Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 106. Aku Nggak Percaya!


__ADS_3

Teriakan Kania membuat Dion bergegas lari ke lantai dua. Namun, saat sampai di depan pintu kamarnya pintunya terkunci dari dalam. Tentu saja membuat pria itu semakin khawatir. Berulang kali Dion memanggil Kania untuk membuka pintunya. Setelah menunggu hampir lima menit, pintu kamar itu pun terbuka.


Dion memeriksa tubuh gadis itu dengan seksama, apakah Kania terluka ataukah telah terjadi sesuatu. Kania hanya menggeleng. Namun, gadis itu tak pandai berbohong. Saat melihat pakaian lengan panjang yang di kenakan Yoshi berada di sofa dekat dengan ranjangnya.


“Kenapa Dion? apa terjadi sesuatu?” Chandra dan Agnes turut cemas.


“Nggak apa-apa Pa, hanya ada sedikit masalah di kamar. Papa sama Mama berangkat duluan saja, kita akan menyusul!” ujar Dion. Melihat Mamanya terus menutup mulutnya karena terus menahan tawanya melihat Kania, membuat Dion kesal.


“Udah ya Ma, pintu kamar Dion terlarang untuk Mama sampai batas waktu yang tidak di tentukan. Salah sendiri usil!” Dion menghalau orang tuanya untuk keluar dari kamar karena Kania merasa canggung akibat peristiwa mengejutkan tadi.


“Selamat bekerja keras Nak, Kami tunggu kabar baiknya ya!” suara Agnes perlahan menghilang. Dan Dion meminta Yoshi untuk keluar dari persembunyiannya. Melihat Yoshi hanya mengenakan tanktop hitam. Pria tampan berahang tegas itu membulatkan matanya.


Refleks Dion menghampiri Yoshi. “Mau ngapain Mas?” tanya Kania. Namun suaminya berlalu begitu saja karena memang Dion tak mendengar suara lirih istrinya.


“Perbuatan siapa ini? jangan bilang ini kelakuan pria brengsek itu? benar kan?”


“Yosh, apa susahnya sih tinggal bilang! Ini sudah keterlaluan,” imbuh pentolan geng itu. Melihat perhatian Dion, Kania tak bergeming.


Dion menyentuh luka-luka sayatan yang membuat Kania bergidik ngeri. Tiba-tiba Ia mengingat masa lalu saat Ia mendapat perlakuan kasar dari Faris. Hanya setelah mengenal pria berlesung pipi inilah Kania bisa terbebas dari rasa sakitnya selama ini.


Yoshi dan Dion memang tak ada rasa sungkan. Bahkan mereka bertiga juga pernah melawan brandal bersama Vicky dan saling mengobati saat babak belur. Namun, lain dengan wanita lembut di hadapannya yang terus menatapnya. Ada rasa perih yang mungkin melebihi luka sayatan di tubuh gadis tomboy itu.


“Udah, udah. Lukanya udah kering kok. Hanya saja ini agak gatal. Lo ada krim untuk luka nggak?”


“Tunggu, Gue cari dulu!”


Dion meninggalkan kamar untuk mengambil kotak obat. Yoshi meminta Kania untuk mendekat. Dibelainya surai panjang gadis itu yang tampak murung. Yoshi hanya tertawa ketika dirinya merasa dicemburui.


“Lo kayak Iwan tahu nggak sih, ekspresi jealous Lo itu kelihatan banget.”


“Apaan sih Yoshi, siapa yang cemburu?” sembari mengusap embun di sudut matanya.


Kania bertanya apakah benar jika yang melukainya adalah Dewa, suaminya. Yoshi pun mengangguk. Hanya saja gadis tomboy berambut coklat itu tak menyebutkan alasannya. Bahwa dirinya telah memberitahu polisi bahwa Sigit menyembunyikan Kania dari keluarganya. hingga Dewa marah, dan menghukumnya seperti itu.


“Lo dan Dista beruntung mempunyai laki-laki seperti Vicky dan Dion. mereka nggak akan pernah menyakiti perempuan, meskipun tampilan luar mereka dingin dan menyebalkan. Percaya sama Gue kalau Lo nggak akan menyesal menikah dengan si kampret itu.” Ucapan Yoshi membuat Kania tertawa. ‘si kampret ya? Memang sih Dion itu menyebalkan, dan menyenangkan dalam waktu bersamaan, Dan sekarang Gue terjebak untuk hidup bersamanya.’


