Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 25. Kotak Permen


__ADS_3

Suara teriakan itu sontak membuat Dion terkejut. Begitu juga dengan Kania, yang hanya berbalut handuk miliknya. Mendapati seorang pria yang datang dengan tiba-tiba dan menatap ke arahnya membuat gadis itu spontan berteriak.


“Heh!! Shhttt... Ini Gue!” Dion membungkam mulut gadis itu secepatnya, sebelum banyak warga yang datang.


“Emmpph...” Kania membuka tangan Dion yang menutup mulutnya. Tingginya pria itu membuat Kania terpaksa mendongak dan menatap tajam Dion.


“Lo ngapain sih ngagetin Gue?”


Gadis itu kesal, tak bosan-bosannya Dion selalu membuat kejutan untuknya. Terlebih sekarang, dengan canggungnya mereka berdua hanya saling tatap. Dion menatap gadis yang airnya bahkan masih menetes di permukaan kulitnya, membuatnya menelan ludahnya kasar.


“El-Elo ngapain?” ucapnya lirih.


“Mandi! Pakai tanya lagi!” sambil mengenyahkan tangan besarnya yang masih bertahan di tubuh gadis itu.


“Minggir! Ada-ada aja ya Lo! biar Lo bilang kalau Gue jorok, gue juga nggak mau kali disentuh sembarangan sama Lo!” Kania mendorong Dion yang masih menatap punggung gadis itu, yang terekspos bebas. Membuat tangan Dion melayang di udara, karena hendak meraih gadis itu dan tak dapat melawan kata-katanya.


‘Aduh, kenapa lagi ini pikiran Gue!’


Kania keluar dari kamarnya, mendapati tak ada seorang pun di sana. Kania menuju ke dapur yang sudah tersedia banyak makanan. hanya saja tak ada tempat untuk mereka gunakan. Kania berpikir dapat dari mana Dion semua makanan ini?


Tak kehabisan akal, Kania keluar rumah sebentar. Dion yang baru saja keluar dari kamar mandi benar-benar mendapati kamarnya bersih dan sudah rapi. Rupanya gadis itu hanya pahit di bibir saja, meskipun kesal tetap saja melakukan apa yang pria itu minta.


“Not bad lah,” gumam Dion.


Setelah keluar, semua makanan yang Ia bawa sudah tersedia di meja. Rumah yang mereka sewa hanya ada beberapa perabot saja yang bisa mereka gunakan. Sisanya mereka harus memikirkannya nanti.


“Heh, Lo dapat dari mana ini semua?” sambil melihat piring yang sudah penuh dengan isian. Kania menyiapkan untuk pria itu yang terus menatapnya.


“Ini sebagai bentuk rasa terima kasih Gue! sekarang Lo makan, katanya lapar kan!” tanpa rasa jaim Kania memakan dalam porsi besar, begitu sedap dan menggugah selera setelah merapikan dua kamar yang menghabiskan tenaganya.


“Besok Lo nggak perlu ke kantor, Bos Lo udah kasih Lo cuti. Barusan Chat Gue!” terang dion, yang terus menyendok makanan ke mulutnya. Kania tentu saja tak percaya, setelah melihat isi perjanjian Papa dan anak kemarin, pasti ada yang mereka sembunyikan.


“Nanti Gue tanya langsung ke Pak Chandra, Gue nggak mau reputasi Gue jelek gara-gara kabar burung dari Lo!”


Hari pertama Dion melewati dengan perasaan gelisah. Tak dapat tidur tanpa pendingin ruangan, banyak nyamuk dan juga terdengar suara berisik di dapur. Kania sedang mencuci piring dan membereskan rumah yang cukup besar baginya, karena masih banyak tempat yang masih kosong.

__ADS_1


“Haus!”


“Heh!” Kania menyiramkan air kepada suara yang tiba-tiba datang. membuat Dion basah kuyup. Menyeka wajahnya.


“Kebiasaan Lo! Gue belum biasa ya serumah sama orang asing! Jadi Lo jauh-jauh please, Mas Dion yang terhormat.” mohon Kania dengan mengatupkan kedua tangannya.


Dion sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. mengingat dulu Dirinya selalu mengganggu Dista di dapur saat pacarnya tak ada. Mengejeknya, menggodanya bahkan terus tak berhenti membuat gadis itu memarahinya.


Kini yang ada di depannya gadis galak yang berani-beraninya menyiram wajahnya. Ponsel Dion berdering saat pria itu hendak mengajak Kania mengobrol. Ternyata dari Ujang, kebetulan sekali Dion membutuhkan banyak barang, untuk diambilkan dari rumahnya.


“Gue mau keluar sebentar, Lo mau ikut?”


