Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 15. Dion Di Atas Angin


__ADS_3

Dion menghampiri Kania, namun Dias tak mengijinkan. Tangannya berpegang pada lengan kokoh milik mantan pacarnya itu.


“Kan Gue bilang, Bokap Gue lagi nyariin Bini buat Gue! dan dia calon Gue! Tunjuk Dion ke arah Kania.


Yuk Gue kenalin, emang agak pemalu sih bocahnya, nggak kayak Lo Yas, liar dan agresif!”


“Jelas dong! beda jam terbang kali, makanya Lo sama Gue aja!” di depan pintu kamar Kania melihat kedua orang itu berjalan ke arahnya. Dias memperkenalkan diri kepada gadis bertubuh mungil itu. Jika dibandingkan, keduanya sama-sama manis, hanya saja Kania kurang berisi jika dibandingkan dengan Dias.


“Oh ya kenalin, Gue Dias pacarnya Dion Wijaya.” Dias memperkenalkan diri dengan angkuhnya.


“Mantan! Jangan lupa,” sambung Dion.


“Gue Kania, Gue ....”


“Udah nggak perlu di jelasin, nanti semua orang juga tahu!” ocehan Dion yang terkadang random, membuat Dias kesal.


“Sayang! rame banget di sini! Mama cariin ternyata kalian pada ngumpul di atas. Oh Ya Kania, nanti jam Dua, ikut Om sama Tante ya, Dion biar menyusul nanti karena masih ada tamu. Kamu nggak diapa-apain sama anak Tante kan?”


Agnes melirik putranya yang membuang muka menahan tawa. Melihat keduanya tersipu malu Dias merasa kegerahan seperti telah terjadi sesuatu.


Merasa tersaingi dengan kehadiran orang baru di kehidupan Dion, Dias akan mencoba peruntungannya malam ini, untuk kembali menggoda mantan kekasihnya.


“Kalau boleh tahu, Om dan Tante mau kemana? Wah kedatangan Dias kemari, kurang tepat ya Tante?”


“Itu Lo tahu! Kita mau ke dokter kandungan!” jawab Dion asal, yang membuat Agnes tak bisa menahan tawanya. Sejak kapan Dion dan Kania menjadi dekat, padahal sebelumnya mereka berdua seperti Tom and Jerry.


‘Bagus, sepertinya Kania memang bisa diandalkan, jika melihat gadis yang mengaku pacar putranya, kenapa Agnes merasa gadis itu akan merepotkan.’ batin Agnes.


“Kami mau ke rumah sakit Nak, kamu mau ikut?” ajak Agnes.



“Udah dibilang, mau periksa kondisi calon Bini Gue! kalau Lo mau, ya harus diperiksa juga luar dalam, apakah kondisimu bagus? Hahaha...”


“Dion! nggak sopan kamu bicara seperti itu sama perempuan.” Tegur Agnes. Kania pun menjadi takut, jika yang dibilang Dion adalah benar. Dirinya belum siap, apalagi dengan banyak bekas luka ditubuhnya, bagaimana nanti dirinya akan menjelaskan kepada orang tua Dion.


...


Asri dan Faris berdua mencari keberadaan Kania, hingga melaporkannya ke kantor polisi. Karena belum satu kali 24 jam, Polisi belum bisa melakukan pencarian. Asri pun mengaku khawatir dengan apa yang dilakukan Faris terhadap Kania, wanita itu merasa tenang jika Kania tidak berada di rumah.


“Kok Lo bisa tenang aja sih, sementara anak gadis Lo nggak pulang! hah! terus siapa nanti yang cariin makan buat kita?” hardik Faris terhadap Asri.


“Seharusnya kamu Ris, bukan Kania! Bukannya berterima kasih sudah di beri makan adikmu, malah sering kamu sakiti seperti itu, biar saja Kania pergi dibawa kabur orang, dari pada Kania mati di tanganmu! Ibu lebih ridho jika Kania di bawa laki-laki yang bisa bertanggung jawab dengan dirinya.” asri berucap sambil lalu.


Tak terima dinasehati, Asri mendapat pukulan di wajahnya, yang mengakibatkan wanita itu jatuh membentur tembok rumahnya.


“Astagfirullah! Jangan sampai Ibu berkata buruk tentangmu Ris! Pergi! pergi kamu dari rumah!”


“Bagi duit dulu, duit yang kemarin ambil dari lemari Kania sudah habis.”

__ADS_1


“Pergi kamu! atau Ibu akan meneriaki kamu sebagai pencuri!” Asri terisak, kesabaran yang selama ini ia simpan sudah habis untuk Faris.


Tak sekali dua kali mereka berdua mendapatkan serangan dari anak sulungnya. Ingin sekali Asri membawa pergi Kania dari Jakarta meninggalkan Faris seorang diri, supaya pria itu bisa berubah.


‘Nak, semoga kamu sehat dimanapun kamu berada!’ batin Asri. Badannya remuk, kepalanya sedikit mengeluarkan darah, Ia hanya bisa meminta bantuan tetangga sekitarnya. Asri tak mampu menghadapi Faris yang tenaganya besar berkali lipat, akibat pengaruh alkohol putra sulungnya menjadi lebih tempramen, tak bisa mengontrol emosi.


