Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 40. Jurus Terakhir


__ADS_3

“Sayang, kamu sedang apa disini?”


Agnes memeluk Dista dan mengusap perut buncitnya. Ia tak sabar memiliki keturunannya sendiri dari Dion. Bukannya menjawab pertanyaan Agnes, Dista malah balik bertanya, sedang apa dirinya tampil cantik di sebuah ruangan pasien.


“Tante, Cantik banget cocok sama warna kebayanya.” Puji Dista, “Oh iya omong-omong siapa yang sakit?”


Agnes melihat jam tangan, waktu tinggal setengah jam lagi untuk Dion mengucapkan akad. Tetapi sampai sekarang batang hidung putranya belum sampai juga.


“Dias, Dia di rawat di rumah sakit, karena keguguran. Sekarang Dion harus bertanggung jawab untuk menikahinya.” lirih Agnes yang malu mengutarakannya di depan Dista. Agnes terus mengusap perut wanita muda itu, dan berharap Dias bisa segera memberikan momongan nanti.


“Apa Om dan Tante yakin Dion setuju menikahi Dias?” Dista mengusap tangan halus wanita kaya itu, berharap mau mendengar permintaannya. Tatapan yang diberikan Agnes pun menyiratkan kesedihan.


“Tante, Dista kenal baik Dion juga Dias bukan satu atau dua bulan, tetapi bertahun-tahun. Dion tidak pernah mencintai gadis itu, tetapi gadis lain.”


Agnes memeluk Dista, mencoba menguatkan diri. Dirinya sadar siapa yang benar-benar diinginkan putranya, namun sekali lagi anak perempuan yang Ia peluk bukanlah jodoh Dion.


“Tante tahu Nak, Dion menyukai kamu sejak SMA. Tapi Tante juga tidak bisa menyalahkan kalian semua. Memang Dion saja yang tidak pernah terbuka. Agnes bersedih, Ia tak bisa membuat putra semata wayangnya bahagia sedikitpun.


“Ma, Mana Dion?” tanya Chandra kepada istrinya.


“Mama juga sedang menunggu Dion Pa, Dia minta berangkat terpisah dengan Mama dan Dion benar-benar masuk ke halaman rumah sakit.”


“Mama melihatnya sendiri?”


Agnes mengangguk. Dista yang dipesan untuk membawa Kania kepada Dion tak segera Ia lakukan. Dista membantu dengan caranya sendiri.


“Om, Tante kenapa merahasiakan pernikahan Dion yang terkesan mendadak seperti ini? bukankah Kania yang sebelumnya akan dinikahkan dengan Dion?”


“Semua terjadi diluar rencana kami Nak, dan pernikahan ini kami putuskan tiga hari yang lalu.”


Dista izin untuk menghubungi suaminya. Vicky harus tahu, jika kepulangan Dion ke Jakarta membawa masalah baru. Dion akan menikah dengan Dias. Dan Vicky pun segera meninggalkan meeting yang baru separuh jalan.


Dengan sepeda motor karyawannya, Vicky menuju rumah sakit. meskipun Dion menyebalkan, tapi Vicky tak ingin sahabatnya menikahi wanita yang salah, karena berumah tangga akan memakan waktu seumur hidup. Bagi Vicky, persahabatan mereka lebih dari hubungan darah.


‘Mana lagi si bohay, diminta bawa Kania kemari malah nggak datang - datang.’ Dion mencoba menghubungi Dista, namun tak diangkat.


Dista


[Turun Dion! jangan jadi pengecut! Dion yang Gue kenal seorang jagoan bukan? Kalau begitu buktikan sama Gue!]

__ADS_1


“Cih!” Dion tersenyum kecil membaca pesannya. Menarik napas panjang dan kembali menjadi dirinya sendiri yang tak kenal menyerah. Ia telah mendapatkan kekuatannya kembali. Otaknya mulai bekerja untuk menghancurkan hari yang paling dinantikan sang mantan.


Dengan gaya gentleman, Dion sudah sampai di depan ruangan Dias. Kedua orang tuanya telah menunggu. Kini mereka semua bisa bernapas lega.


“Tunggu Dion!”


Dista berjalan ke arah pria dengan setelan hitam putih, lengkap dengan jas hitam, sangat tampan tak seperti biasanya.



“Kenapa? Lo menyesal nggak pilih Gue? godanya. Agnes melihat kedekatan keduanya tersenyum miris. Tak pernah Ibu satu anak itu melihat Dion tersenyum lepas seperti itu. Mungkin pertama kalinya Agnes melihat putranya bahagia bersama seorang gadis.


Tangan Dista terulur, merapikan kerah dan jas hitam itu. Berikutnya menata rambutnya Dion. pria tampan berlesung pipi itu menatap Dista dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.


“Sempurna! Sekarang lakukan apa yang menurutmu benar!” ucap Dista.


“Thanks Beb!”


