Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 38. Lingkaran Takdir


__ADS_3

“Sayang, Anak Papa sehat-sehat ya, dalam perut Mama, kita mau pulang ke rumah nih ...” Vicky menempelkan telinganya ke perut Dista dan mengusapnya lembut. Iwan yang hanya seorang diri menatapnya cemburu. Ingin sekali menertawakan pria dingin itu, namun Ia takut akan mengalami hal serupa kelak setelah berumah tangga.


“Bahagia banget Lo Bro sekarang, udah mau punya anak lagi. Nggak sia-sia perjuangan Lo selama ini. Biarpun susah payah, akhirnya Lo bisa menikahi gadis yang Lo suka. Nggak semua cowok seberuntung Lo!” ucap Iwan.


“Kenapa Nggak? Kalau Lo mau ya Lo harus berjuang! Nggak segampang yang Lo pikir, kalau punya cewek labil yang butuh perhatian setiap saat. Apalagi melihat kelakuan Dua bocah tengil itu. Kurang sabar apa Gue.” Vicky mengeluarkan unek-uneknya.


Mereka berdua jadi membicarakan Dion dan Bayu yang dulu kerap kali berniat menikungnya. Sedangkan Dista sudah terlelap dalam perjalanan ke rumah sakit setelah check out dari hotel. Perasaan mereka sudah lebih santai, melihat kondisi Kania berangsur pulih, meskipun belum sepenuhnya membaik.


“Haha, sabar! Kan si bohay udah jadi Bini Lo sekarang.” hibur Iwan. Tadi Dion telepon Gue, dia tanya kapan kita balik ke Jakarta, dan Dion juga menanyakan bagaimana keadaan Kania.”


“Terus Lo jawab apa? Lo nggak bilang kalau Kita mau balik sekarang kan?”


Iwan menepuk pundak sahabatnya, meyakinkan jika dirinya dapat di percaya. Dion sangat keterlaluan dengan meninggalkan gadis itu apapun alasannya. Vicky sempat melihat bekas kiss mark hasil perbuatan Dion semalam di tubuh gadis itu.


“Kira-kira bocah itu diapain sama Dion sampai tertekan begitu?” tanya Iwan. Wajah tengilnya membayangkan apa yang dilakukan pentolan geng nya itu.


Hahaha...


“Nggak usah sok polos Lo! Lo pikir antara kita berempat siapa yang otaknya paling kotor. Lo sama Dion kan? Ngaku Lo!” tuduh Vicky dengan meninju lengan Iwan.


“Heh, Nggak bisa ya! Gue sama Lo, lebih parah Lo Kampret! Tapi tetap Dion biang mesumnya.” Mereka berdua bercanda sampai tiba di rumah sakit. Iwan berjalan lebih dulu menuju ruangan Kania di rawat. Sejauh mata memandang, Ia tak melihat kekasih tomboinya. Ternyata Yoshi sedang tidur karena kelelahan.


“Bagaimana, sudah siap semua kan? dua jam lagi penerbangan kita ke Jakarta, dan untuk hari ini adalah jadwal penerbangan terakhir, jangan sampai ketinggalan!” Iwan memberi tahu Kania, gadis itu mengangguk.


“Biarkan Yoshi tidur dulu Wan, dia kelelahan.”


Perawat datang dan membantu kebutuhan perawatan Kania selama di perjalanan. Vicky dan Dista mengurus administrasi, Iwan membantu Kania untuk bersiap. Setelah mereka siap semua baru iwan membangunkan kekasihnya.


“Bangun Beb, Kita ke bandara sekarang!”


Kania merasa bersyukur, ternyata masih banyak orang yang peduli kepadanya. Padahal sebelumnya mereka tak mengenal satu sama lain. Kania merasa berhutang budi kepada dua pasangan itu, Ia berjanji akan membalasnya suatu saat nanti.


Di tengah perjalanan menuju bandara, ponsel Kania terus berbunyi. Rupanya gadis itu sedang berbalas pesan dengan Sigit. Semua memperhatikannya dan bertanya siapa yang menghubunginya akhir-akhir ini.


“Apa dari Dion, Kania?” semua mengkhawatirkan gadis bertubuh ramping itu.


“Oh, Bukan! Dia pria kemarin yang menumpang mobil kita ke hotel.” Jawab Kania jujur. Yoshi yang sudah mengetahuinya, hanya tersenyum menanggapinya.


