
“Beb, gimana ini? Kok gue deg-degan ya! hahaa...” Yoshi tiba-tiba menjadi panik. Ia terus melihat jam tangannya yang sudah menunjukan tengah hari.
“Katanya apa yang terjadi, biarlah terjadi. gimana sih, kok Lo nggak konsisten?” keduanya tertawa. Hal yang paling dirindukan Yoshi adalah saling melempar pertanyaan konyol seperti ini.
Suara seorang pria di depan pintu kamar orang, membuat banyak orang penasaran dengan apa yang terjadi. Puncak kesabaran itu sudah habis, melihat kekasihnya bersama pria lain dan Ia tak dapat mengejarnya. Kini Ia hanya bisa menyelamatkan salah satu saja hubungannya.
“Layanan hotel! Tolong buka pintunya!”
Setelah menunggu hampir lima belas menit, pintu itu akhirnya terbuka. Seorang pria berkulit sawo matang mengenakan bathrobe milik hotel membuka pintu. Pria itu merasa terkejut. Ketika di depan kamarnya sudah banyak orang yang berkerumun.
“Ada apa ini?”
“Silakan Mas!” Petugas hotel menyerahkan semua urusannya kepada Sigit. Pria itu meminta bantuan pihak managemen hotel untuk memeriksa kamar yang diduga ada Yoshi di dalam sana. Setelah mendengar percakapan seorang pria di Lobby. Meski sesungguhnya Sigit tahu, jika hal itu melanggar privasi.
“Saya mencari teman saya, namanya Yoshi.”
“Siapa gadis itu? saya tidak mengenalnya! Anda jangan mengada-ada membuat ketenangan saya terganggu! Saya bisa tuntut Anda dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan dan mengganggu ketertiban di tempat umum?”
“Cih! Saya hanya ingin memastikan saja, apakah teman saya berada di dalam?” seorang gadis keluar dengan pakaian lengkap. Membuat kekasih Kania semakin terkejut.
“Ada apa Pa ribut-ribut?” tanya gadis itu melihat sekeliling. Ternyata Sigit salah orang. Padahal informasi yang Ia dapat, di kamar tersebut seorang gadis dengan dua pria tengah bersama. Ciri-ciri yang di sebutkan, seratus persen sama.
“Boleh saya memeriksanya?” Sigit berkata sopan. Kedua orang tersebut pun mengijinkan. Tapi jika tak terbukti Sigit diminta untuk segera pergi dari kamar itu. Sigit masuk ke dalam kamar memeriksa semua bagian ruangan. Tak menemukan apa yang dicarinya.
“Terima kasih karena Anda bersedia bekerja sama.”
Sigit pun meninggalkan tempat itu dan kembali berpikir. Untuk apa dia repot-repot mengurusi urusan orang lain. Meskipun hal itu adalah kepentingan Papanya. Sedangkan urusannya pun belum menemukan jalan keluar.
Saat Sigit berjalan menuju kamarnya, tak disangka, Ia menemukan apa yang Ia cari. Ternyata Tuhan tak mengizinkan hal buruk terjadi dalam keluarganya.
“Kalian berdua! Apa yang sedang yang kalian lakukan?” tegur Sigit. Melihat Iwan dan Yoshi keluar dari kamar di sebelah kamar Sigit berada. Keduanya tampak segar, bahkan rambut Yoshi masih sangat basah.
“Ssi-Sigit! Lo di sini?”
“Iya, kenapa kalian terkejut?” Iwan pun tampak canggung dan pergi begitu saja.
“Ternyata kalian semua, memakai cara seperti ini untuk mendapatkan apa yang kalian mau?” Sigit bertanya kepada Yoshi, dan Iwan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Maksud Lo apa bilang begitu?” Iwan membalikan tubuh Sigit dengan kasar. Dan menarik kerah kaosnya.
“Benar kan? Kalian itu sama! Harus menodai kekasih orang untuk mendapatkannya, dengan begitu kalian berpikir bisa memilikinya.”
Iwan melayangkan tinju ke wajah tampan Sigit. Selama ini pria manis itu menyimpan tenaganya. Sehingga orang-orang berpikir dirinya lemah.
“Hentikan Git!” pinta Yoshi menengahi keduanya. Sigit tak terima di pukul, Pria itu membalasnya dua kali. Membuat Iwan jatuh.
“Saya nggak akan diam lagi, sudah cukup kalian semua mempermainkan saya!”
