Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 116. Hukuman?


__ADS_3

“Dion, Ini beneran Lo kan?”


“Siapa Lo?” dengan menyingkirkan tangan gadis itu yang memegang kuat lengannya. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang. Berbekal topi dengan pakaian lusuh, Dion benar-benar tak mengenalinya.


“Minggir, Gue buru-buru!” Gadis itu terus mengekori Dion yang sedang melakukan pengobatan di sana. Merasa jengkel terus direcoki oleh gadis asing yang terus memanggil namanya, Dion membuka topi gadis itu.


“Jangan di buka!” sayangnya gerakan Dion lebih cepat dan, “Ngapain Lo di sini? Ada apa dengan penampilan Lo?” tanya Dion penasaran.


Setelah pengobatannya selesai, Dion dan gadis itu berjalan kembali ke tempat di mana mobilnya berada. Di sana, sudah terparkir mobil patroli dan beberapa anggota polisi. Gadis itu semakin mengkerut dan terus bersembunyi di balik tubuh tinggi itu.



“Ngapain Lo pakai sembunyi? Mereka kemari bukan buat membawa Lo, makanya jadi orang jangan jahat-jahat!”


“Lo masih saja nggak berubah, tetap brengsek seperti dulu! tapi Please, tolong bawa Gue kembali ke Jakarta! Gua akan berhutang budi sama Lo Dion.” dengan terus memohon belas kasihan kepada pria yang pernah ada di hidupnya. Gadis itu yakin Dion akan luluh dan membantunya.


Dion mendengus! Terus memperhatikan gadis itu yang sepertinya tidak baik-baik saja. melihat penampilannya yang sangat jauh dengan apa yang Ia kenal selama ini.


“Buruan masuk mobil! Masih ada yang harus Gue selesaikan, sebentar lagi kita kembali ke Jakarta.” perintahnya. Dion memberikan informasi terkait tempat yang akan Ia kunjungi beberapa saat yang lalu. Ia meminta petugas untuk menyelidikinya, sedangkan Ia akan segera kembali ke Jakarta.


Dion


[Sibuk Bang? coba tebak, kejutan apa yang akan Gue berikan!]


Gunawan


[Lumayan, haha...! Gue juga punya kejutan buat Lo Dion, kita ketemu di kantor. Titip keponakan Gue di rumah, jangan Lo gangguin!]


Dion


[Haha... Oke Bang, Gue dalam perjalanan ke Jakarta sekarang. Fotonya sudah dikirim ya, tolong selidiki pria itu ya, Gue curiga sama dia sudah lama.]


Sepuluh menit berlalu, Dion menjalankan mobilnya setelah mobil patroli itu membawa kedua pria yang sudah Ia lumpuhkan. Tak banyak bicara, karena luka di bahunya mulai terasa nyeri. Sehingga membuatnya kesulitan mengemudi.


“Lo nggak apa-apa Dion?”

__ADS_1


“Kenapa? Lo kaget Gue masih hidup?” mereka berdua berbicara dengan saling melemparkan kata-kata sarkas. Sampai Dion berbelok ke arah restoran cepat saji. Meskipun Ia sangat membenci gadis di sebelahnya, Ia tak bisa membiarkannya dalam keadaan seperti itu.


“Makan dulu, nanti mati Gue yang disalahin!” ejek Dion.


“Lo pasti benci banget sama Gue, iya kan? tapi terima kasih Lo bahkan masih sudi menolong Gue yang sudah membuat banyak kekacauan di dalam hidup Lo!”


“Cih, akhirnya Lo sadar! Apa Tuhan sudah menghukum Lo? katakan bagaimana bisa Lo bisa bertahan sejauh ini!”


Iya, gadis berpenampilan seperti laki-laki itu adalah Dias. Ia merasa frustrasi dengan apa yang menimpanya. Selama tinggal di warung itu, Ia merasa begitu ketakutan. Tak ada satu pun yang bisa melindunginya.


Bersikeras kembali ke Jakarta seorang diri, Ia merubah penampilannya. Memotong rambut indahnya, dan mengenakan pakaian beks pakai yang Ia beli di pasar dengan uang pemberian ibu pemilik warung itu. Dias berjanji akan menggantinya, meskipun berulang kali wanita paruh baya itu melarang.


Ketakutannya semkain menjadi saat Ia berjalan menuju ke terminal. Ia melihat dua orang pria yang pernah menjamahnya dalam pabrik itu. dengan tergesa-gesa Ia mempercepat langkahnya, Hingga Ia menabrak tubuh padat pria tinggi di depannya, yang ternyata adalah Dion.


“Andai saja dulu, Lo hanya fokus ke Gue!” sesal Dias. “Apa Lo bahagia sekarang?”


“Sudah, Nggak ada yang perlu diingat lagi. Gue juga bukan pria yang cocok buat Lo, kita nggak sejalan. Ini bukan masalah Gue yang nggak fokus sama Lo, tapi dasar Lo nya aja yang nggak bersyukur jadi cewek Gue!”


