
Mobil Ujang memasuki kediaman besar Wijaya, suasana sudah tampak sepi. Bisa dipastikan tuan rumah sudah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Ujang sudah menjadi kepercayaan Wijaya, hingga Ia diberi akses penuh untuk membantu mengurus para tenaga kerja yang lain.
Ujang menutup pintu mobilnya, setelah Ia memastikan semua kondisi rumah dalam keadaan aman, Ujang pergi ke kamarnya. Namun baru sampai di dapur, pria itu sudah di cegat dengan kehadiran seorang wanita.
“Dari mana Kamu Jang? Jam segini baru pulang?”
“Eh, Teh Dias, ini Ujang dari ... apotek beli obat.” Ujang menunjukkan kantong plastik yang Ia bawa. Gadis itu sempat ragu, karena setelah kepergian Dion, sopir Chandra Wijaya juga tidak ada di rumah bahkan pulang hingga larut.
“Ujang tahu dimana Dion?”
“Bukannya tadi masuk ke rumah sama Nyonya? Selanjutnya Ujang nggak tahu Teh.”
Dias mengerucutkan bibirnya dan meminta Ujang untuk segera meninggalkannya. untuk apa dirinya jauh-jauh mencari pelarian ke rumah si brengsek Dion, jika tahu akan bernasib seperti ini. Mau pulang ke rumah, sudah pasti akan mendapat hukuman dari Papanya, bahkan yang lebih parah, Dias akan di usir dari rumah.
Tak bisa tidur, Dias mencari makanan di dapur. Namun tak menemukan apapun di sana. Sedangkan dirinya sekarang sedang mengandung anak dari pria kaya. Pria yang membuat Dion memutuskan Dias, karena ketahuan tidur bersama.
‘Dimana-mana cowok memang brengsek! Pakai nitipin anaknya di perut Gue lagi!’ gerutu Dias, yang menaiki anak tangga. Tak berselang lama Ujang muncul dari balik kegelapan.
‘Waduh anak siapa itu?’
...
Dion menatap Kania yang tidur dalam rengkuhannya. Matanya sembab, entah apa yang gadis itu rasakan. Membuat pria tanpa kaos itu bingung menghadapi situasi seperti ini. Dion tak akan banyak bertanya sampai Kania sendiri yang menceritakannya.
‘Kenapa Lo bisa nyangkut di hidup gue sih? hidup Gue aja belum jelas mau dibawa kemana. Seharusnya Lo bisa mendapatkan pria baik-baik Kania! Bukan seperti Gue!’ Dion merapikan anak rambut gadis itu. sebelum akhirnya kembali ke kamarnya.
Iwan
[Bro, Lo udah siap kan? Kita ketemu di hotel aja ya! Vicky udah atur semuanya!]
Dion
[Woy! Kayak cewek aja Lo main chat begini. Telepon dong pelit amat Lo!]
__ADS_1
Iwan
[Udah malam bego, Ngapain Gue telepon Lo! idih...]
Dion
[Haha... Ini udah pagi nyet! Oke, Gue nanti berkabar lagi!]
Meskipun Dion tak bekerja saat ini bukan berarti pria itu tak memiliki penghasilan. Kafe “Kita” di Bandung sudah memiliki beberapa cabang dalam waktu tiga tahun, dan modalnya berasal dari Vicky juga Dion semasa kuliah. Angga, Bayu dan Iwan teman kampus mereka yang masih menjalankannya. Setiap bulan, Bayu akan selalu membagikan keuntungan kepada Vicky juga Dion yang sudah kembali ke Jakarta.
“Kania, Buruan!” teriak Dion. pria itu sudah mengeluarkan motor besarnya. Rencananya akan Ia titipkan ke rumah Vicky, supaya lebih aman. Beberapa kali mengetuk pintu kamarnya juga, nyatanya gadis itu tak kunjung keluar.
Dion mencarinya ke seluruh ruangan tetapi gadis itu tidak ada. Mulai kesal, Dion memeriksa kamar gadis itu pakaiannya pun masih ada di sana.
Dug!
Dion memukul dinding, Kebiasaan! Pergi nggak pernah bilang. pria itu keluar mencari Kania dan menanyakan ke beberapa warga di sekitar, satupun tak ada yang melihat gadis sesuai ciri-ciri yang disebutkan.
