
Suasana rumah Dion semakin ramai saat kedua belah keluarga berada di meja makan untuk makan malam. Chandra mengumumkan, sampai acara pernikahan mereka berdua Dion dan Kania tak boleh sering-sering bertemu. Tentu saja membuat pria itu merasa jengkel.
“Pa! Kayak nggak pernah muda aja!” tukas Dion sembari mengelap mulutnya dengan tisu.
“Justru karena masa muda Papa nggak kayak kamu yang terlalu bebas, udah nggak usah banya protes. Kami sudah berbaik hati menuruti permintaanmu untuk menikahkan kalian dalam minggu ini.
“Hah! serius Pak?” Kania berdiri dan menyambangi mantan bos nya. Chandra melihat wajah terkejut Kania berbanding terbalik dengan putranya yang terus tersenyum puas.
“Coba kamu tanyakan saja sama Mas mu itu!” seketika semua tertawa mendengar ledekan Chandra kepada Dion.
“Cie, yang minta dipanggil Mas ...” goda Agnes.
“Memangnya nggak boleh, kan malah bagus.” Kania kembali duduk dan hendak melanjutkan makannya. Namun lagi-lagi pria berlesung pipi itu berulah. Ia mengambil piring makan Kania, dan hendak menyuapi gadis itu.
“Aa... buka mulutnya!” Kania tak mau. Wajahnya merah saat tatapan satu meja menuju ke arahnya. Asri tertawa melihat kelakuan bocah konyol itu. tetapi melihat Kania lebih banyak tersenyum dengan kondisi tubuhnya yang lebih sehat berisi, ibu dua anak itu merasa tenang.
“Dion, ih malu-maluin aja! nggak lihat tuh, Kania malu!” sembur Agnes. Namun, Dion tak peduli.
“Ayo sayang, biar dedeknya sehat!”
Chandra dan Agnes yang menyadari kelakuan Dion segera mengajak Asri pergi dari meja makan. Memberikan waktu untuk mereka berdua untuk saling mengenal satu sama lain.
“Tadi Mas Dion bilang dedek ya, maksudnya adek atau bagaimana Bu Agnes?”
Hahaha...
“Bukan Bu, Dion memang suka bercanda kalau sama Kania. yuk kita bahas buat acaranya saja!” Agnes berjanji akan menjewer telinga Dion nanti. Tak ada puasnya membuat kedua orang tuanya spot jantung.
“Sayang, jangan sedih seperti itu. lebih cepat lebih baik. lagi pula hubungan kalian berdua aku lihat tidak ada kemajuan, haha...” ejek pentolan geng itu yang memakan sendok berisi nasi untuk Kania.
“Ish, jangan begitu dong! Sigit begitu karena dia menghargai Kania. Nggak kayak ...” tatapan Kania tertuju pada biang kerok yang tengah meliriknya. Seolah tersindir, jika Dion sering mengambil ciumannya secara tiba-tiba dan melakukan sentuhan fisik kapanpun Ia mau.
“Tapi Aku menyukaimu Kania, Aku berusaha untuk menahannya tapi gagal. Contohnya seperti sekarang. Kamu mau aku beritahu sebuah rahasia?” Dion meletakan piring itu dan mengajak gadis itu ke balkon.
Tangannya menggenggam erat jari jemari lentik milik sekretaris cantiknya. Perasaan Dion semakin tak karuan. Lagi-lagi Ia teringat pertama kali memeluk pinggang gadis itu, saat mengaitkan kancing roknya yang melorot.
Haha...
__ADS_1
“Eh, kenapa tertawa? Ada yang lucu?”
“Nggak. Aku jadi ingat aroma shampo milikmu. Kamu ingat saat pertama kita adu mulut? Meskipun tubuhmu kecil tapi ada sesuatu yang besar di sana!”
Bugh!
“Aduh! Kenapa memukulku?” Dion mengusap lengannya. Tak ada angin tak ada hujan Kania memukulnya.
“Kenapa saat kita sedang berdua arah pembicaraanmu selalu kesana?”
“Yang mana? Yang besar? Hahaha....”
Lengan kokoh kuning langsat itu merangkul Kania dan mengatakan jika tak banyak gadis sederhana berhati besar sepertinya. Papanya benar, jika Kania memang pribadi yang menyenangkan. Untuk itu Dion tak ingin kehilangannya.
“Kamu tahu, diantara kami berempat hanya Aku yang paling polos diantara mereka.” kania mendorongnya. Merasa ucapan Dion tidak masuk akal.
“Bohong!” Kania memicingkan matanya membuat Dion gemas.
“Kalau kamu berpikir Aku yang paling nakal, kamu salah besar. Aku hanya jago berkelahi, tawuran, balap motor dan menggoda anak gadis orang. Tapi tak pernah berbuat lebih dari itu.”
