Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 64. Dibayar Mahal


__ADS_3

Sraaassshhh...


“Dari matamu, matamu, Ku mulai jatuh cinta, ku melihat melihat ada bayangnya ...”


Pria tampan dengan pahatan tubuh sempurna itu melakukan ritual mandinya dengan penuh semangat. Hari ini Sigit akan bertemu pujaan hatinya.


“Risiko punya pacar wanita karir, udah cantik, rajin, lucu, nggak matre lagi, rugi kalau nggak sampai dapatin Kania,” Sigit bicara di depan cermin, sembari mengatakan dalam hati, apakah Ia sudah sesuai dengan kriteria pria idamannya.


Diinn!!


Terdengar suara klakson mobil berhenti di halaman rumah mewah Sigit. Saat mengintip dari jendela kamarnya, ternyata Richie sudah tampak segar dan melambaikan tangan ke arahnya.


“Hahaha... Dasar bocah tengil!”



Menuruni tangga dengan perasaan bahagia, kekasih Kania mengambil cake di lemari pendingin yang sudah Ia persiapkan jauh-jauh hari. Saking bersemangatnya, pria dengan celana Kargo sebatas lutut dan kaos kerah berwarna putih tak melihat keberadaan Rosi di belakangnya .


“Sigit!” sapa Rosi sembari menepuk punggungnya yang sangat nyaman untuk bersandar.


“Hah! Mama, ngagetin aja.”


Mendapat tatapan curiga dari wanita yang melahirkannya Sigit malu, “Kenapa? Mama cemburu ya, Sigit sudah punya pacar sekarang? Hehe...”


“Tentu, Mama yang bawa kamu kemana-mana, dari kecil sampai besar, udah jago semua hal sekarang yang milikin kamu gadis cantik lain.” Untuk mengusap kepala Sigit, putranya harus sedikit menunduk, karena postur Sigit yang mencapai 180 senti, membuat Rosi tampak kecil.


“Jangan lupa ini dibawa, Mama mau kamu tetap sehat, dan kalau bisa wanita yang bersamamu itu peduli dengan dirimu, memperhatikanmu, bukan karena fisik dan materi yang kamu miliki Nak!”


Sigit memeluk mamanya, seraya meyakinkan wanita itu jika Kania adalah gadis yang baik. Bahkan ketakutan Sigit adalah jika kekasihnya mengetahui siapa dirinya sebenarnya.


“Ma, bahkan Kania hanya mengenal Sigit sebagai barista di kafe, bukan sebagai direktur di rumah sakit Papa.”


“Serius kamu Nak? Memangnya masih ada gadis seperti itu di Jakarta?”


“Makanya, doakan Sigit untuk bisa mendapatakan Kania sepenuhnya ya Ma!”


Rosi memeluk Sigit dengan erat, sesekali menepuknya. Semoga saja, pilihannya benar-benar tepat. Jika putranya bahagia, Rosi sudah tak peduli lagi dengan suaminya yang mulai dingin dengannya.


Diinn!!


Richie merasa kesal, karena Sigit tidak on-time seperti janjinya. Padahal pemuda manis itu masih sangat mengantuk, karena hawa di Jakarta cukup dingin belakangan ini. Sedangkan Jo enak-enakan tidur di dalam mobil dengan dalih, 'Lo dulu nanti gantian Gue yang mengemudi.'

__ADS_1


“Ini buat bekal kalian, sampaikan salam Mama untuk pacarmu ya! Mama menunggunya di rumah!” pesan Rosi.


Dengan senyuman maut yang dimilikinya, Sigit melambaikan tangan. Sigit akan selalu menjadi anak kecil kesayangan Rosi. Mau seberapa dewasapun, akan tetap seperti itu.


“Jadilah laki-laki yang hanya mencintai satu wanita saja nak, ketamakan akan muncul, jika dirimu tidak bisa setia.” Lirih Rosi menatap punggung putranya di balik pintu.


...


Dion masih terlelap, saat Kania sudah berkutat dengan menaiki kursi, memanjat ke atas lemari. Seperti de Javu, Dion menyembunyikan ponsel Kania saat pertama bertemu di perusahaan Papanya. Menyebabkan kaki gadis cantik itu terkilir karena terjatuh.



“Nyusahin banget ini orang, untung saja semalam nggak jadi berbuat macam-macam,” Kania masih berusaha dengan tenaganya yang belum terkumpul semua.


Sampai Kania berhasil mendapatkan apa yang dia ingingkan.


“Nah, syukurlah udah ketemu.”


