Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 93. Insiden


__ADS_3

“Saya terima nikah dan kawinnya Kania Dinara binti Surya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”


Pria berahang tegas dalam balutan jas hitam. Menawan dan berwibawa, Senyum sumringahnya menunjukkan kepada dunia jika masa pencariannya kini telah berakhir hari ini, detik ini. Bersama dengan gadis pilihan Mamanya, yang kini telah resmi menjadi pendamping hidupnya. Kania Dinara, gadis jorok yang telah mencuri hatinya.


Beberapa jam sebelumnya,


Hari yang paling dinantikan pria tampan 22 tahun itu datang juga. baru kali ini Ia merasa takut melakukan kesalahan. Bayang-bayang batal nikah gara-gara salah menyebut calon pasangan, membuat Dion tertawa tiba-tiba. Sontak ketiga pria yang berada di sana pun tak kalah kaget.


“Heh! Kalau mau tertawa nanti aja kalau Lo sukses baca ijab qabul nya! nanti kayak kemarin lagi bikin Bokap Lo malu tujuh hari tujuh malam!” ejek Iwan. Membuat sang make up artis tertawa dan menimpalinya.


“Memangnya Mas Dion sudah menikah berapa kali? Kok sampai batal nikah segala?”


“Haha... jangan dengar mereka Mbak! Mereka cuma iri, karena gue nggak pakai pacaran langsung menikah.” Dengan mengangkat dagunya dan menoleh ke arah teman-temannya.


“Huuuww...” Vicky melemparnya dengan botol air mineral. “ Halah, miriki cimi iri simi gui, preet!! Kalau nggak ada Kania Lo juga masih jomblo sampai sekarang. Bahkan Lo juga masih gangguin Bini Gue. Lagian yang Lo nikahin itu pacar orang, ya Nggak Bro!” Bayu dan Iwan tersenyum membenarkan.


“Sial! Enak aja Lo kalau ngomong, bocah itu aja yang tiba-tiba nongol mengganggu hubungan kita. Lo nggak usah bikin gosip Bro,” Vicky tertawa karena Dion tak bisa melawannya karena ucapannya benar. Status Kania memang masih kekasih Sigit. Bahkan pria itu tak memberi Kania kesempatan untuk memutuskan hubungannya dengan Sigit.


“Wah, tapi kalau saya jadi Mbak Kania ya pasti memilih yang serius toh, pacaran lama-lama kalau nggak ada kejelasan ya pasti nggak akan ada yang mau.” Obrolan itu mengalir santai. Sampai pria dengan jas hitam dengan tampilan fresh dan maskulin. Membuat semuanya bersiul.


“Wah, malam kedua udah Pro nih!”


“Kok kedua?” tanya bukannya malam pertama ya Mas?” mereka menahan tawa saat Dion ditanya sang perias yang sengaja menggodanya.


“Vicky bibir Lo minta di ikat pakai karet nasi goreng! Lemes amat!”


“Ah biasanya juga bibir Lo, nggak enak rasanya di ledekin! Makannya nggak usah iseng,” keduanya terus tertawa samapi mereka bersiap menuju ballroom hotel.


Dion dan kedua orang tuanya dalam satu mobil. Ketiga temannya bersama pasangan menyusul di mobil yang lain. “Masa ngajakin besanan, anaknya belum lahir. ejek Vicky menggoda Bayu.”


“Emang, kadang-kadang otaknya nggak tahu arahnya kemana bocah itu. kenapa bisa jadi ketua geng, bocah cengengesan kayak begitu, haha... eh by the way, si mantan nggak ada kabarnya? Kalian nggak curiga?”

__ADS_1


“Hmm, gue juga udah lama penasaran. Nggak mungkin Dias akan diam aja.”


...


Kania sudah tampil cantik paripurna. Dengan make up flaw less dan elegan membuat Asri sulit mengenali gadis kecilnya yang cantik ini. berulang kali wanita itu mencium Kania penuh rasa haru.


“Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya Kania, doa Ibu semoga pernikahan kalian bahagia.” Kania tak mampu menahan tangis. Setiap kalimat Asri begitu merasuk dalam relung hatinya.


“Ibu tahan ya Bu ya, calon pengantin juga harus bahagia, ya! ayo, sebentar lagi akadnya akan dimulai. Dan setelah Sah, Mbak Kania baru akan di pertemukan dengan suaminya.


“Gimana Mbak rasanya? deg-degan nggak?”


“Hehe, lumayan Mbak.” dengan sehelai tisu di jarinya. Kania mengelap bulir bening yang terus mengembun di sudut matanya. Namun, menit-menit terakhir, perut Kania merasakan sakit. keringat dingin mulai bermunculan membuat Asri dan perias mulai panik.


“Kania, kamu kenapa Nak?” Asri menyentuh telapak tangan gadis itu yang basah juga dingin. Padahal seharusnya Kania sudah harus turun ke Ballroom. Karena Dion baru saja selesai membacakan ijab qabulnya dengan lancar dan tak ada masalah.


Sampai Agnes menyusulnya ke kamar dan mendapati menantunya nampak kesakitan. “Sayang, kamu kenapa? Perut kamu sakit?” karena sejak tadi Kania terus memegang perutnya. Agnes dengan sigap membawa gadis itu untuk turun dan segera memberinya pereda rasa nyeri.


