
Brakk!!
Dion menendang pintu rumah milik Kania, hingga mengejutkan keduanya. Pentolan geng itu segera menuju ke arah pria yang berbuat kasar kepada gadis jorok itu.
Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. Dion mencengkeram kerah itu dan melayangkan bogem nya beberapa kali. Hingga pria itu kewalahan, saking tidak siapnya.
"Gue memang brengsek, tapi nggak pernah kasar sama cewek, sini lawan Gue! Mampusin Lo sekarang Gue juga bisa." hardik Dion.
"Hentikan Dion, cukup! Jangan di lanjutkan!" Kania segera bangkit dan melerai keduanya. Namun gadis bertubuh kecil itu tak mampu menahan tenaga Dion yang sedang kesetanan.
"Siapa Lo Brengsek! Berani-beraninya berbuat kekerasan di rumah Gue!" Dion tak peduli dengan ucapan pria itu, mau ada hubungan darah pun Dion tak bisa menerima perlakuan kasar kepada wanita.
"Nggak usah banyak bacot Lo! Sekarang Lo pergi dari sini, atau Gue seret Lo keluar biar di gebukin warga, Cepetan!! bentak Dion sambil mendorong pria itu keluar rumah.
Kania hanya mampu berdiam diri melihat kakaknya di usir di rumahnya sendiri. Namun ada perasaan senang, saat Dion mampu melindunginya.
"Thanks ya Dion, Gue...."
Dion menyeka air mata gadis itu, dan merapikan rambutnya.
"Heh, gara-gara kalian berdua, martabak Gue jadi hancur, Sekarang Lo cuci muka san, ikut Gue!"
Bukannya mengikuti arahan pria tampan itu, Kania malah memungut sekotak martabak yang berada di lantai.
"Ini masih bagus kok, masih bisa di makan!"
"Beneran, gadis jorok! Nanti Gue beliin lagi, Ayo, cepetan! Gue tunggu di luar! ucap Dion.
Baru kali ini Dion melihat dengan mata kepala sendiri, seorang Kakak yang seharusnya melindungi adiknya, malah berbuat demikian. Hitung-hitung lumayanlah, melemaskan tangannya yang sudah lama tak menghajar orang.
Sepuluh menit kemudian Kania keluar, dan Dion segera mengajaknya pergi. Baru beberapa langkah, Asri melihat Kania yang hendak menaiki motor besar pria tersebut.
“Hey, Tunggu! Mau dibawa kemana anak saya!” teriak Asri yang ternyata di dengar oleh sebagian warga. Ternyata Kakak Kania melaporkan pemukulan itu kepada ibunya, bukannya menceritakan kejadian sebenarnya, pria itu malah menuduh Dion yang berniat menculik adiknya, dan Asri percaya begitu saja.
Dion melajukan motornya saat beberapa warga berusaha mendekat.
“Pegangan! Nanti jatuh tahu rasa Lo!”
“Memangnya boleh? Kan Lo jijik sama Gue,” ucap Kania. Membuat Dion tersenyum dalam balik helm full face nya.
“Lain ceritanya, Kalau bukan di atas motor, Gue mau ngebut nih! Gila ya, demi gadis jorok kayak Lo, Gue sampai harus di kejar warga!”
Dion merasakan pelukan hangat dari gadis itu, dan kecepatan motor besar itu bertambah berkali lipat memecah aspal kota Jakarta. Hingga mereka berdua tiba di sebuah rumah besar milik temannya.
Ujang yang ketiduran, tidak menyadari jika Dion telah pergi dari kediaman Kania. Saat Ujang bangun, kasak-kusuk warga terdengar olehnya, membicarakan sosok pria bermotor besar membawa anak gadis Asri.
“Permisi Pak, ada apa kok ramai banget?” tanya Ujang kebingungan. Salah satu warga menyampaikan jika anak gadis di rumah ber-cat biru itu di bawa kabur seorang pria.
__ADS_1
Ujang menilai jika gadis yang mereka maksud adalah Kania, karena bapak itu menunjuk rumah yang dimasuki oleh Dion, dan pria itu pasti anak majikannya.
‘Benar-benar ya, Mas Dion. Di mana pun berada pasti ada saja masalah yang dibuat.’ Batin Ujang
Ujang pun pamit kepada warga di sana dan segera memberitahu Agnes tentang perbuatan jagoannya.
Ujang
[Bu, Ujang mau melaporkan berita penting, tapi jangan kaget ya Bu,]
Agnes yang sejak tadi mondar-mandir menunggu kabar dari Ujang segera membuka ponselnya saat terdengar notifikasi masuk. Bukan membalas pesan, tetapi langsung menghubungi sopir suaminya.
Agnes
[Ada apa Jang, gimana sama mereka berdua? Apa ada kemajuan?]
Ujang pun ingin tertawa menyampaikan hal tersebut, namun terpaksa ia tahan. Ia takut istri Bosnya akan marah.
Ujang
[ Iya Bu, kemajuannya pesat sekali, sampai Mas Dion di kejar warga, karena bawa kabur anak orang.]
