Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 130. Kakak Beradik


__ADS_3

Melihat punggung lebar itu pergi bersama Kania, hati Chandra merasa teriris. Bahkan Ia tak ingin membentak atau memukulnya di depan teman-temannya. sebegitu lembut hati pria bersahaja itu. Sigit pun lantas bertanya untuk memecah keheningan.


“Apa salah satu dari kalian tak ada yang berniat mengejarnya? Pasti Dion salah paham.” Sigit meminta tolong kepada Yoshi untuk mengejarnya, tapi gadis tomboy berambut coklat itu tak berniat sedikitpun.


“Kenapa? Lo kasihan sama Abang Lo?” Yoshi keceplosan.


Seketika semua mata tertuju kepada dirinya. berulang kali Chandra menyatakan, Ia tak ragu untuk mengakui Sigit, karena selama dua dekade ini hanya amplop coklat itu yang datang kepadanya. Chandra tidak ingin salah langkah.


“Sorry-sorry, Gue nggak tahan menyimpan ini lama-lama, maaf ya Om,” pinta Yoshi.


“Sudah tidak apa-apa, cepat atau lambat semua juga akan tahu.”


Chandra menghampiri sahabat baik Dion, tempatnya berkeluh kesah selama putranya tidak di rumah.


“Vicky, Biasanya kalau Dion marah dia pergi ke mana? Om khawatir dengan kondisinya sekarang.”


Pria dingin itu menghampiri Chandra dan menghiburnya. Ia dan iwan lah yang paling tahu kemana bocah tengil itu saat sedang sedih atau marah. Mengusap punggung pria bersahaja itu dan memintanya untuk duduk menenangkan diri.


“Om tenang saja, Bocah tengil itu kan sudah bersama Kania, Ia sudah tidak sendiri lagi sekarang. kalau nggak balik ke rumah, ke Kafe atau ... check-in ke hotel mungkin, haha...” candanya yang diiringi pukulan dari Bayu.


Vicky tidak sadar, jika ucapannya membuat pria manis yang terbaring lemah itu mencengkram tangannya kuat-kuat. Selain menahan sakit fisik, Ia juga harus rela menahan sakit hati. Chandra pun tersenyum, membenarkan. Kania dengan mudah meredamkan amarahnya. Chandra sangat paham, bahkan sorot mata Dion masih menyimpan kemarahan.


Kini Chandra beralih kepada Yoshi dan Sigit. Mereka berdua berbisik-bisik, seakan menjadi teman dekat. Padahal pernikahan Papanya dengan gadis muda itu baru berjalan beberapa bulan saja.


“Yoshi, Lo tahu di mana Nyokap Gue?”


“Bro, lebih baik Lo istirahat sebentar lagi jam berkunjung habis.”


“Kenapa Nyokap Gue nggak kemari? Tapi dia nggak apa-apa kan?”


Yoshi tak berkenan menjawab, Sigit menarik kaosnya seperti anak kecil. Yoshi pun merasa Sigit seperti Iwan jika sedang memohon seperti ini.


“Ish, Gue tempeleng juga Lo!” refleks Yoshi. gadis tomboy itu sering menggunakan kata-kata kasar, dan mereka semua tak keberatan dengan gadis yang jago bela diri itu.


“Sorry-sorry, habisnya Lo bertingkah kayak si Cungkring, kan Gue gemes jadinya. Nanti deh, kalau Lo udah baikan, kita kunjungi Nyokap Lo.”


Chandra pun berjanji akan menemani Sigit sampai bocah itu sembuh. Saat begini, Chandra merindukan Agnes. Tak ada yang mengingatkan dirinya makan, istirahat ataupun bercanda perkara Dion dan Kania. Hati pria bersahaja itu mulai hampa.


Saat lamunan Chandra mulai jauh, Ia membayangkan masa tuanya tanpa Agnes juga Dion. sudut matanya mengembun. Lantas suara ketiga teman Dion menyadarkannya. Jika mereka akan berpamitan.


“Om, jam berkunjung sebentar lagi habis. Om jangan lupa makan, dan istirahat.”

__ADS_1


“Iya Om, Nanti Tante Agnes ikut sedih melihat Om seperti ini,”


“Yoshi pesankan makanan atau belikan di luar saja Om?”


“Tidak usah, nanti Om akan turun sendiri ke bawah. Kalian hati-hati ya!”


Setelah pintu itu tertutup dan Chandra mengantarkan ketiganya sampai lorong ruang informasi. Sigit merasa ada yang perlu di luruskan. Lantas Ia ingat dengan kontrak kerja dengan perusahaan Dion. kenapa Papanya sangat bersemangat dengan hal itu.


Semangat untuk mengakhiri hidup Ia urungkan. Sigit perlu memeriksa semuanya. Juga keluarga Wijaya yang sedang dalam masalah besar, Rosi juga tidak ada di sisinya.


“Aarrgghh...”


Ia ingin beranjak dari ranjang, namun mengingat lukanya Sigit urungkan. Tetapi tak ada rasa sakit sedikitpun.


