
Tak bisa di pungkiri fisik dan mental kekasih Kania sangat lelah. Netranya menjadi sayu karena kurang istirahat juga banyak bersedih mengurangi semangat hidupnya. Sigit berusaha menjawab semua pertanyaan seperti yang Ia ketahui.
“Apakah Anda melihat orang ini di kediaman Wijaya malam itu?” salah satu pria berpakaian hitam itu menunjukan potongan rekaman cctv. Sigit mengingatnya, karena pria itu juga tersenyum kepadanya.
“Saya melihatnya, tetapi saya tidak mengenalnya. Pria itu bahkan sudah ada di sana saat saya datang.”
Dengan menyebutkan ciri-cirinya, petugas sudah mencatatnya dan akan melakukan penyisiran. Yoshi pun terkejut mendengar pengakuan dari Sigit, jika ternyata pernikahan kedua temannya ada yang berniat mencelakainya.
“Pak, saya boleh memasukan sebuah nama untuk di periksa? Karena yang saya tahu sedikit banyak kejadian ini pasti ada hubungannya dengan orang ini.” sela Yoshi yang tiba-tiba ikut berbicara. Sigit yang sudah mulai lelah, lantas menjadi bersemangat kembali.
“Apakah Anda mengenal korban?”
“Saya berteman dengan Dion Wijaya sudah lima tahun Pak, jadi saya tahu banyak tentang mereka.” Yoshi memberikan petunjuk tentang seseorang yang selama ini terus menganggu kehidupan mereka. bahkan sampai saat ini orang tersebutmasih bebas berkeliaran, dan tepat seperti dugaannya, sasaran berikutnya adalah Dion.
“Ini Pak orangnya, Dias. Namanya Anggita Dias.” Yoshi menunjukkan fotonya. Salah satu petugas mengenalinya.
“Bukannya gadis ini yang di cari Pak Gunawan, yang menyerang keponakannya waktu itu?”
“Wah, ingatan Anda bagus sekali Pak! iya, itu orangnya. Saya heran sudah tiga tahun lho Pak tapi gadis itu belum juga masuk penjara. Saya yakin yang menyerang Dion juga orang yang sama.”
“Saudara Sigit, pertanyaan terakhir yang ingin saya tanyakan, Anda berada di lokasi kejadian dan membawa para korban ke rumah sakit. tetapi hanya ada tiga korban yang diketahui sampai saat ini. Dion Wijaya, Asri dan Ujang. Lantas di mana istri korban berada? Apakah Anda melihatnya?”
Sigit dan Yoshi bertatapan. Dengan tenang Sigit mengatakan jika dirinya hanya menemukan tiga korban yang berada di dalam mobil. Selebihnya Ia tak mengetahui lagi. meski terdengar tak masuk akal, petugas hanya diam dan mencatatnya.
Laporan dari Yoshi dan Sigit telah di terima. keduanya akan diminta untuk mendatangi kantor kepolisian untuk pembuatan laporan lebih lanjut. Yoshi belum tahu saja, jika dirinya juga menjadi korban dari Dias untuk menikahi Dewa Virgiawan. Mengakibatkan dirinya terpisah dari kekasihnya.
...
__ADS_1
Di lokasi yang berbeda Christian menjemput Dias yang tampak tak tenang. Mulai dari mematikan ponselnya dan selalu memperhatikan jalanan dengan tatapan waspada. Saat di tanya pun jawaban Dias ngalor-ngidul tak karuan. Terlebih pria tampan itu melihat bekas luka di leher istrinya.
“Leher kamu kenapa sayang, kok merah begitu? itu bukan hasil karyaku lho.”
“Nggak apa-apa Chris, nggak sengaja kena kuku tadi,” sanggah Dias yang segera menutupi lukanya. “Oh Iya Chris, Gue ada vocher menginap di hotel selama tiga hari dua malam, bagaimana kalau kita pakai sekarang?”
pria yang tengah mengemudi itu hanya tersenyum melihat Dias tampak bersemngat. Tetapi Chris mengetahui jika Dias pasti telah melakukan sesuatu. Lengan kekar itu membelai kepala istrinya yang tampak gelisah. Chris bingung, dengan cara apa lagi bisa menghetikan perbuatan wanita nekat itu.
“Apa kamu berulah lagi?”
“Haha... apa maksudmu? Jadi kamu menuduhku?” Dias menepis tangan Chris yang berada di bahunya. Namun Dias tak ingin seperti wanita labil yang meminta untuk di turunkan di jalanan saat sedang ribut dengan suaminya. Ia merasa nyawanya saat ini sedang terancam. Sudah tak terhitung berapa banyak korban akibat perbuatannya.
“Sayang, sayang dengarkan Aku dulu! Oke, kita akan pergi ke tempat kemana pun kamu mau. sekarang jangan marah lagi, sudah ya!”
Chris menghubungi kantornya jika Ia meminta semua meeting kantor di tunda untuk seminggu ke depan. Mendengar hal itu senyum Dias tersungging. Menocoba menenangkan diri sementara waktu, sampai berita yang sedang viral itu mereda.
