Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 19. Dion Waspada


__ADS_3

Di rumah sakit, Dion tak berhenti-hentinya mengumpat. Segala bentuk makian Ia luapkan. Wanita yang Ia cintai kini terbaring lemah dalam perawatan.


“Bro, Sebenarnya Gue- ...,” ucapan Dion terputus saat dokter meminta keluarga dari pasien untuk masuk ke ruangan.


“Gue tinggal dulu kalau begitu, nanti Gue balik lagi!” pamit Dion mengajak Kania.


“Ehm, Hati-hati Bro!” Vicky pun masuk ke dalam ruangan VVIP itu. Ia melihat Dista masih dalam pengaruh anestesi (obat bius). Hatinya teramat sakit mendapati musibah ini.


“Harap bersabar ya Pak, Pasien masih butuh istirahat. Beruntungnya, Pasien segera mendapatkan pertolongan secepatnya. Calon anak bapak cukup kuat untuk bertahan di rahim Ibunya.”



Vicky menggenggam jemari Dista dan menciumnya, air matanya nyaris jatuh. Melihat bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkan buah hatinya.


“Syukurlah, terima kasih dokter. Kapan Istri Saya akan sadar?”


“Setelah efek biusnya habis, pasien akan segera sadar, dan saya harap pasien mendapatkan istirahat total dari aktivitasnya untuk dapat pulih dengan cepat.”


“Baik dokter.”


Wanita ber- jas putih itu pun meninggalkan Vicky dan Dista di dalam ruangan.


Pria itu membelai perut Dista yang mulai membuncit. Bagaimana was-was nya Vicky saat menunggu berita kehamilan gadis yang sangat dicintainya.


“Terima kasih sayang, kalian berdua telah berjuang untuk Papa.”


...


Dion mengantar Kania untuk pulang dan memberitahu Ibunya, jika beberapa malam, anak gadisnya tinggal di rumah Bosnya. Asri pun tak keberatan, selama Kania baik-baik saja. Wanita Dua anak itu mengucapkan terima kasih kepada Dion.


“Bu, Kania akan in the Kost mulai besok, jam kerja Kania di tambah jadi tidak bisa pergi-pulang setiap hari.


Kania memberikan separuh gajinya untuk Ibunya bertahan hidup, selama dirinya tidak ada di rumah.


“Simpan baik-baik ya Bu, Kania sudah tidak memiliki simpanan lagi.”


Gadis itu berlalu meninggalkan Ibunya. Bukan acuh, Kania melihat luka pada bagian kepala dan kening Ibunya, namun Ia lelah karena sarannya tak pernah di dengarkan.


‘Mulai sekarang, Gue akan menjadi orang egois. Gue juga layak mendapatkan kebebasan tanpa tekanan.’ Monolog Gadis berkulit putih itu.


Harapannya pernah tinggi, setinggi Himalaya. Namun akibat salah diagnosa, Ia terhempas kembali ke jurang paling dalam. Terbesit rasa ingin dicintai seperti wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit.


“Betapa beruntungnya Dista, bisa dicintai dua pria Istimewa. Hah, pasti dia adalah gadis yang baik, sampai banyak yang menyayanginya.”


Selesai berkemas, Kania mendengar suara ribut-ribut di luar rumah. Ia mengintip dari jendela kamarnya, ternyata pria brengsek itu datang lagi.


Bukan! Bukan Dion, tetapi lebih tepatnya, Pengangguran, beban negara, brengsek dan biang onar siapa lagi kalau bukan Faris Al Khalifi.


“Hah! Nama bagus begitu, dipakai si brengsek rasanya nggak pantas! Kuping dan hati Gue protes.” Kania mengunci pintu, menunggu Faris pergi, baru Ia bisa meninggalkan rumahnya.


Kania bingung apa lagi yang akan Ia bawa, sedangkan mencari tempat Kost yang nyaman dan terjangkau itu sulit.


Dion

__ADS_1


[Heh! Gadis jorok, dimana Lo! Keluar, Gue ada di depan gerbang perumahan Lo! Gue hitung sampai sepuluh! SEKARANG!]


Kania


[Tungguin aja sampai Ipin tumbuh rambut, bilang baik-baik kan bisa! ]


Dion


[Sembilan ...]


Kania tak membalas lagi, sepertinya dirinya tak akan pernah bisa menang melawan Dion.


Kania


[Iya, Iya ... Awas Lo!]


Dion


[Delapan ...]


Dion terus menghitung meski Kania tak membalas pesannya. Senyum Dion terus tersungging di wajah tampannya, Ia yakin Kania akan muncul sebentar lagi.


Dari arah yang berlawanan, Dion menatap gadis itu dari spion mobilnya. Pria itu sukses mengerjai gadis itu habis-habisan.


