Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 140. Mengejar Cinta Si Tomboy


__ADS_3

Di Balkon lantai dua, setelah Iwan menerima panggilan video dari Yoshi. Pria cungkring meminta saran kepada kedua temannya, apa yang harus dilakukan selanjutnya. Menurutnya apa yang akan di lakukan Yoshi di Bandara? Apakah akan meninggalkannya lagi? tapi kemana? Jawa? Kalimantan? Atau ... luar negeri?”


“Apa katanya?” tanya Dion.


“Bokapnya, sepertinya terjadi masalah dengan kesehatannya. Terus gue harus gimana?”


Kedua pasangan itu menatap Iwan tanpa bereaksi sedikitpun. Iwan merasa bodoh, padahal teman-temannya sudah memberi kode dengan sangat jelas.


“Bro, besok antar Gue ke bandara bisa kan?”


“Gue bahkan bisa antar Lo sampai gerbang akhirat sekarang juga, gemes Gue!” timpal Dion, menghampiri Iwan dan memiting kepalanya, karena tak pernah pintar. Entah dalam pelajaran sekolah ataupun urusan percintaan.


Haha...


“Lo menginap di sini, besok kita temani ke bandara. Kalau perlu Lo ikutin kemana si janda tomboy itu kemana-mana. Sampai Lo dapatin lagi hati dia, sampai sini paham Iwan Bruggman?”


Iwan mengangguk sambil tertawa karena sejak tadi hanya dirinya yang memicu emosi kedua temannya dan pasangannya. Sampai Dion meminta Kania untuk mengusap perutnya, supaya tidak mengikuti kelakuan Iwan.


“Amit-amit jabang bayi, semoga kelakuan anak gue nggak ada yang mirip Lo Bro!”


“Ya nggak mungkin! Emangnya Gue bapaknya? Kalau anak Lo kelakuannya jelek, pasti semua dari Lo Bro, Gue sumpahin Lo kualahan karena terus ledekin Gue...” balas Iwan tak terima.


Haha...


Di Lembang Bandung,


Sigit tengah mengurus pekerjaannya di rumah sakit yang tertunda. Dokter kepercayaannya, Rizal juga sudah tiada. Tak ada lagi orang kepercayaannya di rumah sakit ini. Jo dan Richie pun juga sudah diberi kuasa untuk mengurus kafenya selama dirinya tak ada di Jakarta.


Wajah tenang dan serius Sigit membuat Yoshi tertegun. Bagaimana ada pria yang setenang Sigit di tengah keadaan yang porak poranda saat ini. gagal mendapatkan cintanya, bertemu saudara sedarahnya, dan ayah biologisnya, kematian papanya, juga ibunya yang masuk penjara. Beda sekali dengan Iwan yang tidak pernah serius sedikitpun.


“Serius amat Lo!”


Meletakan secangkir kopi hitam di meja dan membuat mie instan untuk mereka berdua. sambil menunggu keputusan Rosi dengan Chandra, gadis tomboy itu mengajak Sigit untuk bicara dari hati ke hati.


“Ini buat Gue?” tanya Sigit. pandangannya tertuju pada semangkuk mie dengan telur diatasnya. “Tapi Gue nggak makan mie, sorry Bu!” jawab Sigit datar, sesekali melirik gadis tomboy itu.


Haha...

__ADS_1


“Ibu Lo bilang? Eh kampret, minimal hargai usaha Gue! dicicip kek,” oceh Yoshi. Dirinya tak percaya, Sigit bisa menyebalkan seperti itu. Ia sudah berusaha perhatian namun malah tak berbalas. Akhirnya Yoshi duduk dan mengambil mie dalam mangkuk itu dan hendak menikmatinya.


“Lo mau gue cicip?”


“Woy!!” Yoshi memuntahkan lagi mie yang belum sempat dikunyah. Gadis itu mengambil air putih untuk mencuci mulutnya. Sigit keterlaluan, bisa dengan mudah menghancurkan selera makannya.


“Wah, brengsek Lo!” umpat Yoshi sekali lagi.


“Kenapa? Bukannya sejak tadi Lo mengagumi Gue dari kejauhan?” Sigit menutup laptopnya, menyilangkan tangannya ke dada. Menatap wajah Yoshi yang sekarang jauh lebih menarik dibandingkan saat mereka bertemu di paralayang.


“Sialan Lo, ngelunjak Lo ya! Gue ini Nyokap Lo!”


“Jangan Lupa, Lo udah jadi janda. Kenapa? Gue nggak kalah ganteng dari bokap gue,” imbuh Sigit lagi.


“Stres!”


Yoshi berdiri meninggalkan meja dan memasuki Villa. Namun Ia melihat Sigit mengikutinya dengan langkah perlahan, jantung Yoshi semakin tak karuan, saat mantan kekasih Kania menutup pintu dan menguncinya.


‘Sialan, bocah itu ngerjain Gue! kenapa Gue lari? Kan gue bisa hajar dia, bego lo Yoshi!’ namun nyatanya Yoshi bersembunyi di kamar tempat Kania dulu menginap. Menguncinya dari dalam dan mondar-mandir seperti setrikaan.


“Lo pikir Gue nggak tahu Lo di dalam? Sebentar aja Yoshi, please!” suara Sigit dari luar. “Gue punya kunci semua kamar, ini kan Villa Gue! mau lo buka sendiri atau Gue yang buka?”


‘Heh, kok sepi?’ batin Yoshi.


