
Hati berandalan kampung itu bergemuruh hebat. Mendengar nasib tragis yang menimpa wanita yang telah melahirkannya. Tak luput juga dengan adik perempuannya yang selalu Ia tindas.
Masih tak percaya dengan apa yang Ia dengar. Faris membuka ponselnya dan mencari tahu sendiri melalui portal berita online yang telah beredar luas. Semua menampilkan tajuk utama kecelakaan siang itu yang menimpa keluarga Wijaya.
Tess... hancurlah pertahanannya. Bulir bening itu tak sanggup Iagi dibendung. Saat melihat siaran korban dikeluarkan dari dalam mobil dan dilarikan ke rumah sakit. Saat salah satu rekannya turun memastikan kematian korban, Faris hanya berdiam di dalam mobil. Karena Ia berpikir tugasnya telah selesai tanpa pria itu ketahui siapa saja yang berada di dalam mobil yang terguling itu.
‘Kenapa bukan gue saja yang memeriksa korban saat itu. kenapa gue nggak bisa mengenali sosok Kania, kenapa? Kenapa?’ sesalnya.
Penjahat durjana pun akan menitikkan air mata bila itu menyangkut wanita yang Ia panggil Ibu. Faris kemudian menutup layar ponselnya dan menghampiri Dias dengan penuh rasa penasaran. Faris membungkukkan badannya dan menatap dalam kedua mata bening milik mantan kekasih Dion itu.
“Siapa kamu sebenarnya? Apa yang kamu inginkan dari keluargaku?” bentak pria kumal itu dengan menahan segala amarahnya. Faris mencengkeram dagu Dias cukup kuat. Membuat wanita itu mengerang kesakitan. Sedangkan Dias sendiri juga belum paham dengan arah dan tujuan pembicaraan Faris.
“Apa maksudmu? Keluargamu? Gue bahkan nggak mengenalnya!” Dias berkata sejujurnya. Wanita itu berusaha melepaskan cengkraman tangan Faris yang terus menurun menuju leher jenjangnya, dan menekannya pada urat nadinya kuat-kuat.
Dengan penuh amarah Faris menjelaskan, Ia bersedia melakukan eksekusi itu Karena Dion pernah ikut campur dengan masalah keluarganya. bahkan tersiar kabar jika Dion juga mempermainkan adiknya. tetapi apa ini? Orang-orang yang telah di eksekusi tak lain adalah keluarga Faris sendiri. Ibu, Adik dan juga iparnya.
“Gue cuma meminta Lo untuk menghabisi Dion dan juga pasangannya. Dan Lo nggak perlu tahu apa alasan Gue di balik itu semua. Gue bahkan sudah membayar kalian lebih dari cukup bukan?” Dias gemetar, baru kali ini orang suruhannya berani melawan balik kepadanya.
“Dasar wanita brengsek! kenapa Lo nggak bilang kalau itu Adik sama Ibu Gue!” teriak Faris.
“Memangnya Gue tahu, kalau gadis lusuh, miskin dan kerempeng itu adik Lo!” sahut Dias yang justru memicu keberingasan Faris untuk kalap menyerangnya. Dias harus menyelamatkan dirinya sendiri meski sebenarnya wanita itu tak tahu menahu tentang asal-usul Kania jika ternyata memiliki hubungan darah dengan seorang penjahat seperti Faris.
Plak!
Faris menampar wanita yang sudah memberinya uang dan pekerjaan. Hingga sudut bibir Dias mengalirkan darah segar.
__ADS_1
“Tolong!!” pekik wanita itu. dirinya tak menyangka jika Faris benar-benar akan melukainya. Mata Dias berkaca-kaca menatap penuh kemarahan kepada pria tak tahu di untung itu.
“Huh, jangankan Lo yang bukan siapa-siapa. Kania, adik gue aja, gue hajar karena nggak menuruti perintah gue!” ujar Faris membanggakan dirinya.
Cuh! Dias meludah ke arah Faris. Pria di hadapannya benar-benar berbahaya. Seandainya Christian mengetahui tindak tanduknya saat ini, hingga mengakibatkan nyawa korban melayang pasti akan marah besar.
Dias terus meminta pertolongan kepada orang-orang yang berada di sana dengan berteriak cukup keras. Hingga akhirnya dua orang staf keamanan bertubuh kekar merengsek tubuh Faris, dan menahannya. Lalu membawanya keluar dengan paksa.
Dias terbatuk, karena mulai kehabisan pasokan oksigen. wajah dan lehernya memerah. Bekas cekikan pria kumal itu juga meninggalkan luka di kulitnya yang mulus akibat kuku tajamnya. Membuat Dias ingin melaporkannya ke polisi dan mengurung kriminal itu.