“Kita pulang dulu ya! Aku tetap harus mengerjakan pekerjaanku sayang meskipun tidak masuk kantor.”
Setelah memasuki komplek elite miliknya, pasangan muda itu sangat terkejut. Segera Chris turun dari mobilnya dan melihat keadaan rumahnya yang sudah berantakan. Gerbang rumahnya sudah di rusak, belum lagi saat memasuki rumahnya. Kekacauan tampak di mana-mana.
Chris memegang kepalanya yang berat. Ia memeriksa barang-barang berharga yang Ia simpan dan rupanya aman-aman saja. tak ada benda berharga yang hilang. Hanya kerusakan yang baru saja di lakukan.
Dias tak berani turun dari mobil. Karena ancaman yang baru saja Dias dengar siang tadi ternyata terbukti. Belum bisa bernapas normal. Sebuah mobil datang menuju halaman rumahnya menemui Chris yang masih berdiri di sana.
‘Astaga! Kenapa polisi berdatangan kemari? nggak mungkin kalau si pria miskin itu yang melaporkan gue juga?’ Dias bersembunyi ke belakang jok mobil. Entah kenapa perasaanya menjadi tidak enak. Melihat jam di tangannya sudah hampir tiga puluh menit berlalu. Namun, para polisi itu tak kunjung pergi.
“Sayang, mereka sudah pergi.” Chris memasuki mobilnya dan segera pergi meninggalkan halaman rumahnya. Pria itu mengatakan, jika rumahnya kedatangan segerombolan preman dan melakukan pengrusakan. Tetangga mereka yang melaporkannya kepada pihak berwajib. Dan saat polisi datang bertepatan dengan dirinya saat berada di rumah. beruntungnya tak ada benda berharga yang hilang.
__ADS_1
‘Hah... syukurlah!’ batin Dias. Chris tahu jika Dias telah melakukan kesalahan berat. Buktinya Ia begitu ketakutan melihat polisi.
...
Di rumah sakit, Chandra terus menunggui Agnes yang tak kunjung sadar. Kepergian anggota keluarganya yang baru membuat mereka semua terpukul. Belum lagi dengan hilangnya Kania, yang belum ditemukan hingga saat ini. Rasanya tak adil bagi Chandra Wijaya jika keluarganya harus mendapatkan ujian seperti ini.
“Om, lebih baik Om Chandra istirahat saja. Biarkan kami yang menjaga Tante Agnes dan Dion di sini!” tampak gurat kelelahan pada pengusaha besar itu.
“Mana bisa Wan, Tante sama bocah tengil itu masih belum sadar. Om nggak bisa tenang. Belum lagi dengan jenasah Ibunya Kania dan Ujang yang perlu di makamkan secepatnya,” ujar Chandra.
“Jangan semua ditanggung sendiri Om, masih ada kita yang bisa membantu mengurus semuanya.” Suara seorang wanita yang memecahkan keheningan di antara mereka. sontak mereka menoleh ke sumber suara. Gadis tomboy berambut coklat yang tampil lebih modis sekarang.
“Yoshi!” sapa Iwan.
Wanita itu menyalami semua tanpa terlewatkan satu pun. Chandra bahagia, di tengah suasana berduka seperti ini, teman-teman putranya datang membantu dan saling memberi dukungan. Tetapi dari mana Yoshi bisa mengetahui tentang peristiwa ini.
“Sigit, Dia menceritakan semuanya. Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang memberitahu gue tentang pernikahan Dion? Apa gue bukan teman kalian lagi? Hah?”
“Sekarang di mana anak tiri Lo Beb?” Iwan mendekat, namun Ia malah melihat wajah Yoshi yang tampak memar kebiruan. Mantan pacarnya yang tak bisa bersolek tak bisa menggunakan make up. Hanya menebalkan bedak di wajahnya. Namun bekas biru itu meski samar dapat terlihat oleh pria cungkring itu.
“Dia istirahat, sepertinya kelelahan. Tadi polisi mencarinya dan menanyai beberapa pertanyaan tentang keberadaan Kania.” Yoshi duduk sambil memijat kepalanya yang ikut pusing memikirkan peristiwa ini.
“Lalu, apakah Sigit tahu di mana Kania berada?” tanya Vicky.
“Belum ada yang tahu Vicky, kalian jangan lupakan sang mantan. Bisa jadi Kania di sembunyikan gadis itu. Kalian nggak ingat, bagaimana bini Lo dulu di sekap sama Dias?” imbuh Yoshi.
Saat suasana sedang tegang, dokter khusus yang berjaga di ruangan isolasi berlari dengan beberapa perawat dengan cepat, saat mendapat kabar tentang kondisi pasien yang tidak di ketahui sanak keluarganya itu.
__ADS_1
“Eh, memangnya masih ada ruang perawatan lagi di lantai ini?” mereka semua bertatapan penuh tanya.
...