
Berjalan ke arah pintu dengan membaca pesan dari Sigit. Tangan putih gadis itu sudah siap memutar handle pintu, tetapi ponselnya berdering, Sigit mengajaknya melakukan panggilan video.
Kania pun segera pergi ke kamar, tak jadi membuka pintunya.
Ding dong!
Iwan menoleh, tak melihat ada seorang pun yang masuk. Hanya bunyi bel pintu yang terus berbunyi.
“Tolong buka pintunya Iwan Bruggman, itu Belum dibuka pintunya! Gue mau bawa Bini Gue masuk kamar dulu,” Kalau kalian mau tidur matiin aja semua lampunya!”
“Ck, Siap Juragan!” cebik Iwan. Perasaan tadi Kania inisiatif buka pintu, tapi mana?”
“Udah sih Beb, buka aja pintunya! perhitungan banget Lo sama cewek!” Yoshi mendorong punggung pria cungkring itu yang bersandar padanya.
Dengan langkah malas, Iwan menuju ruang tamu, pandangannya mengedar, memang tak ada sosok Kania di sana.
“Nggak cowoknya, nggak ceweknya sama-sama ngeselin!”
Cklek!
“Lama banget sih buka pintunya! Di nyamukin nih!” gerutu Dion. “Bro, ngapain Lo di sini?”
“Tamu nggak sopan, dia yang bertamu, dia yang banyak tanya. Masuk!”
Dion merangkul Iwan sambil tertawa, melihat hanya Yoshi sendirian di ruang keluarga, membuat perasaannya tak enak, jika dirinya akan benar-benar jadi obat nyamuk.
“Si Vicky mana?”
“Kenapa? Lo mau join? Hahaha... gaya Lo Bro pakai kirim foto mau pamer sama siapa Lo? Dista apa Kania?”
“Sial!”
Yoshi mengetik pesan kepada Iwan, untuk meminta Dion bermalam di sini. Supaya masalah mereka berdua selesai, dan mereka berdua juga bisa kembali ke Bandung besok.
Iwan yang membaca pesan kekasihnya pun memberi kode jika sependapat.
“Vicky lagi honeymoon, kayaknya feeling nya kuat, tahu Lo mau datang ke sini, Dista buru-buru dimasukin kamar,” canda Iwan.
Mereka bertiga ngobrol hingga larut, dan Dion diminta untuk menginap. Hingga tengah malam, Iwan memintanya untuk tidur di kamar sebelah, di lantai dua.
“Gila Lo, mau bertiga sama Gue? Nggak ada ya!” Iwan mendorong Dion untuk masuk ke kamar satunya.
Semua lampu telah di matikan, Dion pun juga tak menyalakan penerangan itu. Tetapi dirinya sadar, jika di dalam kamar itu ada orang lain.
“Wangi strawberry,” bibirnya tersenyum kecil. Dion tak akan salah mengenali orang, wangi ini milik gadis jorok itu.
Dion berjalan ke sisi ranjang, melihat gadis itu tidur meringkuk seperti janin. Di atas nakas, Dion melihat beberapa macam obat di sana.
Pentolan geng itu melipat lututnya, menatap lekat gadis cantik yang tengah terlelap. Wajah mungilnya membuat Dion terbayang. Terlebih saat Kania menyebutkan namanya berulang kali, membayangkannya saja Dion tak kuat.
__ADS_1
“Sorry...” lirih Dion. Tangannya menyentuh bibir pink cherry milik Kania, mengusapnya lembut, lalu menyesapnya penuh perasaan, Dion merindukan bibir itu.
Namun Dion tak ingin mengganggunya, Ia memutuskan untuk keluar dari kamar. Dion khawatir Kania akan lebih marah lagi dengannya.
pentolan geng tampan merebahkan diri di sofa, seperti biasa. Ia harus pergi dari rumah Vicky sebelum Kania bangun dan melihatnya.
Pukul Tiga dini hari, Dista terbangun karena perutnya tiba-tiba lapar. Ia melihat kaki panjang seorang pria, juga tangan yang dilipat menutupi wajahnya.
“Dion? Kapan bocah itu datang?” Dista pun tak ingin mengganggunya. Mungkin dirinya merasa bersalah sama Kania, untuk itu dia kemari, batin Wanita hamil itu.
Vicky yang biasa bangun pagi, melihat Dion menghampirinya ke dapur.
“Heh, jadi Lo yang datang tadi malam?”
“Iya, Gue mau ambil motor! Tumben Lo udah bangun!” tanya Dion.
“Lo salah, harusnya Gue yang tanya begitu, ngapain Lo bangun jam segini?”
Dion meminta Vicky untuk tidak mengatakan keberadaannya di rumahnya semalam. Kania sepertinya marah besar. Dion diabaikan, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.
“Hmm, dasar pengecut! Kenapa kemarin nggak Lo seret aja Kania ke penghulu, Lo nikahin dia gantiin Dias.”
“Gue nggak tahu kalau Kania sakit dan dirawat di rumah sakit itu juga. Kalau Gue nggak ketemu Dista, mungkin Gue udah nikah sama Dias. Pikiran Gue udah buntu, waktu itu.” terang Dion sembari menenggak segelas air putih.
“Sekarang mau Lo kayak gimana? Bokap Lo stres lihat kelakuan Lo.”
