
Dengan izin Tuhan dan kerja sama sepasang suami istri itu. Bayi perempuan nan cantik itu terlahir dengan selamat, melengkapi keluarga kecil Vicky dan Dista. Setelah Ibu dan bayi itu beristirahat, Vicky segera memberi kabar kepada keluarganya juga para sahabatnya. Jika malaikat kecil yang mereka nantikan telah hadir ke dunia.
Imas ibu Vicky sedang dalam perjalanan ke rumah sakit bersama kedua adik laki-lakinya. Begitu juga Papa mertuanya. Vicky menghubungi Dion, karena pria dingin itu baru sempat untuk memeriksa ponselnya. Panggilan tak terjawab itu tak terhitung jumlahnya.
Vicky
[Bro, sorry gue baru angkat telepon Lo! dari semalam Gue nggak sempat pegang ponsel. Dista sudah melahirkan, dan Gue sekarang sedang di rumah sakit PP]
Dion
[Serius Bro! kapan? Bukannya seharusnya dua hari lagi ya? Congrats Bro! Gue segera balik hari ini.]
Vicky
[Yoi, safe flight Bro! Gue tunggu kehadiran Lo!]
Setelah sambungan telepon itu terputus. Dion segera mencari Kania. Memeluk istrinya yang tengah bersantai menikmati fruit punch di siang yang terik. Wanita cantik dengan perut cukup besar, karena mengandung dua janin sekaligus pun terkejut. Karena Dion datang dengan tiba-tiba tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Ada apa Mas? ngagetin aja.”
“Ehm, katanya kamu mau buru-buru pulang. Kita berkemas dan pulang sekarang!” ajak Dion.
Kania pun dengan senang hati menurutinya. Jujur saja Kania bosan tak melakukan kegiatan apapun selama dua minggu ini. Biasanya Ia mondar-mandir dari lantai satu ke lantai empat. Ikut meeting keluar bertemu klien dan bermacam kegiatan fisik lainnya.
Kini, Ia tak perlu pusing memikirkan bagaimana cara menghemat uang, karena sekarang Kania sudah memiliki pabrik pencetak uang tersebut. Selama hamil dan perutnya semakin membesar Ia hanya diminta untuk menjaga pola makannya, istirahatnya dan hubungan ranjangnya dengan suaminya yang terkenal hebat.
“Kamu senyum-senyum begitu pasti ada sesuatu ya? ngaku deh!”
“Coba tebak!” pinta Dion sembari memainkan ponselnya untuk reservasi tiket penerbangan siang ini.
Kania Ingat, senyuman suaminya paling spesial dulu pernah dimiliki oleh seseorang. Entah benar atau salah, Kania mencoba menjawabnya.
__ADS_1
“Ehm, Dista sudah melahirkan ya?” melihat Dion pura-pura berpikir, Kania semakin yakin.
“Tebakanku pasti benar. Ayo Mas, Kania juga nggak sabar mau ketemu sama calon mantu kita.” Keduanya pun tertawa. Kania mengimbangi sifat konyol suaminya yang terkenal random dan kadang tak masuk akal.
Bahkan selama menunggu penerbangan, Dion sangat antusias menghubungi kedua orang tuanya untuk menjenguk Dista dan Bayinya. Seakan dirinya yang memiliki hajat besar, Dion begitu bersuka cita.
Dion melipat lututnya menghadap Kania dan perut buncitnya. Tangannya mengelus perut bulat itu. Kania merasa malu sekaligus geli. Karena suara Dion dapat di dengar banyak penumpang lainnya yang berada di sekitarnya.
“Nak, dengarkan Papa. Calon jodohmu sudah lahir. kalian berdua harus tumbuh dengan cepat dan sehat Oke jagoan!”
Kania menepuk bahu Dion, karena pentolan geng tampan itu tak juga berhenti mengoceh. Kania berdoa semoga saja keinginannya untuk melahirkan dua bayi laki-laki memang terkabul. Harapan keluarganya begitu tinggi. Apalagi melihat kelakuan Dion selama ini.
“Mas, kamu juga harus berdoa kalau anak kamu keduanya nanti laki-laki.” Pesan Kania. sembari berjalan meninggalkan tempat pemeriksaan. Dion pun mengiyakan dan merangkul pundak Kania.