“Apakah sesulit itu mempercayaiku?” Dion mengajak Kania duduk, di tengah malam yang cukup sejuk. Ia membuka semua rahasianya. Selama berpacaran dengan gadis itu, Dias tak pernah memberikan kesempatan untuk Dion mendekatinya. Jangankan mengecup bibirnya. Untuk bergandengan tangan saja, Dias selalu mengibaskan tangannya.
Saking kesalnya, ia malah mendapati pria lain yang mengambil keuntungan dari Dias dan ditukar dengan sejumlah uang. Kania menutup mulutnya merasa tak masuk akal. Dion pun tersenyum tipis.
“Kalau aku punya sedikit keberanian waktu itu untuk menyatakan perasaanku pada gadis yang aku suka, mungkin bukan kamu sekarang yang berdiri di sini.”
“Lalu, ayo lanjutkan!”
“Aku juga yang memasangkan mereka berdua, memintanya untuk segera meresmikan hubungan Vicky dan Dista. Padahal saat itu aku sangat menyukainya. Sangat menyukainya sejak pertama melihatnya. Mendengar hal itu hati Kania merasakan ngilu.
“Cih! Ternyata sampai Aku menjalin hubungan dengan Dias, hubungan mereka masih seperti itu, kalau tahu begitu Aku kan ...” melihat Kania tak ada respon, Dion mengerti jika gadis itu tengah terbakar cemburu. Memang seperti itulah rencana Dion untuk memancing Kania mengungkapkan perasaannya.
“Kamu kenapa hm? Aku tahu kamu langsung berubah setiap Aku membahas Dista.” Dion mengikis jarak. “Kamu tahu Kania, Aku memberikan ciuman pertamaku sama kamu, di rumah Vicky. kamu ingat?”
Dion menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tersenyum menahan malu saat mengatakan hal itu. Kania menutup mulutnya karena tak kuat menahan tawa. Gadis itu juga mengingatnya, saat Ia baru saja menyeduhkan secangkir kopi hitam permintaan Dion.
“Sudah, kenapa harus malu sih? Kania juga kok, kalau bukan karena kamu waktu itu Kania masih bisa mempertahankan bibir Kania tetap polos, huft!” sesal gadis itu.
__ADS_1
“Iya Aku minta maaf. Besok Aku saja yang ke kantor, kamu di rumah saja. masih ada beberapa hal yang perlu di selesaikan.”
“Soal kontraknya Pak Dewa? Mau Kania bantu?”
“Boleh, tapi di kamar ya! hehe...”
“Idih!!”
...
Dewa sudah berusaha mencari perusahaan terbaik untuk menggantikan Wijaya Group. Namun, sampai beberapa hari ini pria itu tak menemukan yang selevel dengan perusahaan yang didirikan oleh Chandra Wijaya.
Melihat banyak proposal di meja kerjanya, pria itu menjadi stres dan uring-uringan karena tak ada yang sesuai kriterianya. Kemudian Ia ingat jika memiliki istri muda yang harus diperhatikan. Jujur Dewa kecewa, Yoshi telah menkhianatinya. Hingga Dewa harus mengeluarkan sisi kelamnya (lagi).
Dewa
[Halo Ma! Apakah Sigit sudah pulang?]
Rosi
[Belum Pa, katanya besok pagi. Hari ini cucaca sedang buruk di Bali jadi penerbangan ditunda.]
Dewa
[Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di rumah ya Ma! Lusa Papa baru akan pulang.]
Dion pergi ke sebuah toko perhiasan. Ia melihat sepasang cincin putih yang spesial menurutnya. Cantik, sederhana namun memiliki kesan mewah. Bukan tak mampu untuk membeli barang dengan harga fantastis. Melihat calon istrinya adalah gadis sederhana. Dion rasa Kania akan lebih menyukainya.
Semalam saat di kamar mengerjakan laporan. Dion sengaja mengukur jari manis sekretarisnya itu menggunakan ilmu perkiraan. ‘Kira-kira cukup nggak ya? kira-kira Kania menyukainya atau tidak.’ Namun Dion tetaplah seorang pria bodo amat.
“Pergi sendirian ternyata nggak asyik! Telepon Vicky lah!”
Di sebuah coffee shop saat sedang menunggu kehadiran Vicky, seorang wanita yang sangat tak diinginkan kehadirannya melihat Dion tengah membuka desain undangan pernikahan. meskipun tak terlihat jelas, namun wanita itu yakin pasti Dion lah yang akan menikah. Mengingat kedua temannya telah menikah dan yang satu gagal dalam percintaan.
“Ternyata giliranmu datang juga sayang! come to Mama!”
...
__ADS_1