isi pikirannya, Kania mencoba untuk memeriksa kamar tamu yang tak jauh dari kamar Dion.


“Nanti kalau Dion marah? Aah, itu urusan belakangan. Sekarang kan Gue istrinya....” dengan semangat berapi-api Kania melangkahkan kaki sampai tiba di depan pintu kamar tamu bekas dirinya dulu.


“Kok Sepi? Apa jangan-jangan mereka tidur berdua?”


Kania mulai nekat, ia tak tahan dengan semua ini. Baru saja suaminya mengatakan kalau mencintai dirinya. belum juga dua hari, sudah lain di bibir. “Memang dasar brengsek!” pungkasnya.


“Loh, Lho, ada apa ini?” Kania menoleh, saat mendengar langkah kaki menaiki tangga. Mata yang awalnya sayup-sayup mengantuk kini telah berubah seterang matahari pagi. Melihat kedua mertuanya dan...


“Mas Dion—kalian?”


Kania kesulitan menelan salivanya. Melihat kedua mertuanya dan Dion berdiri di hadapannya dengan begitu terkejutnya. Terlebih Agnes, yang sedang berada dalam mimpi indah yang bermain dengan calon cucunya.


“Kania, ada apa Nak? Kenapa kamu berteriak tengah malam begini?”


“Iya sayang, kenapa kamu berdiri di depan kamar tamu?” Dion menghampirinya dan mengajaknya ke dapur. Kania hanya tersenyum konyol. Ia tak mampu mengatakan jika dirinya sedang mencari Dion yang berada di dalam kamar yang sama dengan Dista.


“Kamu nggak ngelindur kan? tidur sambil berjalan?” tanya Agnes, tangannya menempelkan ke dahi gadis itu yang hangat.

__ADS_1


“Dion, Kania demam. Pantas aja tingkahnya aneh! Kamu ngagetin Mama-Papa aja, ya sudah suruh suami kamu itu buat jagain kamu! malah asyik di ruang kerja ngurusin kontrak, istrinya malah dianggurin.”


Kania tertegun. Ia menatap Dion dengan wajah bodohnya yang mengira akan tidur dengan wanita lain. Pria itu mengajaknya turun, dan memintanya untuk menemaninya sebentar lagi.


“Heh, kamu cekikikan sendirian!”


“Uhm, nggak apa-apa kok!” seketika tawa Kania pecah membuat Dion curiga. Dengan apa yang Ia lihat, berdiri menggedor pintu kamar tamu.


“Kamu nggak sedang berpikiran aneh-aneh kan? Dion menyentil dahi Kania, dan Ia merasakan tubuh gadis itu panas.


“Iya Maaf, Aku pikir kamu lebih memilih menemani Dista yang sedang butuh perhatian, Mas masih...”


Dion menidurkannya di sofa. Bantal dan selimut yang Ia bawa dari kamar juga berada di sana. Rupanya Dion juga merasakan dingin setelah bermain hujan sore tadi. Kania menjadi semakin merasa bersalah karena menuduh Dion yang bukan-bukan.


“Sudah kamu tidur dulu, nanti Mas menyusul. Besok kan harus kembali ke kantor.” Sambil terus berjalan mengambil kotak obat, arah tatapan Kania tak lepas dari pria tampan berlesung pipi itu.


“Dista tidur di kamar bawah, karena tak bisa naik turun tangga terlalu sering, dan selimut ini, bantal ini bukan untuk tidur dengannya kamu tahu! Dasar bocah pikirannya ngeres!”


“Haha, Iya Aku cemburu! Karena sekarang Kania cuma punya kamu Mas.” dengan cepat Kania mengecup pipi milik Dion dan segera menutup dirinya dengan selimut. Merasa tertantang Dion segera menarik selimut itu. tak sia-sia Ia sering berkelahi, tenaganya yang besar dengan mudah mendapatkan tubuh ramping milik Kania.


“Sekarang giliranku,” timpal Dion. Mengangkat tubuh istrinya dan dipindahkan ke kamar. Usaha Kania berhasil menggagalkan fokus pria itu yang sedang mengerjakan pekerjaannya.


“Tapi Mas, nanti ketahuan Mama. Sudah berulang kali Mama kamu memergoki kita dalam situasi canggung.”


“Semua milikku, menjadi milikkmu Kania. termasuk yang ini!” tunjukanya kepada juniornya. Dion terus tersenyum, Kania mulai membuka hatinya untuknya. Meskipun masih malu-malu, sudah membuat hati Dion merasa senang.


Malam ini, pertama kalinya mereka bersikap romantis layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Meskipun Kania takut dan teringat peristiwa yang membuatnya trauma beberapa saat, ia berusaha mempercayai dirinya, Jika Dion tak akan pernah melakukan kesalahan lagi.


“Jangan gugup, nanti susah ketemunya!”

__ADS_1


“Heh! Jangan buru-buru Mas, Aku masih takut...”


...


__ADS_2