“Ehm, Boleh! Tunggu sebentar, ya!” Kania mengganti pakaiannya dan menghampiri pria itu.


Ujang sudah berada di dekat rumah sewa mereka, dan Dion memintanya untuk segera masuk dan menunggunya di dalam selama mereka pergi.


“Wah Mas Dion sama Mbak Ka- ...”


“Nggak usah banyak tanya Mang! Gue mau pakai mobil sebentar! ada yang mau Gue beli dan nggak bisa dibawa pakai motor!” Dion menerima kunci dari Ujang dan mengajak Kania pergi.


Kania bingung, apakah benar jika dirinya harus menggunakan uang pemberian dari Agnes. Sedangkan dirinya sekarang benar-benar membutuhkan uang.


“Kenapa nggak jadi masuk? Pasti Duit Lo habis ya?” ledek Dion.


Kania menggeleng, justru karena di dalam kartu debitnya banyak angka yang membuat pria itu bergidik nantinya. Dengan segala kenekatan Kania menarik beberapa untuk kebutuhannya. Memang, memutuskan untuk hidup terpisah dari orang tua akan menghabiskan biaya pada awalnya namun Kania bisa mengatasinya.


Setelah berbelanja kebutuhan rumah, dua anak kecil berlarian di sekitar Dion yang tengah membawa troli. Kania juga sedang memilih barang-barang yang ia perlukan. Sampai dua bocah tersebut menabrak Dion dan hampir menggulingkan trolinya. Namun sayang, kedua bocah itu justru jatuh di depan Dion.


“Hey, hati-hati ya! jagoan nggak boleh nangis, ayo bangun!” Dion membangunkan keduanya.


“Terima kasih Om!” ucap kedua bocah itu sambil tersenyum, menampilkan deretan giginya. Membuat Dion ikut tertawa, saat kedua orang tua bocah itu menghampiri.


“Maafkan anak kami ya Mas, mereka berdua bandel! Sudah di kasih tahu tapi susah.” sesal pasangan itu, menghalau kedua anaknya yang usil dan iseng.


“Namanya juga anak-anak, ....” saat Dion hendak melanjutkan obrolannya kini giliran dia melakukan pembayaran di kasir.

__ADS_1


Dua jam sudah, Kania dan Dion menghabiskan waktu diluar, membuat Ujang tertidur di dalam rumah itu. Dion dan Kania seperti pasangan yang baru saja pindah rumah. Bahkan sampai pukul sepuluh malam, masih saja berkutat dengan kegiatannya. hingga Ujang pun berpamitan pulang.


“Hati-hati ya Mang! Jangan sampai Bos Lo tahu kalau Gue di sini!”


Ujang memberi hormat sambil tertawa, dan keduanya kembali masuk ke rumah. Melihat banyak kantung plastik berserakan Kania membereskannya. Hingga saat merapikannya ...


Plug!!


“Apa ini?”


Kania memungut dua kotak kecil berwarna seperti kemasan permen. Dion yang baru saja keluar dari kamar mandi mengamati gadis jorok yang tampak penasaran.


“Ngapain Lo?” selidik Dion.


Keduanya menatap benda yang berada di tangan Kania. Saat gadis itu hendak membacanya Dion panik. Bagaimana bisa gadis itu berpikiran membeli benda seperti itu.


“Rasa Strawberry, yang ini ...” Gadis itu menimang benda yang serupa beda warna, karena sudah malam pandangannya sedikit kabur. “Yang Ini rasa pisang.” Gadis itu mencium aroma dalam kemasannya dan tersenyum.


“hmm, baunya enak. Beneran aroma pisang.”


“Heh! Ngapain Lo beli begituan?” antara gemas, malu dan ingin tertawa melihat kelakuan Kania. Gadis itu membuat hiburan baru untuknya.


Dion merebut benda tersebut dan menyimpannya cepat-cepat ke dalam celananya, sebelum gadis itu menyadarinya.


“Memangnya itu apaan? Bukannya itu punya Lo ya? Gue nemuin itu di kantung plastik. Kalau permen, Gue mau dong yang strawberry.” ucapnya tanpa dosa.


Tangan gadis itu menengadah ke arah Dion, berharap pria itu memberikan satu untuknya. Dion melangkah maju dengan senyum mesum miliknya.


“Lo mau permen ini?”


“Iya, yang stro- stro ber-ry! Tapi ngapain lo maju-maju!”


Melihat Kania membulatkan matanya, karena masih tak paham, gadis itu menghentikan Dion yang menyudutkannya di dinding.


“Serius...? Kalau Lo mau, nanti Gue kasih?”

__ADS_1


...


__ADS_2