Haahh... Haahh...


Gadis itu terengah kehabisan napas. Tepat di pintu mobil Dion yang telah diturunkan kaca jendelanya.


“Ngomongnya nanti aja! Gue haus bego!”


Dion yang semula ingin memberinya minum, mendadak urung setelah mendapat umpatan dari gadis itu.


“Mana airnya?”


“Lo kasar! Nggak ada manis-manisnya.” Kesal Dion sembari melajukan mobilnya.


“Lo nggak punya kaca ya! Gimana kasarnya Lo ke Gue?” kesal Kania.


Hingga gadis yang belum mengenakan seat belt itu, harus rela dahinya terantuk dashboard mobil.


“Eh...!” keduanya serempak.


Mereka berdua bertatapan. Tangan Dion ingin menghalangi kepala gadis itu dari benda keras di hadapannya, Namun tangannya justru menyentuh benda kenyal milik Kania.


“Dion!!” teriak Kania.


Wajah Dion memerah, Ia sungguh tak sengaja, Kalaupun tahu akan terjadi seperti itu pasti akan Ia nikmati, dan tak akan terkejut tentunya. Meskipun dalam hati pria itu tertawa penuh suka cita, karena size-nya tak sekecil yang Ia kira.


“Sorry, Sorry Gue nggak sengaja. Ya udah, Gue tarik lagi tangan Gue karena udah nggak sopan!”


Kania membuang muka ke jendela, dan Dion menatap wajah gadis itu lekat-lekat saat memasangkan seat belt.


“Jangan marah! Nanti cepat besar Lo? Hahaha... Maksud Gue, nanti Lo cepat tua!” goda Dion, “Sekarang Lo mau ke mana bawa barang sebegitu banyaknya?”

__ADS_1


“Gue mau cari tempat Kost! Gue udah nggak sanggup tinggal di rumah.”


“Mau Gue bantu?” tawar Dion.


Semakin pria itu berusaha membantu Kania, gadis itu semakin ingin menolaknya. Ia takut perasaannya terus tumbuh.


“Nggak usah!”


Kania meminta Dion untuk berhenti di sebuah minimarket, Namun Dion tak menurutinya.


“Sshhtt!!”


Dion meminta Kania untuk diam sebentar, saat Vicky menghubunginya. Sahabatnya memberi kabar baik, Dion pun turut bahagia, Hingga Pria itu memeluk Kania erat.


“Heh!” Kania mendorong Dion, namun pria itu tak peduli.


“Si bohay dan calon anaknya selamat, Kita cari Kost-an Lo nanti aja ya! Kita ke supermarket dulu.”


Lagi...


‘Apa iya Gue cemburu? Setiap hal yang berkaitan dengan Dista, pasti ekspresinya lepas dan bahagia. Apa dia sadar, kalau yang dilakukannya itu menyiksa diri?’


“Heh! Lo itu kurang makan sayur, makannya sering bengong! Nanti malam, ikut Gue jagain Dista ya! Vicky mau menjemput Ibunya.”


“Em! Potong Hutang ya!” balas Kania.


...


Setibanya di rumah Dion, Dias memasuki kamar tamu. Dirinya penasaran dengan nasib gadis itu. Namun jika Dion sampai mengetahui perbuatannya, pasti dirinya tak akan tinggal diam.


“Nggak! Nggak ada yang melihat Gue di lokasi, iya... Cukup pura-pura tidak tahu saja, beres.”


Dias tak melihat siapa pun, Ujang pun sepertinya juga belum kembali. Agnes yang melihat Dias tampak celingukan, hanya menatapnya dari jauh.


“Apa yang gadis itu cari? Dias cantik, kenapa Dion enggan dengan gadis itu?”


“Nak Dias...!”


Gadis manis yang dipanggil namanya terkejut, seperti sedang tertangkap basah tengah mencuri di siang bolong, gadis itu gugup.


“I-iya Tante...”


“Ada yang Tante ingin bicarakan, kita bicara di ruangan kerja saja!


Sambil mengamati penampilan Dias, yang semua permukaan kulitnya Ia pertontonkan, membuat Agnes bergidik.


“Ehm Nak, Tapi tolong ganti pakaianmu dulu ya! Itu seperti pakaian kurang bahan, atau bagaimana? Tante kok pusing melihatnya! Jangan sampai Papanya Dion melihat kamu seperti ini Lho!” tegur wanita empat puluh tahunan itu.


Dias yang tak menyukai aturan, hanya bisa menahan kekesalan dalam hatinya, melihat Agnes memerintahnya sesuka hati hanya karena masalah pakaian saja.


“Tapi Pakaian Dias, begini semua Tante....”


...

__ADS_1


__ADS_2