“Yoshi, Gue dulu juga pernah mendapatkan perlakuan seperti yang Lo terima, dan itu datang dari kakak kandung Gue sendiri.” Kania menyadarkan kepalanya pada gadis tomboy itu. Ternyata semua orang mengalami kepahitan semasa hidupnya, bukan hanya dirinya saja.


“Hah? serius? Gila sih, kalau itu kakak kandung Lo sendiri. terus sekarang bagaimana?”


“Sekarang, Gue nggak tahu dimana keberadaan kakak Gue.”


Suara ketukan pintu menyadarkan obrolan serius keduanya. Seorang asisten rumah tangga masuk dan menyediakan minuman untuk mereka berdua. Tak berselang lama Dion masuk dengan kotak obat di tangannya. Dion memperhatikan Kania yang menghela napas panjang.

__ADS_1


“Sini biar aku aja yang olesin obatnya buat luka Yoshi!” nada bicaranya yang agak sengak membuat Dion bingung.


“Pelan-pelan nyonya, biarpun udah kering tapi masih nyeri!” pekik Yoshi. Kania sepertinya sengaja menekan luka Yoshi dengan tenaga yang dimilikinya. Sampai dering ponsel Yoshi berbunyi. Dion tak berkedip menatap Yoshi dan Kania.


“Apa Lo lihat-lihat? Jangan mulai ya!” Yoshi berdiri setelah Kania mengoles seluruh goresan lukanya untuk mengangkat telepon dari Sigit. Yoshi mengusap wajah Dion yang tahu arah pikirannya ke mana-mana. Pria itu hanya tertawa, karena Yoshi yang peka dengan kelakuan bocah nakal itu. Kania pun mulai membandingkan dirinya dengan Yoshi.


Yoshi memiliki proporsi tubuh tinggi dan langsing. Ukuran dadanya pun tak besar dan semenarik teman-temannya. Mengingat dirinya dulu adalah seorang atlet yang harus menjaga pola makannya. Jika dibandingkan dengan Dias dan Dista sangat jauh, yang merupakan selera Dion. Kania mulai melihat dirinya.


‘Gue juga nggak buruk-buruk banget, nggak mini-mini amat. apaan sih random banget gara-gara Yoshi gue jadi over thingking.’ Tiba-tiba tercetuslah sebuah ide gila dalam pikiran Kania.


Yoshi mengangkat telepon agak jauh dari pasutri random itu. Sesekali membayangkan jika dirinya bisa kembali bersama Iwan. Ia harus bersabar menunggu sebentar lagi.


Sigit


[Yoshi, Lo dimana? Katanya Lo mau kemari?]


Yoshi


[Iya, tungu di sana! Setengah jam lagi gue sampai rumah sakit.]


Sigit


[Suami Lo tadi kemari, lebih baik Lo langsung pulang ke rumah ada hal penting yang akan gue sampaikan ke Lo. Dengarkan gue, dimana pun Lo sekarang buruan pulang!]


Yoshi


Yoshi terkejut. Sigit memberinya peringatan untuknya. Sepertinya Ia mengetahui sesuatu tentang Dewa. Dan pria berkulit putih itu bersedia membantunya. Tak ada alasan Yoshi menolaknya, setelah meminum obat dan mengenakan pakaiannya Yoshi lebih memilih memesan taksi online untuk sampai ke rumah.


“Kania, Dion Gue balik dulu ya! lain kali kita bisa bicara lebih banyak.”


“Yosh, Lo bisa percaya sama kita. Jangan pernah merasa sendiri. Lo bisa manjat kan?” refleks Kania dan Yoshi menoleh ke arah Dion bersamaan. Ada-ada saja pertanyaan pria itu.


“Lo bisa memasang cctv di kamar Lo!”


“Mesum Lo ya!”


“Heh, bukan itu maksud gue! siapa yang mau ngintip Lo sama Om tengil itu, ge-er!” Dion memiting kepala Yoshi hingga mereka terlibat adu mulut dan terus tertawa. Buat bukti visum Lo bego! Siapa tahu aja Lo mau di apa-apain kan?”


