Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 45. Sigit Yang Manis


__ADS_3

Chandra dan Agnes berjalan lebih dulu di depan sampai ke lobby. Semua staf nya memberi salam Bos besarnya yang memutuskan pensiun dini, namun Chandra tetap memantau perusahaannya dari rumah.


Melihat Dion berjalan diiringi Kania, kasak-kusuk itu semakin gencar beredar. Apalagi melihat Kania mengenakan jas milik Bos barunya.


“Wah, ada apa ini? Apa cuma Gue yang ketinggalan? Kenapa Gue lihat si Bos muda perhatian sama Kania?”


“Wah, wah Kania curi start nih!” Mereka tertawa melihat wajah Kania yang tertekan berjalan berdampingan dengan Dion. Meskipun mereka berdua tampak serasi.


“Kamu bawa motor?” tanya Chandra. Melihat motor hitam gagah terparkir di sebelah mobilnya.


“Ehm,” balas Dion singkat.


“Mang, tunggu di kantor aja. Papa mau makan siang dulu,” Sang sopir pun memberikan kuncinya kepada pria tampan itu.


Mereka berempat sudah selayaknya keluarga besar. Dion membukakan pintu untuk mamanya.


“Lo bisa buka pintu sendiri kan?” tanyanya pada Kania.


“Uhm,” Gadis itu mengangguk. Padahal Dion hanya bercanda. Kania sekarang memang lebih irit berbicara. Pertama memang karena ada Bos Chandra di sana, kedua karena Kania sedang marah terhadap sikap Dion.


“Dion... Dion... pantas aja Kania takut sama kamu, Iseng terus sih. Nanti Kalau Kania kabur gimana, Nak?”


“Nggak akan berani kabur dia, Ma!” balas Dion. Mobil mewah itu pun meninggalkan pelataran kantor yang luas.


Chandra dan Agnes pun tertawa. Putranya terus menggoda sekretarisnya terang-terangan seperti itu. Gadis di sampingnya yang sering Ia ledek jorok itu, nyatanya tak seperti apa yang Dion pikirkan.


“Mau makan di mana Bos?” Dion menoleh ke belakang.


“Grand Indonesia!” balas Kania. Dion menatap gadis itu. Pantas saja Papanya sangat perhatian pada Kania, selain sopan dan menyenangkan, sepertinya memang menguasai pekerjaannya. Hanya saja Kania lebih sering berpura-pura bodoh atau memang masa bodoh saat bersamanya.


“Tuh, partner kerja kamu tahu! Mama Lebih senang, kalau kalian akrab nggak Cuma di kantor saja, tapi di rumah juga ya, Kania!” pesan Agnes.


“Hehe.. Di rumah siapa Tante? Kania sekarang tinggal sendiri di dekat kantor, supaya lebih mandiri dan irit Tante.”


“Ya rumah kalian Kamu sama Dion nanti ...” sambung Agnes.


“Kania nggak mau Ma, coba tanya ke Dia! Kalau Dion yang tanya pasti nggak dijawab.” Dion memprovokasi Mamanya, membuat Kania menatap Dion kesal.


“Sudah sampai.” Dion meminta kedua orang tuanya berjalan lebih dulu.


...


Dion mendekati gadis itu, yang terus menjaga jarak dengannya.


“Kania, Lo masih marah sama Gue? Lo mau balik lagi ke rumah itu? Gue ikut ya!” Dion berusaha mencairkan suasana.


“Jangan aneh-aneh Pak! Sekarang Anda itu Bos saya! Masa mau tinggal satu atap sama karyawannya? Besok tolong kemasi barang-barangnya ya!” Kania berlalu meninggalkan Dion di belakang.


‘Kenapa harus besok, Kalau Kania memang benci sama Gue kenapa nggak minta nanti sore?’ batin Dion.


...

__ADS_1


Di sebuah Kafe, Dua pria muda dengan apron coklat memperhatikan Bos nya sedang meracik kopi dengan sangat serius.


“Mas, serius amat. Boleh dong kita nanti yang cicip dulu kopi buatannya, hehe...”


“Iya benar, kopi buatan pria tampan yang lagi jatuh cinta, pasti pahitnya jadi manis.”


“Nanti akan Saya buatkan khusus kalian berdua, kalau ada berita bagus, hmm.” Sigit tersenyum simpul.


Kedua staf itu menatap Sigit dengan mulut menganga. Biasanya saat menggoda Bosnya, hanya akan mendapat senyuman kecil. Kini Bosnya yang muda dan tampan bisa tertawa lepas hanya karena sedang berbunga-bunga hatinya.


“Mocchacino frape untuk gadis manis, kuat, juga penuh semangat.”



“whoaaa..” suara takjub dari dua staf itu.


“Duh jadi penasaran sama gadis beruntung itu. Kenal dimana Mas?”


