Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 47. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Dion kembali ke rumah setelah puas mengatakan apa yang ingin dikatakan. Chandra menyambut baik kedatangan putranya. Di tangan pria itu ada sepucuk surat dalam amplop putih yang baru saja diterimanya dari rumah sakit.


“Dari mana kamu?” sapa Chandra.


Dion yang sudah berada di depan anak tangga menghentikan langkahnya. Menatap Papanya yang duduk di sofa, menunggu dirinya untuk bergabung di sana.


“Dari luar, ada keperluan sebentar. Ada apa Pa?”


“Duduk dulu!”


Dion tak ingin menunujukan wajah kesalnya hari ini kepada Papanya. Ia akan berusaha menjadi anak yang baik, seperti yang dapat Chandra banggakan seperti tadi di kantor. Chandra menyerahkan amplop yang masih tersegel itu meminta Dion untuk membukanya.


“Papa rasa, kamu punya hak untuk tahu.”


Membaca nama rumah sakitnya Dion mengangguk. Ia ingat tentang bekas penganiayaan di tubuh Kania. Namun, saat Ia mencoba memulai membacanya dari arah depan rumah terdengar suara keributan.


“Keluar Lo pria brengsek! Balikin adek Gue!!”


“Mentang-mentang kaya Lo, bisa bawa main kabur anak gadis orang!”


Beberapa pria bertubuh kekar menghancurkan apa saja yang ada di sana. Pot tanaman, Vas keramik, meja kursi yang ada di teras juga kebun bunga milik Agnes. Penjaga keamanan yang berjumlah dua orang pun yang berusaha menghadang habis di keroyok oleh pria yang bisa dikatakan preman-preman pasar.


Mendengar suara gaduh di luar Dion bangkit, dan mencoba melihatnya. “Ada apa Dion?”


“Dion mau lihat apa yang sedang terjadi di luar.” Chandar lantas menyusul putranya. Agnes yang sudah tidur pun terbangun.


Setengah sepuluh malam, harusnya menjadi waktu yang pas untuk istirahat. Tapi bagi sosok pria pengangguran yang kehilangan sumber pencahariannya menjadi tak tahu diri. Berani-beraninya menyambangi kediaman seorang Chandra Wijaya berbekal belasan preman kampung.


“Wah! Lihat siapa yang keluar!” kata pemimpin rombongan preman itu. Ia maju tepat di depan mata Dion. Senyum khas Dion terbit, lantaran Ia tak perlu mencari pelampiasan amarahnya akibat ulah adiknya semalam. Dion berdecih, melihat kekacauan brandalan kampung di rumahnya. Kali ini Dion tak akan membiarkan mereka lolos.


“Haha... punya nyali juga Lo datang kemari? kebetulan, Gue butuh kalian!” Dion semakin mengikis jaraknya hingga pundak mereka bersentuhan.


Chandra menghubungi kantor polisi untuk segera mengamankan kediamannya. Dirinya tak akan membiarkan putranya menikmati aksi berkelahinya. Mengingat Dion Wijaya adalah petarung ulung, pasti akan menikmati permainannya meskipun dirinya hanya seorang diri. Tak ingin mengambil risiko, profil CEO baru Wijaya Group yang akan segera mendapat sorotan dari banyak pemburu berita.

__ADS_1


“Hajar dia! Bocah tengil ini yang udah bawa kabur Kania dari rumah. Gara-gara dia juga, Gue udah nggak punya pemasukan dari adek Gue!”


Perkelahian pun tak terelakan. Tanpa basa-basi, Dion segera melayangkan tinjunya kepada Pria menyeramkan dengan banyak tato naga di tubuhnya. Pukulan yang sangat bertenaga, membayangkan Kania membonceng pria lain di hadapannya.


“Rasakan Brengsek! Lo akan menikmati permainan Gue malam ini!”


Bugh!!


Bugh!!


Meski dengan satu pukulan, hidung pria itu berdarah. Dua pria yang berada di belakang Dion menahan tubuhnya dengan erat. Namun, Dion jadikan topangan untuk memutar kakinya dan mengenai rahang Faris yang tak jauh dari sana.


“Beban keluarga kayak Lo, lebih baik mampus aja! Jadi benalu adiknya.” ejek Dion. Faris yang terjatuh pun berdiri, merasakan ngilu di wajahnya.


Ujang yang baru tiba, melihat rumah majikannya ramai dan kacau. Melihat Dion berjuang sendirian, Ujang maju. Meskipun dengan tangan kosong. Ia juga ingin menggunakan ketrampilan bela dirinya semasa di kampung.


“Mas Dion, Ujang coming!” pria tiga puluh tahunan itu, membuat Dion tertawa.


Meskipun pentolan geng itu sempat terluka, namun kehadiran Ujang cukup membantunya untuk memulihkan tenaganya. Dion kembali mengumpulkan ingatan tentang Kania dengan Sigit, saat berkirim chat begitu mesranya. Membuat emosinya kembali tersulut. Kenapa gadis itu dengan mudahnya memberikan senyumnya kepada pria yang baru saja dikenalnya. ‘dasar cewek murahan!’


