
Setelah melakukan transfusi darah yang ternyata prosesnya cukup lama, Chandra bergegas mencari istri tercintanya. Ia ingin menunjukan bahwa dirinya telah menemukan saudara sedarah dari Dion. Chandra juga memastikan keabsahan surat itu, dengan melakukan tes DNA dengan Sigit tanpa sepengetahuannya.
Sayangnya, Ia justru tak menemukan wanita yang setia menemaninya bertahun-tahun itu. Ia menghubungi semua nomor penting di ponselnya, termasuk Gunawan. Chandra tak mengira, jika istrinya akan pergi dengan Vicky, mengingat semua orang tengah memiliki kepentingan masing-masing. Lantas Chandra menghubunginya pria muda yang sudah sangat sering Ia repot kan.
Chandra
[Vicky, kamu di mana? Apa tadi kamu melihat Tantemu?]
Vicky
[Iya Om, tadi kata Tante kepalanya pusing dan minta di ajak keliling. Memangnya ada apa Om?]
Chandra
[haah... Tante kamu belum sampai rumah sakit sampai sekarang, apa dia menginap di rumahmu?]
Vicky
[Lho! Kata karyawan kafe, Tante pergi setelah Vicky pergi ke rumah Bayu. Om tenang ya jangan panik!]
Saat Vicky hendak pergi Dista menahannya di pintu. Wanita dengan perut besar itu mulai menangis. Ia lelah jika harus bepergian berpindah tempat terlalu sering. Namun, suaminya tidak mengerti. Baru saja pria dingin itu meluluhkan hati Dista yang sangat sensitif. Namun, ternyata ucapannya hanya berlaku setengah hari saja.
“Pergi sana! Tapi nggak usah pulang. Teman Dion bukan cuma kamu saja Vicky, kamu ngerti nggak sih!” isaknya.
“Abang minta maaf ya, Abang tidak tahu kalau kamu sesakit itu tapi ini...,”
“Pergi sana! Aku juga sudah mulai terbiasa nggak ada kamu,” balasnya.
Lantas pria itu memeluk istirnya yang terus berontak. Dista mendorong tubuh padat suaminya dengan tenaganya yang tak seberapa. Di tambah tiba-tiba perutnya mengeras dan merasakan sakit. dirinya meringis kesakitan.
“Iya, Janji Abang nggak akan pergi, tolong maafin Abang ya sayang. Lihat si kecil sedih lihat kamu seperti itu.”
Dista mengenyahkan tangan Vicky dari perutnya. “Bukankah kamu penyebabnya? Besok Antarkan Aku ke rumah Papa, Aku tidak ingin melihatmu.” Dista pergi meninggalkan Vicky. memasuki kamarnya dan menguncinya.
Lantas Yoshi yang mendengar suara ribut-ribut itu, menghampiri Vicky yang tengah frustrasi. Duduk di ruang tamu dengan kepala yang tertunduk. Ia tak sadar gadis tomboy itu datang yang menyodorkan tangannya.
“Sini, mana kunci mobilnya?”
Vicky mendongak, melihat Yoshi.
“Mau ke mana Lo? ini udah malam, nggak usah keluyuran!”
“Lo di rumah aja, kasihan bini Lo! Biar Gue aja yang ke rumah sakit. melihat keadaan mereka bertiga.”
Dengan pasrah pria dingin itu menyerahkan kunci mobil Dion kepada Yoshi.
“Hati-hati, kalau kemalaman lebih baik Lo menginap aja di rumah sakit jangan nekat pulang! ini Bandung, bukan Jakarta!”
“Cih! Sama nggak ada bedanya buat Gue! ya sudah, Gue pergi dulu!”
...
Rosi di tahan di kantor polisi akibat penembakan itu. Tak ada penyesalan sedikitpun, justru Ia ingin melihat suaminya tewas di tangannya. Mendengar kabar kematian Rizal, dokter yang berusaha menyembuhkan Sigit, Rosi ingin sekali mengunjungi keluarganya tetapi Gunawan tak mengizinkan karena statusnya saat ini.
“Sebentar saja Pak! kalau perlu Saya bersedia di temani oleh anggota Bapak.” Mohonnya.
__ADS_1
Gunawan tak menjawab, Ia hanya tersenyum lalu meninggalkan Rosi. Perwira tampan itu mendapat telepon dari keponakannya yang menangis. Mengeluarkan semua curahan hatinya.
...
