Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 9. Ternyata Memang Istimewa


__ADS_3

Dion Wijaya, benar-benar merasa terpenjara, bahkan di rumahnya sendiri. Kedua orang tuanya menjadi otoriter, semenjak dia tidak pernah menuruti kemauan mereka untuk mengurus perusahaan. Jalan satu-satunya adalah dengan pernikahan paksa dengan Kania. Bagi Dion, Kania tidak lebih hanya seorang gadis jorok pilihan mamanya.


Tanpa Dion ketahui, Kania bukanlah gadis sembarangan. Jika tidak memiliki hati yang baik juga perilakunya yang mengagumkan, tentu saja Chandra dan Agnes tak akan mau menjodohkan putranya dengan wanita asal-asalan. Meskipun Kania berasal dari keluarga biasa, hal itu bukanlah masalah besar. Toh, gadis itu juga bukan seorang yang serakah.


Dion pergi meninggalkan rumah dengan motor besarnya. Semakin hari, kebebasannya di rumah semakin berkurang. Apalagi Mamanya, tak pernah berhenti merongrongnya dengan memintanya untuk mengajak Kania keluar jalan-jalan. Hendak kabur kemana sekarang? ia sendiri juga masih bingung.


“Vicky pasti di kantor, Bayu menetap di Bandung, dan Iwan ...,” lirih Dion, yang kemudian memutar arah motornya, menuju rumah teman sebangkunya yang sempat mengajaknya taruhan semalam.


Kania yang telah diusir oleh Dion berulang kali, kini melihat pergelangan tangannya yang merah. Akibat ditarik paksa oleh Dion, Kania meringis karena terdapat sedikit luka di sana. Gadis itu merasa kesal, ia ingin pulang ke rumahnya. Namun, ditahan oleh Agnes yang telah bersiap untuk pergi.


“Loh, Kania kok kamu belum bersiap? Kan kita mau ke rumah Dista. Ayo, kita ke salon langganan Tante dulu ya, kamu harus dipoles biar makin glowing.” Mama Dion memeriksa kulit Kania ke kiri dan ke kanan, kemudian mengangguk. Kulit putih dan sehat, hanya saja kurang perawatan jadi masih terlihat kusam.


Semenjak mengetahui selera putranya, Agnes berniat menutup mata anaknya untuk melihat gadis lain. Mulai hari ini hanya ada Kania, Kania dan mau tidak mau Cuma Kania.


“Ka-Kania nggak ada pakaian bagus Tante,” lirih gadis itu.


Buat Agnes permasalahan Kania bukan apa-apa baginya, yang jadi masalah adalah putranya. Bagaimana jika Dion tahu kalau mamanya dan Kania akan berkunjung ke rumah Vicky. Bukan hal sulit untuk seorang Agnes Wijaya mencari sebuah alamat, terlebih mencari alamat seorang pengusaha muda seperti Vicky Ardiano, teman baik putranya.


“Jalan Pak!” titah Agnes, setelah keluar dari salon tampilan Kania Dinara, kini boleh dibandingkan dengan istri Vicky. Hanya saja, body Kania lebih kecil dan rata. Mungkin inilah satu-satunya alasan dirinya ditolak oleh putranya.


Agnes meminta gadis itu untuk banyak mengonsumsi makanan sehat, aktif berolah raga dan menjaga kebersihan, kadang Agnes merasa gemas dengan kelakuan Kania yang masih kurang bisa menjaga dri. Pantas jika Dion selalu uring-uringan dan mengatai gadis muda itu dengan sebutan jorok.

__ADS_1


Setibanya di komplek rumah Vicky, Agnes tak berhenti memujinya. Keduanya bersekolah di tempat yang sama, dalam kelas yang sama, kuliah pun mereka juga bersama, tapi kenapa tidak ada satu pun sifat baik Vicky yang dicontoh putranya. Secara strata sosial, dulu Vicky adalah pria sederhana dan pekerja keras, mungkin ini alasan gadis itu memilih Vicky dari pada berandal manja seperti putranya.


Ting Tong!!


Suara bel berbunyi, menyadarkan wanita cantik yang setengah berisi. Dengan sedikit kesulitan Dista berjalan ke arah pintu. Saat pintu terbuka, reaksi Agnes dan Kania sama-sama membeku. Wanita berparas ayu dengan midi dres tanpa polesan make up menyambut mereka dengan santun, padahal Dista tak mengenalinya.


“Dista ya? Saya Agnes, Mamanya Dion dan ini Kania calon istrinya Dion,” ucap Agnes, seraya memperkenalkan diri, karena Dista seperti kebingungan.


