
Plak!!
Sebuah tamparan melayang ke pipi Dion.
“Ini untuk perbuatan Lo hari ini yang telah mempermalukan Gue Dion!” Dias berderai air mata. Membuat Penghulu mengumumkan bahwa pernikahan yang terjadi hari ini tidak sah dan harus di batalkan.
“Mas, jangan pernah mempermainkan sebuah ikrar pernikahan. Ada Tiga perkara yang bercandanya dianggap serius, pertama Nikah, kedua Cerai dan ketiga adalah Rujuk. Jadi jika anda tidak mencintai gadis ini untuk apa anda bersedia menikahinya?”
Dion dengan serius menjawab pernyataan pak penghulu. Dengan mantab dan tetap sopan.
“Justru saya menyelamatkan kami berdua dari pernikahan yang tidak ada rasa cinta di dalamnya Pak, untuk itu saya harus membatalkannya. Bahkan dalam ikrar saya, ada wanita lain yang saya cintai.”
Pak penghulu mengusap bahu Dion dan menenangkannya. Memberi nasihat untuk kedepannya nanti, jangan pernah mempermainkan hal sakral seperti ini. Pak penghulu dan rombongan pun pamit. Dias hendak dibawa oleh perawat, namun gadis itu menolak.
“Mau kemana Lo?” dengan menarik kerah Dion, Dias memukul dada pria itu bertubi-tubi hingga akhirnya Dion pun pergi meninggalkan gadis yang terus terisak. Di Sana Dista menunggunya dengan tatapan tidak suka.
“Apa yang Lo lakukan? Dion Gue nggak suka cara bercanda Lo ya!”
Dista keluar dan di susul oleh Dion, pria itu menarik pergelangan tangannya. Hingga Dista berada dalam jarak dekat dengan pria itu.
“Dengarkan Gue dulu Dis, Gue nggak bercanda soal yang gue ucapkan tadi. Bahkan kalimat itu tertanam di luar kepala Gue, Dista dan itu sudah terjadi sangat lama! Lo nggak perlu marah sama Gue, Oke! Gue berusaha mengikhlaskan Lo dengan Vicky, hmm?” jarak mereka berdua begitu dekat.
Setelah kerumunan memudar, Kania, Yoshi dan Iwan akhirnya dapat menyaksikan apa yang terjadi. Ternyata dua orang yang tengah bersitegang di depan matanya adalah Dion dan Dista. Hati Kania semakin sakit, meskipun apa yang diucapkan Dion tak cukup jelas, tetapi hal itu sungguh menyakiti perasaannya.
“Maksud Lo apa brengsek!” Tiba-tiba Vicky muncul. Mendorong Dion cukup keras menjauhkan dirinya dari Dista. Vicky memukul wajah Dion dua kali saking emosinya melihat pria itu terus mengambil kesempatan saat dirinya tak ada.
Bugh!!
“Itu mewakili orang tua Lo!”
Dion terjatuh, yang mendapat serangan tiba-tiba dari Vicky. Dista yang terkejut berusaha menahan Vicky untuk tak melanjutkan amarahnya. Namun usahanya sia-sia, tenaga Vicky sangat besar terlebih sedang cemburu dan emosi setiap melihat Dion. Belum sempat berdiri sempurna, Vicky menambah pukulannya satu lagi untuk memberi efek jera.
Bugh!!
“Dan yang itu untuk anak gadis orang yang Lo sakiti. Sekali lagi Lo deketin Dista, Gue habisin Lo, Brengsek! ... Beruntung Gue datang tepat waktu, kalau nggak udah Gue kirim Lo ke bangsal rumah sakit, Ayo Yang kita pulang!”
Vicky membawa istrinya pergi dari sana. Mereka bertiga tidak tahu jika di seberang ruangan juga ada orang lain yang melihat kejadian dramatis itu.
__ADS_1
“Kalian lihat kan?” tutur Kania sambil berlalu. Dion merasakan perih di wajahnya, mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Tak ingin beranjak, Iwan pun datang untuk membantunya berdiri.
“Lo emang keterlaluan Bro! nggak ada kapoknya Lo dihajar sama Vicky! Lihat Kan perbuatan Lo!”
Dion mendengus, biarlah apa pun yang mereka katakan. Karena memang kenyataannya seperti itu. Ia tak dapat menahan perasaannya saat dekat dengan wanita itu. Dion yang melihat Kania, hanya mampu menatapnya.
“Lo nggak berniat minta maaf sama Kania? Otak Lo sakit!”
“Belum saatnya Bro!”