Cklek!


Suara pintu terbuka. Langkah kaki masuk dengan hiruk pikuknya dan menatap ranjang itu.


“Dion!!!” Pekik Agnes.


“Emh ... Ada apa sih Ma? Berisik banget, lagian kenapa Mama bisa masuk? Kan semalam Dion kunci pintunya. Melihat hanya ada mereka berdua, Dion menanyakan keberadaan gadis itu kepada Mamanya.


“Harusnya Mama yang tanya sama Kamu, dimana calon mantu Mama! Kamu sembunyikan dimana? Kamu nggak lihat penampilan Kamu?”


Dion memakai piama Kania, begitu juga sebaliknya. Kania melihat semua pemandangan itu dan menutup mulutnya saat Ia melihat atasan yang Ia pakai ternyata tertukar.


‘Bocah Bego!’ umpat Kania.


Saat melihat ada yang aneh, Agnes dan Dion menoleh ke arah yang sama.


“Astaga Kania!”


Gadis itu tersangkut di atas lemari pakaian Dion dan tak dapat turun. Agnes mengusap wajahnya, begitu juga Dion. Tak habis pikir, bagaimana caranya gadis itu sampai di sana.


“Wah, makin cinta Gue sama Lo! Selain jago memanjat Gue, Lo juga sanggup manjat lemari, hahaha...”


“Itu Tante, kunci kamarnya semalam di buang ke atas lemari sama dia!” tunjuk Kania ke arah pria berlesung pipi.

__ADS_1


“Sekarang turunin Kania, sebelum Papamu masuk kemari!”


“Bisa naik harusnya bisa turun dong! Kalau nggak ada imbalannya, Dion nggak mau!” Dion menatap Kania dari bawah, sangat menggemaskan rasanya harus melihat sekretarisnya berpacaran dengan pria lain. Ia teringat dengan ancaman Kania semalam, Jika Dion memaksanya melakukan hal itu lagi, Kania akan meninggalkannya dan tak akan mau lagi bekerja Wijaya Group. Dion juga tak boleh melarang Kania untuk menjalin hubungan dengan Sigit. Sungguh jika dipikirkan sangat merugikan sisi Dion.


Dion menghampiri gadis itu, dan membuat penawaran. Saat hampir setuju dengan syarat yang diminta Dion, ponsel Kania berbunyi di sisi ranjang setelah di isi semalaman.


“Mas, tolong ambilkan ponselku!”


Melihat nama Sigit tertera di layar, ingin sekali pentolan geng itu menjawabnya, sekali lagi Dion tak bisa melakukan hal itu.


“Lo harus membayar mahal, dengan kesepakatan yang Lo buat sendiri, Kania. Gue udah menepati janji Gue, sekarang giliran Lo!” tukas Dion mengulurkan tangannya.


Dion menurunkan Kania dari atas lemari, dengan menatap wajah bantal gadis itu, Dion mengeratkan pelukannya, tatapannya penuh ancaman dan rasa cemburu.


Gadis dengan tahi lalat di bawah bibir itu mengangguk, seakan ciut saat ditatap seperti itu. Dion pun berlalu, meninggalkan Kania yang mengangkat panggilan video dari kekasihnya.


“Mana Kania Nak? Kenapa wajahmu murung begitu!”


“Dion mau mengantarnya pulang, Kania udah ada janji dengan temannya.”


“Kok begitu?”


“Kok begitu...” tiru Dion menirukan suara mamanya, mendapatkan lemparan jeruk dari Agnes.


“Mama sih, udah ah! Habis mengantar Kania, Dion mau ke luar.”


Dion terpaksa mengantar Kania ke rumah sewanya. Melihat gadis itu pergi bersama Sigit, kepalanya menguap, nyaris meledak. Senyum keduanya mengiris hati bos muda itu. Dion melihat bagaimana Sigit memperlakukan Kania dengan sangat manis, hal yang belum pernah sama sekali Ia lakukan.


“Apa semua cewek suka modelan cowok kayak tukang kopi itu, cih! Nggak keren sama sekali.”


Saat mobil Sigit melintasi mobil Dion. Kania menatapnya dari jendela, dan mengiriminya pesan.


Kania


[Jaga kesehatan, jangan keluyuran! Cepat pulang!]


Membaca pesan dari Kania, Dion putar balik ke rumah Vicky dan mengajak pasangan suami istri itu saat itu juga.


“Bro, udah lama nggak ke Bandung! Berangkat sekarang?”


...

__ADS_1


__ADS_2