Sigit menerawang, saat Ia melihat seorang gadis berjalan seorang diri, di tengah hari yang mulai gelap. Ternyata gadis itu sedang sedih.


“Dia menemukan Saya yang sedang tersesat. Tersesat mencari cinta yang selama ini Saya cari.” Tutur Sigit lembut.


Kedua staf itu tak sadar saling meremas tangan satu sama lain, mengetahui Bosnya sangat romantis.


Pukul Tiga sore, Pria itu bersiap. Ia bingung bagaimana membawa makanan manis itu jika mengendarai sepeda motor.


“Pakai mobil saja Mas Sigit, bilang saja kalau mobil boleh pinjam.”


“Nope! Gadis itu nggak mudah dibohongi. Dan Saya juga tidak mau berbohong, Saya pakai motor matic kamu Jo! Saya sewa semalam ya!”


“Kenapa Nggak beli motor aja Mas?”


“Hehe, sudah. Baru datang besok siang, sedangkan janjiannya sore ini.”


Bagaimana orang kaya bisa mengaku-ngaku miskin hanya untuk mendapatkan cinta seorang gadis. Bukankah gadis sekarang, melihat pria dari apa yang Ia kenakan, apa yang Ia tumpangi, dan juga seberapa tebal isi dompet pria itu.


“Gadis yang Saya kenal, bukan tipe seperti itu, jadi Saya hanya ingin membuatnya nyaman saja, bukankah begitu?”


“Hahaa.. Saya lupa kalian berdua jomblo.” Ledek Sigit.


“Bos tolong ngaca! Anda juga jomblo, bahkan dari lahir...” kedua stafnya pun berhasil membuat Sigit mengusap wajahnya karena malu.


...


Kania sudah menyelesaikan pekerjaannya. Sibuk berbenah dan merapikan mejanya. Selalu melihat jam tangannya. Sedangkan Dion terus memperhatikannya.


Penasaran, Mungkin Kania adalah tipe gadis disiplin dan tepat waktu, atau... Jangan - jangan gadis itu sedang ditunggu oleh seseorang.


“Mau ke mana Buru-buru? Gue aja belum pulang, kok Lo udah mau pulang lebih dulu? nggak bisa begitu dong!” protes Dion.


“Sudah waktunya pulang Pak Dion, besok kita bertemu lagi di jam kantor, Oke!”

__ADS_1


Kania hendak menyandang tas nya, namun tiba-tiba ponsel Kania berdering. Kania menoleh ke arah Dion yang terus menatapnya.


“Angkat saja!” perintah Dion.


Kania takut kejadian malam itu terulang kembali.


“Bukan apa-apa! Kania pulang dulu Pak!”


Gadis itu berlalu, setelah menjauh Kania mengangkat teleponnya. Yang memang berasal dari Sigit.


Sigit


[Kania, Saya sudah di depan kantor kamu...]


Kania


[Tunggu sebentar ya, Aku baru mau masuk lift. ]


Ting!


Pintu lift terbuka, saat Kania masuk ke dalam, ternyata Dion ? Mengikutinya masuk ke dalam dan mengejutkan Kania.


“Eh...” Dion menutup pintu lift itu segera.


“Lo mau pergi ke mana? Sama pria itu lagi?” selidik Dion.


Kania memundurkan diri, dan mendorong pria itu yang terus mendekat.


“Jangan turunkan harga dirimu Pak, ingat! Anda seorang Bos sekarang. Tak baik menggoda staf seperti saya.” Lirih Kania.


“Di luar jam kantor, Lo bukan staf dan Gue bukan Bos Lo! Kenapa Lo terus menghindar dari Gue?”


Lift terus berjalan membawa mereka turun ke lantai satu. Meskipun sudah banyak staf yang pulang, tetapi tak sedikit pula yang sedang menunggu jemputan.


“Maaf Pak, Saya harus pulang!” Kania menjauhkan wajah Dion darinya.


Saat yang bersamaan pintu lift terbuka, Kania bergegas meninggalkan Dion. Melihatnya pulang dengan rok pendek itu, Dion menyusulnya hingga ke depan kantor, akan tetapi ...


“Akhirnya kamu datang juga, Aku sampai khawatir kalau kamu tiba-tiba lembur...” Sigit turun dari motor.


Kania tersenyum, melihat Sigit berdiri dan mengikatkan jaketnya pada pinggang gadis itu.


“Eh, biar Aku lakukan sendiri saja!”


Pria itu terus saja membuat Kania merasa sungkan.


“Wah, pasti senang yang menjadi atasanmu, besok jangan kenakan yang seperti ini lagi ya!”


Sigit memberinya minuman yang Ia bawa sebelum mereka pergi.


Di tempat yang tak jauh, hati seorang pria panas, dan bergemuruh hebat, tangannya meremas jas miliknya.

__ADS_1


‘Rupanya kalian sudah berkencan...’


...


__ADS_2