
“Aaaa...!!” jerit Dias. Kedua tangannya mengusir pria yang Ia kenali sebagai Ujang. Matanya terpejam. Dan terus berteriak histeris.
“Pergi! Lo udah mati. Nggak mungkin lo bisa hidup lagi!” teriak Dias lagi. Wanita itu masih cukup sadar untuk mengenali pria berdarah sunda yang sudah menjadi korban dalam kecelakaan itu. Bartender yang berjaga di bar tersebut segera mengamankan Dias. Namun, wanita itu berontak dan melarikan diri kembali menuju ke kamarnya.
Di dalam lift, dengan kesadaran yang tersisa. Tangannya hendak menekan angka di mana lantai kamarnya berada. Namun, dalam pandangannya semua angka ter-acak. Dias tak bisa menemukan lantainya berada. Panik, seperti penderita tremor, tangannya gemetaran saat menekan semua tombol itu berada.
Jgleg!!
Dias tersentak. Di dalam lift Ia mendapatkan goncangan cukup keras untuk mengembalikan kesadarannya. Namun, sayang lift itu terhenti. Dias mencari ponselnya. namun, Ia meninggalkannya di tempat tidur dalam keadaan mati.
“Hah...” napasnya sesak. Ia mulai kekurangan pasokan oksigen. Belum lagi bau anyir itu menyelimuti kotak besi yang sedang Ia singgahi.
“Tolong!! Siapa pun, tolong gue!!”
Brak... brak...!!
Dias menggedor pintu lift itu dengan tenaganya yang minim. Dalam pantulan lift itu, sosok Ujang kembali mendatanginya. Pria itu pernah berujar, jika Ia menyukai Dias. Sayangnya, Dias terlalu kejam yang hendak melukai keluarga majikannya. Terlebih Dion yang sudah Ia anggap seperti adiknya sendiri.
Dias adalah orang yang rasional. Ia mencoba melawan rasa takutnya. Namun, saat Dias mulai merasakan bahunya mulainya berat dan basah, wanita itu menoleh. Di lihatnya pundaknya di tumpangi sebuah tangan tanpa lengan dengan jari yang tak lagi utuh.
“Tolong!!”
teriakan Dias yang terakhir, sebelum akhirnya wanita manis itu tak sadarkan diri karena kesulitan bernapas. Satu jam kemudian, setelah petugas cctv melihat sesorang terbaring di depan pintu lift, segera memanggil staf dan keamanan.
Setelah di periksa dalam rekaman cctv yang diminta oleh Christian. Dias memasuki lift dan tiba-tiba saja pingsan sebelum menekan lantai kamarnya. Pihak hotel meminta maaf kepada Christian dan segera membawa gadis itu ke rumah sakit Permata Medika.
__ADS_1
Dari puluhan rumah sakit besar di Jakarta, hanya rumah sakit milik Dewa Virgiawan yang bekerja sama dengan jasa perhotelan. Selain fasilitasnya yang lengkap, pelayanan mereka tak perlu di ragukan. Meskipun agak jauh dari lokasi hotel Dias dan Chris menginap, tetapi mereka tetap mengirim Dias ke sana.
“Memangnya tidak ada rumah sakit darurat di sekitar sini Pak? jangan bermain-main dengan nyawa seseorang, Hotel Anda bisa saya tuntut, kalau sampai terjadi apa-apa dengan istri saya!” Chris dengan arogan memarahi mereka semua. Meskipun apa yang diungkapkan Chris benar, tetapi staf seperti mereka hanya menjalankan perintah saja.
Brankar yang membawa Dias tak sengaja menabrak seorang pria yang melintas. Pria berpostur tinggi dengan setelan formal. Chris meminta maaf kepada pria itu dan segera berlalu. Mengantarkan wanitanya sampai masuk ke dalam ruang ICU.
Mengelus pinggangnya yang lumayan pegal, dengan ekspresi yang lucu. Membuat Richie dan Joe tertawa.
“Kenapa Mas? Udah punya sakit pinggang aja kayak remaja jompo! Belum menikah, juga belum pernah di pakai.” goda mereka berdua.
“Tahu tuh, brankar lewat main selonong boy aja.” Sigit sudah kembali ke rumah sakit, rencananya akan menemui Kania. tetapi informasi terbaru yang Ia dapatkan dari dokter, mengenai racun yang masuk ke dalam tubuh Kania, berasal dari dalam rumah sakit ini. obat-obatan yang sengaja di racik khusus yang saling bertentangan akan mengasilkan racun dalam tubuh. Sigit menyimpulkan jika pelakunya adalah orang dalam.
Awalnya tuduhan Sigit hanya akan mengarah kepada Dias. Namun kali ini tidak lagi, ada nama seseorang yang akan Ia masukan ke dalam daftar tersangka, atas hilangnya janin kecil tak berdosa milik Kania. Saat pikirannya tengah melayang memikirkan gadis yang Ia cintai, tiba-tiba sentuhan seseorang menyadarkannya.
“Ehm...e ciye...” goda Richie.
“No! No! No!” Dista melarangnya. Kania menolehnya dengan tatapan mengiba. Gadis itu pun juga merindukan Sigit, saat tiba-tiba pria itu di gelandang ke kantor polisi tanpa penjelasan apa pun kepadanya.