“Perusahaan udah dialihkan ke Gue Bro, malam sebelum Gue nikah sama Dias. Makanya Bokap Gue stres, karena Gue batal nikah itu.”
Dion menatap Vicky, yang sedang memasak sarapan, senyumnya terkembang, kenapa semua hal menjadi sangat sulit bagi Dion. Dan gampang bagi orang lain. Sudah dua kali pasangan bucin ini membantunya memberi solusi dirinya.
‘Mungkin ini saatnya, Gue lupain si Bohay, andainya Gue jadi Vicky pasti Gue juga sangat marah, kalau pasangan Gue diganggu pria lain.’
Dion tak menunggu yang lain bangun, Ia minta Vicky untuk membungkus sarapan untuknya.
“Salam buat yang lain, Gue balik dulu Bro!”
“Ya, sukses Bro!”
...
Yoshi dan Iwan baru bangun setelah sarapan siap. Lain hal dengan Kania yang sudah rapi dengan pakaian formalnya. Juga dengan barang bawaannya.
“Weits... Siapa tuh?”
Iwan mengucek matanya, saat melihat Kania dengan setelan formal eksekutif muda. Sayangnya Ia tak mengenakan heels, membuat gadis itu tetap saja terlihat kecil bagi Iwan.
Ck... Ck... Ck...
“Wah, bisa gerah bos Lo nanti lihat yang bening begini!”
__ADS_1
Yoshi memuji penampilan Kania yang lebih dewasa. Jika sebelumnya Seperti gadis remaja, karena bentuk tubuhnya yang ramping, dan selalu tampil kasual.
“Dion belum bangun?” Tiba-tiba Dista berceloteh, sembari meminum susu buatan Vicky. Dengan polosnya wanita itu tak melihat reaksi semua yang ada di meja makan, termasuk Kania. Padahal semua orang sudah merahasiakannya, tetapi mereka tidak tahu jika Dista melihat Dion semalam.
“Yang, kamu lihat Dion di mana? Hayo...!” Vicky menatapnya cemburu. Hingga Dista kesulitan menelan minumannya.
Uhuk.. Uhuk...
“Semalam Dion tidur di sofa, Aku melihatnya Yang, tangannya keatas menutup wajahnya. Aku tahu itu pasti Dion. Karena cuma Dion yang tidurnya begitu.”
Ekspresi Kania berubah, namun Ia memilih untuk tetap tenang. Hari ini, Ia memutuskan untuk kembali ke rumah sewanya, setelah pulang bekerja.
“Lo salah lihat mungkin Dis, sekarang fokus sarapan aja, kasihan calon keponakan Gue, Nanti kalau anak Lo lahir cewek, buat Gue ya! Mau Gue jodohin sama anak Gue! goda Iwan.
“Emang udah bikin?” balas Vicky.
Hahaha... Iwan melempar tomat ke arah Vicky, pria dingin itu balas dendam karena sudah dua kali Iwan mengganggu pasangan itu yang sedang bercocok tanam.
“Ehmm... Selagi kita sedang berkumpul begini, Gue mau berterima kasih, karena Vicky, Dista, Iwan juga Yoshi sudah sangat membantu di masa sulit Gue, hari ini Gue kembali ke kantor, dan memutuskan untuk tinggal di rumah yang sudah di sewa...”
Semuanya mengerti dan paham dengan kondisi Kania. Namun tetap berkomunikasi adalah pilihan yang bijak, jika suatu saat menemukan kesulitan lagi, dirinya sudah memiliki sandaran.
Pukul Enam, Kania berpamitan. Karena jarak kantornya dari rumah Vicky lumayan jauh.
“Dista, sorry kalau Gue banyak merepotkan Lo selama ini.” Kania memeluk wanita itu, Ia masih belajar mengendalikan rasa cemburunya, pada Dista yang dengan mudah mendapat hati pria dingin dan keras seperti Dion dan Vicky.
Beralih ke Yoshi, yang sudah sangat telaten membantunya, gadis kuat dan tangguh, Kania ingin menjadi seperti gadis tomboy itu yang sulit dikalahkan.
Terakhir kepada Iwan dan Vicky. Dua pria sabar yang dengan mudah memahami situasi, berpikir dewasa dan matang juga penuh tanggung jawab.
“Hati-hati Kania, semangat kembali bekerja!” mereka semua mengantar Kania hingga depan rumah hingga tak tampak lagi punggungnya.
...
“Pagi Kania, lama nggak ketemu makin cantik aja nih...” Sapa staf kantor yang satu lantai dengannya. Gadis itu mencari sepatunya yang Ia simpan di ruangannya.
Namun alangkah terkejutnya, saat memasuki ruangan miliknya yang tak bisa Ia kenali lagi.
“Kania, kamu sudah datang? Segera ke ruangan Saya ya, Saya tunggu!”
‘Duh, lupa kalau pagi ini ada meeting sama Pak Chandra...’
Tok... Tok... Tok...
Kania memasuki ruangan besar itu. Tak ada yang berubah di sana, hanya ada tambahan seperangkat meja kerja baru, lengkap dengan peralatannya.
‘Wah, ada karyawan baru rupanya.’ Duduknya dekat banget lagi sama Pak Chandra.’ batin Kania
Namun tiba-tiba, Hidung mancungnya dapat mengenali aroma yang membuat jantungnya berdesir.
__ADS_1
“Wangi itu....”