‘Nggak, Gue nggak boleh percaya begitu saja. Gue yakin Sigit masih di luar. Gue udah belajar dari para kampret saat di Bandung. Cukup, Gue harus menunggu Mbak Rosi tiba, iya lebih baik begitu.’


Sampai jam empat sore, akhirnya Rosi kembali dengan perasaan bahagia. Melihat pintu Villanya terkunci, Rosi mengetuk pintunya. Namun tak ada satupun yang keluar untuk membukakan pintu. Chandra pun juga sudah meninggalkan bangunan estetik itu, menuju ke hotelnya.


“Sigit! Yoshi! tolong buka pintunya,” suara Rosi mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi salah satunya. Sampai akhirnya Yoshi keluar dari jendela pintu kamarnya. Melewati tanah merah yang lembab.


“Brengsek ini para laki-laki, nggak teman, nggak pacar, nggak laki semua pada iseng banget ngerjain Gue! hidup Gue udah kayak topeng monyet jungkir balik kesana-kesini.”


Dengan telanjang kaki Yoshi menginjak tanaman indah yang di rawat oleh penjaga Villa. ‘kayaknya Gue emang nggak cocok jadi orang kaya.’


“Lho Mbak!” Yoshi terhenyak, melihat Rosi tertidur di sofa yang ada di teras. Yoshi mencuci kakinya, dan membangunkan teman sesama jandanya. Rosi yang mengantuk pun terbangun.


“Kalian berdua pada kemana sih? Mbak menunggu di sini sampai ketiduran, mana Sigit?”

__ADS_1


Yoshi terkejut. Karena mamanya terkunci di luar pun bocah itu tidak tahu. “coba Mbak telepon lagi, tadi Aku terkunci di kamar dan keluar lewat jendela. Yoshi tak mungkin mengatakan jika Sigit akan berbuat yang enak-enak kepadanya.


Sampai terdengar suara pintu terbuka, dan Tara...!!


“Ma, Yoshi?” ucapnya dengan wajah orang habis bangun tidur. “Ayo masuk!”


Rosi melihat Yoshi tampak canggung saat bicara dengan Sigit. sedangkan putranya biasanya saja. Rosi meminta Sigit untuk kembali ke Jakarta besok pagi. Sedangkan Rosi dan Yoshi akan mengurus kepindahan Ayah Yoshi dari luar negeri untuk kembali ke Jakarta. Namun untuk sementara waktu, keduanya akan menetap di sana.


“Yoshi, apa kamu tidak keberatan?” tanya Rosi.


“Tentu tidak Mbak, justru Aku sangat berterima kasih, karena kalian masih menganggap Yoshi sebagai keluarga kalian meskipun Mas Dewa sudah tidak ada.” Rosi tersenyum.


“Kalau kamu mau menikah lagi dengan pacarmu pun, sungguh Mbak akan mendukungnya setelah tiga bulan kepergian Mas Dewa.”


Sigit menatap Yoshi saat mamanya berkata demikian. Yoshi tak sanggup menatapnya. Untuk mengalihkan perhatian Sigit yang terus menggodanya, Yoshi menanyakan perihal kepergiannya tadi bersama Chandra.


“haha... lalu bagaimana dengan Om Chandra?”


“hem, kepo ya! itu rahasia.” Balas Rosi.


Sigit pun akhirnya bisa melihat mamanya tersenyum. Sedangkan Yoshi melihat keanehan di wajah saudara Dion itu. seakan menginginkan sesuatu terjadi diantara Chandra dan Rosi.


“Wajah Lo kenapa? Lo sakit? senyum-senyum sendiri kayak pria mesum Lo!” timpal Yoshi.


“Yoshi! enak aja, Sigit anak baik-baik lho, enak saja kamu bilang begitu.” omel Rosi.


“Haha, Mbak Rosi jangan mudah percaya sama kelakuan Sigit Mbak, kalau dia sebenarnya tuh,...”


Sigit mengirim pesan kepada Yoshi jika Ia akan mendatangi kamarnya malam nanti. Seketika wajah Yoshi berubah dan tak lagi melanjutkan kalimatnya.


Sigit mengira telah terjadi sesuatu antara Chandra dan Mamanya. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah Chandra membawa Rosi ke sebuah hotel untuk bertemu dengan pengacaranya. Menanda tangani perjanjian yang sempat tertunda.


Rosi dan Chandra tidak akan pernah melakukan pernikahan kedua. Mama kandung Sigit memilih hidup sendiri, dari pada Ia harus dinikahi Chandra untuk satu bulan, tanpa hubungan biologis lalu di ceraikan kembali. Rosi memilih menjadi janda terhormat, daripada menjadi simpanan pengusaha kaya dan terkenal seperti Chandra Wijaya.


Papa Kandung Dion memberikan sejumlah Uang untuk hidupnya di luar negeri selama beberapa bulan bersama Yoshi yang akan menemaninya. Mengingat Rosi tak mungkin meminta uang kepada Sigit, karena seluruh aset kekayaan Dewa Virgiawan hanya Sigit yang mempunyai kuasa penuh.


Rosi tersenyum mengingat bagaimana Chandra begitu berwibawa. Perjanjian itu ada di dalam tasnya, Sigit tak boleh mengetahui hal itu. Tak ada pernikahan, tak ada hidup bersama. Pengacara Chandra lah yang menjadi saksi jika suatu saat terjadi hal yang mengganggu keharmonisan keluarganya.

__ADS_1


‘Rasain, emang enak Gue kerjain!’


...


__ADS_2