Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 123. Semakin Penasaran


__ADS_3

Dion dan Gunawan akhirnya berpisah, karena urusan pekerjaan. Seakan tak pernah terjadi apa-apa Dewa mengajak Dion untuk bersantai menikmati kesejukan kota Bandung. Di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit itu.


Dion tahu, jika Dewa menyembunyikan sesuatu. Meskipun partner bisnisnya bisa terus berkelit tetapi Dion bisa melihat bercak darah di sepatunya. Suami Yoshi tidak membahas tentang bagaimana Dion bisa sampai ke Bandung, hanya hal-hal penting saja yang Ia utarakan.


“Kondisi kesehatan Anda sangat bagus, baru saja keluar dari rumah sakit dan sekarang sudah kembali menangani pekerjaan, bahkan sampai harus jauh-jauh ke Bandung pasti Pak Chandra sangat bangga memiliki putra seperti Pak Dion!”


Pentolan geng tampan itu ingin sekali menghajarnya saat itu juga. bagaimana mungkin pria di depannya sangat mudah bersandiwara. Bahkan luka di sayatan di bahu Dion pun belum benar-benar sembuh akibat dua anak buahnya yang menyerangnya.


“Papa suda menyerahkan perusahaannya, dan kewajiban saya hanya melanjutkan supaya perusahaan tetap berjalan Pak Dewa, oh iya selamat atas pernikahannya.”


Raut Dewa pun mulai menunjukkan ketidak sukaan saat Dion membahas tentang pernikahan keduanya. Dewa terus melihat jam di tangannya, baru kali ini Ia merasa gelisah duduk berhadapan dengan Dion. lantaran curiga bagaimana bisa pria muda seusia putranya datang bersamaan dengan seorang polisi di lokasi yang tak jauh dari rumah sakitnya.


“Pak Dion, saya masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, kita bisa melanjutkan obrolan kita esok hari,” pamit Dewa.


Dion pun mengiyakan, karena sejak tadi Ia merasakan dering ponselnya terus berbunyi. Sepeninggal pemilik rumah sakit itu Dion membuka pesan dari Gunawan, jika catatan yang di temukan berisi tentang semua kejahatan Dewa Virgiawan yang sengaja disembunyikan di balik pakaian dalamnya.


Dion pun tak langsung pergi ke tempat perwira tampan itu. Diam-diam Ia mengikuti kemana perginya sosok pria yang Ia yakini memiliki kelainan jiwa. Meskipun akhirnya harus kehilangan jejak karena Ia memarkirkan mobilnya terlalu jauh.


Gunawan


[Sudah sampai di hotel? Sekarang Lo buruan ke rumah sakit!]


Dion


[Siap, setengah jam lagi jalan ke sana]


Pesan Gunawan sesaat Dion baru saja merebahkan diri di sebuah kamar hotel. Ia merasa selama ini pelakunya adalah orang yang sangat dekat dengannya.


“Ah, kangen bini di rumah! tapi Gue nggak bisa membiarkan nyawa Mang Ujang sama Bu Asri hilang begitu saja, kalau benar apa yang dikatakan Faris, jika yang mencelakai dirinya juga Dias adalah orang yang sama,” rutuk Dion sembari menatap foto Kania.


...

__ADS_1


Di kediaman Wijaya semua orang sudah memasuki kamarnya. Tak terkecuali Kania, namun Ia tak dapat tidur karena tak ada Dion di sisinya. Tubuhnya merasa kegerahan, meskipun penyejuk ruangan telah Ia berfungsi secara maksimal. Lantas gadis itu keluar kamar dan menuju balkon. Namun Ia malah melihat sosok Sigit di sana. Kania ingin menghindarinya, takut jika kedua mertuanya akan curiga.


“Belum tidur?”


Suara Sigit menghentikan langkah Kania yang memunggunginya. Pria manis itu justru menghampiri mantan kekasihnya.


“A-aku hanya ingin mencari angin, apa yang sedang kamu lakukan tengah malam begini Git?”


“Aku menunggumu keluar, dan ternyata dugaanku benar. Kania, bisakah kamu tidak mengabaikan aku?”


“A-apa maksudmu?”


Sigit menggenggam tangan Kania, seakan membutuhkan kekuatan darinya. Semakin hari Ia tak bisa bertemu secara bebas dengan gadis pujaannya. Seandainya bisa berpaling kepada gadis lain, tentu akan Sigit lakukan.


Pria itu mengikis jarak dan mengangkat wajah gadisnya yang tertunduk. Saat kedua manik mata mereka bertemu, Sigit menyatukan bibirnya dan menikmati benda kenyal itu secara perlahan. Kania memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut itu sampai wajah garang Dion terlintas membuat Kania menghentikan perbuatan Sigit dengan mendorongnya membuat bibirnya tergigit dan berdarah.


