
Beberapa jam sebelumnya,
Yoshi menatap jendela dengan perasaan tak menentu. Jarinya mengukir di kaca jendela, menuliskan sebuah nama dengan hati teriris. Ia sadar, semua orang memiliki kehidupan yang tidak mudah. Mbak Rosi, Sigit, Kania, juga ketiga temannya yang lain.
Rosi melihat keresahan gadis tomboy itu. usianya masih muda, masa depannya masih panjang, begitu juga dengan putranya, Sigit. Mendengar jawaban atas pertanyaan Sigit kemarin, Rosi membuat keputusan pada detik-detik terakhir sebelum pesawatnya lepas landas.
“Yoshi, kamu mendengar ku?”
“Iya Mbak, apa kamu memerlukan sesuatu?” tanya Yoshi.
Rosi, meminta Sigit untuk mentransfer sejumlah Uang ke rekening gadis itu. Untuk bertahan selama Rosi belum kembali dari luar negeri. Putranya pun mengangguk.
“Pesawat akan terbang setengah jam lagi, Kamu bisa turun dan tetap tinggal di Jakarta. biar Saya dan Sigit yang akan merawat Ayahmu sampai Ia membaik.”
Yoshi menggeleng. Ia justru malu dan menangis dalam bahu wanita itu. Ia telah banyak merepotkan kehidupannya. Kini mama kandung Sigit justru berencana merawat ayah Yoshi yang telah dibiayai dan diberikan perawatan terbaik oleh mendiang Dewa.
“Kesempatan tidak datang dua kali Yoshi, bukannya dulu kamu meminta tolong kepadaku, hm?” Yoshi menatap Ibu dan anak itu, Mereka mengangguk.
“Turun sekarang! Atau Lo memang berniat menjalin hubungan denganku? Katakan saja di depan Mama, mungkin akan disetujui, ya kan Ma?” goda Sigit.
“Cih!” Sigit memanggil Flight Attendant yang bertugas, untuk membantu Yoshi turun dari kabin. Ketiganya pun berpelukan, saling melepas rindu. Terutama Yoshi dan Sigit.
“Jika ada kehidupan berikutnya, Gue pasti akan memilih Lo dari pada Iwan, Gue janji Git!” isak Yoshi. begitu juga dengan pria berkulit putih itu.
“Awas kalau bohong!” balas Sigit.
Yoshi pun berjalan menjauh, sampai Ia keluar dari kabin pesawat. Kenapa hati Yoshi semakin sedih, meski baru beberapa bulan menjadi keluarga, Rosi dan Sigit adalah orang-orang yang baik. namun kehidupan mengatur mereka bertemu dengan orang yang salah.
Jam keberangkatan Yoshi yang Ia katakan Iwan waktu itu ternyata salah. Rosi mempercepat keberangkatannya. Di Jakarta meninggalkan banyak kenangan buruk untuknya juga putranya. Ia tak berhak pula mengajak Yoshi bersamanya. Ada kehidupan baru untuk gadis muda itu, namun tidak dengannya.
Suara pesawat lepas landas bergemuruh di telinganya. “Mbak Rosi, Sigit, semoga selamat sampai tujuan, Aku akan merindukan kalian.” Isak Yoshi yang tak berkesudahan.
Yoshi duduk di ruang tunggu. Menenangkan pikirannya, sedangkan waktu baru pukul dua belas. Masih tiga jam lagi untuk sampai Ia bisa bertemu dengan Iwan. Yoshi sengaja tak memberitahunya, jika Ia tak jadi ikut penerbangan itu. Biarlah, kalau memang berjodoh pasti Iwan akan tetap menunggunya sesuai ucapannya dulu.
“Brengsek!! Arrgghhh!!”
Suara seseorang yang sangat Yoshi kenal. Bahkan terdengar suara peringatan dari petugas keamanan yang meminta pria itu untuk pergi. Ternyata benar jika Iwan menunggunya, bahkan hingga sore.
“Heh, berisik Lo Cungkring!”
Yoshi berlari ke arah pria setinggi tiang listrik di depannya. Memeluknya dengan erat tanpa bisa berkata apa-apa. Semua temannya yang melihat kejadian itu pun berlega hati, jika tebakan mereka ternyata salah. Rasa haru memenuhi area ruang tunggu di bandara, menjadi tontonan banyak orang.
__ADS_1
“Beb? Ini Lo kan?” Iwan memutar tubuh Yoshi, memeriksa dari atas hingga bawah memastikan jika gadis berambut coklat itu adalah mantan kekasihnya, sekaligus calon pasangannya di masa depan.
Yoshi mengangguk, mencubit pipi tirus milik Iwan. Keduanya pun menangis bersamaan seperti balita kecil yang kehilangan ibunya.
“Jangan pernah tinggalin Gue lagi Beb, Gue nggak sanggup!” isak Iwan.