“Sorry Kania, apa sebelumnya kalian bertengkar atau semacamnya? ... Kalau Lo keberatan menjawab, lupain aja pertanyaan Gue!” Vicky mencoba mengerti kondisi gadis itu, hanya dengan sebuah tatapan dari istirnya Vicky menutup mulutnya.

__ADS_1


“Kania, setelah sampai di Jakarta, Lo nggak keberatan kan kalau Cuma Gue yang antar. Kedua wanita jompo itu butuh istirahat, Aki-aki itu juga besok harus ke kantor ada meeting, gimana?” ucapan Iwan membuat semuanya tertawa.


“Nggak apa-apa, Gue udah sangat berterima kasih, kalian perhatian dan peduli sama Gue.”


Mereka semua sudah terlelap dalam kabin pesawat, karena menempuh perjalanan malam hari. Lagi-lagi Iwan terpaksa gigit jari, karena Yoshi duduk berdua dengan Kania.


“Tahan... tahan... Jakarta sudah di depan mata.” Ledek Vicky, yang memamerkan kemesraannya dengan Dista pada pria itu.


...


Dion menghubungi Kania, mengirim banyak pesan pada gadis itu namun tetap diabaikan, padahal sejak sore status Kania dalam keadaan online. Dion mengajak Ujang ke rumah Kania, untuk memeriksa rumahnya, barang kali gadis itu sudah berada di rumah tanpa sepengetahuannya.


Ujang memasuki perumahan di mana Kania tinggal, tetapi rumahnya dalam keadaan sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.


“Nggak ada Mas, lampu teras saja terus menyala, padahal masih sore.” Dion memukul kemudinya, dan tak tahu harus kemana lagi. tujuan berikutnya adalah rumah Vicky, namun tak ada bedanya petugas keamanan mengatakan Jika pemiliknya pergi, berdua dengan istrinya dua hari yang lalu.


“Mas Dion, di suruh pulang sama Mamanya!” Ujang dengan ragu-ragu memberitahu. Seperti anak kecil yang harus dikomando pulang sebelum petang.


“Bilang sama Nyonya besar, Kalau waktunya pulang nanti juga pulang.” Ujang melarangnya pergi, karena Chandra sedang mengurus dokumen-dokumen penting untuknya. Peralihan perusahaan untuk Dion setelah dirinya menikah dengan Dias, besok.


Ujang mengambil alih kemudinya, sepertinya Dion sudah merasa putus asa. Semua orang tak ada saat dirinya membutuhkan bantuan. Bahkan dalam situasi terjepit seperti ini, Dion hanya bisa diam. Dua puluh menit perjalanan, Ujang berhasil membawa pewaris Wijaya Group pulang ke rumah.


Di ruang kerja, Chandra meminta Dion untuk menandatangani semua dokumen yang dibutuhkan. Tak butuh waktu lama, semuanya memang sudah dipersiapkan Pria berkharisma itu untuk putra semata wayangnya.


Notaris kepercayaan Chandra juga sudah berada di sana untuk menyampaikan dan melegalkan dokumen pengalihan perusahaan. dan akan di serahkan besok.


“Pak Chandra, kenapa bukan Kania yang menyiapkan semuanya?” mendengar pertanyaan notaris papanya, Dion spontan menjawabnya.


“Kania sedang berada di Jawa Timur dan belum kembali.” jawaban ceplas-ceplosnya membuat Chandra mengalihkan fokusnya kepada Dion.


“Dari mana Kamu tahu, Kania ada di sana?” Chandra dan Notaris itu menjadi penasaran.


“Jelas Lah, Gadis itu tepatnya berada di Kota Malang, menginap di hotel Eternity kamar 508 dan kita ...” Dion menatap Papanya dengan menyunggingkan senyum. “Bukankah Papa menelpon Kania sore-sore, dan mendengar suara laki-laki?” lanjut Dion.


“Apa maksudmu Dion! Chandra menarik kerah baju putranya, ingin rasanya menghajar putranya saat itu. Seakan telah mencoreng wajah Chandra Wijaya, namun Dion tak punya pilihan lagi. Ia harus mengatakan kebenarannya apapun yang terjadi. Sayangnya, Chandra tak percaya begitu saja, Ia tetap memaksa putranya untuk menikahi Dias sebagai bentuk tanggung jawab.


