Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 37. Api Kemarahan


__ADS_3

Christian yang terus menjaga Dias hingga tersadar. Meminta gadis itu untuk melupakan rencananya mengganggu sang mantan. Apa pun yang Dias minta, Christian bersedia memenuhinya. Namun, sikap Dias yang keras dan tak dapat dicegah membuat pria itu kecewa, terlebih setelah mengetahui janin yang telah gugur itu adalah anak nya.


“Kenapa Kamu tak pernah menghubungiku soal anak itu? Darl, Kamu tahu menunggumu untuk waktu yang lama juga menyiksaku. Meskipun banyak yang bisa ku dapatkan yang jauh lebih baik dari kamu. apa kamu pikir, Mantanmu mau menerima anak yang bukan miliknya? Cih! Jangan bodoh!”


Dias membuang wajahnya, tak ingin lagi ada yang disembunyikan dari pria yang terus membantunya selama ini.


“Gue juga baru tahu kalau ternyata gue hamil beberapa hari kemarin. Jadi Chris, lupakan semuanya. Lo tahu kan apa yang sedang terjadi sama Gue? Dias berusaha menghindari tatapan pria itu. “Bukankah hubungan kita sejak dulu hanya untuk saling memenuhi kebutuhan Chris? Cinta, uang, dan kepuasan adalah hal yang berbeda.” Ucapan Dias memicu kemarahan pria yang setia menunggunya.


Christian mengepalkan tangannya. Menatap gadis itu dengan penuh emosi. Selama Ini Dias hanya butuh kehangatan dirinya juga kesenangan. Padahal Chris berharap Dias dapat kembali menjadi gadis yang manis sama saat seperti pertama mereka bertemu, Chris sudah mencintainya dan semuanya sudah pria itu berikan.


Hah... seakan melepas beban berat dari hatinya, Christian pun menyerah.


“Okay, kalau itu sudah menjadi keputusanmu! Aku akan pergi! Sekarang tak ada lagi yang bisa membuat Aku tetap tinggal di sisimu. Aku hanya menawarkan kebahagiaan untukmu, tapi Jika kamu terus mengejar preman itu, Aku tak bisa menahan mu. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu!”


Brak!


Chris meninggalkan ruangan Dias.


...


Tak memiliki rasa takut bukan berarti semua masalah dapat ditangani secara mudah. Tak terkecuali oleh Dion. meskipun dirinya sudah menyusun rencana sesempurna mungkin, ternyata ada saja celah untuk menjatuhkannya. Waktu tiga bulan untuk segera menikah, nyatanya dipangkas paksa oleh keadaan. Dirinya harus segera menikahi wanita yang tak pernah sekalipun Ia cintai. Lusa, bukankah itu besok?


Setelah kehamilan Dias jadikan alasan untuk mengikatnya, Kini berita keguguran untuk menuntutnya bertanggung jawab. Ia tak bisa lari lagi dalam situasi seperti ini. Tapi Kania? andainya gadis itu benar-benar mengandung benih dirinya, apa yang akan Ia lakukan? Dion mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi Kania, namun tak ada yang mengangkatnya.


‘Angkat Kania!’ gumam Dion.


Dion memilih pergi setelah menyaksikan drama sang mantan. Kepalanya penuh dengan bagaimana caranya bisa bicara dengan Kania. Teman-temannya mungkin sudah enggan untuk menolongnya. Menghadapi tekanan, hidung mancungnya mencium aroma menenangkan yang berasal dari samping bangunan rumah sakit.



“Mas Dion, baik-baik saja? Kalau masih pusing kita pulang saja!” ajak Ujang.


Dion mencari dimana aroma itu berasal, mengajak Ujang bersamanya untuk mengeluarkan unek-uneknya. Sudah lama sekali Ia tak menghabiskan waktu dengan minuman pahit itu, sepahit kehidupannya. Bahkan sejak lahir hingga sekarang tak ada rasa nikmat yang Ia dapatkan.


“Mang, kita ngopi dulu sebentar.”

__ADS_1


Ujang pun hanya bisa menurut. Di dalam bangunan estetik itu, biasanya sang sopir pribadi Chandra, hanya minum kopi sachet, kini Ujang mencoba peruntungan untuk menjadi pria kekinian, dengan nongkrong di Kafe bersama Anak Majikannya yang tampan.


“Espresso double shot dan Americano.” Pesan Dion.


Ujang mencoba mengulang ucapan pentolan geng itu, dan berakhir lidahnya keseleo. Dion yang sedang frustasi merasa terhibur dengan pria berdarah sunda di depannya.


Hahaha...


“Mang... Mang..., memang Cuma Mang Ujang yang selalu ada buat Dion!” ucapan Dion membuat ujang sedih. Pria itu hanya bisa menepuk punggungnya dan memintanya untuk bercerita jika memang masalahnya dirasa berat.