Dion menuju ruangan Dias di rawat. Ruangan besar bernuansa putih itu di sulap menjadi venue untuk akad nikah pewaris Chandra Wijaya, yaitu Dion Wijaya dan Anggita Dias.


“Whoaa....”



“Bagaimana sudah bisa dimulai?” Penghulu mulai membacakan doa-doa dan meminta Dion untuk mengikutinya. Karena Papa Dias berhalangan hadir, maka akan diwakilkan oleh wali hakim.


“Saudara Dion Wijaya saya nikahkan dan kawinkan Anda dengan Anggita Dias binti Rifki Saputra dengan mas kawin lima puluh gram dibayar tu-nai ...”


Penghulu sudah menekan tangan Dion untuk mengucap akadnya, tetapi Dion masih membisu, bahkan Ia tampak seperti kesulitan mengingat apa yang di ucapkan pria paruh baya di hadapannya.


“Dion! yang benar kamu!” Agnes mencubit lengan putranya. Dion pun tampak biasa saja seakan tak memiliki masalah di hidupnya.


“Kita ulangi, Nak Dion jangan gugup ya!” Pak penghulu mencoba menghibur Dion yang mulai berkeringat dingin. Dan akad kedua pun juga tak berhasil Dion lafalkan.


Semua tampak stres, tapi tidak untuk Dion.


Setelah gagal melafalkan akad untuk kedua kalinya. Kali ini Dion di harapkan untuk serius. Dan pria tampan itu mengangguk setelah diberikan segelas air mineral. Chandra sudah mengelap wajahnya berulang kali dengan sapu tangan, karena sang notaris tertawa kecil menatapnya.


“Sabar Pak, maklum pertama kali menikah pasti gugup.” Ujar sang notaris.

__ADS_1


“Halah, Dion saja yang keterlaluan, buktinya saya langsung Sah pertama kali baca akad.” Balas Chandra.


“Dion baca catatan ini dengan benar dan lantang. Jangan sampai salah lagi, Ingat ya!” ancam Agnes. bocah badung itu benar-benar membuat hiruk pikuk dalam pernikahannya sendiri, tetapi kedua orang tuanya harus ikut menanggung malu akibat ulahnya.


“Salah sendiri, jadi orang tua nggak peka!” balas Dion yang harus membaca untuk ketiga kalinya.


“Astaga!” pekik Chandra.


Dion benar-benar berhasil membuat Papanya nyaris stroke. Mempermalukan Bos perusahaan besar di depan banyak orang. Chandra memutuskan untuk meninggalkan acara itu. berjalan tak santai memasuki lift dan dirinya malah berpapasan dengan Vicky.


“Om Chandra, mau kemana?”


Vicky menghentikan langkah Papa Dion dan menjabat tangannya penuh hormat. namun pria itu menepuk pundak Vicky sambil tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun saking frustrasi menghadapi tingkah konyol Dion. Vicky berlalu, dan melihat teman-temannya berada di luar kamar.


“Tuh Kan ramai, Lo sih Beb kan kita jadi ketinggalan berita!” tukas Iwan.


Mereka bertiga masih mencari celah untuk mengintip, sedangkan Dista sudah berada di dalam diantara kerumunan. Dion yang mengetahui hal itu turut bahagia.


Percobaan ketiga kalinya pun gagal, lebih tepatnya dengan sengaja digagalkan. Dion membacanya dengan terbata-bata, sehingga menjadi tidak sah. Agnes pun ingin keluar dari ruangan itu menyusul suaminya, karena tak tahan dengan sikap Dion.


“Awas kamu ya! Mama tunggu di rumah!”


Mata Dias memerah,menahan amarah, tangis dan kecewa. Dengan mencengkeram kain kebayanya. Kukunya yang panjang dengan cat merah menyala pun melukai menembus kulitnya.


‘Lihat aja Lo Dion udah mempermalukan Gue di depan umum. Gue nggak nyangka Lo akan berbuat sepicik ini.’


Dias menatap ke arah calon suaminya yang super brengsek itu. tangannya terulur menyentuh paha Dion. membuat pria itu mengembuskan napas kasar.


Dion diminta untuk mengambil wudhu, karena telah gagal tiga kali. Andainya masih gagal juga maka pernikahan akan diganti di hari lain. Mendengar hal itu, tentu saja hatinya bersorak, karena selangkah lagi kemenangan akan menjadi miliknya. Dista tersenyum melihat Dion dengan menunjukkan ibu jarinya kepada pentolan geng itu.


kesempatan terakhir, Dion akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Pria itu menarik napas dalam-dalam.


Hah...


“Saudara Dion Wijaya saya nikahkan Anda dengan Anggita Dias binti Rifki Saputra dengan mas kawin lima puluh gram dibayar tu-nai ...”


“Saya terima nikah dan kawinnya Distanika Fadila Binti Herman Baskoro dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!”


...

__ADS_1


__ADS_2