Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 71. Sebuah Ambisi


__ADS_3

Dalam kamar pasangan suami istri itu, Rosi dan Dewa berbicara dari hati ke hati. Pria menawan itu mengungkapkan perasaannya bahwa pernikahan keduanya dilakukan hanya untuk kepentingan bisnisnya di masa depan. Ia tak bisa memaksa Sigit untuk mengikuti jejaknya.


Mengingat bagaimana Bagas dulu yang tak pernah menunjukkan protesnya. Sehingga harus berakhir tragis akibat tekanan dari Papanya. Mau tak mau Dewa harus memiliki putra dari wanita lain yang harus Ia nikahi. Semenjak kepergian Bagas, hati Rosi menjadi beku untuk Dewa. Merasa semua adalah kesalahan suaminya yang terlalu keras.


“Terserah Papa, selama Sigit tak tersingkirkan dari posisinya. Papa sudah mengmbil Bagas dari kami berdua, sekarang Papa memasukan orang baru dalam keluarga kita.”


“Tapi dia lain Ma, bukan gadis yang sebelumnya Mama lihat. Kalau Mama waktu itu mau menambah anak lagi, pastinya tak akan seperti ini.” sesal Dewa memeluk Rosi.


“Siapa yang tahu hati laki-laki, di luar sana bertemu banyak barang baru dan bagus. Yang di rumah bisa apa? Sudahlah Pa, katakan saja apa yang perlu Mama lakukan?” Rosi terisak.


“Papa nggak melihat Sigit beberapa hari ini, ke mana dia?”


“Ke Lembang sama teman-temannya.” Dewa pun mengangguk, melihat pekerjaannya di rumah sakit berjalan lancar pria itu merasa bangga dan puas.


Rosi pun mendapat tugas untuk menyiapkan pernikahan suaminya. Siapa yang sanggup menghadapi ini semua. Menyiapkan pernikahan suaminya seperti sedang menyiapkan pemakamannya sendiri dan rumah tangganya. Padahal Sigit sudah berpesan kepada Rosi untuk tidak terlalu memusingkan hal itu. Sedangkan ponsel Yoshi tidak aktif karena kehabisan baterai. Ia tak bisa menghubungi siapapun saat ini.


...


Vicky dan Iwan bicara panjang lebar, bagaimana awal peristiwa itu terjadi. Yoshi dan Iwan sedang mengurus kafe seperti biasa. Tak biasanya kafe sangat ramai hari itu. Iwan, Yoshi dan beberapa staf yang lain semua sangat sibuk. Menjelang sore, muncul seorang pria setengah baya, masih muda dengan setelan formal datang menghampiri Yoshi.


Dengan membawa sebuah dokumen yang cukup tebal, Yoshi membaca seluruh berkas itu. rautnya berubah kecewa, dan tanpa aba-aba gadis tomboy itu menghajar pria itu dengan beberapa pukulan, karena sempat membawa paksa kekasih Iwan.


“Terus Lo dimana, saat keributan itu berlangsung?”


“Gue udah sempat minta staf buat handle kafe, tapi Gue diminta untuk membaca semua berkas itu kalau merasa keberatan. Juga akibat perbuatan Yoshi yang main fisik dengan membanting tubuh pria itu menyebabkan beberapa luka di anggota tubuhnya, orang itu mengancam akan membawanya ke jalur hukum.”


“Ck! Kecerobohan Lo jangan dibawa sampai gede dong Bro! Lo sama Dion nggak ada bedanya. Terus Lo biarin Yoshi dibawa pergi begitu aja?”


Iwan tertawa, karena merasa dia memang melakukan apa yang dikatakan Vicky.


“Seharusnya Lo Ikutin mereka! Lo harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan malah mau habisin nyawa Lo sendiri, dasar konyol!”


“Haha... Gue nggak sejago kalian berdua soal berkelahi! buktinya, Gue masih berlindung sama Yoshi sampai sekarang.”


Vicky menghela napas dalam-dalam. Ia berpindah ke sofa di mana Dista terbaring. “Gara-gara masalah kalian berdua Gue ribut sama Doi.” Dagunya menunjuk ke arah Dista.


“Kenapa emangnya?”

__ADS_1


“Gimana kalau Lo relain aja Yoshi buat Om-Om itu!” goda Vicky.


“Buset! enteng banget bibir Lo kalau ngomong! Lo enak, udah dapat apa yang Lo mau! Kan Gue pernah bilang, Cuma Lo yang pria paling beruntung antara kita berempat.”


Hahaha...


“Kenapa masalah kalian berdua datang bergantian. Kita mau bantuin Lo Bro, buat mengembalikan uang yang sudah dipakai Bokapnya Yoshi, tapi cewek Lo nggak bisa dihubungi sampai sekarang. Dion juga belum balik dari Lembang.”


Iwan jadi kepikiran bagaimana keadaan si tomboy itu. Seharian berpisah dengannya rasanya nyawanya nyaris hilang. Apalagi harus merelakan gadisnya untuk pria tua itu.


