
“Woi Bro! baru datang Lo!” sapa Bayu.
Saat melihat seorang pria tampan dengan setelan jas formalnya, menggandeng wanita cantik dengan perut buncit mengenakan gaun berwarna senada. Keduanya bahkan menjadi sorotan kamera saat memasuki pelataran tempat di mana resepsi pernikahan di gelar. Keduanya berpelukan cukup lama. raut wajah rindu kepada sahabatnya yang sejak SMA.
“Woi, lihat siapa ini? Gila makin oke Lo Bro, sendiri?” tanya Dion. Sambil melihat ke arah jari telunjuk mantan ketua kelasnya itu. ternyata Isya sudah berada di barisan paling depan melihat sepasang mempelai yang hendak melempar bucket pengantin.
Saat Dion meminta Kania menyalami Bayu, rupanya istrinya sudah tak ada di sisinya. Wanita dengan heels rendah berjalan cepat menuju tempat Isya berada.
“Duh kelakuan Bini Gue, susah sekali dikasih tahu.” Dion dan Bayu segera menyusul istri mereka yang sepertinya berniat antre mengambil bucket bunga yang dilempar Yoshi.
“Awas aja kepikiran nikah lagi!” oceh Dion.
Iwan dan Yoshi melambaikan tangan kepada pentolan geng tampan itu dan si anak baik. Raut Iwan tak dapat lagi menyembunyikan rona bahagianya. Sayangnya, personil mereka kurang lengkap tanpa si biang kerok yang telah sempurna menjadi seorang Papa.
Dion dan Bayu memberikan dua jempolnya kepada pasangan bucin itu. sampai seorang pria paruh baya dengan kursi roda menghampiri keduanya. Meminta keduanya utuk duduk bersama di meja khusu yang telah dipersiapkan untuk mereka.
“Bapak tebak, pasti kamu yang namanya Dion, benar kan? dan kamu Bayu.” suaranya yang setengah bergetar menahan haru.
“Benar Pak, kok bapak tahu?” tanya Dion.
Bukannya menjawab, pria itu menjabat tangan mereka berlinang air mata. Dion dan Bayu pun terkejut. Mereka takut, jika para tamu yang datang berpikiran yang tidak-tidak. Sampai Bayu mengusap bahu pria itu.
“Nak, tolong sampaikan kepada temanmu itu!” tunjuknya kepada gadis tomboy dalam balutan gaun pengantin. Jika berjuta-juta kata maaf pun tak akan cukup untuk menebus kesalahannya. Bayu pun luluh seketika, mendapati pria di hadapannya adalah Ayah kandung Yoshi.
“Apakah bapak sendiri sudah mengatakan langsung kepada Yoshi?” tegas Dion.
“Sudah, tetapi gadis itu menolaknya.” Dion menyeka air mata pria itu.
Kania pun melihatnya dari jarak jauh dan tersenyum. Dion sendiri juga mendapatkan permohonan maaf dari kedua orang tuanya. Telah mengabaikannya selama bertahun-tahun sampai terbentuklah karakter kerasnya. Marah? Kecewa? Menyesal? Pasti. Tetapi semakin bertambah usia Dion menyadari jika dirinya kelak juga akan menjadi orang tua yang tentu saja bisa melakukan kesalahan.
“Sudah Pak jangan bersedih. Bocah itu sudah memaafkan Anda. Buktinya Ia meminta izin untuk menikah bukan sampai jauh-jauh kemari?” balas Dion. mendengar jawaban Dion pria itu semakin tergugu. Isak nya semakin menjadi.
Dion menoleh ke arah Bayu. “Gimana ini Bro? bokap nya malah nangis.” Bisik Dion. Jika itu Kania, Dista, atau Yoshi pasti Dion akan memeluknya, lha ini? Bayu tertawa tanpa suara dengan menutup mulutnya.
“Mana temanmu yang satu lagi? katanya kalian berempat.”