Yoshi tidak mengambil pusing ucapan Dion. Ia hanya khawatir dengan hukuman apa yang akan Ia terima jika ketahuan keluar dari rumah. Dion menawarkan diri untuk mengantarnya, namun Yoshi menolaknya. Ia tak ingin teman-temannya mendapatkan masalah baru.


“Gue balik dulu ya, taksi yang gue pesan sudah datang. Biar gue aja yang menghubungi atau mengunjungi kalian oke, gue bisa menjaga diri kok.”


Kania memeluk gadis tomboy itu. dan berpesan untuk berhati-hati. Kania menjadi semakin penasaran dengan perlakuan Dewa kepada Sigit selama ini. Apakah ada hubungannya dengan alasannya untuk mengakhiri hidupnya waktu itu?

__ADS_1


“Hati-hati Yoshi, salam buat Sigit ya!”


“Ya!”


Dion mengajak Kania menyusul kedua orang tuanya di kantor polisi di Pusat kota Jakarta. Pria kuning langsat itu memintanya untuk menyiapkan hati, saat bertemu dengan pelaku yang membuat ibunya tewas dalam kecelakaan itu, tetapi respon Kania tak sesuai harapan. Kania hanya mematung larut dalam pikirannya sediri. Ternyata gadis itu sedang memikirkan Sigit.


“Kania!” bisik Dion. kedua tangannya melingkar di perut gadis itu.


“Eh, ada apa ini? lepasin nggak! Enak aja habis pegang-pegang wanita lain terus mau nempel di Aku nggak ada ya!”


“Jadi kamu marah karena itu?” Dion membawanya duduk ke sofa dan menjelaskannya perlahan. jujur saja dalam hati pentolan geng itu bahagia bukan main karena merasa dicemburui.


“Ributnya nanti malam aja ya, Aku siap mau diapain juga. tapi ... Aku ingin kamu siapkan dirimu dulu sayang, pelaku yang membuat mobil kita terguling hari itu sudah tertangkap,” terang Dion. kedua tangannya mengusap punggung tangan istirnya yang sudah berkaca-kaca.


“Maksud Mas?”


“Iya Kania, yang membuat kita semua mengalami kecelakaan sudah tertangkap. Dan kita akan pergi ke kantor polisi untuk mendengar pengakuannya. Bagaimana? kalau kamu belum siap nggak apa-apa. Papa sama Mama sudah berada di sana.”


Kania meninggalkan Dion seorang diri tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sampai akhirnya Kania menyadari yang sudah pergi tak akan bisa kembali. Ia hanya ingin tahu, siapa yang tega mencelakai keluarganya.


“Aku sudah siap Mas,” tutur Kania.


Rupanya istrinya sudah bersiap. Penampilan Kania mengejutkan Dion yang sedang menerima telepon dari Papanya. Dengan langkah gontai lengan kokoh itu memasukan Kania dalam pelukannya.


Rasanya tak percaya setelah mendengar penuturan Papanya di seberang telepon. Sosok yang akan ditemuinya tentu saja akan menghancurkan perasaan Kania. Ia tak ingin Kania semakin sedih setelah mengetahui kenyataannya.


Dion


[Baik Pa, besok saja kita berdua akan ke sana. Dion nggak mau terjadi apa-apa lagi sama dia.]


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Dion mengecup puncak kepala gadis itu. Malang sekali nasibnya. Pernikahan tanpa dihadiri sang ayah, Ibunya meninggal dalam kecelakaan yang dibuat oleh kakak kandungnya sendiri. betapa dunia sangat tidak adil untuknya. Ia merasa kecil melihat perjuangan Kania selama ini.


“Kita belum mengunjungi Ibumu, bagaimana kalau kita kesana?”


“Kenapa tiba-tiba? Nggak jadi ke kantor polisi?”


“Pengunjungnya dibatasi sayang, jadi untuk hari ini kita tidak bisa kesana.” Dion terpaksa berbohong, Ia tak ingin wanita yang Ia cintai merasa kecewa. Jika melihat penjahat yang selama ini dicari adalah saudara kandungnya sendiri.


“Kamu punya Aku sekarang, keluargaku, teman-temanku semua milikku adalah milikmu juga Kania. jadi, jangan pernah merasa sendiri ya! Aku mencintaimu, kamu tahu...”


“Aku nggak percaya!”


...

__ADS_1


__ADS_2