“Hentikan Sigit, Aku mohon!”


“Kenapa bibirmu begitu manis, bodohnya aku tak melakukannya sejak dulu!” goda pria tampan berkulit putih itu.


“Baiklah, sampai ketemu besok pagi!”


Kania berjalan terburu-buru kembali menuju kamarnya, Ia merasakan aliran darahnya mengalir cepat. Kania juga merasa Sigit mulai berani mendekatinya lagi. Beruntungnya, gadis itu bisa menahan dirinya karena jujur saat bersama Sigit, semuanya akan baik-baik saja.


Keesokan paginya, Agnes dan Dista mengantar Chandra, Sigit dan Kania di halaman rumah. Banyak wejangan untuk anak gadisnya, dan segera pulang. Agnes yang sudah terbiasa di temani Chandra selama tak pergi ke kantor juga turut merasa kesepian.


“Kalian semua hati-hati di jalan, lekas pulang kalau urusannya sudah selesai!” nyonya besar mendekati pria bersahaja itu dan menjadi rewel seperti Kania sebelumnya.


“Pa, cepat pulang ya!” rengek Agnes. Dion sudah pergi dari rumah lebih dulu, kini suami dan anak gadisnya, Agnes merasa kesepian.


“Iya, Mama baik-baik di rumah!”

__ADS_1


Chandra mengusap kepala istrinya dan tertawa kecil. Akibat sering menggoda Kania, Ia seperti Dion yang termakan omongannya sendiri.


Sepeninggal mobil mewah itu keluar halaman tak berselang lama sebuah taksi berhenti di depan gerbang milik perusahaan besar itu. dengan kaca mata hitam dan dandanan yang sederhana namun berkelas, Ia menuruni taksi dan bertanya kepada petugas keamanan yang berjaga.


“Pak, Apa benar ini kediaman Chandra?”


“Benar Bu, tapi kebetulan Bos besar baru saja keluar, maaf ibu ini siapa ya?” sebelum menjawab pertanyaan dari petugas itu, Rosi melihat seorang wanita dengan perut besar tengah berjalan-jalan pagi di halaman. Ia mengira jika gadis itu adalah menantu dari keluarga konglomerat ini. mengingat Ia hanya memiliki satu orang putra saja.


“Pasti kehidupannya sangat bahagia, sangat berbanding terbalik dengan kehidupanku dengan Sigit,” gumamnya.


Rosi tidak menyadari jika sejak tadi wanita dengan perut bulat itu telah berjalan ke arahnya dan petugas yang berada di pos telah beruang kali menyadarkan dirinya yang telah melamun memikirkan nasib putra bungsunya.



“Bu—bu!”


“Iya Pak, maaf pikiran saya sedang kacau, kalau begitu saya akan kembali besok.”


Rosi kembali mengenakan kaca mata hitamnya dan buru-buru memasuki taksi sebelum Dista sampai ke arahnya. Taksi itu pun pergi, meninggalkan kediaman besar itu. Rosi belum siap dengan apa yang akan terjadi nanti setelah kedatangannya. Dalam pikirannya akankah putranya diterima, itu saja.


Sesampainya di rumah, Rosi bergegas mencari madunya untuk bercerita. Yoshi yang sedang berada di kamar pun antusias untuk menyambutnya. Menanyainya dengan banyak pertanyaan sampai Rosi menyebutkan nama besar itu.


“Sini—sini bagaimana Mbak orangnya? Apakah sesuai dengan pikiran Mbak Rosi? Tampan, kaya dan baik hati?” wajah gadis tomboy itu sangat bersemangat sekali. “Tapi kenapa Mbal Rosi pergi cepat sekali, belum ada satu jam sudah kembali.”


“Kamu ini, cerewet sekali tunggu saya selesai bercerita...ternyata rumah yang saya datangi adalah sebuah rumah yang besar, tak jauh dengan milik Mas Dewa saat ini.”


Yoshi menunggu Rosi bercerita sampai mengikutinya keluar kamar dan menuju ke dapur. Ia di buat semakin penasaran, lantaran cerita Rosi hanya setengah-setengah.


“Terus bagaimana Mbak?”


“Pria itu pergi, Mbak hanya berdiri di pos keamanan dan melihat seorang wanita hamil di sana. Yoshi, apakah menurutmu Sigit bisa diterima di dalam keluarga itu?”

__ADS_1


“Wa-wanita hamil...? tunggu, siapa nama keluarga itu?”


...


__ADS_2