
“Brengsek!” umpat Sigit.
Saat hampir mengetahui siapa pria itu, suara ketukan pintu mengejutkannya. Diketahui selama ini Sigit adalah pria manis yang tak pernah berkata kasar. Namun, ada kalanya saat sedang serius dan fokusnya terganggu Sigit akan marah.
“Nak Ini Mama, buka pintunya!” terdengar suara Rosi dari balik pintu. Sigit tak mematikan rekaman video itu. Hanya menghentikannya sementara. Namun, lupa menutup laptopnya. Ia tak ingin orang lain tahu sebelum dirinya.
“Iya Ma, tunggu!”
Rosi masuk ke kamar setelah Sigit mengizinkan mamanya masuk. Tak sengaja Rosi melihat kesibukan putranya belakangan ini. Hingga melewatkan makan malam bersamanya.
“Apa kamu tahu apa yang sudah di perbuat Papamu terhadap Yoshi?”
Kenapa mamanya tiba-tiba bertanya demikian? Apa mama juga melihat hal yang selama ini di sembunyikan papanya? Sigit mulai curiga saat melihat wajah gadis tomboy itu penuh luka. Namun, kenapa Yoshi tak berniat membalasnya, secara fisik mungkin tak akan bisa menandingi kekuatan pria. Tapi Yoshi memiliki kemampuan, bahkan Sigit yakin untuk menghabisi seorang Dewa Virgiawan Yoshi sudahlah cukup.
“Belum tahu Ma, memangnya ada apa dengan Yoshi? Sejak Sigit di bawa ke kantor polisi, Yoshi tak pernah terlihat lagi. Apa ini kerjaan Papa juga?”
Rosi berbisik, Jika seluruh tubuh dan wajahnya penuh luka. Rosi semakin tak tega, bisa-bisa gadis muda itu mati konyol jika terus begini. Berusaha menyembunyikan sesuatu adalah hal tersulit bagi pria tampan itu. ingin sekali membenarkan apa yang mamanya ucapkan.
“Makanya Mama jagain dia, buat teman di rumah, percaya sama Sigit ya!” Rosi duduk di atas ranjang. Ia melihat rekaman CCTV itu.
“Nak, mama mau lihat ya!”
Belum sempat putranya mengizinkan, Rosi sudah menekan tombol play. Dan berputralah rekaman itu. Sigit menepuk jidatnya, ingin menghentikan mamanya tetapi reaksi Rosi sungguh di luar dugaan Sigit.
“Kapan ini diambil?”
“Semiggu terkahir Ma, memangnya kenapa?”
__ADS_1
“Bukannya Papamu meeting ya? kenapa dia bisa ada di sana?”
Sigit memutar laptopnya dan memperbesar tampilan gambarnya. Rosi tertawa melihat ekspresi Sigit. Sesekali mengusap kepalanya. “Kamu ini, sama bentukannya Papamu masa nggak hafal sih! Mama dong, isi otak papamu bahkan hafal di luar kepala.
“Hehe, iya Ma! Ya sudah sekarang Mama keluar dulu ya! masih banyak yang harus Sigit kerjakan. Dengan menarik tangan mamanya, rasa penasaran Sigit pun sedikit terobati.”
...
“Wah lihat siapa ini?” sapa Chandra menyambangi perwira tampan dalam balutan pakaian sipil. Tak dapat di sembunyikan, meskipun berpakaian seperti preman Gunawan selalu menampilkan sisi maskulin sebagai seorang pria yang banyak di idolakan kaum hawa.
“Apa kabar Pak Chandra, Bu Agnes, ck Dion lagi! Nggak kapok-kapok Lo main kayak begini?” mereka berjabat tangan.
“Baik Nak Gunawan, tugas di mana sekarang?” dengan menepuk bahu kokoh pria itu ada rasa bangga di dalam diri Chandra. “Senang lho saya lihatnya udah ganteng, gagah, pakai seragam begini,” sindir Chandra kepada Dion.