“Apa? Di rumah sakit? Hahaha... yang benar saja! Di mana-mana orang menikah di Gedung, Aula, KUA, kenapa harus di rumah sakit?” teriak Dion.


Setelah mendapat tanda tangan Dion dan berdebat cukup sengit. Chandra meminta kepada Notarisnya untuk merahasiakan hal ini. karena akan berimbas pada reputasi Kania nanti di kantor. Tak mungkin Dion melakukan hal itu, mengingat putranya menolak perjodohan waktu itu cukup keras.

__ADS_1


Dias belum pulih, tetapi terus memaksa Dion untuk menikahinya. Meskipun secara tertutup dan di lakukan di ruangan dirinya di rawat.


Agnes pun hanya mengikuti perintah Chandra. Akad pernikahan putranya akan dilaksanakan pukul sembilan pagi. Wanita itu juga mengirim make up artis untuk membantu persiapan Dias besok pagi, dan Kini Agnes meratapi keputusan putranya yang akan menikahi Dias.


“Nak, Biarkan Mama masuk!” Dion mengunci pintunya tak ingin bertemu siapapun. Pria itu kemudian membuka bungkusan plastik yang Ia pesan dari anak buahnya tempo lalu.


“Oke! sepertinya Lo berkeras menikah sama Gue, sayang! Kita lihat kehidupan baru Lo nanti seperti apa, jangan pernah menyesal telah masuk kedalam kehidupan Dion Wijaya.”


...


Di Bandara Soeta, Mereka ber Lima berpisah. Iwan memeluk Yoshi erat. Seakan tak bertemu lagi. padahal hanya beberapa jam saja, Hingga Kania mendapatkan perawatan. Karena sebentar lagi matahari juga akan terbit.


“Ampun Beb ... Nanti kita ketemu lagi di rumah Vicky! sekarang jaga anak gadis orang baik-baik Oke!” Yoshi melepaskan pelukan Iwan yang erat seperti bayi monyet.


“Heh, kampret! Lo berdua, nanti bisa balas dendam di kamar tamu Gue! sekarang lakukan tugas kalian masing-masing. Udah pagi, Gue juga pasti nggak bia tidur lagi.” sambung Vicky.


Iwan mendorong Kania dengan kursi roda, hingga taksi yang dipesannya datang dan membawa mereka pergi lebih dulu.


“Yang, masih kuat jalan?” Dista mengangguk, meskipun beberapa kali menguap karena mengantuk. Mereka bertiga berjalan beriringan. Yoshi mengatakan kepada Vicky, jika penyebab semua ini mungkin dipicu Dion yang cemburu melihat kedekatan Kania dengan Sigit.


...


Iwan telah sampai di rumah sakit. Dan memberikan surat rujukan kepada perawat yang bertugas. Kania akan dirawat di lantai Lima, dan hanya ada dua kamar VIP saja di sana yang saling berseberangan. Kania dan Iwan terkejut, saat mendapati ruangan di seberangnya banyak orang lalu lalang.


“Ada apa Sus, ramai banget! memangnya boleh ya berkunjung pagi-pagi buta begini?” canda Iwan.


“Oh, besok ada pasien yang akan menikah Mas, kebetulan pasiennya masih belum pulih jadi dilakukan di ruangannya seizin keluarganya.” ucap salah satu Perawat.


“Gila, nggak sabar banget cowoknya buat malam pertama! Haha...” Iwan berhasil membuat kedua perawat itu ikut tertawa dengan kekonyolannya.


“Anak pengusaha besar Mas, jadi akan dilangsungkan secara tertutup.” Mohon maaf nanti jika pasien sedikit terganggu ya!”


Setelah perawat membantu Kania berbaring di ranjang dan memasangkan selang infus di tangannya. Iwan pamit untuk keluar membeli makan. Rasanya sungguh melelahkan perjalanan kali ini. harus melawan kantuk, lapar, lelah dan berpisah dari pujaan hati.


“Sus, titip teman saya sebentar ya! saya mau cari makan di luar.” kedua perawat itu mengiyakan dan Kania pun sudah terlelap karena kelelahan.


“Plat Mobil itu kayak kenal!”


...

__ADS_1


__ADS_2