
Dengan semangat empat lima Dion memasuki rumah Vicky. Rupanya kedatangan Dion telah ditunggu. Vicky langsung membuka obrolan tentang rencana yang sudah Ia bicarakan kepada Dion.
Vicky mengatakan tentang kedatangan Yoshi dan memberinya sebuah amplop. Namun Vicky menolak untuk membantu mantan pacar Iwan. Dengan tak menerima amplop itu dari Yoshi, supaya gadis itu bisa menyerahkan sendiri kepada yang bersangkutan. Dan dari sanalah semua rencananya akan di mulai.
“Maksud Lo?”
“Tadi Yoshi kemari, sepertinya ingin mengembalikan semua uang yang telah Iwan keluarkan untuk membantu pengobatan Ayah Yoshi.”
“Berapa banyak Bro? Tapi nggak Lo terima kan?” Dion penasaran.
“Lumayan. Nggak lah, enak aja! Yoshi yang berbuat masa kita juga yang harus bersihin kotoran dia. sampai sini Lo paham kan harus ngapain?”
Hahaha...
Mereka berdua seperti toples dan tutup yang saling melengkapi satu sama lain. tanpa mengatakan sepatah katapun Dion tahu. Yang Dion khawatirkan apakah Iwan akan setuju untuk ikut rencana mereka. Bagaimanapun rasa sakit Iwan belum ada yang menandingi sampai sekarang.
“Gimana keadaan Kania apa dia udah baikan? Berarti gadis itu nggak akan ikut dong?”
“Tergantung kondisinya nanti, kalau bisa ikut ya ikut. Kania sedang hamil bro! Lo nggak kasih selamat ke Gue?” raut Dion teramat bahagia, rasanya tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Hahaha...
“Jadi Lo serius bilang mau besanan sama Gue itu karena Kania hamil? Wih mantap juga Lo, berapa kali coba itu?”
“Haha, Sial jangan bahas itu dulu lah, repot kalau mau lagi. Lo mah enak, omong-omong Bini Lo mana?”
“Makanya Kania diajakin, boleh lah minta tambah! Ada di kamar, nanti juga keluar.”
Vicky mengirim jadwal penerbangan dan resort yang mereka sewa untuk beberapa malam. Hal yang sama yang Vicky takutkan juga adalah Iwan tak mau bergabung dengan mereka.
“Sekarang tugas Lo bujukin si Cungkring dan pastikan dia ikut. Gampang kan?”
“Jadi kita berangkatnya barengan sama si Om itu?”
“Ya nggaklah bego, kita duluan sampai sana! Ayo makan dulu Gue udah masak banyak! Tahu kalau Lo akan kemari.”
__ADS_1
Dion dan Vicky masih sibuk dengan rencananya, dan menyusunnya hingga benar-benar matang. Semoga saja tidak ada yang menggagalkan rencananya. Bayu juga sudah menyiapkan bagiannya, sayangnya pria itu tak bisa lama. karena ada tugas luar kota yang tak bisa di tinggal.
Dion dan Vicky pun memaklumi. Rasanya mereka berdua sudah cukup untuk memberi pelajaran pada pria kaya raya, klien besar di perusahaan Dion.
“Lo nggak takut, berpengaruh sama reputasi perusahaan bokap Lo?” tanya Vicky.
“Main cantik dong ganteng, jangan sampai ketahuan. Kalau ketahuan ya udah, biarin aja! Ada Kania ini, haha... Nggak usah takut, serahin semua sama Gue! Lo tahu Bro, Sigit terang-terangan mau merebut Kania dari Gue.”
“Lalu, Lo bilang apa sama bocah itu?”
“Gue bilang kalau Kania lagi hamil anak Gue, dan Gue suruh dia urusin ibu barunya.”
“Haha... enteng banget itu bibir Lo!”
Dion segera berpamitan setelah semua urusannya beres. Karena Kania sekarang sudah berada di rumahnya dan Dion tak ingin meninggalkannya lebih lama. Vicky mengantar Dion hingga halaman depan dan lagi-lagi pentolan geng itu melontarkan pertanyaan konyol.
“Gimana, jadi kan kita besanan?”
“Masih aja dibahas, anak lo juga masih bentuk kacang ijo! Bilang aja biar Lo bisa dekat sama Bini Gue terus! Ya kan? ngaku Lo?”
Hahaha...
Dion juga memikirkan cara, untuk tak membiarkan Sigit merebut Kania. setelah Papanya berhasil merampas kebahagiaan sahabat karibnya, yang tanpa Dion ketahui ternyata dalang sebenarnya adalah Mantan kekasihnya sendiri, Dias.
