Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 131. Kepulangan Agnes


__ADS_3

Wajah Kania menganga tak percaya. Bisa di bayangkan bagaimana wajah Kania saat ini. saat melihat kedua pria itu berpelukan, dan saling mengejek, bisa dipastikan jika hal itu adalah benar. Lantas saat Dion berjalan ke arah Kania, semua staf perempuannya tertegun.


“Sayang, wajahmu kenapa?” Yang melihat wajah Kania semerah tomat. Dion terus menggodanya, pasti Ia tak menyangka jika dirinya tak seburuk itu.


“Bro, Gue nggak salah dengar kan? Gadis ini?” haha... “Udah move on Lo dari si “kembang desa”?”


“Sialan Lo jangan bahas si bohay lagi! bikin acara Gue berantakan nanti malam. Sayang, kenalin ini teman kampus Vicky dulu yang mengelola tempat ini bersama Bayu dan Iwan, namanya Angga.” Dion mengenalkan pria slengean yang sekarang sudah sangat modis dan keren.


Kania masih tak percaya dengan pria konyol di depannya, yang kadang bisa serius dan bercanda dalam satu tarikan napas.


“Mas, beneran ini punya kalian?”


“Iyalah, kamu nggak percaya? Makannya Mas betah di Bandung. Tapi karena di suruh pulang ya pulang, perusahaan Papa nggak ada yang handle katanya.”


Kania manggut-manggut, Ia ingat saat Chandra menghubunginya untuk mengurus anak magang yang tingkahnya luar biasa, ternyata adalah anak pemilik perusahaan. Bagai sebuah keajaiban menjadi miliknya saat ini.


“Bukannya karena mau di keluarin dari daftar waris ya?” haha... balas Kania merasa puas.


Setelah mengetahui hal itu, para staf kafe menyalami Kania, sebagai istri Dion Wijaya. sayangnya, mereka melihat Kania dalam kondisi yang sedang tidak baik. gadis itu pun lantas menjadi bahan pembicaraan staf yang usil.


Setelah bicara panjang lebar, Angga menyampaikan hal penting yang hampir Ia lupakan.


“Oh ya Bro, anak-anak bilang kemarin Nyokap Lo dari sini sama Vicky. Bagi- bagi bonus lagi.”


Brak!!!


Dion menggebrak meja di depannya. Membuat Kania dan Angga berjingkat.


Semua terkejut, terlebih si tukang masak. Ia sangat paham jika Dion tengah marah. Suara gebrakan meja itu sampai ke dapur.


“Serius Lo? Kapan itu?” raut wajahnya penasaran, harapannya temannya yang satu ini mengetahui sesuatu.


“Dua sampai tiga hari kemarin lah, Kok Lo nggak tahu sih? emangnya Lo di mana?”


“Gue di rumah sakit, ini baru saja keluar. Apa ada yang di titipin pesan?” Angga pun menggeleng. Semua anak-anak tidak ada yang tahu. Mereka berdua pun berpamitan dan mencari Hotel untuk bermalam sebelum mereka kembali ke Jakarta.


Setibanya di hotel, Dion kembali berusaha menghubungi nomor Agnes, terhubung tetapi tidak di angkat.


“Nomor Mama sudah aktif, Kania coba kemari sebentar!”


Gadis yang di panggil tak segera menyahut. Dion memeriksa ruangan itu dan memang tak mendapatkan sosok Kania di sana. Terdengar suara air dari dalam kamar mandi. sepertinya istrinya sedang membersihkan diri. Setelah keluar dari rumah sakit, rasanya sungguh menyenangkan. Namun, Ia harus menemukan Agnes secepatnya.


“Mas, sekarang istirahat dulu! besok kita cari Mama setelah kembali ke Jakarta.”


suara Kania melihat Dion merenung di balik jendela besar yang memperlihatkan jalanan kota Bandung. Rasanya seperti ini jauh dari orang tua. Padahal dulu Ia merasa biasa saja, saat dirinya tidak mendapat perhatian Chandra dan Agnes.


“Tapi Mama sendirian Kania, biasanya mereka selalu bersama-sama. Cuma ke toilet aja sih yang nggak.”

__ADS_1


Haha...


Bisa-bisanya Dion membuat Kania spontan tertawa lepas. Entah apa dalam pikirannya, bisa tertuju ke arah sana.


“Kamu senang banget kayaknya? Ada apa hmm? Apa kamu menyesal, udah berpikiran buruk terus sama Mas?”


“Idih, enak aja. Bisa nggak sih, pikirannya tuh jangan negatif terus sama orang? Sebal tahu nggak sih.” gusar Kania. Ia tak sadar jika Dion semakin dekat ke arahnya. Melingkarkan tangannya di pinggangnya yang ramping.


Seketika bulu kuduknya Kania meremang. Merasakan hembusan napas dari belakang tengkuknya. Aroma sabun dan sampo itu bermain di hidung bangir milik Dion. perlahan tangan nakal itu menarik tali bathrobe hingga merenggang. Membuat pakaian berbentuk handuk itu nyaris terbuka.


“Kania,” bisik Dion.


“Ehm...”


“Yuk!”