“Ampun Mas! Ampun!” dengan kedua tangan menutupi kepalanya, karena Dion akan melayangkan tinju lagi di wajahnya. “Kita semua hanya di suruh Faris, untuk kemari!” ungkap salah seorang pria dengan gigi rompalnya yang masih bisa sadar meskipun remuk di sekujur tubuhnya.


“Bego aja Kalian disuruh pengangguran model curut begitu! Lo bisa ingat wajah Gue baik-baik, kalau kita ketemu di jalan! Gue lagi badmood, untungnya kalian kemari.” Dion mengusap bibirnya yang berdarah.


Delapan orang terkapar, nyaris patah tulang. Ujang berhasil melumpuhkan tiga orang. Dengan babak belur di wajahnya. Tiga orang kabur, termasuk Faris sebelum polisi datang dan meringkus para preman tengik itu.


Dua mobil polisi masuk dan Kepala team itu segera memerintahkan personilnya untuk mengangkut semua preman yang tergeletak di depan pelataran rumah Chandra. Kepala team polisi yang bertugas menyambangi Pria dengan citra berpengaruh itu, untuk dapat ke kantor membuat laporan. Chandra, Dion dan Ujang akan memenuhi panggilannya esok hari. Mengingat hari sudah larut.


“Tolong dipastikan, bagian anggota mereka yang melarikan diri dapat tertangkap segera!” Chandra berjabat tangan Kepala personil polisi itu, sebelum dua mobil itu meninggalkan kediaman rumah Chandra.


“Waduh! Nyonya besar bisa marah tujuh hari tujuh malam nih, melihat taman bunganya kayak kuburan.” Ujang geleng-geleng kepala.


“Biarkan aja Mang, itu urusan Nyonya besar, haha... sekali-sekali Nyonyamu itu perlu diberi kejutan.” Dion dan Ujang mengalami luka-luka di tubuhnya. Namun keduanya tampak bersemangat, seperti telah melakukan olah raga malam sebelum tidur. Meskipun beberapa bagian tubuhnya akan merasakan pegal-pegal nantinya.

__ADS_1


“Astaga! Dion, wajahmu kenapa Nak?” Agnes menyentuh bibir merah milik putranya, dan memeriksa seluruh anggota tubuhnya. Dion pun mengaduh, menanggapi Mamanya terlalu lebay menghadapi situasi yang sudah sering terjadi.


“Mama telat, nggak usah drama deh! Ayo Mang kita obati lukanya!” Dion dan Ujang masuk, di ikuti dengan Chandra yang mengajak istrinya. Namun netra Agnes tertuju pada bunga-bunga yang barus saja berkembang dengan cantiknya.


“Papa...!!!” teriak Agnes. Ketiga pria itu pun berlari menjauh dari Nyonya besar.


...


Ujang


[Mbak Kania, punten Ujang mau memberi tahu, kalau Mas Dion baru saja di keroyok banyak preman.]


Kania


[Hah! serius kamu Jang? Jangan-jangan kamu disuruh Dion ya buat bohongin Kania?]


Ujang mengirimkan foto, saat Dion menendang rahang Faris. Sesaat sebelum pria berdarah Sunda itu ikut terjun membantu anak majikannya. Dan tidak membalas lagi pesan dari Kania.


Kania menunggu Ujang berikirim pesan lagi, namun hingga hari berganti tepat pukul Nol-Nol, Ujang tak membalas pesannya.


‘Bagaimana ini? dikeroyok banyak preman dirumahnya. Kalau Faris tertangkap polisi bagaimana nasib Ibu?’


Ujang


[Maaf Mbak, Ujang dan Mas Dion baru saja mengobati luka-lukanya. Mbak Kania tenang saja, semua premannya sudah diringkus ke kantor polisi.]


Kania bergegas membalas pesan dari Ujang, juga melihat ada sebuah foto di sana. Ternyata Ujang mengirimkan wajah tampan Dion dan Ujang yang penuh dengan obat merah. Kania semakin khawatir, karena Ujang mengatakan semuanya telah diamankan ke kantor polisi. Meskipun dalam hatinya Kania bersyukur, paling tidak kakaknya akan mendapatkan efek jera dari perbuatan kriminalnya.


Kania mengetikan pesan tanda kekhawatirannya kepada Dion. Namun berkali-kali Ia hapus lagi pesan yang sudah tersusun rapi di ponselnya.


[Dion, Gimana keadaan Lo?] – Sebuah pesan yang hanya menjadi draft yang tersimpan di ponselnya. Karena Kania tak berniat mengirimkan pesan itu.


‘Lo tahu Dion, sakitnya luka di tubuh Lo nggak akan sama, dengan sakit hati yang Lo taburkan dalam diri Gue!’

__ADS_1


...


__ADS_2