“Oh, maksud Bapak si Vicky? ada Pak di rumah, sedang mengasuh bayinya, istrinya baru saja melahirkan jadi nggak bisa datang,” papar pentolan geng itu. Saat obrolan itu berlangsung, suara MC sedang menghitung mundur. Jika Yoshi akan melempar bucket bunganya.
__ADS_1
Semuanya bersiap, sampai Dion melihat Kania turut menunggu aba-aba. Dion berpamitan kepada Ayah Yoshi dan Bayu yang menyaksikan tingkah keduanya sungguh mengocok perut.
“Three... Two... and ...” Yoshi melempar bucket itu. saat tangan Kania berusaha menjangkaunya, Dion menarik perut buncit Kania. membuat bunga dari sang pengantin itu lolos melewatinya. Kini mereka berdua saling berhadapan.
Manik mata mereka bertemu. Tatapan Dion begitu lembut, pesona Kania semakin menjadi di tengah kehamilannya yang semakin membesar. Membuat Dion tak mampu untuk berpaling dari istrinya meskipun hanya sebentar saja. Tangan besar itu mengeratkan pelukannya di tengah hiruk pikuk barisan para gadis. Sampai mereka berdua tak sadar saat menjadi pusat perhatian.
“Mas,” bisik Kania.
“Hmm, kenapa sayang?”
Iwan dan Yoshi pun bersorak. Bukan mereka berdua yang menyoraki kedua mempelai. Namun justru sebaliknya.
“Cium...cium...cium...” terdengar suara teman-teman Iwan dan para tamu yang menyaksikan keromantisan Dion dan Kania. Lantas tak menunggu lama Dion segera mengecup singkat bibir itu, membuat Kania malu dan bersembunyi dalam tubuh tinggi Dion.
Tiba saatnya mereka melakukan sesi foto bersama, Dion dan Bayu bersama pasangannya masing-masing. Mereka semua bersuka cita dengan mengambil banyak gaya. Tak lupa mengirimkan gambar itu kepada sahabat mereka yang sedang menyaksikan siaran live melalui sosial media Iwan.
“Wah selamat Lo cungkring, akhirnya Lo menyusul kita juga...” ucap Vicky yang didampingi Dista dengan Angel dalam pelukannya saat Dion melakukan panggilan video.
“Haha, biar nggak Lo pamerin terus. Kan Gue juga pengen punya mainan di rumah!” balas Iwan.
“Gue tunggu kabar baiknya Bro! Sorry nggak bisa datang, doa kita yang terbaik buat kalian.”
“Bikin aja sendiri!” balas Vicky tak mau kalah.
Akhirnya sambungan mereka terputus. Kania merasa kelelahan dengan euforia acara pasangan kocak itu. Dion dan Kania berpamitan kepada keduanya untuk kembali ke hotel. Dion mendoakan pernikahan Iwan menjadi yang terakhir dan selalu bahagia. Iwan pun menitikkan air mata saat Dion memberi wejangan yang menurutnya luar biasa. Sedangkan Bayu masih menemani sahabatnya yang tengah berbahagia.
“Lo masih di sini kan Bro? kalau Iwan mau Honeymoon berkabar! Biar Gue susul, haha...” imbuh Dion. mereka pun berpisah.
Saat hendak menaiki mobil, Kania melihat Sigit yang baru saja datang bersama seorang wanita. Istrinya meminta Dion untuk menghampirinya. Juga di belakang Sigit ada seorang wanita yang pernah Kania temui di restoran mal waktu itu.
“Mas, itu ada Sigit. Yuk kita sapa!” ajak Kania.
Dion berhenti sejenak, lalu beralih menatap Kania. Saat melihat Sigit tak sendiri lagi, dan menggandeng seorang wanita, Akhirnya Dion setuju untuk menyapa pria tampan berkulit putih itu. Kania bisa membaca pikiran suaminya yang masih saja menyimpan rasa cemburu.
“Sigit!” panggil Kania.
Wanita itu berjalan perlahan karena Dion menggandengnya dengan erat. Melihat ekspresi Sigit yang sangat antusias dengan sapaan Kania, Dion pasang raut masam.