Jantung gadis itu tak berhenti berdegup. Hal ini yang Ia takutkan, setiap kali mereka berduaan. Rasa malu itu selalu saja menyelimutinya. Saat bersama Dion, tantangan demi tantangan Ia lewati. Tubuh ramping itu, kini berbalik menatap pria kuning langsat dengan rahang tegas itu.


Di pagut nya bibir lembab itu, memperlambat ritmenya untuk membuat Kania merasa nyaman. Dion sempat melihat luka di leher istrinya. Ia berjanji jika sampai terjadi sesuatu padanya, Dion akan menghabisi Dewa.


“Mas, yang lembut dong!”


“Haha, iya sorry. Dua ronde ya sayang?” tanpa menunggu jawaban, tubuh kecil ditangan Dion kini sudah berpindah tempat. Terbaring di ranjang king size.


Baru kali ini Kania melihat langsung pemandangan di depan matanya. Sore hari, tubuh dengan pahatan sempurna itu memenuhi penglihatannya. Senyum manis Dion kini hanya miliknya. Semakin dekat jarak itu, Kania tak bisa lagi menahan kegugupannya.


Drrttt... Drrttt... Drrttt...


Ponsel Dion berdering. Sekali—dua kali Ia abaikan. Ketiga kalinya, pria itu dengan kesal memeriksa ponselnya. Ternyata panggilan Video dari seseorang yang Ia nantikan.


“Sial! Tahu aja lagi setiap lagi mau kerja keras.”


“Siapa Mas? kenapa kesal begitu?” Kania penasaran.


Haha...


“Kania, kenakan dulu bathrobe mu kita lanjutkan lagi nanti ya! maaf ya sayang, Mama telepon!”


Gadis cantik itu pun mengusap mukanya. Tak ada yang melihatnya, tetapi membayangkannya saja sudah pasti sangat malu.


“Sudah?” Dion menunggu Kania, Ia sendiri juga membenarkan rambutnya yang berantakan.


Dion


[Halo Mama! Kemana aja sih, bikin pusing semua orang tahu!]


Agnes

__ADS_1


[Halo Nak, kalian sudah sehat?]


Tiba-tiba Agnes kembali tertawa, dan belum melanjutkan kalimatnya.


Dion


[Ma, bukannya jawab posisinya di mana, malah tertawa. Satu lagi, Mama selalu mengganggu acara Dion.]


Agnes


[Maaf Nak, kalian berdua ini lucu sekali. Mama tahu, kalian sedang anu. Mama ada di Bali, Kalian tak perlu kemari. sebentar lagi Mama juga akan pulang.]


Dion


[Yakin? Kalau bohong, Dion akan menjemput Mama pulang. Oke, Dion tunggu di rumah besok!]


Agnes


[Selamat berjuang Nak, salam buat Kania ya sayang!]


Agnes dengan perasaan lebih baik, sudah berada di Bandara Jakarta. Ia melihat panggilan tak terjawab dari putra semata wayangnya. Perasaan gundahnya pun mulai mencair, melihat Dion udah sembuh dan mencarinya.


‘Anak itu sudah berubah sekarang, jahat kalau sampai Aku menyia-nyiakannya untuk kedua kali. Mas Chandra juga tak pernah berbohong sekalipun padanya selama menjalani pernikahan, tak ada pria sebaik Mas Chandra selama ini’


Dengan taksi Online Agnes sudah tiba di kediamannya. Ia berharap besok Dion, Kania dan suaminya akan segera kembali ke rumah. Ia meminta bibi untuk memasak banyak masakan favorit ketiganya. Agnes merasa ini semua hanyalah salah paham.


Sedangkan di Rumah sakit, Sigit keberatan dengan ucapan Chandra. Pria itu bingung, apa yang membuat Sigit menolaknya. Mereka berdua tengah bicara serius, sampai Dion menghubunginya dan memintanya untuk pulang, karena Agnes sudah di temukan.


“Kenapa kamu menolak?”


“Om, Saya tidak bisa meninggalkan Mama saya begitu saja. Dia yang bersusah payah selama ini, tiba-tiba Om datang dan dengan mudah mengatakan ini semua.”


Sigit membuang muka, mulai kesal dengan Chandra. padahal alasan Sigit kesal karena gadis itu. Kania Dinara, yang telah mengacuhkannya. Perasaannya yang sensitif mulai mengganggunya.


Chandra terdiam. Sigit tidak tahu menahu tentang keadaan Rosi sekarang. Chandra beralih ke sisinya dan menanyakan kondisinya. Ia juga ingin berkumpul dengan keluarganya di rumah, juga bersama pria berkulit putih seumuran Dion.


“Apa kondisimu sudah membaik, Papa akan mengajakmu ke suatu tempat.”


“Saya sudah lebih baik, bisakah kita pergi sekarang?”


Dengan keterangan dari Chandra, keduanya berhasil meninggalkan rumah sakit lebih cepat. Dengan catatan harus benar-benar menjaga lukanya. Lantas keduanya pergi ke tempat yang sangat asing bagi Sigit.


“Om, kenapa kita pergi kantor polisi?”


“Nanti kamu juga akan tahu.”


...

__ADS_1


__ADS_2