Dion
Kania
[Gue... ]
Dion
[Balik ke rumah sekarang, Gue tunggu cepetan!]
Kania berjalan setengah berlari. Melihat seorang pria dengan kemeja flanelnya bertolak pinggang di depan sebuah motor besarnya membuatnya ketakutan. ‘sepertinya Gue dalam masalah lgi.’
“Kemana aja sih Lo! udah di bilangin kita pergi pagi-pagi!”
Kania menyerahkan sebuah bungkusan kepada pria itu. Namun tanpa dosa Dion membuangnya ke tempat sampah. Seketika mata Kania kembali memerah melihat kantung plastik itu yang berisi sarapan paginya.
__ADS_1
“Naik! Buruan!”
Setengah memaksa, Dion meminta gadis itu untuk menurut. Wajah Dion tak semanis semalam, kadang Kania merasa takut jika pria di depannya memiliki kepribadian ganda.
“Gue buru-buru, jadi Lo pegangan ya! waktu kita nggak banyak!” setelah mengatakan hal itu, Dion melajukan motornya melebihi batas normal. Mengingat masih pagi, jalanan masih lengang. Selama perjalanan Dion berusaha fokus, dan akan segera menyelesaikan masalahnya.
Pesan yang masuk semalam, membuat Dion ingin menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Sampai Ia tak sadar sudah sampai di halaman rumah Vicky.
“Lama banget Lo! Buruan, Gue sekalian mau ke rumah sakit.” Vicky membantu Dion memasukan bawaannya ke dalam mobil. Pria itu memberinya dua lembar tiket pesawat dan sebuah amplop di sana. entah apa isinya, yang jelas sesuatu yang berguna.
“Lo dapat kabar apa lagi Bro dari Nyokap Gue?” tanya Dion, melihat raut Vicky yang tampak khawatir.
Vicky menatap Dion dan memberikan senyum kecut untuk pentolan geng itu. Ia merasa Dion menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang sangat berbahaya, apabila Vicky terlambat mengetahuinya.
“Semalam Nyokap Lo kemari dan Lo tahu...?”
Kania dan Dion Penasaran, Vicky menggantung kalimatnya sesekali menarik napas panjang.
“Buruan Bro! Nyokap Gue datang sama siapa?” Dias?”
“Bokap sama nyokap Lo datang untuk menjenguk Dista, mereka mengucapkan bela sungkawa dengan perginya calon anak Gue! parah Lo! Bini Gue sampai shock, dan butuh perawatan lebih lama di rumah sakit.” Papar Vicky. “padahal sore ini Dista seharusnya sudah di perbolehkan pulang.”
“Sorry Bro, bukan maksud Gue kayak begitu, Dias ada di rumah Gue sekarang dan sudah beberapa hari di sana. Makanya Gue nggak pernah pulang selama itu. Gue nggak mau, Dias nekat melakukan hal itu lagi.”
Kania mendengarkan semua obrolan itu tak menyangka jika kebohongan Dion berakibat fatal untuk Dista. Ternyata alasan Dion meninggalkan rumah adalah karena wanita itu. Apakah sekarang Kania berusaha percaya dengan ucapan Dion? bahkan Vicky pun tahu kisah buruk mereka.
“Kenapa Lo nggak cerita sama Gue? penyebab Dista masuk rumah sakit sampai sekarang karena Dias juga kan? Gue akan lapor polisi! Istri Gue udah berapa kali jadi korban, Gue nggak mau ambil risiko sampai kehilangan mereka.”
Setibanya di Bandara, Dion dan Vicky berpisah. Mungkin Ia akan menyusul setelah kondisi Dista membaik. Sekali lagi Dion dihadapkan dengan keputusan berat. Apa yang akan ia lakukan.
“Keputusan semua ada di tangan Lo! Gue hanya membantu semampu yang Gue bisa. Gue percaya, Lo bisa diandalkan tapi Waktu yang Lo punya kurang dari seminggu.” Vicky menepuk punggung Dion lalu pergi.
Selepas kepergian Vicky. Dion dan Kania berada dalam kabin pesawat. Pria itu menyugar rambutnya kasar. Bahkan Kania yang duduk di sebelahnya pun tak dianggapnya. Sampai Ia mengingat peristiwa semalam di kamar gadis itu.
__ADS_1
‘Haruskah Gue melakukannya? Sama dia?'