“Biasa! Gue mah nggak kaget! Bokap gue lebih sayang sama anak orang.” balas Dion yang membuat semuanya tertawa.
Saat mereka sedang bercengkerama, seorang pria masuk ke dalam ruangan Dion. Dengan wajah penuh simpati rekan bisnis Chandra Wijaya mengutarakan keprihatinannya. Gunawan tak enak hati, merasa bukan urusannya dan hendak undur diri, namun Chandra menahannya.
“Jangan buru-buru Nak, Om tahu kamu sibuk tapi masih peduli dengan keluarga kami. Dia rekan bisnis Om, kamu tak perlu sungkan. Kita bisa bicara lagi nanti,” Chandra mengusap bahu pria itu. sebelum Gunawan pergi, telinganya mendengar rekan bisnisnya membicarakan masalah kontrak kerja sama yang belum di setujui.
Bukan Chandra Wijaya namanya jika Ia tak memiliki rasa sabar yang luar biasa. berulang kali pria itu terus mendesak dengan menawarkan berbagai keuntungan yang besar.
“Maaf Pak Dewa, Saya harus menjelaskannya bagaimana lagi? Anda sendiri yang membatalkan kontrak itu secara sepihak, saya tidak akan membahasnya lagi karena ini bukan waktu yang tepat, terima kasih sudah peduli dengan keluarga saya!”
“Kenapa tidak di coba di kaji ulang Pak Chandra, waktu itu saya salah mengambil keputusan, ternyata Wijaya Group memang satu-satunya yang terbaik.”
Semua tak ada yang bersuara, Bahu Dion bahkan sudah di cubit cukup keras oleh Agnes. Untuk tak mengatakan hal-hal konyol lainnya. Mengingat bagaimana Om-om tengil mengacaukan liburan mereka, hingga terpaksa kembali ke Jakarta dengan terburu-buru.
__ADS_1
“Baiklah Pak, saya tunggu kesediaan waktunya untuk bekerja sama seperti dulu. Kalau begitu saya permisi.” seperti biasa senyum itu selalu terbit di sudut bibirnya. Meninggalkan ruangan VVIP dengan langkah perlentenya.
Di lorong ruangan intensif Christian berjaga seorang diri. Ia pun merasa kelelahan dengan apa yang Ia hadapi selama ini. sampai seorang pria berpakaian sipil bersedia menggantikan dirinya untuk berjaga.
Christian tidak tahu jika pria berpotongan cepak adalah anggota Gunawan yang sudah mengawasi keberadaan Dias.
“Istirahat Bung! Wajahmu kelelahan,” sapa pria itu yang dengan mudah mendapat informasi data pasien yang berada di dalam ruangan. Dengan secangkir kopi dalam paper cup.
“Istri saya Mas,” jawab Chris dengan menerima uluran kopi dari tangannya.
“Saya tahu, Anda pasti sangat mencintainya ya? Tapi apa Anda tahu dengan perbuatan yang telah istri Anda lakukan?”
“Apa maksud Anda?”
...
Tepat tengah malam, ketika hiruk pikuk kehidupan tengah mereda. Langkah kaki tanpa suara melintasi ruangan dengan seorang penjaga yang tengah tertidur pulas.
Dengan jarum suntik di tangannya, bisa memastikan korban akan pergi tanpa melewati rasa sakit berkepanjangan.
“Cih! Bisa-bisanya Lo masih bisa bernafas saat Nyokap Gue udah Lo habisin!”
“Tapi Gue nggak sekejam Lo!” Saat injeksi itu menusuk botol infus, gerakan senyap itu mengejutkan pria dalam ruangan.
“Kebebasanmu telah berakhir malam ini, Faris Al Khalifi Anda di tangkap dengan kasus percobaan pembunuhan terhadap saudari Anggita Dias.”
...
__ADS_1