__ADS_1
“Mas, senyum sedikit kenapa sih? dia itu saudaramu!” protes Kania, yang menyalami mantan kekasihnya.
“Apa kabar Bro!” sapa Dion, akhirnya kalimat itu meluncur dari bibirnya. Sigit pun akhirnya melapangkan dada untuk memeluk saudaranya. Bagaimanapun darah lebih kental dari pada air. Meski tertahan cukup lama, Dion akhirnya membalas pelukan saudaranya.
“Sehat Lo?”
“Hm, sudah berapa bulan usianya?”
“Jalan empat bulan, siapa ini? calon istri?” tanya Dion kembali.
Sigit hanya tertawa, kemudian mengajak Dion dan Kania untuk bertemu dengan Rosi. Akhirnya pertanyaan Rosi terjawab sudah, kenapa Kania tak bersama dengan putranya. Gadis itu telah menjadi milik saudara Sigit, anak dari Chandra Wijaya. melihat ketiganya tampak akur, Rosi pun hanya mendoakan yang terbaik untuk mereka.
Semoga saja Sigit dapat melupakan Kania. jika mengingat Sigit selalu tersenyum menatap layar ponselnya hati Rosi menjadi sedih. Wallpaper yang tak pernah terganti sampai sekarang, ya wanita dengan gaun hitam elegan dengan perut buncitnya.
“Jangan lupa pulang, Lo ditanyain Papa.” Dion pun mulai mengakui Sigit adalah saudaranya. Sepertinya seru jika memiliki saudara, apalagi selisih umur mereka tidak jauh.
Sigit dan Rosi tertawa melihat Dion berusaha beradaptasi. Kania pun semakin sayang dengan perubahan Dion yang semakin membaik tiap harinya. Kania mengeratkan pelukannya pada lengan kokoh itu. seperti diberi kode, Dion pun lantas berpamitan kepada Rosi dan Sigit.
“Bilang sama Papa, Gue akan pulang seminggu lagi.” balas Sigit setelah Dion mulai menjauh.
...
Setibanya di hotel yang tak jauh dari lokasi pernikahan Yoshi dan Iwan di selenggarakan. Kania dan Dion merebahkan diri di ranjang yang besar dan empuk. Tenaganya terkuras habis, kepalanya pusing dan juga rasa lapar yang tak bisa dikontrol. Dion dan Kania sama-sama merasakan keanehan selama kehamilan kembar ini. Melihat Kania kesulitan dengan gaunnya, Dion mulai berinisiatif.
“Sini sayang, Mas bantu melepas gaunmu!” tanpa menunggu persetujuan, Dion menarik resleting di bagian belakang tubuh Kania. tampak punggung putih mulus yang terekspos bebas. Sesekali Dion memberi kecupan pada titik-titik sensitifnya.
“Mas,” lirihnya. “Kamu Cuma bantuin aja kan?” seketika perasaannya tidak enak, karena kulitnya merinding merasakan rasa hangat itu.
“Hm, sepertinya Mas berubah pikiran sayang. melihatmu Mas jadi lapar.” Gaun hitam itu meluncur seketika dari tubuh istrinya yang sudah menjadi padat dan berisi. Membawanya ke atas ranjang dan mencium perut bulat itu. Seakan memberi kabar jika Papanya akan menengoknya sebentar lagi.
“Nak, jangan protes kalau Papa sering berkunjung, ini semua demi kebaikan kita semua, haha...” gurau Dion menatap Kania yang terus tertawa.
Kania pun tak tahan karena Dion terus menggodanya. Ia sengaja mematikan lampunya supaya nuansa romantis itu akan selalu ada diantara mereka. Mengingat pesan dokter untuk selalu berhati-hati. Dion pun melakukan kegiatan rutinnya secara lembut. Hingga keduanya merasakan kepuasan masing-masing.
“Sayang, kapan jadwal kamu periksa kandungan?”
“Minggu depan Mas, kata dokter jenis kelaminnya sudah bisa dilihat.”
__ADS_1
“Oh benarkah? Kalau begitu Mas mau cari nama mulai sekarang.”
...