Dista berkacak pinggang. “Baiklah, silakan. Kalian berdua kan memang sepasang kekasih, meskipun itu dulu. tapi jangan bilang Vicky kalau Aku yang mengizinkan, Oke!” wanita hamil itu membiarkan Kania dan Sigit melepas rindu. Sedangkan dirinya ingin sekali menikmati secangkir kopi buatan Richie dan Jo.
Seorang pria dengan wajah panik memasuki kafe. Menenangkan diri di sana. Ada-ada saja masalah yang menimpanya akhir-akhir ini. Saking tidak fokusnya, lengannya menyenggol wanita hamil yang berada di sebelahnya, hingga kopi dalam genggamannya tumpah.
“Aah!!” pekik Dista. Kopi panas itu mengenai kulit tangannya. Refleks pria itu mengambil sapu tangan miliknya dan mengelapnya di sertai permintaan maaf. Lalu tatapan mereka berdua bertemu.
“Christian? Ini beneran Lo?” Dista tak salah mengenali pria itu. Pria itu pun mengangguk
__ADS_1
“Kamu gadis yang di kejar-kejar sama Dion kan? apa kabar?” ucap Christian tanpa dosa. Sontak saja Kania dan Sigit menoleh ke arah mereka berdua. Chris melihat perut wanita itu yang buncit lantas menyentuhnya. keinginannya yang besar untuk memiliki seorang anak harus tertunda setelah Dias harus keguguran tempo hari.
“Apa yang kamu lakukan?” Dista terkejut karena pria itu memegang perutnya secara tiba-tiba. Hingga pertanyaan yang ada di kepalanya pun seketika lenyap. Mereka berdua pun akhirnya berbicara meskipun sebentar. Chris menanyakan apa yang dilakukan Dista di rumah sakit. Meskipun pertanyaan itu kurang pas karena rumah sakit adalah sebuah tempat umum.
“Menunggu teman yang sakit. Lo sendiri? sedang apa di sini?” Chris mengambil kopi yang baru saja di berikan oleh Richie dan menyeruputnya perlahan.
“Dias. Dias masuk rumah sakit,” jawab Chris sembari meletakan kopinya. Dista tak menyangka jika playboy itu masih berhubungan dengan Dias. Berarti wanita itu sekarang berada di rumah sakit ini. Sigit yang sejak tadi memasang telinga berusaha ikut mendengar obrolan mereka. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa Ia jadikan petunjuk. Sampai Ia mengacuhkan gadis dalam kursi roda itu.
Sigit beralih menatap Kania dan tersenyum kepadanya. “Kania, Aku terkejut kamu mengunjungiku.” Sigit menggenggam tangan halus itu, meremasnya dan membawanya ke dalam dekapannya. Raut kekhawatiran gadis berwajah mungil itu sangat terlihat jelas. Pasti ada hubungannya dengan peristiwa penangkapannya kemarin.
“Aku ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya dari kamu Git, bisakah kamu memberitahuku?” saat ini Sigit tak bisa mengatakan apa pun. Banyak orang di sekitar mereka. Namun, pria tampan itu berjanji untuk membuka semuanya dengan jelas suatu saat nanti setelah mendapatkan bukti dari segala kecurigaannya.
“Sayang, Aku minta maaf. Aku belum sempat mengucapkan bela sungkawa atas kepergian ibumu. Malam itu, aku bertemu dengannya meski sebentar. Saat aku mendatangi rumah Dion untuk mencari keberadaanmu.” Sigit membuka ponselnya, menunjukkan semua isi pesan dan juga deretan panggilannya yang tidak tersambung.
Kania yang melihatnya hanya geleng-geleng tak percaya dengan ulah Dion. Menyadari malam itu tingkahnya mecurigakan, saat mengganti ponsel miliknya dengan yang baru. “Maafkan aku Git, keputusan ini dibuat dengan sangat mendadak.
“Lalu, bagaimana keadaan bosmu? Apa dia sudah sadar?”
“Belum. Justru aku takut, saat dia sadar nanti dia akan kecewa denganku,” aku Kania. Sigit mengacak rambut gadis yang masih dalam pemulihan itu.
“Kalau pria itu mencintaimu, dia tak akan berbuat seperti itu. kembalilah kepadaku seandainya dia melakukannya. Hatiku akan selalu menerimamu.” Sigit tak bermaksud mengusir Kania, tetapi ada banyak hal yang harus Sigit kerjakan.
“Dis, tolong bawa Kania kembali ke kamarnya. Masih jam-jam sibuk Aku nggak bisa terlalu lama menyambut kalian.” Richie dan Jo memajukan bibirnya. Antara ucapan dan hati bosnya sangat bertolak belakang.
“Wah baru kali ini kita di usir, yuk Kania!” ajak Dista mendorong kursi roda itu. Chris pun menatap kepergian mereka berdua. ‘siapa yang sakit?’ batinnya. Selepas kepergian dua wanita cantik itu, Sigit juga meninggalkan kafe menuju hotel di mana Kania menginap.
__ADS_1
“Richie, Jo, saya kelar sebentar ya!”
...