“Hmm, Gue juga Wan. Cukup jadi diri Lo sendiri seperti ini. jangan pernah berubah, bagi Gue Lo tetap Cungkring manis Milik Gue seorang.
Keduanya dipisahkan oleh Dion. merasa tak tahan menjadi pusat perhatian banyak orang oleh tingkah kedua sahabatnya.
“Kita pergi dari sini, Gue udah lapar lagi gara-gara kelamaan nungguin si tomboy ini.”
“Benar, Lo bisa pakai kamar tamu Gue atau rumah Dion terserah Lo! kasihan anak gue udah lapar sejak tadi, ayo!”
...
Chandra mendatangi sebuah toko besar. Hatinya merasa lega, semua urusannya telah berjalan lancar. Kini, Ia harus menyelesaikan beban yang mengganjal dalam hatinya kepada istrinya, Agnes Wijaya.
“Saya mau keluaran terbaru, kalau bisa yang berbentuk hati dengan banyak berlian di sekelilingnya.”
“Baik Pak, tunggu sebentar!”
Sembari menunggu, Chandra ingat jika sebentar lagi Ia akan memiliki cucu kembar dari menantunya, yang sudah Ia anggap anak gadisnya sendiri. Namun, Chandra tak tahu apa saja kesukaan gadis itu. lantas pria bersahaja itu menghubungi Dion.
Chandra
Dion
[Lagi Di restoran Pa, ada apa?]
Chandra
[Papa sedang di toko hadiah, kira-kira Kania menyukai hadiah yang seperti apa? Bagaimana dengan sebuah liontin putih? Apakah dia akan suka?]
Dion terdiam. Papanya saja perhatian kepada keluarganya, kenapa drinya tidak peka sama sekali. ‘dasar pria tidak berguna!’ omelnya pada diri sendiri.
Dion menjauh dari Kania dan teman-temannya. sepertinya ide yang bagus untuk memberikan hadiah kepada istrinya.
Dion
[Pa, tolong carikan saja yang berbentuk hati, sederhana saja, tapi yang sangat indah. Papa tahu kan selera Mama? Nah, hanya saja yang lebih simple saja. Kania tidak menyukai yang berlebihan.]
__ADS_1
Chandra
[Papa masukan ke tagihan ya! karena akan Papa tulis nama kamu di sana!]
Hahaa...
Dion
[Iya Bos! perhitungan banget sama anak!]
Keduanya pun sama-sama tertawa saat sambungan telepon mereka berakhir. Chandra mengemas dua kado kecil itu dengan warna berbeda.
Setibanya di rumah, Chandra melihat Agnes sedang menyiapkan makan malam. Perasaan bahagia itu, tak dapat di sembunyikan. Memeluk pinggang istrinya yang masih sangat cantik di usianya.
“Ma, Papa pulang.”
“Hm, udah tahu. Aroma kepulangan Mas Chandra sudah tercium sejak semalam. Makannya Mama masak makanan favorit Papa.”
“Ma, Papa mau memberikan kabar bahagia selanjutnya. Tapi jangan bereaksi sebelum Papa selesai menjelaskan semuanya ya, Papa mohon sama Mama.”
Agnes melepas apronnya dan mengajak Chandra untuk menikmati waktu sore dengan secangkir teh di teras rumah. Chandra mulai menjelaskan semua runtutan peristiwa dari masa mudanya hingga lahirlah Sigit dewasa yang sekarang berada di rumahnya.
Agnes menatap wajah suaminya. Tak ada kebohongan di sana. Sampai legalitas perubahan nama Sigit Virgiawan menjadi Sigit Wijaya juga sudah selesai diurus.
“Ma, Sigit dan Dion tidak akan pernah berebut untuk menjadi penguasa di rumah ini. Namun, keduanya sama-sama adalah ahli waris Papa, juga dengan calon cucu-cucu kita nanti.”
“Mama nggak dapat apa-apa nih ceritanya?”
“Nggak, nanti Mama nikah lagi kalau Papa kasih warisan sekarang.”
Keduanya pun juga berlega hati dengan segala musibah yang menimpanya. Chandra mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dan berlutut di depan istrinya. Agnes pun terdiam melihat tingkah Chandra.
“Agnes Wijaya, sampai kapanpun kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di hidup seorang Chandra Wijaya sampai kapanpun, sampai akhir nanti, terimalah!”
Agnes membuka kotak itu dan tatapannya kini beralih kepada suaminya. Kedua netra Mama Dion berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika Chandra masih romantis seperti dulu.
“Apakah kamu menyukainya Nes?”
“Hem.” Chandra hendak memasangkan perhiasan cantik itu di leher Agnes. Mereka berdua seakan kembali ke masa muda mereka, sebelum lahir pentolan geng tampan yang suka membuat keributan.
“Suiiiuiit...” terdengar siulan dari dalam mobil dengan kaca jendela terbuka.
__ADS_1
“Ciye, Bokap Gue...”
...