“Kalau Lo bisa segera sembuh kita bawa Yoshi balik, tapi Lo harus terima kenyataan terburuk ya Bro! yang Lo hadapi sekarang konglomerat, masih muda kalau kata bini Gue, masih ganteng. Bisa aja Yoshi kepincut, hahaa...”


“Sial, Dista kalau sampai bisa bilang begitu, berarti beneran ganteng dong Bro! kayak Geri contohnya, Hahaha...”


“Brengsek Lo, kenapa jadi bahas adek Gue!”


“Kan saingan Lo cuma adek Lo sampai sekarang! Dion aja bukan apa-apa.”


“Jangan dibahas, nanti Doi bangun makin marah sama Gue!”


...


“Yang, bangun! Kamu tega banget ninggalin Aku semalam!” lirih Sigit membuka tirai jendela membuat gadis itu merasa hangat. Gadis itu membuka matanya mengulas senyum kepada pria manis yang berjalan ke arahnya.


“Hehe, habisnya kalian para pria berisik! Bagaimana? apa kita akan pulang hari ini?”


Sigit menghampirinya dan duduk di samping Kania yang masih dalam posisinya. Rencananya Sigit akan membawa Kania pulang ke rumah, untuk dikenalkan dengan mamanya. merapikan rambut panjang yang berantakan, ditambah pipi gadis itu yang merona membuat Sigit tak tahan.


“Morning Kiss?”


“Hah?” mendapat permintaan tiba-tiba dari kekasihnya, gadis itu bingung untuk menjawabnya. Kania tak dapat menyembunyikan rasa malunya. Gadis itu gugup, Ia menutup wajahnya dengan selimut.


‘bagaimana bisa Sigit sepolos itu, lalu Gue harus bagaimana? kenapa harus bertanya?’ Kania tak berani membuka selimutnya. Saat ruangan itu terasa sunyi Kania mencoba mengintip. Selimut tebal itu berhenti sebatas di sepasang mata bulatnya.


“Hah, syukurlah Sigit sudah pergi. Bisa mati berdiri, setiap kali dia mengatakan hal itu.” pintu kamarnya pun telah tertutup. Kania menuju ke kamar mandi dengan rambut yang di naikan ke atas secara asal.


“Aaaa...!!” teriak gadis itu, dan pria itu pun menutup bibir Kania.

__ADS_1


“Kenapa Kamu bersembunyi dibalik selimut, Aku terpaksa menunggumu di sini!” Sigit mengejutkan Kania di balik pintu kamar mandi. Bayangannya di cermin wastafel membuat Kania terkejut dan berteriak.


Membalikan tubuh gadis ramping yang menjadi kesayangannya. Sigit memagut dagu Kania, begitu lembut mencium bibir merona gadis itu. memainkannya perlahan dan berulang untuk pertama kalinya. Kania pun terhanyut dengan bahasa cinta dari Sigit.


Kania lupa, Sigit juga seorang pria dewasa yang setahun lebih tua darinya. Sikapnya yang lembut benar-benar bisa membuatnya merasa sangat nyaman. berulang kali Kania melenguh karena Sigit cukup pandai menguasai bibirnya.


“Emh..”


Tautan bibir itu terlepas, jemari Sigit mengusapnya.


“Ternyata bibirmu semanis madu, Aku menyukainya,” puji Sigit. Tak melepaskan pelukanya. Kehadiran Dion rupanya membuat pria itu cemburu. Semalam setelah Kania meninggalkannya Dion mengancam akan membawa Kania kembali menjadi miliknya.


“Sayang, Aku ingin membawamu ke rumah! Mama ingin bertemu denganmu!”


“Hah! Apa tidak terlalu cepat?”


“Nggak! Bagiku cukup satu saja wanita yang perlu Aku kenal. Aku juga akan menemui orang tuamu secepatnya, untuk memintamu!”


“Tapi Aku harus ke rumah sakit dulu, pria yang waktu itu memberimu tumpangan sedang di rawat.”


“Baiklah, kita akan ikut, tapi Aku nggak akan mengizinkanmu satu mobil dengan pria itu. sekarang kamu mandi, Richie dan Jo sedang memasak sarapan untuk kita.”


“Lalu dimana bos ku?”


“Ada di dapur, melihat sikap bos kamu yang keras, Aku takut dia berbuat sesuatu yang bisa melukaimu, Kania.”


“Kan ada kamu, jangan biarkan aku bersamanya kalau begitu! sekarang kamu keluar dulu sayang!”


Sigit tersenyum dan keluar dari kamar itu. selepas Sigit meninggalkan kamar Kania. tak berselang lama pintu itu terkunci dari dalam. Suara ketukan pintu di kamar mandi membuat Kania tertawa.


Suara gemericik air terdengar dari balik pintu.


“Tunggu diluar! Aku belum selesai Sayang.”


Suara Kania menggema, membuat ketukan pintu itu semakin intens, namun tak di indahkan oleh gadis itu yang sedang mencuci rambutnya yang hitam dan panjang. Hampir lima belas menit ketukan pintu itu tak berhenti membuat Kania kesal. Dengan bathrobe yang berada di dalam kamar mandi Kania keluar.


“Say- ... Ng-ngapain kamu disini!”

__ADS_1


...


__ADS_2