“Kalau Mas Dion mau cerita, Ujang akan mendengarkan Mas!” Kemudian Dion mulai bercerita sedikit tentang perjalanan kemarin bersama Kania dan teman-temannya, hanya sedikit. Sampai suara seorang pria menghentikan gerakan Dion yang hendak menikmati kopi hitamnya.


...


[Bagaimana kabarmu Kania? Aku sudah kembali bekerja, kapan Kamu kembali?] suara seorang pria dalam sambungan telepon.


Dion menatap Ujang, dan menanyakan apa dirinya tak salah mendengar jika pria itu menyebut nama Kania. atau memang dirinya yang sedang merasa bersalah pada gadis itu, sehingga sosok Kania terus muncul dalam benaknya.


“Sebentar Mas, Ujang juga belum fokus, hehe...” Ujang pun memasang telinganya, begitu juga dengan Dion.


...


Dion dan Ujang bertatapan, keduanya semakin yakin jika nama Kania yang disebut tak lain adalah gadis jorok yang sudah mengganggu pikiran Dion siang dan malam.


“Mas itu kan kantor Pak Bos yang di sebut, jangan-jangan ...”


Dion bangkit dari tempat duduknya dan memanggil pria itu. Dion lupa siapa namanya, tetapi saat membaca chat milik Kania kemarin malam, mereka berdua asyik menikmati obrolannya. Bahkan kania menggunakan emoticon lucu saking senangnya mendapatkan teman baru.


“Woi!”


Ujang menepuk pundak Dion, mengingatkan untuk berbuat baik di tempat umum. Jangan sampai mereka berdua di hajar sekuriti karena berbuat keributan.


“Mas, jangan Woi atuh... Mas kan nggak kenal siapa pria itu!”


“Berisik Lo Mang! Gue tahu siapa pria itu, kemarin kita ketemu.” Sambung Dion.

__ADS_1


Dion mengeraskan suaranya memanggil pria yang sedang bertelepon. Membuat pria itu mengakhiri panggilannya.


“Heh Lo!” Ujang menutup wajahnya, susah sekali menasehati pria ini. tampan sih tampan, kelakuannya aduh, rasanya harus selalu istighfar setiap bersama Dion, agar terhindar dari masalah. Pria berpakaian Barista itu berbalik dan membenarkan apronnya.


“Anda memanggil Saya?” pria itu menatap Dion dengan sopan. Saat kedua matanya bertemu, hawa seluruh ruangan berubah menjadi gerah. Ujang mengelap peluhnya, padahal di kafe itu pendingin ruangan menyala dengan sejuknya.


“Oh, Mas bukannya yang kemarin berada di tempat wisata?”


“Wah, Ingatan Lo bagus juga ... Si-git.” Dion membaca name tag yang terpasang di seragam pria itu. Dion menepuk dada Sigit berulang kali. Memberikan tatapan nyalang pada pria berkulit putih dan tampan itu.


“Gue peringatkan sama Lo, Boy! jangan pernah ganggu pacar Gue lagi!” tegas Dion.


“Mas namanya Sigit, bukan Boy!” Perkataan Ujang membuat Sigit tersenyum.


“Pacar Mas yang mana ya...? kalau yang Mas maksud adalah Kania, ... sorry sepertinya Mas salah paham.” Sigit tak ingin meladeni Dion, sejak awal bertemu memang Dion seperti memiliki perasaan khusus pada gadis manis itu, Namun Sigit hanya ingin berteman dengan Kania.


“Jangan pernah Lo permainkan perasaan Kania, atau ...?”


“Gue akan bikin perhitungan sama Lo!”


Dion bertolak untuk meninggalkan tempat itu, namun kalimat Sigit memicu emosinya.


“Bagaimana Kalau Kania mengatakan dia masih sendiri? kalian berdua tak ada hubungan apa pun, jadi jangan pernah membatasi hubungan gadis itu, mengerti! Mas tahu, seorang gadis akan sangat merasa tidak nyaman, begitu juga dengan Kania.” senyuman Sigit membuat Dion pergi dari kafe, diikuti oleh Ujang.



“Sejak kapan gadis itu berani bilang seperti itu, selama ini dia nggak menganggap Gue?” umpat Dion di bangku kemudi. Ujang khawatir, Dion akan membawanya dalam bahaya.


“Mas, jangan nekat! Ujang saja yang bawa mobil!”


Brromm... broomm...


“Masuk Mang! Dion tinggal nih!” tangannya mengepal kuat pada kemudi itu, perasaan ingin merubuhkan kafe dengan pria yang bernama Sigit sangat besar.


“Kania, panggilan Gue Lo abaikan, sekarang Lo mau menjalin hubungan sama Sigit! Lo memang harus di hukum.”

__ADS_1


Mobil itu meninggalkan pelataran parkir rumah sakit dengan ugal-ugalan. Tepat seperti dugaan Ujang yang terus berdoa untuk keselamatan keduanya.


Ckkittt....


__ADS_2