Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 146. The Day


__ADS_3

Setelah mengetahui berita kehamilan gadis tomboy itu, Iwan segera mengatakan kepada kedua orang tuanya untuk melamar Yoshi. Restu itu pun didapat keduanya dengan mudah, meskipun Yoshi berstatus sebagai janda. Toh apa yang salah, selama bukan istri orang semuanya sah-sah saja.


Lantas, mereka berdua akan menemui Ayah Yoshi di luar negeri untuk meminta restu menikahi anaknya yang sempat tertunda. Iwan tak ingin lagi kehilangan gadis yang telah menemaninya selama lima tahun itu. Melewati asam garam berdua.


Hanya Kania dan Dion yang mengantar dua pasangan absurd itu ke Bandara, karena Dista sudah tak bisa berjalan jauh. Wanita hamil itu mudah lelah dan napasnya pun mulai pendek akibat tekanan di perutnya.


Dion memeluk teman sebangkunya dengan erat. Mengharapkan kebahagiaan yang sama untuk mereka berdua. pentolan geng berwajah tampan itu tak dapat menyembunyikan rasa sedih sekaligus bahagia. Ujung netranya berembun menahan air mata.


“Safe flight Bro, jangan lupa berkabar, Oke!” pesan Dion dengan meninju lengan milik Iwan. Begitu juga kepada Yoshi. mereka berpelukan layaknya saudara. Mengingatkan gadis tomboy itu untuk tak menyakiti sahabatnya lagi.


“Lo juga Bro, Jangan lupa berkabar dengan berita bahagia kalian. Kabarin Gue kalau si bohay sudah melahirkan ya!”


“Ehm.” Balas Dion singkat.


Dion sudah tak bisa berkata-kata. Sampai announcer memberitahukan jika pesawat tujuan Iwan dan Yoshi akan segera lepas landas. Kania dan Dion menunggu hingga tak tampak lagi punggung kedua sahabatnya.


Sampai sebuah tangan lembut menggenggam tangan Dion dengan erat, dan pria itu pun menoleh.


“Ayo pulang!” ajak Kania, “atau kita mau jalan-jalan dulu? hmm?”


Dion menatap wajah teduh Kania. Wanita cantik itu begitu sabar menghadapi perangainya. Bahkan belum sekalipun Dion membahagiakannya sampai saat ini. Sepanjang jalan mereka habiskan untuk memulai perjalanan kisah cinta mereka, sebelum kedua anaknya lahir ke dunia.


“Kamu mau ke mana? Selagi anak-anak masih kecil, dan kamu masih bisa kesana-kemari akan Mas ikutin semua kemauan kamu.” papar Dion yang terus mencium genggaman tangannya itu.


“Hm, dihitung hutang nggak nih?” goda Kania.


“Kamu sudah membayarnya lebih dari cukup dengan membesarkan kedua anakku dengan baik.”


...

__ADS_1


Dua Bulan Kemudian,


Dua hari lagi, Dista diperkirakan akan melahirkan. Semua kebutuhannya sudah mereka siapkan jauh-jauh hari. Mulai dari barang bawaannya untuk keperluan menginap di rumah sakit sampai dekorasi kamar untuk bayi perempuan mereka yang sangat aktif.


Semua sahabatnya sudah tak sabar menunggu kabar bahagia dari pasangan fenomenal sejak SMA. Bahkan Bayu dan Isya pun sudah mengirimkan bingkisan lucu untuk anak mereka. Sedangkan Dion dan Kania kini sedang berlibur di Lombok selama satu minggu dan akan kembali setelah Dista melahirkan.


“Yang, bangun! Perut Aku mules nih.”


Vicky yang baru bisa memejamkan matanya, harus terbangun lagi karena harus mengusap perut itu untuk menenangkan bayinya yang terus menendang. Memberikan rasa nyeri sehingga membuat Dista susah untuk tidur.


“Dek, bobok dulu ya! Anak cantik, sekarang sudah jam dua pagi.” Bisiknya dalam perut itu. Dista meringis kesakitan, bukannya mereda rasa sakit itu justru bertambah makin hebat.


“Yang, kayaknya anak kamu mau keluar deh! Aku udah nggak tahan.” Rengeknya. Tangannya meremas tangan suaminya, mencengkeramnya kuat-kuat. Bahkan keringat dingin mulai keluar dari kening Dista.


