
Di dapur, Yoshi menghabiskan satu gelas air dingin dengan perasaan kesal. Pertama karena kelakuan psikopat puber itu. Kedua karena Sigit mengikutinya dan terus menertawakannya. Ternyata ibu sambungnya sangat konyol dan membuat perasaan Sigit di rumah menjadi lebih baik sepeninggal kekasihnya.
Tak hanya membawakannya obat, Sigit juga membawakan minuman dan pastry buatan Jo dan Richie. Selama ini hubungan mereka sempat tegang karena Papanya merebut kekasih orang dan berakhir dengan tidak baik.
“Jadi dari tadi Lo melihat Gue?” tanya Yoshi yang membuka plastik bawaan Sigit.
“Sebenarnya lebih ke nggak sengaja. Gue Cuma penasaran, akhir-akhir ini suami Lo sering keluar rumah. sepertinya banyak yang sedang dia kerjakan.”
“Suami Gue itu bokap Lo! Cih, geli Gue! awas Lo ya sampai Lo bocorin hal ini ke Kania.” ancam Yoshi kepada Sigit yang terus tertawa kecil.
Haha... “Ide bagus itu, bisa jadi obrolan kalau Gue mau ketemu sama dia lagi. Oh iya, Yoshi Gue mau bertanya tentang siapa itu Dias. Sebenarnya sudah lama Gue mau bertanya tentang hal ini.”
Yoshi menikmati pastry dari kafe Sigit. Sesekali Ia tertawa mengingat kelakuan mantan sahabatnya itu. gadis tomboy itu lantas bertanya, bagaiamana Sigit bisa mengetahui tentang nenek sihir yang cantik jelita itu.
“Gue nggak perlu basa-basi tentang dari mana Lo tahu siapa Dias, yang pasti bukan Kania apalagi Dion kan yang cerita. Jadi Dias itu teman sebangku Gue saat SMA, dan penyihir itu mantan kekasihnya Dion.”
Sigit hanya tersenyum, jika apa yang dilakukan Dias beralasan, jika ada dendam yang melatari pernikahan Yoshi dengan Papanya.
“Lanjut dong, Gue jadi penasaran seberapa populernya bos nya Kania itu?”
“Ehm...ehm...” sambil mengunyah sesekali ingin tertawa. Sigit masih sangat peduli dengan kisah cinta tom dan jerry itu.
“Lo lebih beruntung dari pada sahabat gue itu, Lo nembak Kania langsung jadian kan? meski...”
“Iya meskipun akhirnya direbut lagi sama si brengsek itu!” sahut Sigit menyilangkan kedua tangannya di dada. Rosi melihat keakraban keduanya dari lantai dua. Senyumnya terbit cukup lebar. Pasalnya Sigit selama ini kesepian. Hanya Richie dan Jo yang putranya miliki.
Kini, gadis muda yang merupakan madunya, ternyata bisa menjadi teman ngobrol yang asyik untuk putranya. Rosi menjadi tenang karena Sigit tak perlu mengonsumsi obat-obatan lagi dan bisa kembali menjadi dirinya yang sebelumnya.
Sepeninggal Rosi, Sigit mendengarkan cerita masa SMA Yoshi dan Dias. Sampai masalah berkepanjangan yang berlangsung hingga sekarang. Sigit mulai bertanya serius dan menantikan reaksi Yoshi jika dirinya mengetahui fakta yang sebenarnya.
“Yoshi, Gue sudah mencari tahu semuanya bagaimana Papa bisa menemukan Lo dan menjadikan Lo istrinya,” tutur Sigit.
“Maksud Lo?”
“Seharusnya yang menjadi istri kedua Papa itu bukan Lo, tapi...”
“Siapa Git! Jangan macem-macem Lo bikin orang penasaran!” Yoshi berdiri, dan menunggu pria tampan seusianya melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Pertemukan Gue sama Kania Cuma berdua saja, bisa kan? Nanti Gue ceritakan apa yang seharusnya terjadi,” imbuh Sigit meninggalkan Yoshi yang menganga lebar. Ia telah berhasil mengerjai gadis tomboy itu yang pernah membanting dirinya saat di hotel tempat mereka menginap.
“Sigit!! Awas ya, Ngerjain orang tua durhaka Lo!” umpat Yoshi dengan menghentak-hentakan kakinya.
...
Di tempat lain, sepasang suami istri dalam balutan setelan serba hitam, dengan payung dan sekeranjang bunga dan air mawar. Tangan itu menggenggam erat satu sama lain untuk menguatkan.
“Bu, Dion membawa Kania kemari. Kami minta maaf karena baru sempat menjenguk Ibu. Ayo Kania, kemari!” pinta Dion. gadis dengan tahi lalat di bawah bibir itu hanya mematung. Derai air matanya tak mampu lagi Ia bendung. Luluh lantah seketika, melihat nisan bertuliskan nama Asri, ibu kandungnya.
“Ibu...,” isak Kania.
Tak ada lagi kata yang bisa Ia ungkapkan. Terlalu sulit diungkapkan, Ibunya telah terbaring kaku dn dingin di bawah gundukan tanah merah itu. Dion tak tega melihat isakannya semakin menjadi. Pentolan geng itupun ikut menyeka bulir air matanya.