“Oh, Mamanya Dion? silakan masuk Tante,” sapa Dista ramah. Agnes dan Kania pun berpandangan, ternyata memang tidak salah, jika Dion tergila-gila dengan gadis itu. Agnes pun berpikir, dari penampilannya saja, sudah dapat dipastikan jika Dista bukanlah gadis manja yang matrealistis. terlebih gadis itu memperlakukan orang lain juga dengan tata krama.


“Tunggu sebentar ya Tante dan Kania, Dista buatkan minuman dulu,” pamit wanita itu. setelah kepergian Dista, Agnes mulai kasak-kusuk. Pandangannya mengedar menatap bingkai foto yang terpasang disana.


Kania mengakui jika gadis yang disukai Dion sangatlah imut dan menggemaskan, terlebih melihat perutnya yang terlihat berisi. Membuat Agnes semakin tak sabar untuk memiliki cucu juga. Sebuah foto pernikahan yang dipajang di ruang tamu, keduanya mempelai tampak memukau dan di pigura sebelahnya, ternyata ada putra Agnes di sana bersama Iwan juga Bayu.


“Kania, Dista ternyata lucu ya! sudah, kamu nggak perlu khawatir atau cemburu soal Dion. Istrinya Vicky sepertinya sedang hamil, nggak mungkin kalau Dion masih menunggunya. Tante juga akan keberatan jika Dion mengganggu kehidupan sahabat baiknya. Kamu tahu, Dion nggak akan pernah bisa mengalahkan si Vicky. Dion kan agak telmi, haha....” tawa Agnes meledek putranya sendiri di depan Kania ternyata membuat hiburan tersendiri.


Setelah Dista menyajikan minuman, Agnes mulai bertanya banyak hal. Mulai dari pertama mereka kenal, Dista menceritakan semuanya. Namun untuk soal pengakuan cinta pentolan geng itu, Dista tak akan menjatuhkan harga diri Dion di depan mamanya.


“ ... Jadi begitu Tante, antara Dista dan Dion kami hanya berteman saja. Dista juga senang, akhirnya Dion akan menyusul Vicky dan Bayu, rencananya kapan Tante?” tanya Dista.


Kania mulai meyadari jika selama ini dirinya salah paham terhadap gadis yang ada di depannya. Dari segi manapun, dirinya akan menjadi nomor sekian di mata Dion. Meskipun Dista sedang hamil, tak menutup kemungkinan Dion akan lebih perhatian kepada wanita itu.

__ADS_1


Dari arah pintu, seorang laki-laki dengan setelan formalnya masuk dengan membawa sekotak makanan. Dista yang melihatnya segera menyambutnya.


“Yang, sudah pulang? Oh, iya ada Mamanya Dion nih, sama pacarnya!” ucap Dista memberitahu. Vicky menghampiri mereka dan menyalami keduanya. Agnes semakin yakin, jika keduanya memang cocok bersama, tak boleh ada Dion di tengah-tengah mereka.


“Tante masih ingat sama Vicky?” tanya pria itu.


Kania yang menatapnya pun merasa membandingkan, sama-sama memliki wajah garang, tapi Vicky nyatanya lebih lembut dari pada Dion. Agnes ingat saat putranya dulu di rawat di rumah sakit. Mereka berempat datang, menjenguk Dion yang tidak sadar selama dua hari.


“Tentu saja Ingat Vicky, kan Tante sama Om juga ke Bandung waktu kalian mau kuliah di sana, Apa Dista ini gadis yang rumahnya kalian gunakan untuk tempat tinggal dulu?” Agnes baru menyadari hal itu.


“Wah ingatan Tante bagus juga, iya ini Dista anak Pak Herman, kepala sekolah SMA kita dulu Tante, baru Vicky nikahin kemarin, haha....” mereka bertiga tertawa, termasuk Kania. Agnes menekan lembut lengan Vicky. Ibu-ibu sosialita itu meminta bantuan pada Vicky untuk meluruskan jalan putranya yang tidak jelas.


Dengan seksama Vicky mendengar permintaan Agnes, maksud dan tujuan mereka jelas. Supaya Dion tidak terjerumus dengan pergaulan bebas, hanya itu. Dan Agnes sudah memilih Kania, sekertaris Chandra yang telah berjasa pada keluarganya. Vicky dan Dista pun menyetujui permintaan itu.


“Tante Agnes tenang saja, bukan hanya kami berdua yang akan membantu, Iwan juga Bayu pastu juga akan mendukung Dion untuk segera menikah. Setelah beramah tamah, mereka berdua berpamitan. Tak ada lagi rasa kekhawatiran di hati Kania. Agnes mendoakan pasangan pengantin baru itu agar selalu berbahgia.


Beberapa menit berselang setelah mobil Agnes meninggalkan halaman rumah besar Vicky, suara halus sebuah motor besar terparkir di sana.


“Woy, baru pulang Lo Bro?!”


...

__ADS_1


__ADS_2