“Serius Yang! tunggu sebentar ya, Abang siapkan perlengkapan dulu.”


Selagi Vicky kelua menyiapkan keperluan untuk dibawa ke rumah sakit. Disa berjalan mengenakan baju hangatnya. Rambut panjangnya Ia ikat asal-asalan. Rasa nyeri itu membuatnya kesulitan berjalan. Dista terus mengingat apa lagi yang harus dibawa ke rumah sakit.


“Kamu sudah siap?” Kita ke rumah sakit sekarang.”


“Ayo!”


Sepanjang perjalanan ke Rumah sakit Jalanan tampak lengang. Hawa di luar rumah begitu dingin menggigit tubuh. Vicky melihat Dista terus memegangi perutnya sambil memejamkan mata.


“Yang, kamu tidur? kita ngobrol aja yuk!” Vicky khawatir jika Dista tiba-tiba tak sadarkan diri. Melihat beberapa waktu lalu tampak pucat karena kesakitan. Meskipun begitu Ia mengendari mobilnya dengan hati-hati.


“Perut Aku mules banget Yang! tapi Aku mau makan nasi padang dulu boleh?”


“Haha, kamu serius?”

__ADS_1


“Ehm,”


Setibanya di rumah sakit, Dista segera diberikan ruangan VVIP. Melihat Vicky tak ada di sisinya Ia mulai panik. Bayang-bayang melahirkan yang sangat menyakitkan begitu menghantuinya. Sampai Ia melihat suaminya datang dengan membawa dua bungkus nasi padang pesanannya.


“Gimana Yang? masih mules?” tanya Vicky yang tampak khawatir. “Ya sudah, kamu makan dulu ya Abang suapi.” Sampai pukul empat pagi mereka berdua baru bisa tidur dengan tenang.


...


Suara dering telepon membangunkan Vicky. Namun, langkah terkejutnya mendapati sosok Ayu dengan perut bulat itu tak ada di ranjangnya. Vicky kebingungan mencarinya ke sana kemari. Sampai seorang dokter memanggilnya untuk masuk ke dalam ruangan bersalin. Lengkap dengan pakaian steril.


“Hah, Abang cariin kamu kemana-mana Yang!” Vicky merasa lega setelah melihat wajah istrinya masih bisa tersenyum. Tetapi ucapan Dista justru membuat Vicky menjadi takut.


“Yang, Aku sudah nggak kuat lagi...”


Di dalam ruangan dingin itu, Vicky menangis mendengar teriakan Dista. Suara instruksi dari dokter juga membuat suasana menjadi semakin tegang. Berulang kali perawat mengusap peluh di kening istrinya itu. Vicky tak sanggup melihatnya, namun dokter justru meminta pria dingin itu untuk menyemangati istrinya yang sudah hampir kehilangan tenaga.


“Pak, Ayo dikuatkan istrinya. Kasihan Ibunya sudah kelelahan, lebih kasihan lagi anaknya yang sudah ingin bertemu kalian, ayo!” ucap lembut dokter itu menguatkan keduanya.


Vicky menggenggam erat tangan Dista yang butuh pegangan. Juga membisikan doa dan kata-kata cinta untuknya, untuk anak yang sudah mereka nantikan. Mengingatkan tentang perjuangan anaknya yang tetap bertahan dalam rahim Dista. Vicky tak dapat berkata-kata lagi, air matanya sudah mengatakan semuanya.


Setelah mengerahkan tenaga terakhirnya dengan usaha yang cukup kuat, Dista merasakan kelegaan yang luar biasa bersamaan dengan suara nyaring tangisan bayi mereka. Tak henti-hentinya Vicky mengecup kening Dista.


Mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan juga kepada istrinya yang telah berjuang antara hidup dan mati. Bahkan Ia tak sanggup untuk membayangkan hal buruk jika harus kehilangan wanita yang sangat dicintainya.


“Selamat ya Pak, Ibu, Bayi perempuan.” Dengan menunjukan bayi kemerahan yang terus menangis.


Dokter memberikan bayi cantik mereka setelah ditimbang dan di bersihkan. Meletakan bayi cantik dengan berat 3,3 kilogram dan panjang 49 sentimeter ke dada ibunya untuk diberikan Asi pertamanya yang mengandung kolostrum.


“Selamat ya sayang, kamu sudah menjadi Ibu sekarang.”

__ADS_1


...


__ADS_2