“Sshht, udah sayang! doakan saja yang terbaik untuk ibumu ya!” Pelukan hangat pria itu menyalurkan kekuatan untuk Kania. membasahi kemeja hitamnya dengan getaran di tubuhnya yang susah dikendalikan.
‘Gimana cara menenangkan gadis yang sedang menangis? Kalau bukan di pemakaman, udah gue cium pasti selesai.’ batin Dion merasa bodoh. Perlahan isakan Kania mereda, gadis itu menaburkan bunga dan berkirim doa untuk ibunya. meskipun samar, Dion mampu mendengarnya. Pria itu kembali merasakan sesak, saat mengatakan Kania adalah gadis tak berguna, yang tak bisa menjaga calon cucunya dengan baik.
Selesai dengan Asri, Dion dan Kania beralih ke pusara milik Ujang. Dion berjanji akan menemukan siapapun yang menyalahi keluarga mereka. tak ada kata takut untuk bertarung. Jika harus menggunakan cara kotor, Dion mampu melakukannya.
Namun mereka semua tak mengetahui peristiwa yang sebenarnya. Dibalik kecelakaan mereka ada campur tangan pihak lain yang tak menginginkan kebahagiaan mereka. Tiba-tiba saja lagit berubah gelap. Angin di area pemakaman bertambah kencang. Menerbangkan apa saja di sana. Menambah suasana mencekam di tempat peristirahatan ibu mertuanya.
“Hujan Mas, Ayo!”
“Tuh kan malah udah gerimis!”
Dion menggandeng tangan Kania berjalan begitu lambat. Sampai hujan menghentikan langkah mereka di sebuah gardu masih dalam area pemakaman, karena hujan deras mengguyur tubuh mereka berdua. Bukannya kesal, Kania justru tertawa karena sudah lama Ia ingin merasakan bermain hujan sejak kecil, namun tak pernah kesampaian.
“Kenapa kamu tertawa? Memangnya ada yang lucu?” Dion menyelamatkan ponselnya yang basah. Sedangkan Kania malah keluar dari gardu. Gadis yang sudah basah kuyup itu menengadahkan wajahnya ke langit. Merentangkan kedua tangannya.
“Hey kemari, nanti kamu sakit!”
Siapa sangka dalam guyuran shower raksasa itu Kania mencurahkan rasa sakitnya yang tertahan. Ia berharap semua kesusahannya akan segera berakhir. Saat Kania tengah asyik bermain air, Dion menerima telepon dari mamanya.
Agnes
[Kalian di mana Nak? Kenapa belum pulang juga?]
__ADS_1
Dion
[Masih di pemakaman Ma, hujannya lebat mungkin sebentar lagi baru mau pulang.]
Agnes
[Iya, di sini juga hujan. Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut!]
Dion melihat hujannya tak kunjung berhenti, Ia memutuskan untuk menerjang badai bersama dengan gadis yang baru di nikahinya. Setelah melihat keranda di dalam gardu tempatnya berteduh. Terlanjur basah, basah sekalian. “hiii...”
“Mas, kenapa ikutan hujan-hujanan?” teriak Kania dengan wajah yang penuh air.
“Lebih baik masuk angin daripada kerasukan, haha...”
“Oh, Takut hantu juga? kirain nggak ada yang ditakutin.”
“Udah deh, nggak usah meledek begitu. udah di telepon Mama suruh pulang, khawatir sama kamu!”
Suasana di tempat parkir sangat lengang, karena tersisa mereka berdua. Dion mulai merasakan dingin di sekujur tubuhnya.
“Kok jadi merinding begini,” aku Dion.
“Udah nggak usah aneh-aneh deh! sini dulu!” Tangan lembut gadis itu mengelap wajah tampan Dion, kemuadian beralih mengeringkan rambutnya. Baru kali ini Dion merasakan dirinya di perhatikan. Hal-hal kecil yang Kania lakukan membuatnya tersentuh. Saat Ia hendak menyentuh gadis itu, Ia ingat jika dirinya masih di pemakaman.
“Terima kasih sayang, ayo kita lanjutkan di rumah!”
“Haha... apaan sih kamu!”
Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke rumah. meskipun perjalanan mereka sedikit terlambat akibat jalanan tergenang, hal itu membuat mereka berdua bisa menghabiskan waktu bersama. Sesekali pria itu mencuri kecupan pada Kania. Sampai mobilnya mendapat klakson dari mobil di belakangnya.
“hah, akhirnya sampai juga! kamu langsung mandi ya, supaya tidak masuk angin. Aku mau ketemu Mama dulu!”
“Ehm...” Kania menyahut dan segera ke lantai dua. Saat sampai di ruang keluarga, Dion terkejut bukan main saat melihat mamanya tengah berbincang dengan tamunya. Dengan melihat sebuah koper besar di sana.
“Eh Dion, sudah pulang Nak! Lihat siapa yang datang untuk menginap di rumah kita.” Agnes memasang wajah sumringah dengan tangan terus mengelus perut buncit itu.
“Menginap di sini?”
__ADS_1
...