“Kamu sudah makan kan?”


“Dion dan yang lain khawatir kamu terjadi apa-apa. Mas mu udah nggak sabar melihatmu, Mama juga akan carikan obat buatmu ya! Ayo Besan, semuanya sudah menunggu kalian.”


Meskipun persiapan pesta itu hanya sebentar, tetapi acara yang dihadiri banyak kalangan pengusaha besar itu sangat memuaskan. Wedding Organizer pilihan Dista dan Vicky memang sangat bagus. Bahkan Agnes tak berhenti memuji pasangan itu.


“Kania mana Yang, kok nggak keluar?” Vicky bertanya kepada istrinya yang terus makan kue dalam porsi kecil.


“Masih siap-siap kali, kayak kita dulu kan begitu, hehe...”


“Iya, barisan fanboy mu sampai pada ileran nungguin. Kan aku ikut bete.”


“Nah... itu dia!” tunjuk Dista melihat sosok Agnes menggandeng Kania.

__ADS_1


Semua mata tertuju ke arah pintu. Mempelai wanita yang sangat ditunggu kehadirannya oleh semua orang. Iringan wedding singer juga membuat suasana semakin romantis. Dalam balutan kebaya putih gading menampilkan bahunya yang indah. Bintik hitam di bawah bibir Kania semakin menarik perhatian para tamu. penampilan Kania sangat berbeda, cantik luar biasa membuatnya susah dikenali. Bahkan oleh pria manis yang menatapnya sendu seorang diri di barisan meja para tamu undangan.


Tangannya mengepal kuat diatas meja. Dada itu bergemuruh naik turun tak beraturan. Matanya sembab menahan bendungan agar tidak pecah. Semakin ditahan semakin menyesakkan relung batinnya.


Sakit? sangat. Bahkan melebihi sakitnya saat kehilangan Bagas waktu itu. ucapan Dion terus terngiang di telinganya. Sebuah penyesalan.


Tak sanggup lagi melihat hal yang mengiris hatinya. Sigit berdiri dan meninggalkan acara yang baru saja di mulai. Namun sebelum kakinya melangkah keluar, Sigit tatap kembali gadis itu ‘Kalau kita berjodoh, kita akan bertemu lagi Kania, Aku pergi!’


Sepeninggal Sigit, Kini Dion dan Kania duduk bersanding di pelaminan. Aura kebahagiaan begitu terpancar dalam raut pria maskulin dalam balutan jas formal. Semua kawan baiknya ikut merasakan kebahagiaan itu. namun, sejak kemunculan Kania tadi. Ada sesuatu yang tidak benar pada diri gadis itu.


Baru juga sebentar mendampingi Dion. Kania sudah tak sanggup menahan lebih lama lagi. rasa sakit itu terus meremas perutnya. Ada rasa panas yang membakar dalam tubuhnya, sampai gadis itu refleks mengaduh saking tak tahan lagi.


“Aduh... Mas, Kania nggak ku-at”


“Kania... bangun Kania! kamu kenapa...? Ma, Pa tolong Kania pingsan!” Dion menopang tubuh kecil istirnya. Semua orang terkejut melihatnya. Agnes, Chandra dan Asri pun panik. Dan segera membawa gadis itu ke rumah sakit.


Baru juga bersantai sejenak sebelum meninggalkan pelataran hotel bergengsi itu. tetapi Sigit harus menyaksikan gadis yang Ia cintai buru-buru dibawa memasuki mobil dan diikuti banyak orang.


“Ada apa ini? Kania?” rasa khawatirnya muncul. Setelah mobil yang membawa Kania pergi, Sigit menyusulnya dari belakang. Agnes dan Chandra masih berada di ballroom untuk mengumumkan jika dengan berat hati acaranya akan segera mereka akhiri. Mereka akan segera menyusul putranya ke rumah sakit.


...


Asri memangku Kania dan mengusap wajahnya. Keringat dingin membasahi gadis itu. Ujang yang digantikan oleh Dion mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Karena terus khawatir melihat kondisi Kania terus menurun. Sampai mereka tak menyadari ketika melintasi sebuah jalanan yang cukup lengang, ternyata di belakang sebuah mobil hitam mengikutinya. Menambahkan kecepatan lalu dengan sengaja menabrakkan diri kearah mobil yang mereka tumpangi.


Braakk!!!


Benturan keras kendaraan roda empat itu tak terelakan. Mengakibatkan mobil yang dikuasai Dion oleng kemudian terguling dan hancur. Asap dalam kap mobil itu pun mengepul ke udara.


“Pa, bagaimana ini Pa! Kenapa bisa jadi seperti ini.” Agnes terus menangis. Ditemani ketiga teman putranya yang sangat khawatir dengan kecelakaan itu.


“Dokter, bagaimana keadaan pasien?” Chandra pun tak kalah khawatir.

__ADS_1


Pria berjas putih itu melepas stetoskop dan mengatupkan kedua tangannya. “dengan sangat menyesal kami tidak bisa menyelamatkan kedua korban karena kondisinya sudah tak memungkinkan. Dan satu pasien lainnya masih kritis akibat kehilangan banyak darah.”


...


__ADS_2