Di kabin pesawat, Kania dan Dion membicarakan tentang acara pernikahan Iwan dan Yoshi. karena ternyata kehamilan Yoshi tak terpaut jauh dengan Kania. Jika menundanya lebih lama maka tak akan baik untuk keduanya. Rencananya keduanya akan menikah dua minggu lagi.
Iwan dan Yoshi memutuskan untuk menikah di luar negeri dengan perayaan sederhana. Selain karena ayahnya yang belum bisa bepergian jauh, juga mengenai perbedaan budaya setempat. Namun sayang, lagi-lagi kedua temannya tak bisa hadir. Hanya Dion dan Kania juga Bayu dan Isya yang akan menemani acara bahagia pria cungkring itu.
“Yah, Vicky sama Dista sudah pasti nggak bisa datang, karena punya bayi kecil.”
Kedua orang tua Dion pun menyadari. Setelah teman-temannya sibuk dengan kehidupan rumah tangganya masing-masing. Dion pun turut berusaha membangun keluarga kecilnya dengan bantuan Kania. Kali ini Ia tak lagi membesarkan egonya. Ada Kania sekarang, yang pendapatnya juga harus di dengar.
Pukul Enam petang, mereka berdua tiba di Jakarta. Namun Dion melihat Kania tampaknya kelelahan. Wanita hamil itu tertidur cukup pulas, Dion tak ingin mengganggu istirahatnya. Sepertinya Ia harus menunda kepergiannya ke rumah sakit. Dion pun menyampaikan permintaan maaf itu.
“Mas, bangun Mas! kita sudah sampai?”
“Iya sayang tidur lagi saja, ini baru jam tiga pagi.” Gumamnya.
“Apa! Jam tiga pagi? Katanya mau ke rumah sakit?”
Dion menidurkan lagi istrinya yang terus mengoceh. Ia tidak sadar jika Kania telah menghabiskan tidur panjang sejak pukul enam sore.
__ADS_1
“Tidur, besok pagi-pagi kita kesana oke cantik!”
...
Setibanya di rumah sakit, Dista telah dipindahkan ke ruang VVIP. Pemulihannya cukup cepat karena suaminya telaten mengurus istrinya dengan sabar dan penuh kasih sayang. bahkan sejak istrinya tidur, Vicky terus bermain dengan gadis kecilnya yang Ia beri nama Angel.
Dion membuka pintu perlahan. memasuki ruangan luas dominan berwarna hijau toska membuat pasangan itu merasa teduh. Wangi bayi pun memenuhi ruangan itu, membuat siapapun akan betah berlama-lama di sana.
Dion berdiri cukup lama di belakang pria dingin itu. sampai Ia melihat perubahan bagaimana temannya saat bersama keluarganya. hangat dan penuh cinta kasih.
“Bro, serius amat sama calon mantu Gue!”
Suara Dion seketika mengejutkan Vicky yang tengah menikmati perannya sebagai orang tua baru. Melihat teman-temannya datang, Hati Vicky pun merasa terharu.
“Woy, kapan kalian balik dari honeymoon?”
“Kemarin malam. Bini Lo tidur?”
“Iya, baru saja minum obat terus istirahat. Lo mau gendong?” Dion melihat wajah sahabatnya begitu bahagia. Pria dingin yang serba bisa itu menjadi panutan dirinya kelak ketika kedua anaknya telah lahir. benar kata Mamanya, Ia harus belajar dari Vicky.
Kania mencoba menggendong bayi dalam dekapan Vicky. Dan Dion meminta sahabatnya untuk mengambil gambar dirinya dan Kania.
“Asli Anak Lo cakep banget kayak si bohay, haha... udah Lo siapin nama buat calon mantu gue?”
Dion begitu mengagumi mahluk kecil ciptaan Tuhan dalam dekapan Kania. Ia jadi tak sabar menunggu kelahiran anaknya.
“Haha, Lo masih ingat aja! Gue kira Lo bercanda.” Balas Vicky.
“Nggak lah, enak aja! apalagi anak Lo cakep, Lucu, gemesin kayak begini. Udah gue tandain pokoknya. Nyokap gue juga udah bilang kan?”
“Haha, Iya. Kemarin dari sini. Namanya sudah ada tapi nunggu nanti mau di doakan dulu. Panggilannya Angel.” Tiba-tiba Kania menyahut saking gemasnya ingin menggigit pipi bayi cantik itu.
__ADS_1
“Vicky, si Angel buat Gue ya!”
...