“Lo salah berurusan sama Gue! Ingat, Gue akan kembali mencari Lo wanita brengsek!” teriak Faris yang suaranya masih sangat jelas di telinga Dias. Kini wanita itu merasa frustrasi jika dirinya melaporkan berandalan kampung itu ke pihak berwajib, pasti dia juga akan terseret berikut dengan kasus-kasus sebelumnya.
Brak!
...
Anak buah Candra yang bekerja sama dengan kepolisian mulai bergerak. Menelusuri hal-hal ganjil yang terjadi bahkan beberapa hari sebelum kejadian. Apakah ada orang-orang yang mencurigakan yang bisa mereka jadikan sebagai petunjuk.
Mulai dari rumah besar kediaman Wijaya, rumah teman-teman Dion juga hotel tempat Kania dan Asri menginap. Perlahan mulai ada titik terang. Saat petugas keamanan saat itu memberikan kesaksian. Meskipun paria berkulit coklat itu masih berduka atas kepergian Ujang, rekan kerjanya untuk selamanya.
“Ada Pak, seorang pria yang mencari Mas Dion malam-malam. Tapi pria tampan itu tak menyebutkan namanya. Ciri-cirinya, tingginya 180 senti , berkulit putih dengan potongan rambut rapi. Ada cctv nya Pak, tepat jam sepuluh malam.” jelas petugas keamanan itu secara detail.
Setelah di telusuri pria yang di maksud oleh security itu adalah Sigit. Namun, ternyata ada sosok lain yang terlihat mencurigakan sebelum kedatangan Sigit sudah mengintai beberapa jam sebelumnya. pria berpakaian serba hitam namun wajahnya tidak tertangkap jelas oleh kamera pengawas itu.
Melihat pria yang baru saja datang sempat bertatap muka dengan pria misterius itu. anak buah Candra mulai mendatangi rumah Sigit untuk meminta keterangan.
__ADS_1
Sore hari, Rosi dan Yoshi tengah menyiapkan makan malam untuk mereka. namun suara bel mengalihkan perhatian dua wanita beda usia itu.
“Biar Yoshi aja Mbak yang buka pintunya.” Rosi pun mengiyakan karena tengah menyeduh minuman hangat untuk putranya yang sebentar lagi akan pulang. Setelah membuka pintu alangkah terkejutnya Yoshi melihat dua orang berpakaian seperti preman mendatangi rumah suaminya.
“Maaf Pak, cari siapa ya?”
“Selamat malam, Kami dari pihak kepolisian ingin bertemu dengan saudara Sigit. Terkait peristiwa kecelakaan yang menimpa keluarga Wijaya!”
Yoshi termangu. Mencoba mencerna setiap kalimat tegas yang dilontarkan oleh pria berpotongan cepak dengan jaket kulit berwarna hitam. “Keluarga Wijaya?” tanya Yoshi memastikan. Gadis tomboy itu tak tahu menahu terkait berita itu. sejak kepulangan dari Bali kemarin, Ia benar-benar menutup akses hidupnya dari dunia luar.
“Siapa Yoshi?” Rosi pun menyusul gadis itu dan reaksi yang sama pun ditunjukan oleh Mama kandung Sigit.
“Ada apa ini Pak?”
“Kami mencari Saudara Sigit Virgiawan, pria terakhir yang terlihat di kediaman saudara Dion malam hari satu hari sebelum kecelakaan itu terjadi.”
Bukannya menyuruh kedua petugas itu masuk Rosi malah berlalu mencari tempat duduk untuk meredakan kepalanya yang terasa berat.
“Masuk Pak, kita bicarakan di dalam!” Yoshi pun mempersilahkan petugas itu masuk. Yoshi memang bukan lagi bagian dari mereka. tetapi bukan berarti teman-temannya tak mengabarkan hal penting seperti ini kepadanya. Bahkan melibatkan Sigit juga. sebenarnya apa yang terjadi? Apakah benar ini ulah Sigit? Karena malam itu Sigit memang meminta alamat rumah Dion.
Baru beberapa pertanyaan dilontarkan, Pria yang dicari tiba memasuki rumah dengan raut sedih tak terkira. Melihat dua petugas dengan pakaian gelap, bisa dipastikan Sigit tahu, jika dirinya akan dijadikan saksi dan dimintai keterangan. Selain karena dirinya yang berada di TKP kecelakaan itu, beberapa momen menangkap Sigit selalu berada di lokasi yang sama dengan Dion dan Kania.
“
...
__ADS_1