Tak butuh waktu lama untuk kembali pulih. Dion memang layak mendapatkan sebutan kucing dengan sembilan nyawa. Ia bisa dengan leluasa menghampiri ruangan Kania di rawat. Namun, ada yang kurang dalam dirinya.
“Sayang, kamu sudah baikan?” tanya Dion.
“Ehm, Mas ... Apa Mas Dion melihat Mama?”
Dion menggeleng, Ia juga hendak menanyakan hal yang sama. Perawat yang memeriksa Kania masuk untuk memberikan obat, dan pentolan geng itu menanyakan keberadaan orang tua mereka. perawat menjawab, jika Chandra tengah berada di ruang perawatan Sigit.
“Oh, Pria itu masih hidup?” guraunya.
“Mas!” omel Kania, yang tak suka jika Dion masih kekanakan seperti itu.
“Sus, apa boleh kita ke sana?”
Perawat itu melihat gerakan tangan dari Kania, untuk menolaknya. Kania yakin jika Dion pasti akan berulah di sana. Namun perawat itu justru berkata sebaliknya. Melihat kondisi Dion yang sudah pulih.
“Boleh, tetapi Istrinya belum boleh ya Pak, masih dalam pengawasan.” Perawat itu tersenyum melihat ekspresi Kania yang melongo tak percaya.
“Ih, suster...”
Dion meminta perawat menunggui Kania selama Ia pergi dan pentolan geng itu menuju ruangan yang di maksud. ‘Apa yang dilakukan Papa di sana? Bukannya nungguin kita, malah nyeleneh jagain anak orang.’
Dion bertanya kepada petugas pria yang sedang mendorong troli makanan untuk pasien. Dengan sopan, mengarahkan jempolnya ke ruangan yang dicari. Tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri.
“Terima kasih Pak,” balas Dion, dan Ia pun berlalu.
Kehadiran Dion kebetulan adalah jam berkunjung. Ia melihat sosok tomboy dari arah berlawanan dengan dirinya. refleks Ia bersembunyi. ‘Ngapain Gue ngumpet begini, bego banget Gue!’
Yoshi tidak sendiri, Ia bersama kedua rekannya yang lain. Bayu dan Vicky. dari raut wajahnya tampak bahagia. Sehingga membuat Dion penasaran. Setibanya di depan ruangan itu Yoshi mengetuk pintu sebelum masuk, dan Chandra menyambut kedatangan mereka.
“Terima kasih, kalian sudah datang.” sambutnya.
“Nggak apa-apa Om, kan masih di Bandung ini, jadi saya bisa meluangkan waktu.” balas Bayu.
“Oh ya Om, sudah ada kabar dari tante Agnes?”
Saat mereka menghampiri tempat tidur Sigit terbaring, Dion mengganjal pintu dengan kakinya yang tertutup otomatis. Sehingga Ia bisa mendengar pembicaraan mereka meskipun samar-samar. Baru saja, pertanyaan Bayu membuatnya terkejut. Memangnya Mamanya pergi kemana? Kenapa sampai harus menunggu kabarnya.
Dion tak bisa menahannya lagi. baru saja terdengar tawa dari tempat tidur yang tertutup tirai biru turkis, saat ketiga temannya menanyakan kabar Sigit. Mereka bertiga menyesal dengan perginya Agnes, dan akan segera memberi kabar jika mengetahui sesuatu. Ucapan Vicky semakin meyakinkan jika Mamanya tengah pergi.
“Wah lihatlah, siapa yang sedang merayakan kehidupan keduanya?” kedatangan Dion mengejutkan semua orang yang mengelilingi Sigit. Khususnya Chandra yang langsung berdiri mendekatinya.
“Kamu sudah sehat Dion? Bagaimana dengan Ka—nia?”
“Mana Mama?” sela Dion, dengan wajah serius, “Katakan Pa, kemana Mama Dion? dan kenapa Papa ada di sini?”
Seketika ruangan itu memanas, Sigit yang baru sadar pun juga tak mengerti. Ia juga mencari Rosi, namun tak terlihat sosoknya. Karena Papa nya tak sanggung menjawab pertanyaan Dion, pria itu menyeruak diantara teman-temannya dan menarik pakaian Sigit.
“Bro, tenang, kita bisa bantu jelasin ke Lo!”
“Lo semua, menyembunyikan sesuatu dari Gue? benar begitu kan?” tatapan Dion mencari kebenaran dari ketiga temannya terlebih Yoshi.
__ADS_1
“Katakan Yoshi, Lo yang paling tahu keluarga mereka, apa maksud bocah ini dengan masuk ke dalam keluarga Gue? Jawab!!”