Dua pria itu meninggalkan rumah sakit. Dion menceritakan semuanya kepada Iwan peristiwa yang baru saja menimpanya. Ternyata anak pengusaha sukses yang akan melangsungkan pernikahan itu adalah dirinya.
“Oh, Gue sih nggak kaget. Dimana ada keributan bisa dipastikan di sana ada Lo! hahaha ... terus kenapa Lo malah sibuk sama si bohay, bukan sama “istri penjahat” Lo itu?”
“Kalau nggak ada si bohay, Gue pasti bakal jadi duda ganteng, nggak percaya kan Lo?”
“Dih najis! Haha...”
Iwan geleng-geleng kepala, kenekatan Dion memang tak ada tandingannya. Tetapi Iwan harus membantu Dion untuk bertanggung jawab atas gadis kecil itu, juga menyelamatkan hubungan persahabatannya dengan Vicky.
...
Dias menghubungi Agnes, meminta pertanggung jawaban atas apa yang telah Dion lakukan. Dion mempermalukan dirinya di depan umum. Agnes yang sedang pusing pun, tak ingin banyak bicara dengan siapapun, termasuk gadis itu. soal biaya rumah sakit dan perawatan dirinya akan ditanggung oleh keluarga Dion.
“Sabar Pa, jangan terbawa emosi seperti itu! mungkin memang Dion tidak mencintai Dias.” Agnes memijat kepala suaminya yang nyaris pecah.
“Coba saja Ma, anak kamu lebih dari satu. Pasti kita nggak perlu pusing hanya memikirkan satu anak saja, apalagi seperti Dion.”
“Kalau punya anak banyak tapi kelakuan mirip Dion semua ya, sama saja bohong Pa!”
Sepasang suami istri itu mencari keberadaan Kania. Setelah panggilan terakhir dari Chandra waktu itu, Kania sudah tidak ada kabar lagi. Juga sudah tidak masuk kantor beberapa hari.
“Di minum dulu Pa, teh nya! biar Mama saja yang menghubungi Kania.”
Pukul Tujuh malam, Dion kembali. Bertepatan dengan Agnes yang sedang menghubungi sekretaris Chandra. ‘Kenapa Mama menghubungi gadis jorok itu lagi, padahal saat ketemu Gue, gadis itu buang muka. Lihat saja nanti ketemu di kantor, Gue akan bikin perhitungan sama dia.’
Baru beberapa kali berdering, telepon itu segera tersambung.
__ADS_1
Agnes
[Halo Kania, begini Nak! besok kamu datang ke kantor ya, ada yang perlu Bapak bicarakan, dan penting. Jadi tidak bisa diwakilkan.]
Kania
[Ehm, Pasti Kania berangkat Bu. Ada lagi Bu?]
Agnes
[wah, sekarang kamu sombong sekali. Sudah tidak pernah main ke rumah. Apa kamu sudah punya pacar ya? Saya lebih senang kamu memanggil saya dengan sebutan Tante saja, mengerti!]
Dion mendengarkan semua percakapan Mamanya dengan gadis itu. ‘Besok Kania akan ke kantor, bukankah dia sedang sakit?’ Dion akan memastikannya lagi dengan pergi ke rumah sakit yang sama besok.
Agnes
[Ya, syukurlah kalau sudah punya pacar. Tante pikir kamu benar-benar menjalin hubungan dengan Dion.]
Uhuukk... uhukkk...
Saat di sebut namanya, Dion terbatuk. Tenggorokannya kering setelah seharian tertawa bersama Iwan. Agnes pun mencari sumber suara. namun Dion telah melarikan diri masuk ke dalam rumah.
Dion Lalu membersihkan diri, kamar yang sudah dihias sedemikian rupa pun sayang jika diacak-acak.
“Gila, Nyonya besar! kamar Gue udah kayak taman bunga, dimana-mana wangi mawar. Ya kali Gue mau unboxing cewe bergilir itu. bayangin juga ogah. Coba kalau Doi, hmm...” senyum mesum itu terkembang sempurna.
Dion tertawa saat menyebut nama Dista dalam bacaan akadnya. ‘Baru nyebut namanya aja muka Gue udah kena bogem dua kali, Gimana kalau si Vicky tahu kalau tiap malam Gue bayangin Bininya. Ck..Ck..’
Dion yang iseng, mengambil gambar tempat tidurnya yang dipenuhi kelopak mawar merah. Dengan dirinya berpose mengenakan piyama di atasnya. Kemudian mengetikan sebuah caption lalu di kirimkan kepada gadis itu.
“Ada yang mau Join?” sayangnya Ia mengirim foto itu bukan ke Kania, melainkan ke grup chat SMA nya.
“ Notif apa ini, banyak banget...”
...
__ADS_1