“Apa Om Chandra menggunakan obat yang paling mahal untuk penghilang rasa sakit ini? memangnya siapa Aku, sampai Dia mau menghabiskan uangnya secara cuma-Cuma.” Gumamnya.


“Kata siapa Cuma-Cuma, Sigit... karena sudah tidak ada siapa pun di sini, Papa akan bicara langsung sama kamu.”


Sesaat waktu terhenti...


Sigit membeku, apakah efek obat itu Ia akan berhalusinasi?


“Papa?”


Haha...


“Om, Anda jangan bercanda! Sigit memang menginginkan sosok hangat seorang Papa, tapi bukan berarti Om bisa mengarang cerita semudah itu.”


Sebuah amplop coklat yang baru saja Chandra terima setelah mengantar ketiga teman Dion. Ia membacanya, dan hasilnya mencengangkan. Tak ada yang bisa meragukan hubungan keduanya lagi, bahkan Agnes, Dion dan Sigit sendiri.


“Ini, Ini tidak mungkin benar kan Om?”


“Sayangnya semuanya benar Nak, Kamu dan Dion adalah saudara sedarah. Jika kembali ke masa itu, seharusnya kamu lah kakak dari Dion, dan dia adalah adikmu.” Hati pria itu sangat bahagia, juga sangat sedih.


Namun kenyataannya, Dion lahir terlebih dahulu dari rahim Agnes, dan Rosi datang beberapa bulan setelahnya melakukan inseminasi dari benih Chandra yang masih tersimpan dengan baik.


“Tidak apa-apa, jika kamu masih belum mengerti. Papa akan segera mengurus semua pergantian datamu, dan kamu tak akan lagi menggunakan nama Virgiawan, karena sebentar lagi namamu akan berubah menjadi Sigit Wijaya.”


“Maaf Om, tapi Sigit keberatan!”


...

__ADS_1


Dion dan Kania, nekat keluar dari rumah sakit. semua biaya akan di bebankan kepada pria yang tengah melupakan anak kandungnya, dan malah merawat musuh tengilnya. Ia ingat jika sekarang sedang di Bandung dan mengajak Kania untuk ke Kafenya. Tempat mereka mengawali karir mereka.


“Kania, kamu mau lihat kalau Aku benar-benar bekerja selama ini?”


“Heh, kenapa? Mau pamer ya?” sindir gadis itu.


Tak tahan dengan cibiran Kania, Dion mengecup pipinya dengan gemas. keromantisan mereka berdua dalam taksi online membuat pengemudi taksi menyalakan AC lebih sejuk. Sang sopir merasakan kegerahan.


“Pengantin baru ya A’?”


“Hehe, Iya Pak. Maaf ya mengganggu. Istri saya gemesin soalnya.”


Kania menoleh ke arah Dion. Tak percaya dengan ucapannya yang sangat konyol. Baru juga reda marahnya, sudah bisa berbuat ulah dalam taksi.


“Auw... kok nyubit sih?” balas Dion kegelian.


“Ih lebay, orang nggak sakit ini. Oh iya mana tempatnya?”


Dion beralih melihat jalanan, Ia meminta sopir taksi untuk tidak berhenti tepat di kafenya. Pentolan geng yang sangat di kagumi karyawannya ingin memberikan kejutan untuk mereka. Kania yang masih sedikit pucat, melihat bangunan besar yang di padati banyak pengunjung.


“Mas, Mas, nanti kita mampir ke tempat itu ya! ramai banget, kayaknya enak deh,” pinta gadis itu yang tak melihat senyum Dion terkembang sempurna.


“Ck, kamu yakin?”


“Heem, apalagi banyak mahasiswanya. bisa cuci mata juga.”


Taksi itu berhenti, Kania segera berjalan mendahului Dion. tak ingin tak mendapatkan tempat, gadis itu pun segera duduk tepat di tempat favorit Dion dan kawan-kawannya. Seorang pria memberikan sebuah buku menu, menatap Kania dengan raut iba karena gadis itu terlihat tidak sehat.


“Anda sakit? tunggu sebentar ya!”


“Eh, baru juga mau pe—san,”


Ucapan Kania terhenti, saat terdengar suara gaduh. Lantas Kania pun menoleh, ternyata suaminya tengah dikerubungi banyak gadis muda. Membuat hatinya kesal. Jeruk hangat yang baru saja datang, seketika di teguk habis olehnya dalam waktu singkat.


“Saya semakin yakin Anda tidak sehat,” tegurnya sambil tertawa. mengikuti kemana arah gadis itu tertuju.


“Pantas saja ramai, orang Bosnya datang.” pria itu berpamitan kepada Kania, namun dengan cepat Kania menarik pakaian pria itu dan menanyakan apa yang terjadi.


“Bos? siapa? Pria itu?” tanyanya tak percaya.


“Iya, Namanya Dion Wijaya, Dia yang punya Kafe ini. Masih muda bukan?”

__ADS_1


...


__ADS_2