“Dasar brengsek! sejak awal kehadiran Lo adalah kesalahan besar.” Dion merangsek naik keatas ranjang Sigit dan hendak memukulnya. Namun, di tahan oleh Chandra. pria itu tak akan mengizinkan Dion berbuat seenaknya lagi.
“Hentikan Dion!”
Dion menoleh, dan tersenyum kecut.
“Kenapa? Rasa kasih sayang kalian berdua telah tumbuh sebagai Ayah dan anak? Dan Lo, berusaha masuk keluarga Gue setelah nggak diakui anak oleh bokap kriminal Lo itu?”
Bugh!!
“Bacot Lo sejak dulu, nggak pernah berubah!”
Vicky menarik tubuh pria itu yang terus mengoceh dan menghentikannya. Sejak dulu cara penyelesaian masalah mereka dengan baku hantam. Meski hanya pukulan ringan, keduanya saling menarik kerah pakaian masing-masing.
“Apa yang Lo tahu tentang mereka? katakan? Dan di mana keberadaan Nyokap Gue?”
Dion mendorong Vicky hingga menabrak Bayu di belakangnya. Sedangkan Chandra menahan tubuh Dion dan memeluknya untuk tidak berkelahi dengan temannya. Namun, Dion justru mendorong tubuh Papanya hingga terjatuh.
Yoshi membantu pria itu berdiri dan memintanya untuk segera menjelaskannya. Namun Chandra belum mampu mengatakan hal itu karena hasil tes DNA belum Ia terima. Sampai Yoshi kembali menghajar pria yang baru saja kembali sehat.
“Pria egois seperti Lo tahu apa tentang hubungan Ayah dan anak? Hah? katakan?”
Yoshi berjalan maju dan terus menatap nyalang mata tajam Dion yang berapi-api. Hingga Dion tersudut.
“Dasar anak tidak pernah bersyukur, Lo beruntung punya Bokap seperti Bokap Lo!” isak Yoshi.
“Lo nggak tahu rasanya di jual sama Bokap kandung Lo sendiri demi hutang yang Lo nggak akan sanggup bayar sampai Lo mati!”
Semua terdiam. Hanya isakan gadis tomboy itu yang memenuhi ruangan itu. hati Sigit pun turut merasakan nyeri setelah Ia mengenal baik Ibu mudanya yang sudah Ia anggap teman.
“Lo lihat Vicky? pernahkah dia berbuat begitu dengan orang tuanya? Bahkan Tuhan telah mengambil Bokap nya lebih dulu, dan dia harus menjadi tulang punggung keluarganya. sementara Lo?”
Gadis tomboy itu berdiri ke arah Sigit. Melihat bagaimana dirinya sendiri tersiksa oleh Dewa. Ia tak bisa membayangkan nasib Sigit selama dua puluh tahun itu.
“Cukup Yoshi, orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri mana mengerti akan hal itu.” Imbuh Vicky.
Belum lagi Bayu, yang Ayahnya menikah lagi dan melarang semua kegiatan di luar selain kegiatan sekolah dan kuliahnya.
Dion adalah anak yang beruntung secara materi. Meskipun Ia sendiri juga sangat haus perhatian Kedua orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaan. Menjadikannya liar dan tak terkendali.
Chandra memeluk Dion dan meminta maaf. Ia berjanji akan menjelaskan semuanya setelah Agnes ditemukan. tubuh Dion bergetar hebat, rasa panas dalam tubuhnya ingin membakar semua yang ada di sekitarnya. seakan tertampar oleh kenyataan dan ucapan teman-temannya.
Kania dengan di bantu perawat, datang dengan kursi roda. Melihat kejadian itu meski tak sepenuhnya. Hatinya sakit, saat semua ucapan itu tertuju kepada Dion. Ia bergerak ke arah suaminya yang tengah mematung. Melihat sorot matanya yang masih menyimpan amarah.
Tangan halus Kania menyentuh pergelangan tangan Dion. Dan perlahan amarahnya pun lenyap. Semua mata kini tertuju pada pasangan itu, terlebih Sigit. Kania tak melihatnya barang sekilas. Hati Sigit merasa kecewa.
“Mas, Aku ingin di rawat di rumah, bisakah kita pulang hari ini?”
Dion beralih menatap Kania, dan mengusap rambutnya. “Tentu.”
“Ayo kita tinggalkan tempat ini!”
...
__ADS_1