Dias terlelap selama perjalanan. Dion membawanya ke rumah sakit dan saat dilakukan pemeriksaan sungguh terkejut dua pria tampan itu. keduanya bertatapan, Dion pun mengedikan bahunya karena memang tak mengetahui apapun.


“Dion, dalam tubuh Dias tercatat obat-obatan terlarang. Kalau fisiknya tidak kuat bisa membuatnya berhalusinasi. Banyak ditemukan luka penganiayaan, juga termasuk pada bagian sensitifnya.”



Dion menghela napas panjang. Setelah lepas darinya Dias menjadi liar dan itu bukan tanggung jawabnya. Meskipun sangat menyayangkan hal buruk itu terjadi pada mantan kekasihnya, namun setiap kesalahan yang diperbuatnya harus di pertanggung jawabkan.


“kita tidak sengaja bertemu di Bogor, kasus Dias Gue serahkan sepenuhnya sama Bang Gunawan ya!”


“Siap! lalu bagaimana dengan Kania? kapan Lo bawa dia menemui Faris?”


“Mungkin besok, semoga saja bocah itu nggak pingsan!” canda Dion mengakhiri obrolan.


Gunawan dan Dion berpisah di lobby rumah sakit yang berada dalam lingkup markas besar polisi. Tubuhnya lelah, belum lagi rasa nyeri yang dideranya. Ingin sekali segera pulang dan menemui Kania. menceritakan semua apa yang Ia alami seharian ini. mendapatkan perawatan darinya, siapa tahu lukanya akan cepat sembuh jika Kania yang mengobati.


Ponsel sudah di tangan, namun Ia urung untuk melakukan panggilan, karena ingin memberinya kejutan di rumah. Tepat Ia memasuki gerbang rumahnya, hujan turun mengguyur kota Jakarta dengan lebatnya.

__ADS_1


Dengan tergopoh-gopoh, Dion memasuki rumahnya. Sang mama yang sedang asyik membuat kue terkejut jika putranya pulang lebih awal.


“Lho Nak, sudah pulang? katanya pulang terlambat?”


“Waktunya pulang ya pulang Ma, pekerjaan di kantor sudah selesai mau makan malam di rumah.” setelah mengganti pakaiannya, Ia bergegas ke dapur. Perutnya membutuhkan sesuatu yang hangat. Kepalanya terasa pusing dengan kejadian hari ini. namun, pemandangan di depannya membuatnya semakin rasa sakitnya semakin bertambah.


“Kok Lo di rumah aja Dis?” suara Dion tentu saja mengejutkan wanita hamil yang tengah menyeduh susu hangat untuknya terkejut.


“Hah, Lo ngusir Gue?” tanpa menoleh, karena sedang fokus dengan gelas di tangannya.


“Bukan begitu, maksud Gue Bukannya Lo pergi sama Kania jalan-jalan?”


“Kania nggak bilang mau ajak Gue keluar, Mau teh apa kopi?”


“Kopi deh! Nggak ngerepotin kan? memangnya Lo di rumah juga kayak begini kalau berdua aja sama Vicky?”


Entah kenapa cuaca malam ini membuat pikirannya buyar. Melihat sesuatu yang indah yang bukan miliknya memang menggoda. Kania juga belum kembali sampai sekarang. Terkadang ia berpikir apa yang salah dengan dirinya. sampai Dion tak sadar jika Ia telah menghampiri wanita berbadan dua itu.


“Nggak, justru kalau dia yang pulang kerja Vicky yang selalu menyiapkan semuanya buat Gue. dia tahu Gue udah lelah seharian mengurus rumah, jadi pas Dia pulang gantian Dia yang mengurus Gue, hehe.. kenapa wajah Lo begitu?” mendorong wajah pria itu yang menurutnya teramat dekat.


“Gue lagi butuh Kania, tapi dia lagi nggak ada di rumah. adanya Lo gimana dong?” godanya.


“Maksud Lo? Gue panggilin Om Chandra nih, Lo mau macem-macem!”


Dion menutup mulut wanita itu, lalu menunjukkan lukanya. Ia meminta Dista untuk mengganti perbannya, sama seperti sebelumnya. Namun, wanita itu sungkan. Dita meminta Dion untuk menunggu Kania pulang, karena sekarang Ia bukan pria single seperti sebelumnya.


“Tunggu Kania aja Dion, sebentar lagi juga pulang kok. Atau Gue panggil Tante Agnes aja ya!”


Dion tak menggubris, Ia nekat meletakan kotak obat di meja makan kemudian melepas Kaosnya. “Buruan, sebentar juga selesai!”


Kania yang baru saja pulang dan hendak membuat teh untuk tamunya, mengetahui hal itu pun sontak berteriak, saat melihat Dion melepas kaosnya di depan Dista.


“Eh... Kalian berdua mau ngapain?”


...

__ADS_1


__ADS_2