Agnes
[Eh, gimana-gimana? Kamu yang benar Jang, masa Dion begitu. Sekarang kamu pulang ceritakan semuanya di rumah, biar Papanya juga tahu kelakuan putranya. ]
Ujang
Kania mengingat rumah besar ini, baru tadi siang, dirinya berkunjung kemari bersama mamanya, sekarang kembali kemari dengan anaknya. Sebenarnya ada apa dengan bocah ini. Kania yang hanya bisa menurut, mengikuti Dion.
“Ayo!” Dion menarik lengan gadis lambat itu.
Tak berselang lama Dion menekan bel itu, Vicky membuka pintunya dan terkejut melihat siapa yang berkunjung malam-malam.
“Wih, kemajuan Lo! Ayo masuk!” Dion meninggalkan gadis itu di depan pintu, memang dasar pria aneh.
“Eh Kampret, itu cewek Lo ngapain Lo tinggalin di pintu, yang romantis sedikitlah!”
Meskipun Vicky tahu, Kania berkunjung ke rumahnya sebelumnya, nyatanya pria itu tak menyebut nama Kania saat bertemu lagi, seolah-olah mereka baru bertemu pertama kali, seperti pesan Agnes. benar-benar pria yang bisa dipercaya.
Lain Vicky lain Dista, Wanita berparas ayu itu menyambangi suaminya yang sedang menerima tamu.
“Dion Lagi! Eh ada Kan ...,” nyaris saja keceplosan, beruntungnya Dista segera meralat ucapannya.
“Ini Kan, pacar Dion ya! Eh kenapa pipinya, kok memar?” Dista menghampiri Kania dan mengajaknya masuk ke dalam.
Dion dan Vicky pun berpindah ke ruang tengah. Di sana mereka berdua menenangkan pikiran.
__ADS_1
“Heh sejak kapan Lo punya beginian? Mau jadi duyung Lo?” tanya Dion yang menunjuk kolam renang berukuran sedang.
“Nanti Lo bakal tahu, kalau udah berumah tangga, jadi nggak usah banyak bacot ledekin Gue terus!”
Vicky sengaja membuat mini pool untuk Dista yang suka sekali berenang, dan di sampingnya ada dapur khusus. Di sana pasangan suami istri itu menghabiskan waktu untuk memasak.
Kedua pria tampan itu berbincang, dan Vicky bertanya tentang memar pada gadis itu. Padahal siang tadi gadis itu sangat cantik, kini tampak lain, berubah 180 derajat.
“Lo apain Bro, anak orang?” Vicky menuangkan air minum untuk sahabatnya, sepertinya bukan Dion yang berbuat.
“Kelakuan abangnya, Gue barusan datang ke rumahnya, mau ajakin dia tentang rencana kita, Terus lihat doi lagi di gamparin sama cowok brengsek itu!”
“Terus? Lo Balas nggak?” wajah Vicky penasaran menatap Dion, meskipun sudah tahu jawabannya, jika ujung-ujungnya pasti akan ribut.
“Haha... Nggak usah ditanya, habis mukanya!”
Seakan puas dengan apa yang ia perbuat, Dion pun merasa kasihan. Lalu membawanya kabur dari rumah.
“Kalau Gue titipin di sini gimana Bro?”
Seakan tak punya dosa, menitipkan anak gadis orang sembarangan. Kalau ia membawa gadis itu ke rumah, pasti kedua orang tuanya akan segera menuntutnya untuk menikahi gadis itu.
“Lo pikir rumah Gue, tempat penitipan anak! Bukannya nggak mau Bro, Lo nggak tahu sih, kalau Dista cemburuan, Gue nggak mau ambil risiko nggak di kasih jatah tiap malam, mending Lo bawa pulang ke rumah Lo, pasti kehidupan Lo kembali normal, percaya sama Gue!”
“Ngapain Lo pakai bawa-bawa Jatah malam!”
“Lo kan jomblo, jadi belum tahu rasanya, mending Lo icipin dulu, baru Komentar. Hahaha...”
“Brengsek Lo Vick!”
Dista mengobati memar di pipi Kania, dan menanyakan apa yang terjadi. Namun Kania hanya diam saja, tak ingin masalah dalam keluarganya ada yang mengetahui.
Dista yang setahun lebih tua dari Kania, merasa khawatir. Karena dulu, dirinya pernah mendapatkan kekerasan dari mantan pacar Dion hingga menyebabkan trauma.
Beruntungnya pria yang dekat dengannya tak ada yang berlaku demikian. Jangankan memukul, membentaknya saja tidak ada yang pernah melakukannya.
“Tapi bukan Dion kan yang melakukan hal ini? Dion anak yang baik kok, percaya deh! Kalau kamu mau membuka hati buat jagoan itu, kamu pasti aman ... nah, selesai!”
Kruyuukk Kruyyuuk...
Mendengar suara perut itu Kania tertawa. Bukan Kania, tetapi dari gadis yang telah merawat lukanya.
“Sorry ya, Lapar terus bawaannya...” Dista merapikan rambut Kania yang berantakan, memolesnya dengan sedikit riasan, karena jika diperhatikan, Kania cukup menarik tanpa riasan berlebihan.
“Ayo kita makan dulu, si Vicky jago masak, makannya aku sekarang di bikin gendut!”
...
__ADS_1