“Heh gadis jorok, ikut Gue! sebelum Bos Lo pulang dan Gue diceramahi karena penampilan dekil Lo kayak gini!”


Dion mendorong gadis itu memasuki kamarnya, mengambil sisir dan mendudukkan gadis itu di ranjangnya.


“Lo tahu, gara-gara Lo gue jadi romantis kayak si kampret Vicky yang bucin sama Bininya. Lo seharusnya bangga, baru sama Lo Gue mau berbuat kayak gini!”


“Terus, Gue harus bilang Wow gitu?” Kania memiringkan bibirnya mengejek Dion yang sedang merapikan rambutnya yang kusut.


“Haha... kocak! Minimal bilang, Thank You Mas Dion, gitu!”


Hahaha.... Kania tertawa melihat ekspresi pria itu setiap meminta dipanggil dengan sebutan Mas.


Melihat wajah keduanya terpampang di cermin, Kania kembali tersenyum. Wajah sangar pentolan geng saat sedang menahan kesal, merupakan hiburan tersendiri buat gadis itu.


“Kan Gue nggak minta Lo, buat peduli sama Gue! yang ada harusnya Gue, yang udah dibayar sama ...”


“Dibayar sama siapa Lo? Ngaku nggak Lo! Gue seruput lagi bibir Lo nih, kalau nggak bilang!” ancam Dion sambil mengangkat sisir.


Hahaha...


“Ampun, Gue bercanda Mas ....”


...


“Ampun Mas Dion, Kania Cuma bercanda.” Goda gadis itu. Dion yang mendengar Kania memanggilnya dengan nada romantis, pria itu segera keluar kamar dan pergi entah kemana.


“Eh mau kemana Mas Dion? Mas! Mas!” huft dasar bocah aneh.


Diin!! Diin!!


Dion rupanya sudah menunggu di mobil dan saat Dion membukakan pintu untuk Kania, Dias datang dan menyerobot gadis itu hingga tersingkir.


“Ups, sorry udah kebiasaan sejak pacaran. Kamu duduk di belakang ya!” tegur Dias.


Gadis manis dengan tahi lalat di bawah bibir itu hanya bisa menurut. Dion segera melajukan mobilnya tanpa bergeming. Dias menggelayuti lengan milik Dion membuat pria itu menatapnya tak suka!


“Hentikan Yas, Gue lagi nyetir!”


“Ah biasanya Lo nggak pernah menolak “treatment” dari Gue, apa Lo malu karena ada orang lain selain kita? Hem?”


Kania memainkan ponselnya dan saat melihat aplikasi chat, teryata ada sebuah pesan masuk dari teman barunya.


Dista

__ADS_1


[Gimana Kania, kalian sudah ke rumah sakit?]


Kania baru menyadari ternyata pesan dari Dista sudah beberapa jam yang lalu. Ia juga belum mengabari Ibunya tentang keberadaannya sekarang.


Kania


[Sorry, baru buka chat kamu Dis. nanti sore kalau tidak ada halangan. Oh ya kamu pernah cerita kalau Dion pernah punya pacar, kan?]


Dista


[Iya, Namanya Dias. Kenapa Kania? Apa Dion memberitahumu tentang gadis itu? aa ... kamu cemburu ya? ngaku ...]


Kania


[Sekarang dia berada di sini, dan kita sedang ...]


Ckiiittt ...!!


“Aduh!” pekik Kania karena dahinya membentur seat di depannya. Ponselnya pun jatuh ke depan, tepat di bawah Seat Dion duduk.


“Sorry Kania, Lo nggak apa-apa?” Dion khawatir, karena Dion terpaksa melakukan pengereman mendadak akibat ulah Dias yang membuatnya sulit berkonsentrasi saat mengemudi.


“Lo kalau masih bikin ulah Gue turunin di jalan Lo! brengsek!”


Dista yang mendapati balasan chat dari Kania mendadak khawatir dengan gadis itu. saat mengatakan Dias berada di sana di antara mereka. Ponsel Kania pun berdering, namun ponselnya terlalu jauh dalam jangkauan. Dion yang mendengar dering ponsel bukan miliknya segera mencari dimana arah suaranya.


“Punya Lo?” tanya Dion dengan menggenggam ponsel dengan Nama Dista tertera dilayar.


“Wah si bohay, telepon. Gue angkat ya!”


Kania hanya diam saja, melihat dua orang di hadapannya dengan respon yang sangat jauh berbeda. Dias paham dengan istilah itu, siapa lagi jika bukan cem-ceman mantan pacarnya.


Dion


[Halo Sayang, kenapa Lo kesepian ya saat kita pulang?]


Dista


[Heh, kampret! Ini Gue, ngapain masih panggil Bini Gue sayang-sayang!]


Dion menjauhkan ponsel itu dari telinganya, karena mendengar teriakan seorang laki-laki.


Dion


[Bego Lo! Gue kira Dista! Nih Gue kasih ke Kania]


“Nih, dari teman Lo! Gila kuping Gue langsung panas habis diteriakin Lakinya si Bohay.”


“Makanya jangan celamitan, udah ada yang bagus masih kurang puas sih Lo!” jawab Dias sambil menyilangkan kedua tangannya di dada yang nampak berisi itu.

__ADS_1


“Hah! siapa maksud Lo?”


...


__ADS_2