...
Setibanya di rumah, orang pertama yang Dion cari adalah sekretarisnya yang selalu membuatnya kesal. Baru kali ini Dion merasakan sakit hati, saat Kania meminta Sigit untuk tidak meninggalkannya. Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka. Dion masih bertanya-tanya, dan bagaimana pria itu bisa melakukannya.
“Ma! Kania di mana?”
“Ada di kamar tamu sedang istirahat, coba kamu lihat siapa tahu sudah bangun. Kamu dari mana? Mama kira kamu di belakang mobil Mama.”
“Dari rumah Vicky barusan, Oh iya Ma Kania boleh ikut Dion kan?” Dion mencoba merayu Agnes dengan banyak gaya. Biasanya jika Agnes dalam mode posesif sangat susah sekali untuk dibujuk. Apalagi mamanya telah mengetahui kondisi gadis itu.
“Janji dulu sama Mama, kamu bisa jagain Kania nggak? Nanti kamu bikin nangis lagi anak orang, kayak kemarin!” Agnes mengingat saat Dion sedang mengecup bibir Kania dan gadis itu sedang menangis.
__ADS_1
Agnes yang tengah bermain sosial media melihat Dion duduk di sampingnya dengan tatapan memelas. Akhir-akhir ini Ibu dan anak itu sering menghabiskan waktu bersama. Membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya. Agnes malu ditegur oleh suaminya saat Ia tidak mengetahui apa saja yang menjadi favorit Dion dan apa saja yang tak disukainya.
“Janji Ma! Haha... Ma, ngapain sih masih dibahas aja, Dia nangis bukan karena Dion Ma!”
“Udah dua kali Lo Kamu ketahuan Mama!” teriak Agnes saat Dion melarikan diri menaiki anak tangga ke kamar Kania.
‘Gila, Nyokap Gue pakai ingat segala lagi momen itu! Kan jadi mau lagi, haha...’ Dion mengetuk pintu dan melihat Kania masih terlelap. Dion masuk dan memeriksa kondisi gadis itu. Ia duduk di sisi tempat tidur, dan menggunakan kesempatan untuk mengagumi bibir pink cherry miliknya yang lama Ia rindukan.
“Gue akan berjuang buat dapatkan hati Lo lagi Kania, cukup Iwan yang patah hati. Gue nggak akan biarkan Sigit memiliki semua kebahagiaan Gue.”
...
Pagi harinya Dion sudah pergi ke kantor tanpa sekretarisnya. Setibanya di perusahaan Ia malah mendapat berita tak sedap soal Kania, yang berusaha menggoda bos barunya. Mendengar hal itu Dion pun murka dan mencari tahu dari mana berita itu berasal.
Dion yang berwatak keras tak memberikan kesempatan kepada orang yang telah menyebarkan kabar burung itu. Tak hanya sekali selentingan-selentingan itu terdengar. Bahkan beritanya sudah menyebar ke seluruh divisinya.
“Kamu! ikut ke ruangan saya!” tunjuk Dion kepada staf wanita yang pernah menitipkan makan siang untuknya kepada Kania. gadis itu diperintahkan ke ruangannya. Pucuk dicinta ulam tiba, berita yang telah tersebar ternyata membawa angin segar untuk staf wanita yang menaruh rasa pada Dion, nyatanya dugaan mereka salah.
“Kamu dapat berita itu dari mana?”
“Berita apa ya Pak?”
Dion menatapnya tajam, tak ada senyum di sana. Memindai penampilan stafnya yang usianya jauh diatas Kania. Dion berdecih, seakan mengejek.
“Kamu mau menggantikan posisi Kania jadi sekretaris saya?”
“Mau Pak, saya Mau!” tanpa berpikir panjang gadis itu menyela pertanyaan Dion.
“Kira-kira kamu sudah pantas belum? Jangan suka membuat berita yang tidak benar. Bukan Kania yang menggoda saya, tapi sebaliknya. Jadi siapa yang menyebarkan rumor itu?”
“Kalau kamu tidak mengatakannya, hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja.”
“OB baru pak, dia yang menyebarkan berita itu, awalnya ke lantai tiga. Terus dari mulut ke mulut sampai seluruh divisi. Saya minta maaf Pak! tolong jangan pecat saya.” Gadis itu tertunduk dengan penuh penyesalan.
“Oke, kamu boleh keluar! Bawa OB itu kemari!”
__ADS_1
...