“Brengsek! Yang ada Lo yang udah mengganggu ketenteraman kita! Lo sadar, Lo itu orang luar! Penyusup, Lo tahu penyusup? Pencuri tahu kan? Nah itu Lo sama aki-aki itu.”
Sigit semakin kesal, dituduh sebagai pencuri. Pria manis itu menghajar Iwan berulang kali hingga banyak luka di wajahnya. Yoshi mendorong Sigit dan terpaksa memberinya pelajaran dengan membanting anak tirinya. Hingga terdengar suara kesakitan.
“Lo keterlaluan!” Gadis tomboy itu membantu Iwan berdiri. Dan hendak membawanya pergi. “Benar apa yang dikatakan Iwan, Kalian lah yang merusak kebahagiaan kami!”
Hahaha...
“Yoshi! Kalau Lo pergi dari sini, Jangan salahkan Gue, kalau terjadi apa- apa sama kalian di masa depan!” teriak Sigit, mencoba bangun dan mengikuti mereka.
Pria itu tak perlu bersusah payah. Untuk mencari tahu keberadaan Kania. Ternyata benar, penginapan besar itu. Sigit melihat Kania, sedang menikmati buah kelapa. Wajahnya semakin memesona.
...
Yoshi dan Iwan tiba dalam penginapan. Dengan wajah berantakan, teman-teman si cungkring merasa khawatir. Apa yang tengah terjadi kepadanya.
“Yoshi!!” teriak Kania. Semuanya pun menoleh ke arah pintu. Melihat Yoshi kesulitan memapah Iwan, Dion dan yang lain membantunya. Namun mereka tetap menertawakan pria itu lebih dulu sampai puas.
“Astaga-naga! Lo habis perang sama siapa sih sebenarnya?”
“Harusnya cuma sama si tomboy, tapi anak tirinya nggak terima.” Balas Iwan sambil mengaduh. Karena banyak luka robek di wajahnya.”
“Hilih cemen, sama Sigit Kalah!” balas Dion. Karena hanya Dion yang tahu keberadaan rivalnya.
“Sigit?” Kania terkejut. “Sigit ada di sini?”
“Kenapa? Kamu kangen? Tuh lihat wajah Iwan habis diwarnai, sama pacar manis kamu!”
__ADS_1
Yoshi mengangguk, sebelum Kania bertanya. Gadis itu pun tak menyangka, dengan kekuatan Sigit yang sebenarnya. Kania pun tak mampu berkata apa-apa. Hanya masuk ke dalam kamar dan mengambil kotak pengobatan.
“Jangan terlalu dipikirkan, Aku nggak mau kamu mikirin dia lagi sampai sakit, please! Kalau kamu nggak peduli sama Aku, minimal sama kacang ijo dalam perut kamu!”
Kania tersenyum. Mengusap perutnya. Saat Dion ingin menyentuhnya, ponsel Kania berdering.
“Brengsek benar itu yang telepon!”
...
Kania
[Iya halo! Aku nggak di rumah Sigit! Aku ada pekerjaan di luar,... ]
Dion merebut ponselnya. Setelah Kania menyebut nama pria itu.
[Jangan ganggu dia lagi, Lo udah nggak ada urusan sama dia! Dan Lo masih punya hutang sama Gue! ]
Hahaha...
Sigit
[Soal teman Lo itu? Itu karena dia mencuri milik pria lain, sama seperti yang Lo lakukan, yang udah bawa Kania lari dari Gue! ]
Kania
[Sejak awal, Dia milik Gue, sampai nanti pun akan jadi milik Gue! Kalau Lo punya nyali, Gue tunggu Lo!]
Dion menutup panggilannya. Dan memblokir nama Sigit dari kontak Kania dan mematikan dayanya. Dion sedang cemburu.
“Yuk, sudah ditunggu yang lain!” ajak Kania.
Namun saat Kania bangkit, Dion menahannya. Dion menyudutkan Kania di balik pintu kamarnya. Menahan gadis, dan menempelkan bibirnya disana.
“Kania, Aku nggak akan biarkan kamu pergi lagi dari sisiku, aku berjanji!”
Perlahan Dion melakukan serangan ke beberapa titik sensitif Kania. Gadis itu memekik karena terkejut. Dion menggigit dagunya perlahan, hingga turun ke leher jenjangnya. hingga kotak obat yang dipegang Kania terlepas dari tangannya.
__ADS_1
“I Love You, Kania...”